
Ye Kai tak ingin menunda waktu berharganya, dia pun beranjak untuk membersihkan diri. Saat telah berada di kamar mandi, matanya tak sengaja melihat sprei dengan bercak darah yang samar berwarna merah muda. Pria itu tertegun dan merasa sangat kecewa hingga tanpa sadar dia bergumam, "Perasaan tadi malam dia masih belum ...."
"Ternyata gagal lagi!" Ye Kai berucap sendiri sambil membanting piyama ke dalam ember guna menghalangi pemandangan yang sangat menyakitkan itu. Rasa panas menyerang kedua matanya yang mulai mengembun.
"Anda masih belum beruntung!" Ye Kai segera menyiram seluruh badan guna mengalihkan perasaan kecewanya. "Maka ...."
"Coba sekali lagi."
Lelaki itu tak ingin terus larut dalam kekecewaannya, dia masih harus melakukan banyak hal yang lebih pentiing dari terus tenggelam dalam perasaan itu. Ye Kai memiliki banyak tugas yang harus segera dia lakukan sebagai orang kepercayaan dari seorang CEO muda dan tampan sahabatnya.
"Lan'er, apa masih belum ada kabar dari Jessey?" bertanya Ye Kai yang baru saja keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi. Setelan jas hitam menjadi outfit yang sangat elegan dan mengubah penampilan pria itu jauh berbeda dari hari kemarin.
"Belum ada, Gee." Mei Lan menjawab sambil menata hidangan sarapan pagi untuk keduanya. "Mungkin dia sedang tidak ingin diganggu atau dia sengaja tak mengabari lagi agar dia bisa beristirahat setelah perjalanan."
Mei Lan berkata demikian agar suaminya ini menjadi tenang. Wanita itu jelas mengetahui, kalau seorang Ye Kai akan lebih memilih Jessey Liu daripada memikirkan dirinya sendiri dan itu sudah bukan lagi hal yang baru lagi. Entah terbuat dari apa hati dan otak Ye Kai, hingga dalam benaknya seperti hanya memikirkan segala hal terkecil sekalipun tentang kawan lamanya tersebut.
"Oh, benar juga ya." Ye Kai merasa sedikit lega dan segera menyantap sarapannya yang berupa nasi goreng buatan Mei Lan sendiri. Namun baru setengah porsi makanan yang masuk ke dalam perutnya, dia terbatuk hingga beberapa kali akibat terburu-buru.
"hati-hati, Gee!" Mei Lan menyodorkan segelas air putih yang segera disambar dan diminum oleh suaminya hingga habis. "Mengapa terburu-buru sekali, Ge?"
Ye Kai menyambar beberapa lembar tisu sekaligus untuk membersihkan mulutnya. "Entahlah, Lan'er. Kalau belum ada kabar dari Jessey, aku tak bisa tenang."
"Lihatlah! Dia akan selalu begitu, terus dan terus!" Mei Lan menggerutu daam hati dengan perasaan kesal hingga makanannya pun menjadi tidak nikmat lagi di lidahnya.
Melihat kekesalan pada wajah sang istri, pria itu tersenyum seraya mengambil buku catatan dan menuliskan sesuatu. Pria itu menyerahkan pada Mei Lan sambil berkata, "Aku sengaja mengatur semuanya untukmu. Semoga kamu senang dengan mainan baru ini."
Raut wajah Mei Lan berubah menjadi keheranan, tapi dia pun menerima buku catatan itu dari Ye Kai. Dia lalu membaca semua tulisan yang tertera di sana da mencoba memahaminya. "Mainan? Ini mainan menurut Gege?"
"Yaaa. Itu untuk mengatasi rasa bosanmu, tentu saja." Ye Kai bangkit seraya menyambar perlengkapan bekerjanya hari ini, untuk kemudian bergegas melangkah menuju mobil yang sudah disiapkan oleh bawahannya. Mei Lan segera mengikuti sambil masih menenteng buku catatan dari suaminya.
"Gee, jadi ini aku yang mengurusi dia dan menyiapkan segala keperluannya selama dia di sini?" bertanya Mei Lan yang merasa aneh pada rencana suaminya.
"Ya," jawab Ye Kai yang sudah di ambang pintu mobil.
"Tapi mengapa bukan Ye Ge saja sendiri yang melakukannya? Mengapa harus aku?"
Ye Kai mendesahkan napas panjangnya dan berbalik kembali ke arah Mei Lan. "Dengar Sayang. Aku sengaja merahasiakan keberadaan Zike dari mereka semua, karena aku ingin memberi kejutan pada anak-anak sialan itu termasuk Jessey. Jadi, kuharap kamu mau membantu suamimu ini untuk mengubahnya. Okay?"
Mei Lan akhirnya memahami maksud Ye Kai kali ini. Wanita itu pun menganggukan kepala tanda setuju. "Baiklah, Ge."
__ADS_1
"Baguslah kalau istriku ini mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya ini." Ye Kai mengusap kepala sang istri dan mencium keningnya dengan sangat lembut. "Aku pergi dulu. Ingatlah untuk melakukannya sesuai dengan apa yang sudah aku tulis itu."
"Baiklah, Ge!"
"Aku akan menyuruh orang untuk membawanya ke mari. Jadi, kau hanya perlu membuat gadis itu merasa nyaman dan kerasan tinggal di sini," sambung Ye Kai.
Mei Lan menganggukan kepala. "Mmmh, aku mengerti."
"Baguslah, Nyonya Muda Ye. Kau adalah yang terbaik!" Ye Kai pun berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya untuk berangkat ke kantor pusat tempat dia bertugas.
Tinggalah Mei Lan sendiri dengan sebuah buku catatan yang ada di tangannya. Wanita itu lalau masuk kembali ke dalam rumahnya yang meski tidak terlalu mewah, akan tetapi sangat nyaman untuk ditinggali.
Rumah itu adalah bangunan yang dibuat sedemikan rupa hingga menyerupai rumah adat Tiongkok pada jaman kuno. Arsiteknya pun didatangkan secara langsung oleh Ye Kai dari Negeri Tirai Bambu yang terkenal dengan keindahan dan keunikan seni bangunannya.
"Tugas pertama adalaaaaah ... Menyiapkan tempat untuknya." Mei Lan tak ingin menunda pekerjaan terlalu lama, wanita itu pun segera pergi dari beranda rumahnya yang asri dan teduh.
Kamar yang disiapkan untuk Zike tentunya adalah kamar khusus yang terpisah dari ruangan-ruangan lain. Bangunan kecil itu terletak di seberang taman samping yang tak kalah bagusnya dari taman kecil di depan rumah. Bahkan bebrapa batang pohon persik sintetis pun sengaja dipajang sebagai penghias bangunan serupa paviliun kecil nan elok.
Mei Lan memberi arahan-arahan kepada para pelayan wanita untuk membersihkan tempat tersebut agar lebih nyaman dan di antara kesibukan itu, tidaka ada yang mmengetahui jikalau sesuatu telah terjadi menimpa pimpinan mereka.
Beberapa jam yang lalu. Pada sebuah tempat yang tak diperkirakan sedikit pun oleh Ye Kai, sesuatu telah terjadi. Beberapa pria berpakaian serba hitam berjalan tergesa-gesa dengan membawa tubuh seseorang yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Rombongan itu berkerumun di depan sebuah pintu gerbang kediaman seorang dokter.
"Bagaimana ini?" Seorang pria bertanya kepada kawan-kawannya yang juga dalam keadaan terluka, tetapi tidak separah orang yang sedang terkulai dalam pelukan salah seorang pengawal.
"Apakah kita berpindah tempat saja, Ketua?"
"Tidak bisa! Gong Zi tidak akan mau jika yang menanganinya bukan Dokter Agustin!" Chriss terlihat sangat bingung dengan keadaan tuannya saat ini.
"Tapi kita tidak bisa diam saja melihatnya seperti ini!" Pengawal yang tengah menopang tubuh Jessey Liu terlihat ingin menangis dan terus berusaha menyadarkan tuan mudanya. "Gong Zi! Gong Zi, sadarlaaaah!"
"Gong Zi sudah lebih dari tiga jam tidak sadar juga. Mengapa kita tidak membawanya ke rumah sakit saja?" bertanya pengawal yang lain.
"Masalahnya adalah, tadi sebelum pingsan Gong Zi berpesan agar dia dirawat oleh Tuan Agustin. Kalau Gong Zi tidak berpesan demikian, mungkin kita sudah membawanya ke rumah sakit sejak tadi malam." Chriss menjelaskan dengan suara menahan berbagai perasaan.
"Kalau begitu, cobalah panggil lagi!" seru pengawal yang lain sembari mondar-mandir tak tentu arah.
"Dokter Agustiiiiiin!" Chriss terlihat kebingungan dan segera menekan tombol bel berulang kali dengan sangat tidak sabaran. Pria pengawal pribadi Jessey Liu itu dengan perasaan marah bercampur geram menendang pintu gerbang hingga terdengar suara keras disertai getaran yang mengagetkan banyak orang.
Di dalam rumah besar tersebut.
__ADS_1
Seorang pria muda yang sudah berpakaian rapi seorang dokter terlihat sangat menikmati sarapan paginya. Raut wajah dingin itu tetap terlihat sangat tenang meskipun dia mendengar suara kegaduhan di depan rumahnya.
"Paling-paling cuma orang iseng yang datang meminta bantuan." Pria itu berucap dalam hati seraya menyuap potongan sandwich berlapis keju dan daging.
"Tuan, ada serombongan orang yang sangat mencurigakan menggedor-gedor pintu gerbang." Seorang pembantu wanita melaporkan dengan wajah takut. Wanita tua itu merasa panik akan adanya serombongan pria tak dikenal yang sedang menunggui pintu gerbang.
"Serombongan orang?" Agustin bertanya dengan masih mengunyah makanannya. "Coba tanya siapakah mereka da apa keperluannya!"
Tapi ... saya takut, Tuan!" Pembantu itu terlihat semakin ketakutan. "Mereka seperti bukan orang yang baik-baik. Saya khawatir mereka akan berbuat jahat seperti yang diberitakan di tipi-tipi itu."
"Mereka semua berpakaian serba hitam dan mengendarai sepeda motor, mungkin ada lima atau enam sepeda motor yang ada di depan pintu gerbang kita."
"Berpakaian serba hitam dan mengendarai sepeda motor?" Agustin merasa penasaran dengan para tamu yang tak diundangnya ini. "Sepetinya ini adalah para tamu istimewa dan misterius."
"Tamu misterius." Dokter muda itu segera bangkit setelah menghabiskan segelas air putih. "Akan coba kulihat siapakah mereka."
"Tapi, Tuaaan!"
Agustin tidak memedulikan lagi teriakan pembantu wanita yang hanya bisa menatap punggung sang majika dengan wajah panik. Perasaan khawatir dan takut membuat tubuhnya bergetaran. Wanita tua itu hanya bisa memanjatkan doa-doa. "Ya Tuhaaan! Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkaaan!"
Agustin melangkah dengan tanpa keraguan. Meskipun dia juga sedikit merasa berdebaran juga saat mengintip dari balik tirai jendela, seperti apakah penampilan orang-orang yang dikatakan oleh pembantunya tadi.
"Siapa mereka?" bertanya Agustin kepada seseorang yang juga sedang mengintai pergerakan serombongan orang bertampang sangar.
"Aku juga sedang memastikannya." Rupanya, pria muda itu melihat sebuah dengan teropong. "Agustin! Aku melihat salah seorang yang tidak mengenakan helm."
"Siapa dia? Apa kamu kenal, Vil?"
"Sebentar, kupebesar lagi." Pria muda itu mengulir lensa teropongnya untuk memperbesar penglihatan. "Gus! Sepertinya orang yang kepalanya sedang dipangku itu, terasa tidak asing! Tapi, apakah benar itu dia?"
"Aaaahh! Masak sih dia?" Devil merasa tak habis pikir hingga tanpa sadar melepaskan teropongnya. Tentu saja itu adalah benda milik Agustin yang ia ambil begitu saja, saat mendengar suara kegaduhan dari arah pintu gerbang.
"Siapa? Coba kulihat!" Agustin segera menyambar teropong untuk melihat rombongan orang-orang berpakaian serba hitam.
"Jessey!" Agustin terpekik keras karena merasa sangat terkejut saat melihat Jessey Liu dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir keluar dari sela-sela rambut poninya yang panjang menjuntai.
"Jessey?" Devil tertegun. Dia merasa sangat tidak percaya mendengar Agustin menyebut nama itu.
"Jessey! Jessey!"
__ADS_1
...Bersambung...