Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
KE MANA YI XIE?


__ADS_3

Tinggallah Jing Xuan hanya seorang diri di ruangan besar tersebut dan asyik menonton acara yang disajikan oleh channel-channel terkenak. Pemuda itu terlihat santai meski beberapa orang pelayan terkadang menyapa. Namun, hal itu tidak mengganggu keasyikannya dalam mengikuti acara berita.


Baru saja beberapa waktu berlalu, terdengar suara raungan mobil berderu di depan beranda kediaman. Rupanya, Ye Kai sudah tiba dengan selamat dari perjalanan jauh. Pria itu langsung masuk tanpa memperhatikan ada orang yang ingin menyambut kedatangannya. Tetapi Ye Kai sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya.


"Mungkin paman lelah," pikir Jing Xuan sembari menyeruput teh panasnya.


Tinggallah Jing Xuan hanya seorang diri di ruangan besar tersebut dan asyik menonton acara yang disajikan oleh channel-channel terkenal. Pemuda itu terlihat santai meski beberapa orang pelayan terkadang menyapa. Namun, hal itu tidak mengganggu keasyikannya dalam mengikuti acara berita.


Baru saja beberapa waktu berlalu, terdengar suara raungan mobil berderu di depan beranda kediaman. Rupanya, Ye Kai sudah tiba dengan selamat dari perjalanan jauh. Pria itu langsung masuk tanpa memperhatikan ada orang yang ingin menyambut kedatangannya. Tetapi Ye Kai sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya.


"Mungkin paman lelah, sampai-sampai paman tidak melihatku ada di sini," pikir Jing Xuan sembari menyeruput teh panasnya. Dia tidak ingin terlalu berpikir yang macam-macam tentang sang paman.


Sementara itu di Paviliun Tanpa Nama, Zike baru saja selesai membersihkan diri. Gadis itu duduk di kursi empuk seorang diri hanya berteman ponsel dan juga televisi. Dia juga sedang menunggu menu santap malam yang biasanya akan diantarkan oleh para pelayan. Berlatih memukuli boneka jelek, telah membuatnya cukup kelelahan dan juga kelaparan.


Namun, apa yang ditunggu tak juga tampak datang padanya. Zike sesekali menoleh ke arah pintu sambil bergumam kecil. "Aku sangat lelah karena latihan itu dan lama sekali Suri datangnya."


"Aku sudah sangat lapar sekarang." Gadis itu kembali berucap sambil menyalakan layar ponsel. Ia berniat untuk menghubungi Yi Xie dan Nestin sahabatnya yang telah begitu lama tak pernah ia jumpai. Rasa rindu telah menggunung dalam hati Zike.


"Apakah tidak mengganggu mereka, kalau video call di jam-jam seperti sekarang?" Zike berucap lirih sendirian sambil melihat jam yang menunjukkan pukul 18.15 waktu setempat. "Biasanya Nestin tengah belajar dan Yi Xie juga sedang nongkrong bersama kawan-kawannya."


"Aku rindu kalian semua," ucap Zike sembari memandangi foto-foto bersama kedua sahabat baiknya tersebut. "Alangkah senangnya kalau aku bisa bertemu dengan mereka."


Terkadang Zike merasa seperti tahanan rumah semenjak tinggal di dalam kediaman Ye Kai. Namun, tekad dan mimpinya untuk bisa memberi kejutan terhadap keluarganya juga terlalu besar. Terlebih lagi, saat dia teringat betapa gunjingan tetangga tentang julukan perawan tua untuk seorang yang tidak mau menikah muda.

__ADS_1


"Perawan tua?" Zike menyeringai sendiri. "Mungkin lebih baik daripada menjadi janda muda."


"Aku benar-benar tidak siap menikah muda seperti teman-temanku di desa." Zike bergidik ngeri saat teringat cerita dari beberapa orang yang melahirkan di usia muda. Belum lagi masalah kekerasan dalam berumah tangga yang kerap berakhir dengan perceraian.


Memikirkan sebuah kebiasaan turun temurun di desanya, membuat gadis itu tidak habis pikir. Apakah tidak boleh seorang gadis, memilih jalan hidupnya sendiri? Apakah dilarang, kalau seorang gadis ingin mengejar impiannya?


"Aku pusing memikirkan mereka!" Zike merasa geram dengan keinginan orang tuanya yang telah menjodohkan dia dengan seorang pria tak dikenalnya.


"Pokoknya aku tidak mau menikah dengan pria itu!" geram Zike sambil meremas bantal yang sedang dia peluk. "Daripada menikah dengan dia, lebih baik aku menikah saja dengan seorang pria gunung es yang dingin dan tak pernah tersenyum!"


Entah sadar atau tidak, Zike telah mengucapkan kalimat itu tanpa pikir panjang. Dia hanya sedang mengungkapkan kekesalan hatinya sendiri tentang masalah yang telah membuatnya pergi dari rumah


Namun, gadis itu akhirnya sadar bahwa ucapannya baru saja adalah tidak benar. Dia pun tersentak sendiri. "Ya Tuhaaan! Aku kan sudah ada Alexi dan dia bukanlah pria sedingin gunung es. Dia bahkab sangat hangat padaku."


"Maafkan aku, Ale!" Zike sungguh merasa bersalah salam hati. Meski hubungan mereka entah akan bagaimana ke depannya, tetapi Zike berharap semua bisa ia lewati bersama dengan Alexi. Betapa harapannya juga besar terhadap pria berwajah tampan nan cantik tersebut.


"Yi Xie!" Zike mencoba menghubungi Yi Xie hanya untuk menumpahkan kerinduannya pada sang sahabat. Namun, nomor pemuda itu tidak aktif sama sekali. "Aneh, ada apa ya?"


Perasaan Zike menjadi sedikit khawatir. Dia pun segera menghubungi Nestin untuk mencari tahu tentang Yi Xie, selain juga ia merasa rindu pula kepada sahabatnya ini.


"Aku tidak tahu di mana Yi Xie saat ini, Zike." Suara Nestin terdengar dari seberang saluran telepon.


"Masa sih kamu sampe gak tau? Bukannya kalian deketan?" Zike bertanya dengan nada heran. "Ke mana Yi Xi"

__ADS_1


"Kemarin-kemarin masih ketemu beberapa kali. Ya, kalau dia mau ke bengkelnya. Tapi udah berapa hari aku gak liat dia sama sekali," sahut Nestin sesuai keadaan yang dia ketahui. "Lu tenang aja, Zike. Gue bakal cari tau tentang dia."


"Bener loh, yaaa?"


"Iya, iyaaa. Demi elu, orang gue yang paling gue sayang." Nestin sengaja ingin membuat Zike menjadi tenang dan tidak terus memikirkan Yi Xie.


"Gombleng lu, ah!" Zike mengatai sahabatnya hanya untuk bercanda.


"Yeee! Biar pun gombal-gombal juga, elu suka kangen kaan sama gue?" Nestin sengaja meledek Zike.


"Jiaaah! Sok kepedean kamu!" Zike tak ingin mengakui tentu saja.


Keduanya masih terus bercakap-cakap melalui saluran seluler hingga terdengar suara ketukan pintu. Zike pun berjalan ke arah pintu dan membukanya dan masih terhubung dengan Nestin. Gadis itu mendapati Suri tanpa membawa keranjang makanan. Zike pun segera berpamitan kepada Nestin karena ada orang yang datang ke tempatnya.


"Suri?" Zike mendapati wajah Suri yang tersenyum kepadanya.


"Selamat petang, Nona!" sapa Suri sang pelayan bertubuh gendut yang begitu setia melayaninya setiap hari.


"Selamat petang juga, Suri. Silakan!" Zike mempersilakan gadis pelayan itu untuk masuk ke dalam ruang paviliun, tetapi Suru menolaknya.


"Tidak perlu, Nona. Saya hanya menyampaikan pesan dari nyonya, kalau Nona Zike diminta untuk datang ke kediaman sekarang juga," ujar Suri dengan sikap hormat.


"Diminta ke kediaman?" Zike merasa heran, tetapi dia juga tak mungkin membantah gurunya. "Baiklah. Kita berangkat sekarang!"

__ADS_1


"Mari silakan, Nona!"


...Bersambung...


__ADS_2