
Jessey Liu yang semenjak tadi hanya diam menunggu, akhirnya berkenan membuka suara. Pria itu berdiri untuk menghormati sang pengundang, seraya menyatukan kepalan tinju tangan kanan dan membungkus dengan telapak tangan kiri. Itu adalah cara bersikap hormat kepada orang yang dihormati di dalam aturan klannya.
Alexa merasa sangat beruntung telah menjadi satu-satunya wanita yang menghadiri acara tersebut. Dia sungguh tidak ingin melepaskan pandangannya terhadap pria ini. Hanya ada kekaguman dalam hati disertai getaran-getaran lembut dan aneh merambat, menjalar hingga mencengkeram perasaan gadis berparas ayu tersebut.
"Dia sungguh-sungguh pria idamanku. Beruntung sekali aku menyusul kakakku ke mari, ternyata ... aku dipertemukan dengan jodohku." Alexa langsung meng-klaim, jika pria ini adalah jodohnya kelak. Dia bahkan belum mengetahui siapa nama dan asal-usul dari lelaki berwajah tampan tersebut. "Jodoh?"
"Terima kasih kepada Tuan Alexi Nata Praja, yang sudah mengundang kami semua dan juga sudah berkenan mengenalkan diri Anda kepada kami." Jessey Liu berucap dengan suara khasnya yang berwibawa dan hal itu semakin membuat Alexa kian terpana.
"Benar-benar suara yang sangat indah," ujar Alexa dalam hati seolah sedang terbuai oleh nyanyian merdu yang begitu lembut mendayu. "Tidak salah memang, kalau dia menjadi seorang pemimpin sebuah kelompok besar."
"Kami semua sudah lama mendengar tentang kehebatan para praktisi dari Sekte Sanca Perak, tempat Anda semua berasal." Jessey Liu menghentikan sejenak perkatannya. "Dan ternyata, berita itu bukanlah sebuah kabar saja. Kami telah menyaksikan secara langsung kehebatan ilmu dari sekte Anda."
"Bisa bertemu dan berkumpul dengan Tuan Muda Alexi dan juga semua orang di sini." Jessey Liu berhenti senjenak sebelum melanjutkan bicaranya dengan nada yang terdengar lebih merendah hati. "Seorang Jessey Liu ini, sungguh merasa sangat tersanjung!"
"Apa! Jessey Liu?" Alexi terpekik dalam hati dan tidak bisa menutupi keterkejutan pada raut wajahnya. "Je-Je ... Jessey Li-Liu!"
"Mengapa?" Alexi bertanya dalam hati. Seketika pula rasa marah, benci dan dendam berbauran serta bergejolak dalam hatinya. Secara diam-diam, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja guna meredam perasaan emosi yang sudah naik hingga ubun-ubun.
Bagaimana mungkin Alexi tidak menjadi sedemikian marahnya, sedangkan orang yang selalu menjadi bahan perbandingan hingga membuat dirinya kerap mendapat siksaan berada tepat di depan mata. Wajah Alexi merah padam dengan napas yang mulai tidak beraturan. Abraham segera menyambar tangan sang tuan dan menggenggamnya dengan niat menyabarkan Alexi.
Alexa juga tidak kalah kagetnya hingga tanpa sadar berseru, "Jessey Liu?"
__ADS_1
"Ja-jadi ... jadi Anda adalah Jessey Liu dari Sekte Elang Emas?" bertanya Alexa dengan pandangan terkejut yang masih menghiasi raut wajahnya.
"Benar sekali, Nona." Jessey Liu menyahut dengan nada sangat tenang. Dia merasa tidak berbuat kesalahan apa pun, meski dalam hati pria muda itu merasa ada suatu kejanggalan pada sikap orang-orang ini.
Jessey Liu sendiri menjadi heran atas perubahan sikap orang-orang dari Sekte Sanca Perak. Dalam hati, pria itu pun bertanya-tanya sendiri. "Ada apa dengan mereka? Mengapa sepertinya mereka semua terkejut sekali mendengar namaku?"
"Eeh ... maaf, Tuan Muda Alexi! Saya masih harus memperkenalkan yang lainnya." Jessey Liu lalu melanjutkan perkenalannya hingga selesai, tetapi Alexi yang sudah terlanjur diluapi kemarahan dalam hati seperti tidak menghiraukan setiap ucapan pria muda di hadapannya.
Danny Hendrat sendiri sudah sangat khawatir pada keadaan tuannya dan sebagai bentuk basa-basi semata, dialah yang mewakili berbicara. "Silakan dilanjut, Tuan Jessey Liu!"
Setelah perkenalan dari pihak Sekte Elang Emas berakhir, Jessey Liu kemudian menyerahkan kembali segala ketentuan kepada pihak pengundang. Dia sendiri sudah merasa sangat tidak enak hati, melihat perubahan dalam diri orang-orang ini. Pria itu tak mengetahui sama sekali akan letak kesalahan apa yang sudah ia perbuat.
"Sepertinya, usahaku menyelidiki tentang racun itu tidak berjalan sesuai rencana," keluhan kecil sedikit melintasi pikiran master termuda tersebut. "Entah mengapa sikap mereka menjadi demikian, setelah aku menyebutkan identitas kami semua."
Acara berjalan hingga makan siang tiba, tentu saja semua biaya telah ditanggung oleh Sekte Sanca Perak selaku pengundang. Selama acara berlangsung, Alexa memang kerap mencuri-curi pandang ke arah Jessey Liu yang tidak memedulikannya. Walaupun gadis itu merasa penasaran dan ingin menggali lebih dalam tentang pria ini, tetapi saat melihat Alexi masih belum bisa membuang amarahnya maka dia hanya bisa berdiam diri saja.
"Sial sekali aku ini!" Alexa mengumpati dirinya sendiri. "Aku menyukai orang yang sangat dibenci oleh kakakku! Mengapa harus ada hal semacam ini dalam hidupku?"
"Aku tidak akan membiarkan Alexa mendekatinya! Tidak akan pernah kubiarkaaaan!" Alexi berteriak dalam hati. "Lebih baik menggagalkan keinginan adikku, daripada harus menyatukan mereka!"
Selama acara tersebut, Alexi harus membuat dirinya tenang dalam bara kemarahan. Bagaimanapun juga dia sadar, jikalau Jessey Liu tidak bersalah apa-apa kepadanya. Hanya saja saat teringat tentang sang ayah yang kerap begitu membandingkan dia dengan orang ini, Alexi menjadi sangat geram hingga timbullah kebencian yang tak berdasar di dalam relung hati pemuda tersebut.
__ADS_1
Jessey Liu sendiri merasakan hal yang tidak wajar pada sikap Alexi dan sebagai seorang tamu yang menghormati tuan rumah, maka dia pun rela membuka pembicaraan setelah santap siang bersama selesai. Pria tampan dengan segudang prestasi di dalam olah bela diri tersebut, memutuskan untuk membuka pembicaraan.
"Apakah Tuan ...."
"Alexi, sebut saja begitu." Alexi memotong ucapan lawan bicaranya. Dia berusaha untuk menenangkan hatinya yang sangat kacau saat ini. "Kurasa, usia kita terpaut tidak terlalu jauh dan juga kedudukan kita juga sama."
Jessey Liu merasa cukup senang, karena Alexi ternyata mau menyambut niat baiknya. "Baiklah kalau begitu. Panggil saja aku juga dengan namaku dan tanpa embel-embel, gelar atau penyebutan apa pun."
"Baiklah," sahut Alexi secara singkat sembari mengupas sebutir buah jeruk. "Silakan, Jessey. Lanjutkan yang tadi!"
"Oh, baiklah." Jessey Liu meraih sebutir buah kelengkeng dan mengupasnya dengan perlahan. "Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu dan rombonganmu sengaja datang berkunjung ke mari atau sedang dalam perjalanan?"
Alexi harus menunggu siungan buah jeruk yang terlanjur dia masukan ke dalam mulut selesai dan habis. Baru setelah itu anak muda itu menjawab, "Kami hanya singgah saja sebentar."
"Lalu ... kamu sendiri?" tanya Alexi dengan nada ia buat tenang. Bagaimanapun juga, dia tetap tidak ingin memperlihatkan kebencian yang tidak seharusnya ada di antara mereka.
"Aku juga hanya bermalam saja, setelah ini kami juga akan melanjutkan perjalanan pulang." Jessey Liu menjawab pertanyaan dari Alexi.
"Kalau saja tujuan kita adalah arah yang sama, mungkin kita bisa bersama-sama," ujar Alexi sebagai basa-basi semata. Tentu saja dalam hati ia tak pernah berharap hal itu akan terjadi.
"Sayang sekali, Alexi. Aku akan pergi ke kota Wu Shang bagian timur," ujar Jessey Liu dengan tanpa memedulikan keterkejutan di wajah Alexi.
__ADS_1
"Wu Shang?"
...Bersambung...