
"Jadi begitulah kejadiannya." Chriss mengakhiri ceritanya sambil menghela napas. Sekarang dia bisa merasa sedikit lega setelah bercerita.
"Lalu, di mana tawanan itu?" tanya Devil yang menjadi termenung membayangkan betapa malam yang sulit dan terlalu mengerikan telah dilalui oleh para sahabatnya ini.
"Kami sudah mengirimkannya ke markas pusat," jawab Chriss sambil menoleh ke arah pintu ruang perawatan. Baru saja Chriss mengakhiri ucapannya, terdengarlah suara detak sepatu dengan langkah cepat.
"Jesseeeeeey!" Sebuah suara berhasil mengejutkan Chriss dan Heldevi. Mereka pun serentak menoleh ke arah sumbernya dan melihat seorang pria berwajah panik berjalan dengan tergesa-gesa.
"Ye Kai! Akhirnya lu datang jugaaa!" Devil menarik napas lega saat melihat kedatangan kawannya.
"Gimana dia? Di mana diaa!" Ye Kai langsung menghampiri pengawal pribadi Jessey Liu dan dengan tidak ada kesabaran, ia memegang kedua bahu Chriss serta mengguncangnya berulang kali. "Ada kejadian apa semalam? Kenapa kalian gak ada yang ngabarin kalo kalian dalam masalah?"
"Ma-Master ... Master Ye!" Chriss merasa sedikit kebingungan.
Devil menengahi. "Tenanglah, Ye Kai!"
"Gimana gue bisa tenang? Ada kejadian kek gitu dan Jessey gak ngabarin gue sama sekali!" Ye Kai melepaskan cengkeramannya pada bahu Chriss dan menendang sebuah kursi hingga terpental.
Suara berisik itu cukup di dengar juga oleh Agustin yang sedang memeriksa Jessey Liu tanpa seorang asisten pun. Karena orang nomor satu di Sekte Elang Emas ini tidak pernah mengijinkan orang asing melihatnya dalam keadaan seperti sekarang ini. Ternyata Jessey Liu telah tersadar dari tidurnya setelah Agustin memberi penawar racun pelumpuh.
"Si ikan sotong udah datang." Agustin berkata sambil memperhatikan ujung jarum yang tampak tak memiliki warna aneh dan berbeda dengan pangkalnya. "Bisa ancur tempat gue kalo gue gak buruan selesein ngurus lu."
Jessey Liu bertanya, "Ye-Ye Kai?"
"Siapa lagi orangnya selain lu yang bisa mencak-mencak gak karuan di tempat gue?" Agustin ingin segera menuntaskan pekerjaannya. Hanya tinggal satu jarum yang tersisa.
"A-Agus-Agustin!" Jessey Liu tengah mengerang kesakitan saat dokter tak berperasaan itu mencabut sisa-sisa jarum yang menancap di tubuh kawannnya ini. "Apa benda-benda itu masih banyak?"
"Kayaknya udah gak ada. Gue udah bersihin sisanya dan semuanya dilapisi racun." Agustin meletakan semua jarum dalam sebuah wadah kaca dan merendamnya dengan cairan khusus. "Gue bakal amanin semuanya setelah gue teliti tentang zat racun pelumpuh jenis ini. Kliatannya ini gak sama dengan racun dari Sanca Perak."
"Oke. Lu amanin sekaligus buat bukti."
"Bukti kalo lu udah kecolongan, sampe-sampe ada dua puluh enam jarum bersarang di tubuh master pedang hebat ini?" Agustin bertanya seolah sedang membuka aib tentang keteledoran Jessey Liu yang tidak menyadari sama sekali adanya serangan puluhan jarum ini. "Heran gua. Orang kayak elu kok bisa-bisanya same gak bisa hindarin ginian?"
Jessey Liu tidak menggubris ucapan Agustin yang memang lebih suka blak-blakan ini. Dia juga sedang berpikir, bagaimana bisa dirinya lengah sampai tak menyadari adanya puluhan jarum terbang dari Angie. "Gue juga masih heran. Bisa-bisanya dia main trik serangan dobel gitu?"
"Saat itu gue cuma fokus ngindarin lemparin empat pisau terbang. Ternyata pisau-pisau terbang yang nyerang gue itu cuma buat ngelabuain gue. Dan dia udah rencanain trik selicik itu." Sekarang Jessey Liu sudah mengetahui penyebabnya. "Waktu itu, gue kayak liat dia megang sesuatu ...."
Jessey Liu tiba-tiba teringat, jikalau Angie terlihat memainkan sesuatu setelah menyerangnya dengan pisau terbang. "Seperti sebatang tongkat pendek. Gue gak begitu jelas liatnya."
"Ya udah. Lu gak boleh terlalu maksain diri buat ngingetnya. Jangan mikirin hal-hal yang bikin lu tambah drop." Saat ini Agustin baru saja selesai membersihkan tubuh sahabatnya. Pria itu membalikan badan Jessey Liu, lalu menyelimutinya serta mengganti cairan infus yang hampir habis.
"Mmhh, gue tau."
"Sekarang ini lu udah aman dan efek racunnya paling cuma tinggak lemes doang," ujar Agustin dengan suara tenang.
__ADS_1
"Gimana dengan semua orang-orang gue? Apa mereka juga di sini?" Jessey Liu bertanya. Jelas sekali kalau pria muda ini sangat mengkhawatirkan keadaan para anak buahnya. "Mereka ... masih utuh, kan?"
"Lu tenang aja! Mereka semua juga udah ditanganin," sahut Agustin dengan nada tenang. Tentu saja dia paham akan kekhawatiran Jessey Liu yang tak pernah me
"Oh, baguslah!" Jessey Liu merasa lega mendengarnya. "Lalu, gimana dengan Chriss?"
"Dia juga gak papa. Tadi dia yang nganterin lu ke sini. Mungkin dia masih lagi nunggu di luar."
"Aawwghh! Sssss!" Jesssy Liu terpekik dan mendesis. Dia pun meringis saat tanpa sengaja memiringkan posisi kepalanya.
"Ati-ati, Jessey!" Agustin memperingatkan.
"Sakit juga ya?" Jessey Liu memegangi kepalanya.
"Ternyata, master pedang nomor satu di Guangbei masih bisa ngerasai kesakitan juga." Agustin sebenarnya ingin sekali tertawa. "Mungkin biusnya baru ilang, jadi sakitnya udah mulai kerasa. Apa lagi itu jahitan yang masih baru."
"Jadi ... pala gue dijahit?" Jessey Liu terlihat bingung.
"Mmhh. Ada luka sobek di atas telinga lu." Agustin menjawab.
"Trus, gimana cara gue nutupinnya? Gue gak mau nyokap gue sampe tau," tanya Jessey Liu yang ingin menyembunyikan luka yang sekarang di balut perban. "Apalagi kalo pengasuh gue tau ada luka gini. Dia pasti ngomel-ngomel gak karuan dan larang gue nerusin hobi gue. Bahaya, kan?"
"Lu kan bisa pake headband. By The Way, siapa sih, sebenernya yang udah buat lu jadi gini?" Agustin merasa curiga dengan keterkaitan Jessey Liu dengan sebuah organisasi gelap yang saat ini lebih dikenal sebagai mafia.
"Angie yang lakuin ini," jawab Jessey Liu sambil masih meringis kesakitan dan mulai berpikir untuk memakai sebuah headband.
"Mmmh." Jessey Liu mengangguk. "Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Yang ngejar-ngejar lu sejak esempe dan sekarang dia gabung ke organisasi gelap itu?" tanya Agustin sambil mengingat-ingat orang yang dulu pernah dekat dengan mereka.
"Ya, itu dia. Gue gak suka sama cewek sombong dan kagak ada baik-baiknya sama sekali di mata gue. Gue malah heran, kok kalian dulu pada rebutan dia sih?"
"Siapa yang berebutan?"
Jessey Liu menyahut, "Elu sama anak-anak itu."
"Udah, udaaah! Gue udah lupa!"
"Pura-pura lupa!"
Agustin sudah tidak merasa heran lagi sekarang. Sedikit banyak dia sudah tahu permasalahan antara Jessey Liu dan Angie. "Kalau begitu semua udah jelas. Kayaknya mereka sengaja mengobarkan perang terbuka."
"Tapi sebaiknya lu jangan mikirin apa-ap dulu. Lu fokus buat pulihin diri lu dan cari akar masalah serta penyelesainnya." Agustin bersiap hendak keluar ruangan. "Gue temuin dulu tuh si sotong resek. Lu istirahat aja dulu."
Jessey Liu hanya menganggukan kepala dan membiarkan sang dokter pribadi ini keluar menemui orang-orang yang sudah tak sabar ingin menemuinya. Dalam hati dia berucap, "Pake headband gak gue banget deh. Bingung juga gue kan?"
__ADS_1
Di luar ruangan ....
"Kan semalem mereka juga dalam masalah. Jadi, mana ada kepikiran buat ngabarin ke kita?" Devil merasa sedikit kesal atas sikap Ye Kai yang sering suka sewot tak tentu arah.
"Ya kan dia gak cuma seorang diri. Orang sebanyak itu gak ada yang diem-diem hubungin kita, gitu?"
"Lah kan namanya juga lagi panik lah, Toong!" Heldevi selalu merasa pusing jika sudah menghadapi kebawelan Ye Kai.
"Pokoknya gue pengen liat dia! Di mana Jesseeeeey?" Ye Kai hampir saja menerobos masuk ke dalam ruangan tempat di mana Jessey Liu dirawat. "Agustiiin! Buka pintunyaaa!"
Heldevi segera menyambar lengan Ye Kai dan menahannya. Dia merasa khawatir, jikalau Ye Kai akan nekat masuk dan menganggu jalannya pemeriksaan. "Ye Kai, elu tenang dikit bisa kagak sih? Lu bisa ganggu proses penanganan!"
Ye Kai berbalik dan menatap Devil. "Gue gak peduli! Gue harus liat Jessey!"
"Master Ye mohon tenanglah!" Chriss mencoba menyabarkan hati Ye Kai. "Gong Zi kami sedang dalam penanganan. Seharusnya dia sudah membaik sekarang."
"Apa dia di dalam?" Ye Kai menoleh ke arah pintu ruang perawatan. "Agustin juga sudah di dalam?"
"Benar. Maka Master Ye tenanglah!" Chriss berharap Ye Kai bisa sedikit bersabar menunggu hasil dari pemeriksaan atas Jessey Liu. Namun, Chriss tiba-tiba merasa tubuhnya sedikit lemas dan pusing.
"Okay! Mari kita tunggu hasilnya." Ye Kai akhirnya hanya bisa duduk sambil menunggu pintu ruangan terbuka hingga mata sipitnya seperti tidak ingin beralih barang sekejap saja.
"Kenapa sih, mereka lama beneeeer!" Ye Kai menggerutu sambil berkali-kali memukulkan tinjunya ke telapak tangannya sendiri.
Heldevi juga menyusul duduk di sebelah Ye Kai dan ingin bercerita tentang kejadian tadi malam, akan tetapi pemuda itu terkejut saat melihat tubuh Chriss yang terhuyung. "Udahlah kita tunggu aja!"
"Chriiiis!" Heldevi berteriak sambil berusaha menangkap dan menahan tubuh Chriss yang hampir terjatuh. "Chriss, kamu kenapa?"
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa. Anda jangan khawatir, Tuan!"
"Tapi tubuhmu dingin sekaliiii!" Devil berkata seraya meraba tangan dan kening Chriss. Ia pun segera mendudukkan pemuda itu di sofa dan membaringkannya. "Ye Kai, tolong Chriss!"
Ye Kai tanpa berkata-kata segera memeriksa keadaan Chriss. "Kayaknya dia emang kecapean. Kasian juga."
"Yupz. Keknya sih gitu." Heldevi berucap disertai rasa iba melihat kondisi Chriss. "Dia perlu perawatan juga."
"Vil, panggil suster buruaan!" Ye Kai berseru sembari memijat beberapa titik syaraf-syaraf Chriss.
"Okay, gue panggil!" Devil mengambil langkah seribu sebelum Ye Kai semakin berang.
Ye Kai sendiri segera menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Chriss yang masih diambang kesadaran. Ye Kai sungguh menyesalkan kejadian yang tak melibatkan dia. Karena pada saat rombongan Jessey Liu tengah mengalami hal yang sangat buruk, justru dirinya sedang asyik masyuk bersama sang istri.
"Betulan gak adil emang. Gue ma dia bisa berbanding berbalik gitu." Ye Kai bergumam dalam hati. "Ibarat gue lagi di syurga dan dia lagi di neraka."
Ye Kai masih termenung. "Heaven and Hell."
__ADS_1
...Bersambung...