
Beberapa saat sebelumnya ...
Suasana Kota Xiayang sudah mulai terlihat ramai dengan berbagai aktifitas penduduknya. Mulai dari anak-anak yang berangkat ke sekolah, para pekerja pabrik, para pedagang dan lain sebagainya. Jalanan pun sudah dipadati dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan. Termasuk Ye Kai yang sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah bengkel di sudut kota.
Pria itu terus melajukan motor butut kuno kesayangannya yang merupakan motor legendaris warisan dari kakek pria berketurunan Taiwan itu. Sebagai pengagum sang kakek, Ye Kai sangat tidak ingin menjual atau mengganti kendaraannya ini. Walaupun sebenarnya dia juga memiliki kendaraan lain berjajar di dalam garasi rumahnya.
Pria ini memang sederhana dan tidak terlalu menonjolkan kemampuan apa saja yang dia miliki. Baginya, hal semacam itu tidak oatut disombongkan sama sekali. Hal itu pula yang membuat seorang tuan muda dari Sekte Elang Emas sangat menyukainya dan memberi kepercayaan penuh tanpa keraguan pada pria ini.
Ye Kai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi tiba-tiba berhenti di pinggir jalan dan segera melepas helmet yang melindungi kepalanya. Ha itu membuat rambut hitam panjangnya tergerai lepas bak model iklan shampo di layar televisi. Rupanya, ponsel dalam sakunya terus bergetar tanpa henti. Dia dengan cepat mengambil benda pipih dan segera menggeser tombol hijau ke atas untuk menerima sebuah panggilan dari seseorang.
"Nihao, Jessey!" Ye Kai menyapa orang yang memanggilnya dari seberang saluran telepon seluler. "Ada apa?"
Jessey Liu menyahut dari seberang sambungan telepon. "Aku baik, Ye Kai. Langsung saja, bagaimana dengan pengganti si Leo?"
"Lu tenang aja, Jessey. Gue masih lagi usaha nyari info tentang calon gantinya si Leo nih."
"Setengah bulan lagi, Ye Kai. Inget itu!" Jessey Liu bermaksud hanya mengingatkan sahabatnya ini.
"Iyaaaa, gue inget itu, gue bukan kagak tau. Gue udah punya calonnya dan sekarang juga gue lagi mau nemuin tuh cewek." Ye Kai menjawab sambil menganggukan kepala kepada para pengendara yang menyapanya.
Perkataan Ye Kai tentu saja sangat mengejutkan Jessey Liu yang saat ini sedang berada di luar kota. "Cewek? Lu milih cewek?"
Jessey Liu sedikit merasa terkejut dengan ucapan Ye Kai, bagaimana tidak? Selama ini dia sendiri tidak pernah memikirkan sama sekali, jikalau band miliknya akan mengambil seorang vokalis utama seorang wanita yang menurutnya aneh. Suara wanita itu, bukankah terlalu lembut? Takutnya lagi, itu akan membuat performa band musiknya hancur tak berbentuk lagi dan jatuhlah martabat mereka sebagai penganut aliran musik cadas.
"Iya, dia cewek. Kenapa memangnya?" Ye Kai merasa sangat heran dengan anak-anak band Danger Death yang seperti tidak menyukai pilihannya kali ini. "Lu gak suka? Bukannya lu udah serahin ke gue soal ini?"
"Lu yakin dia bisa
"Bukan gitu, gue tau lu gak pernah main-main. Gue percaya sama lu dan lu atur aja semuanya, mengingat gue lagi sibuk banget dengan urusan bisnis gue di sini." Jessey Liu menyahut dengan nada suara pelan, seperti sedang menyiratkan sesuatu yang sedang membuatnya merasa tidak baik-baik saja.
"Baguslah! Lu tenang aja sama urusan Danger Death di sini. Sementara waktu ini, lu fokusin dulu sama kerjaan lu di sana dan jangan pikirin tentang vokalis baru kita." Ye Kai memang paling memahami akan situasi sahabatnya ini. "Kalo lu fokus, kan lu bisa balik ke sini secepatnya. Yekaaan?"
__ADS_1
"Okay, Ye Kai. Gue cuma mastiin aja, karna gue kagak mau kita nyalahin konser yang udah kadung kita sepakatin sama pihak panitia. Gue merasa tenang sekarang."
"Yo'iiii, lu kagak usah khawatirin apa-apa lagi. Urusan pemberkasan dan lain-lain kan udah ada si Jeremy. Kostum sama atribut lain itu urusan Zee en Willy. Peralatan dan teknisi kan udah ada timnya si Devil. Apa lagi yang bikin lu cemas?" Ye Kai memang cukup paham dengan Jessey Liu yang serba ingin perfect dalam segala hal. "Urusan katering biar bini gue aja yang nanganin. Beres, kan?"
"Okay, gue gak khawatir lagi kalo gitu."
"Siiplah! Kalo gitu gue mau lanjut ke tempat Zike. Dan lagi, kagak enak lama-lama ngomong di tempat umum gini. Kan gue lagi di jalan nih." Ye Kai memang merasa agak risih dan mulai kepanasan.
"Zike? Itu namanya?" Jessey Liu bertanya lagi. Meskipun dia memang mendengar suara lalu lalang kendaraan yang terdengar dengan cukup jelas dari speaker ponsel.
"Yupz, itu panggilannya. Aslinya gue juga belum paham-paham amat."
"Okay lah, lu lanjutin aja. Semoga berhasil, Ye Kai. Jiayou!" Jessey Liu pun tampaknya ingin mengakhiri sambungan teleponnya.
"Hao! Jiayou, Jessey!"
"Bye, Ye Kai!"
Keduanya lalu saling menutup sambungan ponsel masing-masing dan Ye Kai segera melanjutkan perjalanannya ke tempat Yi Xie bekerja. Pria itu sangat berharap hari ini juga dia mendapatkan sebuah kepastian dari Zike. Demi sebuah perjanjian, dia harus rela turun tangan secara langsung untuk mencari pengganti Leonard mantan penyanyi utama band Danger Death.
Tiba-tiba saja mata Yi Xie berbinar saat melihat seseorang menghentikan kendaraan tak jauh dari tempat kedua orang berbeda ruoa dan usia tersebut. Si bos gendut terbelalak lebar saat melihat siapa yang datang kali ini.
"Nah, Bos! Itu dia orangnya!" Yi Xie berseru dengan antusias.
"Dia?" Bos gendut merasa tidak asing dengan pria yang baru saja datang dengan mengendarai sebuah sepeda motor butut bersuara epret-epret dan sangat tidak enak didengar. Terlebih lagi saat lelaki itu mengegas kuat-kuat sebelum berhenti turun dari atas sadel hitam.
"Dia pemilik temanmu itu?" Bos gendut merasa tidak yakin.
"Bos bisa tanyakan saja padanya nanti." Yi Xie melihat ke arah Ye Kai dengan mengulas senyum tipis.
Tetapi, Ye Kai justru mendekat ke arah mobil jeep bercat hijau tua yang sedang digarap oleh para karyawan bengkel. Mau tidak mau, bos gendut dan Yi Xie berjalan ke tempat tersebut. Ye Kai terlihat meneliti mobil itu dengan saksama sembari menopangkan jari tangannya di dagu. Dia terlihat berpikir tentang mobil kuno yang legendaris ini.
__ADS_1
"Hai semua!" Ye Kai menyapa dengan senyum cerahnya. Dia memang orang yang cukup menyenangkan walau kadang terlihat jutek dan cuek.
"Hai juga, Bro!" Beberapa orang pekerja langsung menyahut dengan sikap ramah pula.
"Apa pemiliknya meminta dicat warna ini?" Ye Kai bertanya kepada salah satu karyawan dengan keheranan.
"Kami tidak tahu, tapi bos kami yang memerintahkan mobil ini dicat dengan warna hijau berdoreng hitam motif army ini." Si karyawan menyahut.
"Hmm, boleh juga. Semoga memang ini pilihannya." Ye Kai bergumam. "Okay, lanjutkan!"
Ye Kai tidak lagi memperhatikan mobil milik Jessey Liu yang masih dalam proses pengerjaan. Dia kembali pada tujuan awalnya datang ke tempat ini. Yaitu, mencari tahu keberadaan Zike yang sedang dia butuhkan untuk menggantikan Leonard. Pria itu tersenyum ke arah dua pria berbeda rupa dan usia yang sedang mendatanginya.
"Hello, Bos!" Ye Kai mendahului menyapa sang bos pemilik bengkel yang bersikap ramah kepada siapa saja.
"Tuan, silakan! Apakah ada yang bisa kami bantu?" Bos gendut rupanya belum mengetahui identitas tamunya ini.
Mereka lalu berjabatan tangan saat sudah saling berhadapan, meskipun hanya sekadar untuk berbasa-basi semata. Namun keramahan, tetap harus terjaga demi menghormati sesama.
"Halo juga, Bos! Maaf menganggu, saya ada sedikit kepentingan dengan Yi Xie. Tentu saja itu akan menganggu pekerjaannya. Tapi, kepentingan saya juga sangat mendesak." Ye Kai memang bukanlah orang yang suka berbasa-basi terlalu lama. "Apakah Bos mengijinkan kami bicara barang lima belas atau tiga puluh menit?"
Bos gendut terlihat berpikir sejenak. "Baiklah, silakan!"
"Terima kasih, Bos!" Ye Kai membungkukan badan dengan sikap hormat.
"Yi Xie, ajaklah tuan ini ke tempat yang nyaman!" Bos gendut memanggil Yi Xie yang sejak tadi hanya diam saja.
"Baiklah, Bos!" Yi Xie menyahut dan segera menghampiri Ye Kai.
"Ayo!"
...Bersambung...
__ADS_1