Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
COBA SEKALI LAGI


__ADS_3

Pukul 03 dini hari, Ye Kai tiba-tiba terjaga dari tidurnya saat beberapa kali merasakan derit ponsel yang bergetar di atas meja. Tangan pria itu mencoba meraba-raba untuk menggapai alat komunikasi dengan mata setengah tertutup.


Pergulatan panas bersama wanita cantik sudah bergelar istrinya tersebut, sungguh telah menguras tenaga. Hal itu membuat Ye Kai menjadi tertidur lebih pulas sejak awal. Dia baru saja sedikit terjaga setelah ponselnya bergetar hingga beberapa kali.


"Lan'er, Jessey sedang dalam perjalanan kembali!" Ye Kai berseru seraya meng-scroll pesan-pesan dalam layar ponselnya. Sebuah pesan suara singkat dan tentunya itu adalah pesan yang paling penting baginya, ia perdengarkan dengan volume suara cukup jelas.


"Oohh," gumam Mei Lan dengan nada malas. Udara terlalu dingin hingga membuatnya terlalu enggan untuk bergerak. Dia tetap bergulung di dalam selimut dengan masih menahan kantuk. "Baguslah, kalau dia kembali."


"Kalau begitu, aku harus bersiap menyambutnya!" Ye Kai bermaksud untuk segera beranjak dari pembaringan, akan tetapi Mei Lan telah menyambar tangan sang suami serta menahannya.


"Ye Geeee ... bukankah sekarang hari masih gelap? Lihatlah! baru pukul berapa sekarang?" Mei Lan mengingatkan masih dengan suara malasnya.


Hal itu membuat Ye Kai tersadar, ia segera melihat jam dan waktu baru menunjukan angka tiga. "Aaaah! Ternyata memang masih terlalu pagi!"


"Ye Ge hanya memikirkan dia saja." Mei Lan memang terkadang merasa kesal jika suaminya ini sudah mulai memikirkan Jessey Liu. Dia merasa sedikit terabaikan dengan semua tugas dan segala urusan yang menyangkut tuan muda Sekte Elang Emas tersebut.


Meski demikian, Mei Lan merasa cukup senang juga dengan kedudukan suaminya sekarang ini. Menjadi wakil ketua sekte sekaligus pengelola perusahaan milik Keluarga Liu juga bukanlah kedudukan yang rendah. Selain gaji besar dan berlipat, mereka pun juga sangat dihormati sebagaimana layaknya orang penting yang dinantikan oleh banyak orang.


Mendengar perkataan Mei Lan yang lebih serupa keluhan, Ye Kai merasa sedikit bersalah dalam hati. Memang harus dia akui, jikalau istrinya ini seringkali terabaikan dan merasa kesepian sepanjang hari dengan segala aktifitasnya yang sangat padat hingga seperti tak ada ruang untuk menarik napas lega.


Ye Kai mematikan ponselnya dan meletakkan benda pipih nan canggih di atas meja. Pria itu kemudian masuk ke dalam gulungan selimut bersama dengan Mei Lan. "Kalau begitu, lebih baik tidur lagi saja!"


"Tidur ... atau satu ronde lagi?" Ye Kai berbisik di telinga Mei Lan sembari menjelajah dengan liar. Mereka bahkan masih sama-sama polos dan hanya berbalut selimut tebal yang hangat.


"Lagi?" Mata Mei Lan seketika sedikit terbuka mendengar pertanyaan Ye Kai.

__ADS_1


"Iyaaaa. Bagaimana kalau satu babak lagi?" Ye Kai bertanya setengah berbisik, seraya menyelusupkan telapak tangan ke leher belakang sang istri. "Sekali lagi, yaaa?"


Mendengar permintaan manja itu, Mei Lan tak bisa untuk tidak melakukan sesuatu. Wanita itu segera melingkarkan tangannya ke leher Ye Kai dan menarik hingga wajah mereka berdekatan untuk kembali saling menyarangkan sentuhan bibir mereka. Meski semula rasa kantuk masih bergelayut memberatkan sepasang kelopak matanya, hingga membuat wanita secantik boneka porselen tersebut begitu enggan bergerak.


Namun, jika sang petualang yang sedang menjelajah ini sudah melakukan aksinya. Maka, seorang Mei Lan hanya bisa mengeluarkan suara rintihan samar disertai oleh gerakan tubuh yang berliukan mengikuti sentuhan Ye Kai. Tarian syurgawi kembali dimulai. Suara deru napas bak irama alam tuk menyambut musim semi. Mengajak para pelantun berlari, berkejaran, saling menaklukan sampai pada titik puncak kenikmatan duniawi. Dia pun mulai menyambut dan terus mengikuti alur indah yang sedang dibuat oleh pria tampan dan mapan ini untuk mendapatkan pencapaian tahap nirwana sekali lagi, atau mungkin ... bahkan berkali-kali hingga pagi.


Sebagai para praktisi bela diri, tentu saja kekuatan fisik mereka sangat mendukung dalam permainan dewasa yang menjadi kegemaran setiap pasangan suami istri. Terlebih lagi, mereka belum memiliki seorang putra, hingga membuat mereka selalu menyibukan diri dengan pekerjaan dan berbagai kegiatan di Sekte Elang Emas dan juga perusahaan milik Jessey Liu.


"Lan'er," panggil Ye Kai dengan suara lembut.


"Mmm?" Hanya sebuah gumaman kecil yang keluar dari bibir basah wanita cantik dalam pelukan Ye Kai.


"Aku akan membawanya ke mari," ucap Ye Kai dengan suara lirih.


"Dia?" Mei Lan sedikit terkejut dengan ucapan suaminya ini.


Mei Lan mengubah posisinya dan membelakangi Ye Kai. Meskipun dia tidak tahu pasti apa maksud suaminya dengan membawa gadis itu ke mari, tetai dia pun merasa sedikit enggan untuk bertanya ataupun menolaknya. "Aku bukannya keberatan, tetapi ....."


"Kamu cemburu?"


"Kalaupun aku cemburu, apakah itu dilarang?" Mei Lan memasang wajah sedikit masam. Jelas saja dia merasa cemburu, tetapi wanita itu memendamnya dalam-dalam. Hanya sebuah cubitan kecil yang panas dan menyakitkan mendarat di perut Ye Kai sebagai jawaban.


"Aww!" jerit tertahan dari mulut Ye Kai berhasil merusak suasana. "Lan'eeeer! Kau menyakitiku setelah puas memakainya."


"Apa?" Mei Lan secara tiba-tiba membalikan tubuhnya yang masih tanpa sehelai benang pun dan hanya terbungkus dalam selembar selimut yang sama dengan Ye Kai berada di bawahnya. "Memangnya siapa tadi yang minta tambah lagi?"

__ADS_1


Ye Kai mengeluarkan deretan suara tawa kecil akibat merasa geli melihat wajah Mei Lan yang menjadi bertambah sangat lucu dan menggemaskan ini. Pria itu sekali lagi memeluk Mei Lan yang masih terlihat kesal. "Kalau begitu, bagaimana kalau sekali lagi?"


Pria itu hanya berniat menggoda sang istri saja, karena untuk melakukannya lagi tentu saja sudah tidak mungkin. Sementara itu, Mei Lan yang masih merasa sedikit kesal dengan sikap Ye Kai lebih memilih untuk melanjutkan tidur tanpa memedulikan suami yang sekarang memeluk sang istri sambil tersenyum puas hingga ikut terlelap.


Waktu terus bergerak hingga fajar menjelang. Suara sabda alam menyambut mentari pun mulai riuh terdengar. Ayam jantan yang dengan angkuhnya menyuarakan kokokan nyaringnya hingga murai-murai kecil yang riang gembira berloncatan tanpa henti. Mereka adalah jam alamiah yang tak pernah mengkhianati waktu dan akan melakukan hal itu pada saat yang sama di setiap harinya.


"Celaka!" Ye Kai terbangun dari tidur tanpa mimpi yang telah mengungkung pria itu hingga beberapa jam lamanya. Dia menoleh ke arah jam dinding dan waktu telah menunjukan pukul 06.30. Perasaan sedikit lega saat melihat angka yang belum terlalu terlambat untuknya. Waktu masih cukup untuk dia bersiap-siap dan berangkat ke tempat kerjanya. "Syukurlah!"


Pria itu menyempatkan diri untuk melihat ponsel dengan harapan ada informasi lebih lanjut tentang Jessey Liu yang semalam mengatakan dalam perjalanan pulang. Namun, tidak ada pesan apa pun selain semua pesan dari Henry Tan tentang jadwal acara hari ini. Ye Kai mengusap wajahnya dengan kasar akibat perasaan kecewa.


"Kenapa dia tidak mengirim pesan apa pun lagi?" Ye Kai bertanya dalam hati dengan perasaan aneh. "Ataukah dia marah karena aku belum sempat membalasnya?"


Ye Kai lalu melakukan perekaman suara untuk dikirimkan kepada Jessey Liu. "Selesai!"


Pria itu lalu bangkit dan menyambar sehelai piyama yang semalam dipakainya, tetai benda itu ia abaikan begitu saja saat akan melakukan pertarungan dengan istrinya. Sebuah peperangan yang selalu dimenangkannya, tetapi dia belum juga diberi penghargaan atas jerih payah dalam upaya menyemai benih. Hal itu dikarenakan, bibit-bibit unggul itu selalu gagal bertumbuh dan harus luruh sebelum sempat bertunas.


Ye Kai tak ingin menunda waktu berharganya, dia pun beranjak untuk membersihkan diri. Namun, saat telah berada di kamar mandi, mata pria itu tak sengaja melihat sprei dengan bercak darah yang samar berwarna merah muda. Ye Kai tertegun disertai desir kecewa dalam hati, hingga tanpa sadar dia bergumam, "Perasaan tadi malam dia masih belum ...."


"Dan pagi ini sudah keluar?" Ye Kai terus memperhatikan noda itu dengan perasaan sedih. "Seharusnya tetaplah di sana sampai tahun depan."


"Ternyata gagal lagi!" Ye Kai berucap sendiri sambil membanting piyama ke dalam ember guna menghalangi pemandangan yang sangat menyakitkan itu. Rasa panas menyerang kedu matanya yang mulai mengembun.


"Anda masih belum beruntung!" Ye Kai segera menyiram seluruh badan guna mengalihkan perasaan kecewanya. "Maka ...."


"Coba sekali lagi."

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2