Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SYAIR DI BALIK LUKISAN


__ADS_3

"Maple berdarah? Apa maksudmu, Segara?" Alexi tiba-tiba terkejut dengan gumaman segara.


"Benar, Tuan Muda. Lukisan ini bahkan terlihat lebih indah dengan noda darah Anda di sini." Sebenarnya Segara sedang mencari akal agar Alexi mengurungkan niatnya membersihkan noda darah pada lukisannya. Karena hal itu bisa saja memudarkan cat air dan menambah kerusakan yang lebih parah lagi.


"Dengan darah Anda di sini, itu seperti sebuah penyatuan antara Zain dan Anda." Segara dalam hati ingin tertawa dengan ucapannya sendiri yang hanya ingin mengecoh tuan mudanya ini.


"Sebuah penyatuan?" Alexi tampaknya mulai memikirkan hal yang terlihat masuk akal dan bagus. "Eh, Abraham! Apa kau juga berpikir begitu?"


"Eeehh, saya tidak begitu paham dengan ucapannya. Tapi saya rasa itu memang terdengar masuk akal." Abraham hanya asal menjawab saja, karena sebenarnya dia tidak tahu apa maksud kedua orang ini. Dalam hal yang menyangkut tentang pecintaan, dia sungguh tidak memikirkannya sama sekali.


"Dasar batu! Bagaimana bisa kau paham dengan hal percintaan? Apakah selama ini kau hanya tahu untuk mencintaiku saja?" Alexi melengoskan wajahnya dengan kesal. Dia bahkan sampai tidak menyadari saat sebuah jarum suntik sedang menusuk kulit di sekitar lukanya.


"Tentu saja. Selain mencintai diri saya sendiri, saya hanya mencintai Anda dan tuan besar." Rupanya, Abraham tengah memasukan obat anestesi untuk menghilangkan rasa sakit saat proses penjahitan nantinya. Alexi sendiri masih memikirkan tentang jatuhnya lukisan yang masih mengganjal dalam hati dan pikirannya saat ini.


"Suatu saat juga kau akan mencintai orang selain kami. Bukankah kau juga harus menikah, Abraham?" bertanya Alex sambil menerawang entah ke mana, karena justru dia sendirilah yang membayangkan wajah gadis pujaaannya.


"Tuan Muda bercanda." Abraham berkata sambil terus melakukan tugasnya. Dia memang sengaja membiarkan Alexi terus berbicara agar tidak menyadari, kalau lukanya sedang dalam proses penjahitan.


"Luka sedalam hampir satu senti, mengapa dia seperti tidak merasakan apa pun?" Abraham merasa heran dengan Alexi yang tampak sangat biasa saja. "Apakah obat anastesi ini yang terlalu bagus, hingga menghilangkan seratus persen rasa sakitnya?"


"Apakah tangan Tuan Muda tidak sakit?" bertanya Abraham akibat dari rasa penasaran yang terus mendesah pikirannya.


"Sakit?" Alexi balik bertanya yang bagai ditujukan untuk dirinya sendiri. Hatinya bergumam dengan perasaan sakit yang luar biasa. "Hatiku terasa jauh lebih sakit lagi saat membayangkan aku menikahi tuan putri Sekte Awan Putih."


"Tidak, Abraham."


Sementara itu Segara masih asyik memperhatikan detail lukisan daun maple jingga yang sangat disukai oleh sang majikan. Tentunya ada sesuatu yang membuat sang tuan muda menjadi begitu menyukai hal yang tak pernah membuat Alexi melirik pada benda-benda semacam ini.

__ADS_1


Segara bergumam sembari meletakan tangannya di dagu, sedangkan tangan yang lain bersedekap di depan dada sebagai penopangnya. " Cinta memang sanggup membalikkan dunia seisinya. Sampai-sampai lukisan saja telah membuatnya seperti itu."


"Semoga tuan muda sedikit memikirkan ucapanku tadi. Akan sangat merepotkan kalau lukisan ini rusak akibat proses pencucian. Biarkan saja dia berpikir, kalau noda darahnya justru akan menjadi sebuah keindahan juga." Segara benar-benar harus berpikir keras agar Alexi menjadi mengerti.


Segara meraba permukaan lukisan dedaunan itu dengan ujung jari telunjuknya untuk meneliti detail gambar yang terlihat unik dan tampak hidup. Mau tak mau pemuda itu berdecak kagum dan memuji sang pembuat lukisan. "Sepertinya gadis yang disukai oleh tuan muda benar-benar seorang pecinta seni dengan bakat yang luar biasa, sehingga dia bisa menggambarkan secara rinci setiap karakter daun yang dia lukis ini."


"Bahkan garis terhalus pun digambarkan dengan teliti sekali," ujar Segara dalam hati sembari terus menyusuri garis-garis hitam yang tampak cukup beraturan hingga tanpa sengaja dia membaca seuntai kata yang ditulis terbalik. "I-i imub sata id ... apa ini?"


Hingga beberapa kali pemuda itu mengulangi kata-kata yang dia temukan. Hal itu ternyata didengar oleh Alexi. "Segara, apa yang kamu ucapkan baru saja? Mengapa itu terdengar aneh sekali?"


"Tuan Muda, bolehkah aku menyentuh lukisan ini?" Segara tidak langsung menjawab pertanyaan Alexi, tetapi malah meminta ijin untuk menyentuh lukisan tersebut.


"Ada yang anehkah pada lukisan itu?" Alexi hampir saja bangkit dari berbaringnya, tetapi Abraham segera memberi isyarat agar dia tak bergerak. "Apakah lukisan itu rusak?"


"Tidak ada kerusakan apa pun, hanya saja aku melihat ada sebuah kalimat yang aneh di sini, Tuan Muda."


"Baik, Tuan Muda. Terima kasih atas ijinnya," ucap Segara dengan perasaan lega. Diangkatnya lembaran lukisan yang terbuat dari kain kanvas putih tersebut untuk mengamati tulisan yang membuatnya penasaran.


Segara dengan sangat berhati-hati sekali mengangkat lukisan tersebut untuk melihatnya lebih dekat. "Ini sungguh tulisan yang terbalik. Tapi, sepertinya bukan hanya satu atau dua kalimat saja. Dan ini, bahkan ada beberapa kalimat yang tertera."


Eh, tunggu!" Segara tiba-tiba membalik kain itu dan benar saja, matanya tiba-tiba melihat sebuah puisi yang telah menarik perhatiannya.


"Syair di balik lukisan!"


Di tempat lain ....


"Siaaaaal!" Para preman berteriak saat tumpukan debu tebal mengenai wajah mereka semua, sedangkan gadis yang menyebarkan debu itu segera bergerak memukuli kepala dan tubuh-tubuh para preman yang sedang menahan perih pada penglihatannya masing-masing.

__ADS_1


Hal tersebut membuat gadis berpakaian ala anak metal itu tertawa terbahak-bahak setelah ketegangannya sedikit menghilang, karena melihat sebuah pemandangan lucu di depan matanya.


"Rasakan saja oleh kalian semua, para preman kampungan!" Gadis itu segera berlari menuruni anak tangga dan keluar dari dalam bangunan tua tersebut. Dia sungguh tak ingin menyia-nyakan kesempatan bagus yang mungkin tidak akan terulang lagi. Melarikan diri lagi dan lagi, adalah jalan yang terbaik baginya.


Saat ini dia masih merasa belum untuk menghadapi mereka sekaligus, meskipun Hardman pernah ia buat babak belur sebelumnya, akan tetapi tenaganya masih tidak cukup kalau harus menghadapi sepuluh orang sekaligus.


"Hei, jangan kabur kau bocah tengiiilk!" Bos preman merasa kecolongan saat berhasil membuka matanya dan medapati para anak buahnya yang sedang mengerang kesakitan akibat mata mereka terkena debu dari kibasan gorden usang yang tentunya tidak pernah dicuci selama puluhan tahun.


"Kejar diaaaa!" Bos preman berteriak sambil memegangi kedua matanya yang terasa sangat pedih dan nyeri. Sesekali pula para preman terbatuk-batuk akibat tersedak oleh debu.


"Mataku! Mataku tidak bisa melihaaat!" Preman berkumis berteriak histeris saat mmerasakan penyiksaan pada matanya.


"Bodoh kalian semuaaa!" Bos preman merasa sangat marah setelah menyadari buruannya lolos. "Gadis itu berhasil melarikan diri! Itu akibat kebodohan kalian semuaaa!"


"Kabur?" bertanya preman lain sambil meraba-raba ke segala arah. Ruangan yang gelap dan pengap ditambah penglihatan yang sudah terganggu oleh kepulan debu.


"Kita semua sudah dibodohi oleh bocah tengik itu!" Bos preman masih tak bisa melihat dengan jelas meski telah berhasil membuka matanya.


"Mataku pediiiiih!" teriak preman bertatto kepala serigala sambil memegangi matanya yang bagaikan buta,


"Gadis cilik itu benar-benar sialan dan banyak akal!" Preman lain tak kalah geramnya akibat merasa hanya menjadi pecundang oleh gadis lemah yang hanya bisa berlari guna menyelamatkan diri.


"Betul! Aku juga heran dengannya, bagaimana bisa bos Hardman dihajar hingga babak belur oleh anak ingusan seperti dia?"


"Sudah! Ayo kita kejar sebelum dia semakin jauh dari sini!"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2