Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MAWAR JINGGA


__ADS_3

Hotel Berlian adalah bangunan hotel megah berbintang 5 milik Keluarga Liu yang dipercayakan pengelolaannya kepada Ye Kai. Bisa dibilang, kedudukan Ye Kai satu tingkat di bawah Jessey Liu yang merupakan pimpinan dari semua perusahaan milik Jennie Liu. Di samping Jessey Liu juga masih harus mengurus segala kepentingan Sekte Elang Emas dia juga bertanggung jawab atas perusahaan sang ibu.


Bisa dibilang juga, tanpa Ye Kai mungkin Jessey Liu bukanlah apa-apa dan tidak akan bisa semaju seperti sekarang ini. Akan tetapi, seorang Ye Kai juga bukanlah sosok manusia penjilat yang akan dengan senang hati menggunakan kekuasaan untuk diriya sendiri. Dia akan selalu menjadi orang nomor satu sebagai pembela Jessey Liu. Karena baginya, hal apa pun yang menyangkut tentang Jessey Liu itu merupakan urusannya juga.


Seperti halnya tentang pencarian seorang vokalis pengganti bagi Danger Death saja, Ye Kailah yang dibuat pusing tujuh keliling karenanya. Terlebih lagi saat ini Jessey Liu sedang dalam kepentingan yang lain di luar kota dan telah menyerahkan segalanya kepada Ye Kai.


Saat ini Ye Kai telah memasuki ruangan pesanannya yang memang hanya akan digunakan oleh para petinggi perusahaan tersebut. Kedatangannya disambut para pelayan wanita berpenampilan sopan dan cantik yang akan siap melayani segala keperluan mereka.


Salah seorang pelayan menarik sebuah kursi kayu berukir dengan bantalan empuk bermotifkan bunga-bunga yang indah. Sambil mengulas senyum manis serta sikap keramahtamahan yang tinggi kepada atasannya, wanita itu berkata sembari membungkukkan badan dan menunuduk hormat. "Silakan, Master Ye!"


"Terima kasih, Serafina." Ye Kai kemudian duduk dengan tenang setelah membuka jaketnya yang lusuh dan sedikit bau serta memberikan benda itu kepada wanita pelayan tersebut. mau tidak mau, Serafina pun harus menerima baju milik atasannya meskipun sembari bergidik menahan aroma keringat Ye Kai. "Kau cucilah!"


"Baik, Master!" Serafina hendak berlalu dari ruangan itu untuk melakukan tugas barunya itu.


Namun, Ye Kai kembali memanggilnya karena ada hal yang ingin dia tanyakan kepada pelayannya ini. "Serafina!"


"Ya, Master!" Wanita itu berbalik dan menatap ke arah tuannya dengan sikap siaga melayani apa pun perintah sang majikan tentu saja. "Adakah yang harus saya lakukan untuk Anda, Master?"


Ye Kai mengangkat sebuah teko kaca berisikan es jus buah jeruk yang segar dan menuangkan ke dalam gelas sembari bertanya, "Apakah nyonya sudah berada di sini?"


Serafina tidak langsung menjawab pertanyaan dari tuannya ini. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu dan baru menemukan jawabannya setelah beberapa saat lamanya berpikir sambil mengingat-ingat dengan baik. "Sepertinya saya memang pernah melihat nyonya tadi."


"Ooh, baguslah." Ye Kai menanggapi dengan suara datar, karena dia sudah tahu dengan pasti jika istrinya sudah berada di tempat itu. "Kalau begitu pergilah!"

__ADS_1


"Baiklah, Master!" Wanita itu kembali melangkahkan kaki serta membungkuk dengan homat kepada Yi Xie dan Zike yang masih belum juga beranjak memasuki ruangan besar tersebut.


"Silakan, Tuan da Nona! Master Ye telah menunggu Anda berdua." Serafina hanya memberi sapaan tanpa perlu menunggu jawaban dari keduanya. Dia pun segera berlalu setelah menganggukan kepala yang juga dibalas dengan hal serupa oleh dua anak muda tersebut.


"Zike, ayo masuk!" Yi Xie menyenggol lengan sahabatnya yang masih berdiri mematung di depan pintu ruangan. "Apa kamu akan terus di sini jadi patung penunggu pintu?"


"Aku takuuut," bisik gadis itu sembari menangkupkan tangannya di depan dada. Dia merasa ada hal yang membuatnya heran dengan sosok Ye Kai ini. "Apakah orang itu bisa dipercaya?"


Yi Xie dengan santai dan suara berbisik menjawab, "Jangan khawatir, Zike! Dia adalah orang baik yang pernah aku kenal. Dan kurasa, kamu justru sangat beruntung sekali karena dia tertarik padamu untuk dijadikaaaan ...."


"Dijadikan apa?" Zike merasa curiga dan tak enak hati mendengar perkataan yang digantung tanpa jawaban dari Yi Xie. Zike mengikuti pria muda itu sambil merapatkan tubuhnya pada punggung Yi Xie. "Yi-Yiiiii, dijadikan apa?"


"Sstt ... kamu akan tah nanti. Kita lihat saja!" Yi Xie senaja memberi gadis ini teka-teki tak bersilang.


Gadis itu memang patut mencurigai siapa pun. Hal itu karena penampilan Ye Kai yang terlihat biasa saja dan tidak menunjukan jikalau dia memiliki harta atau posisi berlebih. Zike hanya bisa menerka-nerka dalam hati tentang pria yang terlihat santai namun begitu garang saat melibas lawan-lawannya.


"Silakan, Nona!" Seorang pelayan wanita berseragam ala pelayan kerajaan Eropa membungkukkan tanda rasa hormat kepada tamu hotel yang dianggap cukup istimewa ini.


"Terima kasih, Nyonya!" Zike membalas penghormatan tersebut dengan hal serupa.


Sekarang mau tak mau gadis itu harus terus melangkah mengikuti sahabat lamanya ini meski dengan hati was-was. Namun, dia juga dibuat terperangah menyaksikan suasana ruangan yang sangat indah, megah dan elegan itu.


"Whoaaaah!" Mulut Zike menganga saat pintu ruangan terbuka. Sebuah pemandangan yang baru saja ia lihat di sepanjang hidupnya, terpampang nyata dan sangat memanjakan mata.

__ADS_1


"Bagaimana, kamu suka?" Suara pertanyaan Ye Kai mengejutkan Zike yang sedang terpesona melihat ruangan bergaya Eropa dan sangat mirip dengan istana kerajaan di film-film fantasy.


"Indah sekali!" Zike berlari ke jendela berbentuk lengkungan yang penuh dengan gerumbulan bunga mawar jingga. Semula gadis itu mengira itu adalah bunga sintetis semata. Tetapi setelah menyentuhnya, dia baru percaya jika itu adalah benar-benar asli.


"Ini benar-benar mawar!" pekiknya seraya menciumi beberapa tangkai mawar jingga yang beraroma harum.


"Aku ingin jadi Rapunzel!" serunya tanpa sadar. Sepertnya dia begitu menyukai tokoh dari film animasi Tangled dengan gadis berambut sangat panjang sebagai main character-nya. "Bukankah cocok dengan suasana di sini?"


Zain Kamila kemudian melongokkan kepalanya ke luar jendela tanpa penutup tersebut untuk melihat keadaan di luar ruangan. Lagi-lagi gadis itu dibuat berdecak kagum saat mendapati sebuah taman terbuka dengan bunga-bunga beraneka ragam.


"Ini luar biasa! Aku seperti memasuki sebuah ruang perjamuan di kerajaan saja!" Zike berdecak kagum sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Ye Kai dan Yi Xie hanya tersenyum-senyum menyaksikan tingkah Zike yang sedang mengagumi suasana hotel indah milik Keluara Liu. Dia sungguh tidak menyangka, jika dirinya bisa memijakan kaki berada di sebuah tempat selayaknya istana ini.


Setelah puas berlama-lama menatap taman dan berlarian menyentuhi benda apa saja yang menurutnya sangat unik dan menarik, gadis itu kembali kepada dua orang pria muda yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Maaf, Master Ye. Saya terlalu senang dan jadi tidak sopan di sini!" Zike menangkupakan kedua telapak tangannya sebagai tanda meminta maaf kepada Ye Kai.


"Tidak mengapa kalau kamu menjadi merasa terhibur. Bukankah itu bagus?" Ye Kai bersikap sangat ramah saat mempersilakan tamunya ini untuk duduk bersama menghadapi sebuah meja besar dengan beragai macam hidangan yang membuat perutnya meronta-ronta minta segera diisi. "Mari, Zike!"


Mau tak mau gadis itu harus merasa kesusahan untuk menelan air liur yang bagai tanpa henti mengalir dan memenuhi rongga lidahnya. Gadis itu membatin, "Semuanya terlihat lezat!"


"Tapi, aku malu ...."

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2