Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PERTENGKARAN


__ADS_3

"Ternyata aku hanya bermimpi!" desis gadis itu sambil kembali menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan pakaian. Tubuhnya terasa lemas dengan perasaan sedih dan gelisah yang teramat sangat. "Mimpiku buruk sekali!"


"Tapi itu hanya mimpi, kan?" Zike bertanya dalam hati sambil membalikan tubuhnya menghadap ke semua arah yang dia inginkan dan berharap menemukan kenyamanan. "Mengapa ini sangat terasa nyata?"


"Ale ... siapakah kamu ini sebenarnya? Dan siapa orang-orang yang menyeretmu dalam mimpiku?"


"Mengapa kamu menyuruhku pergi darimu, sedangkan kita juga begitu jauh terpisah?"


"Apakah sekarang kamu sudah bersama dengan Meilia dan bahagia?"


"Apakah kamu benar-benar memang sudah melupakan aku? Hingga dalam mimpi pun kamu menyuruhku pergi." Tentu saja, semua pertanyaan itu hanya terucap dalam hati tanpa ada jawabannya.


"Benar-benar sebuah mimpi yang terlalu buruk!"


Sementara itu di tempat lain. Dalam sebuah rumah besar dan megah milik seorang pengusaha yang nyaris jatuh bangkrut akibat dari segala kebiasaan buruknya. Seorang pria berusia hampir lima puluh tahunan tampak sedang berdebat dengan seorang lelaki muda yang tentu saja itu adalah anaknya.


"Tidak bisa, Paaaa! Pokoknya Jessey tidak mau melakukan apa yang Papa inginkan!" Jessey Liu berucap dengan nada geram dan marah. Wajah tampan itu tampak menegang dengan rahang yang saling berkatupan akibat menahan kegeraman. Kedua tangannya pun bahkan terkepal kuat


"Oooh, jadi kamu sudah pintar melawan papa. Haaaa?" Pria bertubuh sedikit tambun dengan wajah keturunan Negeri Tiongok membentak dengan suara tak kalah kerasnya. "Jadi itu yang sudah mama kamu ajarkan selama ini?"


"Paaa! Jangan pernah menyeret mamaku dalam masalah ini! Mamaku sudah bukan siapa-siapa bagi Papa!" Jessey Liu merasa sangat tidak suka jika ibunya selalu disebutkan dalam setiap perdebatan mereka.


"Tapi dia memang berandil sangat besar dalam mendidikmu! Jadi semua sifat dan tindakanmu, juga pasti dia yang ajarkan. Termasuk berani menentang keinginan papa!" Teddy Chen berkacak pinggang di hadapan anak lelakinya.


"Kalau itu adalah hal lain mungkin Jessey bisa menerimanya, Paaaaa!" Jessey Liu bangkit dari duduknya. "Tapi kalau menyangkut masalah perjodohan, Jessey tidak akan pernah menerimanya sampai kapan pun!"


"Dan untuk hal ini, sudah Jessey cukupkan untuk tidak membicarakannya lagi!" Jessey Liu menyambar jaket yang tersampir di punggung kursi sofa, untuk kemudian bergegas dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. "Selama malam, Pa!"

__ADS_1


"Jessey dengarkan papa!" Teddy Chen merasa sangat marah atas penolakan anaknya.


Jessey! Kalau kau tidak menuruti permintaan papa kali ini. Maka papa sudah tidak akan peduli lagi padamu di masa depan!"


"Aku bisa hidup tanpa campur tangan dan harta dari Papa!" Jessey Liu menyahut sembari menuruni anak tangga. "Dan soal semua hutang-hutang Papa kepada Keluarga Handono. Silakan Papa urus sendiri dan jangan pernah melibatkan Jessey lagi!"


"Jesseeey!" Teddy Chen berteriak sekali lagi dan mengatakan kalimat ancaman. "Jessey! Kalau kamu tidak mau menuruti keinginan papa untuk menikahi Vania! Maka papa akan mengejar dan menghabisi siapa pun orangnya yang berani menjadi istrimuu! Dan juga papa tidak akan mengakui anaknya sebagai keturunankuu!"


Jessey Liu berhenti setelah hampir sampai di depan pintu, lalu berbalik menghadap sang ayah yang memang menyusul anaknya. "Sekali lagi, Jessey tidak peduli! Hidup dan hatiku adalah milikku dan bukan milik orang lain termasuk Papa."


"Jessey berhak menentukan ke mana dan dengan siapa Jessey akan melangkah. Dan lagi pula, aku adalah Jessey Liu dan bukan Jessey Chen. Selamanya Jessey Liu ini tidak akan pernah mau memakai marga Papa. Karena aku benci sifat dan semua kebiasaan Papa!"


"Jessey! Kamu benar-benar anak durhakaaaaa!" Teddy Chen berseru sambil mengumpati anaknya. "Jessey! Kamu benar-benar seorang anak yang tidak tahu balas budi pada ayahmu sendiriiii!"


"Jangan salahkan Jessey karena durhaka kepada Papa! Tapi ingatlah suatu hal, Papalah yang sudah mendahului anak Papa ini mejadi menentang Papa!" Jessey Liu kembali meneruskan langkah kakinya menuju ke sepeda motornya yang terparkir di garasi. Malam ini juga dia memutuskan untuk kembali ke Kota Da Ha.


"Ayah macam apa yang menuntut sebuah balas jasa kepada anaknya? Papa memang yang paling tahu tentang balas jasa, sampai anak sendiri pun dipergunakan sebagai balas jasa dan menjadi imbalan bagi orang lain!" Jessey Liu sengaja meluapkan apa yang menjadi ganjalan dan beban ada di dalam dadanya selama ini.


"Tuan Besaaaaar!" Pelayan setia Teddy Chen segera menolongnya.


"Tuan besar jatuh!"


"Tuan Besar kumat lagii!" Yang lain tak kalah paniknya.


"Segera panggil Gong Zi kembalii!"


"Tapi ... aku takuuuut!"

__ADS_1


"Cepatlah panggil Gong Ziii!"


"Baik-baiklaah!"


Beberapa pelayan seketika berteriak histeris saat melihat tubuh majikannya jatuh terjerembab di atas lantai dalam kondisi pingsan. Mereka tahu benar akan perselisihan antara kedua orang yang sangat susah untuk disatukan. Keduanya tak ubahnya bagaikan Yin dan Yang yang saling bertentangan.


Jessey Liu tak memedulikan para pembantu Teddy Chen yang berteriak dengan suara keras memanggilnya. Salah seorang bahkan berlarian ke arahnya dengan wajah panik. Namun, Jessey Liu telah memakai semua peralatan berkendara lengkap dan menyalakan mesin motornya disertai raungan gas yang sengaja dia geber sekeras mungkin hingga berulang kali. Sebelas orang berseragam serba hitam juga sudah menunggunya di depan pintu gerbang dalam keadaan siap siaga dengan kendaraan yang sama.


Kelompok itu tak ubahnya seperti para gangster yang ada di film-film laga, meskipun mereka bukanlah orang-orang yang berada di atas jalan kejahatan. Salah seorang dari mereka membuka suara yang sedikit teredam oleh helmet.


"Gong Zi sudah bersiap-siap untuk kembali, kalian semua bersiaplah!" Chrish berseru kepada para anak buahnya.


"Siap, Ketua!" seru para pria bertampang macho dan gagah dalam balutan seragam pengawal dari Keluarga Liu.


Jessey Liu sendiri sudah siap melaju dengan kendaraannya. Dia tidak menggunakan mobil untuk kepergiannya kali ini. Hal itu hanya agar memudahkan perjalanan yang akan dengan sengaja melalui jalur pintas di atas perbukitan dan kali ini, mereka ingin melihat-lihat keadaan area pertanahan di lereng Bukit Goblin.


"Ye Kai. Aku akan kembali malam ini."Jessey Liu mengirimkan sebuah pesan suara kepada sahabat sekaligus orang kepercayaannya yang malam ini sedang terlibat pertempuran panas dengan Mei Lan.


Sebuah pesan suara singkat lainnya ia kirimkan juga kepada seorang wanita melalui ponselnya. "Ma, Jessey kembali."


"Gong Ziiii! Tuan besar pingsaaaan!" teriak pelayan pria dengan wajah cemas. Pria pelayan itu tiba-tiba berlutut. "Gong Zi mohon turunlah dan urungkan niat Anda untuk pergi!"


"Pingsan?" Jessey Liu tertegun sejenak, akan tetapi dia kembali tidak memedulikan kondisi Teddy Chen saat ini. "Bukankah itu adalah hal yang biasa?"


"Kalian uruslah dan bawa tuan ke rumah sakit!" Jessey Liu segera melesat dengan motor gedenya meninggalkan kediaman sang ayah. Pemuda itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menembus jalanan gelap tanpa menoleh lagi, sedangkan para pelayan hanya bisa membawa tuan besar mereka ke sebuah rumah sakit guna mendapatkan penangan medis.


"Daripada menikahi gadis sombong dan sok sosialita itu! Lebih baik aku menikah dengan orang yang sama sekali tak peduli denganku!" Jessey Liu bicara dalam hati dengan segala kegeraman yang membuatnya tak sadar menguatkan tekanan gas motor hingga kendaraan itu melesat bagai dikendarai bukan oleh manusia.

__ADS_1


Pemuda itu terus melaju bersama dengan rombongannya menuju ke arah Kota Da Ha yang jauh dari tempat mereka saat ini. Jikalau dihitung dari jaraknya, kemungkinan mereka akan tiba sebelum fajar tiba.


...Bersambung...


__ADS_2