
Zike pun akhirnya bisa menguasai diri saat merasa tidak ada siapa pun yang datang ke tempat itu. Jangankan para induk harimau, seekor kucing buduk pun tidak ada yang pernah singgah di sana. Zike melihat anak harimau itu tengah berusaha bangun dan berjalan ke suatu arah dengan terpincang-pincang. Sepertinya anak macan putih itu merasa frustrasi karena telah ditolak oleh seorang gadis.
"Dari mana anabul ini datangnya?" Zike mulai ingin tahu. "Kasihan sekali dia ...."
Di sisi dinding yang lain ....
"Alangkah manisnya!" Suara seorang gadis dari balik dinding berhasil menghentikan langkah Jessey Liu yang sedang kebingungan mencari bayi harimau miliknya.
"Ada seseorang di balik di dinding ini?" Jessey Liuyang baru saja menyibak semak bebungaan dan melihat sebuah lubang yang bisa untuk menerobos bagi seekor anjing ataupun kucing. "Mungkinkah bayiku menerobos masuk ke sana?"
Jessey Liu terpaksa berjongkok dan mendekatkan wajahnya di depan lubang untuk melihat ke dalam lubang tersebut. Dia mencoba memperhatikan keadaan di seberang lubang yang mungkin menampakan bayi harimaunya. Dia lalu melepaskan rumpun semak yang sedang dia tahan dengan salah satu tangannya.
"Sangat tidak jelas!" Pria muda itu segera bangkit sambil bertepuk beberapa kali guna membersihkan telapak tangannya yang kotor oleh tanah berdebu.
"Bayi macan putih, apakah kamu tersesat? Atau ... ada seseorang menakutimu?" Suara di balik dinding kembali terdengar.
"Suara seorang wanita?" Jessey Liu berucap dalam hati. Dia merasa sedikit merinding dengan suara tersebut. Terlebih ditambah lagi suasana yang terasa sedikit horror, membuat seorang Jessey Liu pun mulai berpikiran yang tidak-tidak. "Aaah, konyol! Sejak kapan Jessey Liu takut hantu?"
"Bahkan jika itu adalah hantu wanita yang sangat cantik ataupun tidak maka aku akan menikahinya jika dia berhasil menemukan dan menyerahkan bayi harimau itu padaku." Entah pemikiran dari mana yang membuat Jessey Liu sampai berkata demikian dalam hati. Jikalau bukan Yang Maha Kuasa yang menggerakkan hati pria itu, tentunya hal tersebut adalah sebuah kemustahilan. "Hei! Apa yang baru saja aku katakan tadi?"
"Konyol!" Jessey Liu menepuk dahinya sendiri karena merasa ada yang terasa janggal pada dirinya sendiri.
"Bukan hal mustahil kalau bayiku menerobos masuk ke dalam sana." Jessey Liu berpikir. "Sepertinya memang bisa saja terjadi, kan?'
Suara gadis di balik dinding terdengar kembali. "Ke mari lah! Aku punya ayam goreng besar untukmu."
__ADS_1
"A-ayam goreng?" Tentu saja perkataan itu membuat Jessey Liu merasa sangat terkejut, karena bayi harimau putih itu sebenarnya masih belum bisa makan dan hanya bisa minum susu saja.
"Beraninya dia memberikan ayam goreng berbumbu tajam pada bayiku!" Jessey Liu merasa geram dan bersiap ingin melompati dinding setinggi tiga meter itu. Bagi seorang praktisi bela diri sekelas master, hal tersebut bukanlah hal yang terlalu sulit untuk melewatinya. "Tidak bisa dibiarkan! Bagaimana kalau bayiku jadi sakit perut dan diare?"
Pria itu mendongaka wajahn melihat ketinggian tembok. Dia mengukur dengan cara mengangkat tangannya sendiri untuk menggapai bagian teratas tembok tersebut. "Kurasa cukup mudah."
Tentu saja dia bisa mengatakan hal semacam itu dengan enteng, dia bahkan bisa bersalto hingga setinggi tujuh meter hingga puluhan kali. Terlebih lagi Jessey Liu memiliki tinggi 195 senti meter, maka seharusnya tinggi tembok yang hanya tiga meter itu cukup mudah untuk dia gapai.
"Aku harus secepat mungkin mencegahnya sebelum terlambat!" seru Jessey Liu dalam hati.
Jessey Liu sudah bersiap hendak melompat, akan tetapi suara wanita yang lembut itu kembali terdengar. Sebelumnya dia tidak pernah merasa tertarik dengan hal apa pun tentang wanita dan entah mengapa kali ini dia merasa sungguh penasaran dengan sosok yang telah membuat jinak bayi harimaunya .
"Anak manis, sepertinya ayam goreng tidak bagus untukmu. Bukankah seharusnya kamu masih menyusu?" Suara gadis itu kembali terdengar.
Jessey Liu segera melompat ke atas dinding tembok dan bercangkung dengan sikap diam. Matanya langsung menangkap sesosok tubuh yang membelakanginya mengenakan kaos putih, celana jeans dengan rambut panjang tergerai hingga mencapai batas pinggang.
"Siapa dia?" Jessey Liu bertanya dalam hati. "Mengapa dia di sini sendirian? Bukankah ini adalah paviliun kecil yang siapa pun tidak diperbolehkan menempatinya?" Jessey Liu memperhatikan bangunan paviliun kecil tanpa nama tersebut dengan perasaan heran.
Jessey Liu menahan diri untuk tidak segera melompat turun dari atas dinding tembok yang hanya selebar dua puluh lima senti. Pria muda ini sangat ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh gadis itu. Secara diam-diam dia terus memperhatikan gerak-gerik gadis yang terlihat asyik memangku sesuatu. Itulah pasti hewan yang sedang dicari oleh Jessey Liu.
"Kau ini dari mana? Hampir saja aku pingsan saat melihatmu datang." Zike berbicara dengan suara lembut pada harimau putih yang masih sangat imut dan lucu. "Untungnya kamu masih sangat imut dan lucu. Kalau tidak, mungkin aku sudah kamu makan."
Bayi harimau tampaknya juga menyukai gadis yang sedang memangku tubuhnya. Sesekali dia menggeliat manja sambil mengeluarkan suara-suara auman kecil. Zike pun merasa sangat senang karena dia memiliki teman yang sangat menggemaskan. Mereka terus bercanda tanpa menyadari akan adanya sepasang mata pria di atas tembok keliling yang sedang mengawasi gerak-geriknya.
"Baiklah, kita ambil susu untukmu!" Gadis itu tiba-tiba bangkit dan berjalan menuju bangunan Paviliun Tanpa Nama dengan masih menggendong bayi harimau putih.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Jessey Liu tak bisa berdiam diri saja. Dia pun segera meluncur turun dan mengikuti gadis itu dengan langkah hati-hati. Dia sungguh merasa sangat penasaran pada gadis yang belum juga ia ketahui rupa wajahnya ini.
"Apa yang akan dia lakukan?" Jessey Liu membatin sambil terus melangkah dan berdiri di dekat daun jendela paviliun. Pria itu mengintai ke dalam ruangan melalui celah lubang kecil. Dia melihat gadis pembawa bayi harimaunya meletakan bayi harimau di atas kursi dan gadis itu sendiri mengambil sesuatu dari dalam sebuah almari kayu.
Zike lalu menggendong kembali bayi harimau putih setelah ia menuangkan cairan susu ke dalam gelas. Dia lalu duduk di dekat jendela dan lagi-lagi membelakangi Jessey Liu yang masih merasa sangat penasaran dengan gadis ini.
"Bisa tinggal di Paviliun Tanpa Nama ini, tentunya dia bukanlah orang yang dianggap biasa saja oleh Mei Lan dan Ye Kai." Jessey Liu bergumam dalam hati. "Jangan bilang kalau dia adalah ...."
"Tapi rasanya tidak mungkin! Ye Kai sangat mencintai Mei Lan dan aku yakin dia tidak akan pernah lupa bagaimana cara dia memperjuangkan Mei Lan." Jessey Liu berusaha keras menepis prasangka yang pastinya tidak akan mungkin dilakukan oleh sahabatnya itu. "Lalu, siapa dia?"
"Minumlah! Kamu pasti haus sekali." Zike menyuapi bayi harimau dengan susu UHT putih yang sempat dia beli sebelum datang ke tempat Ye Kai.
"Oh ya, bukankah kita belum mengenal satu sama lain? Mmmh ... aku Zain Kamila, tapi orang-orang memanggilku Zike. Meskipun terdengar aneh, tapi biarlah." Zike tersenyum kepada bayi harimau putih yang hanya membuka mulutnya untuk meminta suapan selanjutnya.
"Zain Kamila namanya. Bagus juga!" pikir Jessey Liu yang menjadi tahu nama gadis pembawa harimau putihnya. "Dan Zike adalah panggilannya."
"Lalu, siapakah namamu?" bertanya Zike setelah menyuapkan satu sendok susu ke dalam mulut bayi harimau. "Aku tidak tahu kamu milik siapa, jadi aku tidak tahu namamu. Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan nama ...."
"Sebentar kupikirkan dulu sebuah nama yang mungkin bagus untukmu." Zike terlihat berpikir hingga beberapa lama.
Jessey Liu merasa sangat penasaran dengan nama yang akan diucapkan oleh Zike. Pria itu pun harus memasang pendengarannya dengan tajam.
Kira-kira, nama apa yang akan diberikan Zain Kamila untuk harimau putih milik Jessey Liu ini, ya?
...Bersambung...
__ADS_1