
Zike mendengarkan penuturan Jing Xuan dengan perasaan sedih. Semula ia mengira, jikalau dirinyalah orang paling sial yang pernah ada di atas bumi. Namun setelah dia mendengar kisah pemuda ini, gadis itu merasa ada teman yang tidak kalah memprihatinkan.
"Boleh aku tahu?" Zike bertanya. "Mengapa kamu menceritakan semuanya padaku? Padahal kita baru saja bertemu. Apakah kamu tidak curiga padaku?"
Jing Xuan kembali tersenyum dan berkata, "Sama seperti kepada paman dan bibiku. Aku memilih percaya padamu."
"Mengapa?" Zike bertanya sambil mendongakkan sedikit wajahnya hingga bertatapan dengan Jing Xuan. Keremangan cahaya bulan berhasil membuat wajah mereka terlihat lebih estetik dan menarik.
"Karena kamu adalah murid paman dan bibiku yang tentunya mereka sangat mempercayaimu." Jing Xuan menjawab tanpa ragu. "Karena mereka tidak pernah salah dalam menilai seseorang."
"Sebegitu yakin dan percayanya mereka kepadaku." Zike berucap dalam hati. "Terima kasih, Tuhan! Engkau telah mengirimkan mereka semua padaku."
"Terima kasih atas perhatiannya. Aku sungguh tersanjung," ujar Zike dengan perasaan benar-benar terharu.
"Sekarang giliran kamu menceritakan kisahmu padaku," pinta Jing Xuan dengan penuh harap.
"Aku?" Zike merasa heran dan sedikit curiga. Mengapa pria yang baru dikenalnya ini, seperti sangat ingin mengetahui tentang kehidupannya. Namun, jika mengingat pria ini tampak tulus hingga bersedia bercerita tentang masa lalunya yang menyedihkan. Di dunia ini mungkin akan sangat sulit menemukan seseorang yang bisa dipercaya sepenuhnya.
"Siapa lagi memangnya yang ada di sini?" Jing Xuan melirik kecil ke arah gadis yang masih tampak bingung.
"Jadi maksudnya, bertukar cerita?" tanya Zike sambil memilih cerita apa yang pantas untuk diceritakan pada pria ini.
"Itu kalau kamu tidak keberatan. Aku juga tidak akan memaksa," ujar Jing Xuan. "Karena semua orang berhak memiliki rahasia masing-masing."
"Bukan itu maksudku." Zike merasa sedikit tidak enak hati.
"Baiklah, aku akan mengarang sedikit. Eh, maksudku ... akan kuceritakan pelan-pelan." Zike merasa bingung untuk berkata-kata. Kisah apakah yang akan dia ceritakan pada pria muda ini?
__ADS_1
Akhirnya gadis itu merasa tidak perlu terlalu menutup diri seperti yang selalu ia lakukan terhadap teman-temannya yang lain. Seseorang juga masih membutuhkan tempat berbagi beban meski hanya melalui sebuah cerita. Ya! Setidaknya ada yang mendengarkan sedikit keluhannya.
"Aku hanyalah seorang gadis desa yang nekat lari meninggalkan rumah karena suatu hal yang menurutku belum saatnya terjadi." Zike memulai kisahnya dengan tanpa menceritakan apa pun tentang Alexi kekasihnya.
Gadis itu sengaja menutupi kisah cinta yang masih belum jelas arah tujuannya. Dia hanya ingin memendamnya sendiri tanpa diketahui oleh siapa pun selain Suri yang pernah melihat foto Alexi. Keduanya saling bercerita hingga larut malam tanpa ada pengganggu sama sekali.
Bulan kian merambat naik ke pusat ketinggian, untuk kemudian bergulir perlahan mengikuti jam alam yang sudah ditetapkan. Wajah langit tersaput mega hitam dan putih yang bergerak direngkuh sang bayu. sinar bulan pun sebentar meredup dan menerang secara bergantian menaungi dua insan yang tengah membicarakan tentang banyak hal hingga waktu kian melaju tanpa mereka sadari.
Di Pantai Kura-Kura.
Beberapa hari kemudian semenjak kepergian Alexi ke Teluk Kura-Kura, para anak buah pemuda itu digegerkan dengan hilangnya majikan mereka. Baik Alexa, Segara, Abraham, Danny Hendrat dan semua orang tidak ada yang mengetahui di mana keberadaannya. Tentu saja itu mendatangkan murka bagi Ki Surya Praja dan kekagetan yang luar biasa bagi sang nenek hingga wanita itu jatuh sakit. Pencarian pun terus dilakukan oleh pihak perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Danny Hendrat.
"Tujuh hari sudah kita mencari sejak hilangnya tuan muda dan tiidak juga diketemukan." Segara berkata sembari menatap lepas ke tengah samudra dengan pandangan kosong. Ia tengah memperhatikan keadaan pertambakan tiram mutiara milik Alexi yang sedang dalam penyelidikan atas hilangnya separuh modal perusahaan mereka.
"Kalau saja aku tahu ini akan terjadi, maka lebih baik aku cegah tuan muda turun tangan sendiri ke tempat ini." Danny Hendrat sangat menyesalkan semua kejadian yang menimpa mereka.
"Bagaimana lagi? Ya tentu saja terus mencarinya sampai diketemukan!" Danny Hendrat terlihat gusar.
Segara berjongkok di atas batu karang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku tidak bisa membayangkan!"
Segara membayangkan hal yang buruk terjadi pada Alexi. Dia sungguh tak bisa mengerti mengapa tiba-tiba tuan muda mereka menghilang tanpa ada yang mengetahui penyebabnya. Bahkan Segara dan Abraham sampai bisa kehilangan jejak sang tuan muda. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Maka, jangan dibayangkan!" Danny Hendrat tidak suka dengan pemikiran buruk. Dia lebih memilih bergerak cepat dalam mengatasi masalah.
"Tim SAR dan orang-orang kita sedang berusaha mencarinya. Semua wilayah hingga pelosok sekali pun akan ditelusuri." Danny Hendrat berkata sembari memasang teropong canggih pada kedua matanya. Ia berharap bisa melihat sosok orang yang dicarinya.
"Selain tim gabungan antara tim SAR dan petugas pantai, orang-orang kita juga telah bergerak secara serentak. Jadi, kuharap kita akan bisa dengan cepat menemukan tuan muda."
__ADS_1
"Lalu, di mana Nona Alexa?" Segara tetiba teringat pada gadis itu. "Jangan sampai kita melalaikannya."
"Nona bersikeras ikut mencari tuan muda dengan kelompok lain bersama Abraham," sahut Danny Hendrat sambil masih melihat-lihat keadaan.
Danny Hendrat menyapu seluruh wilayah yang bisa dijangkau oleh lensa teropongnya. Tentu saja hanya ujung-ujung layar perahu dan pucuk-pucuk pepohonan di pulau seberang yang ia temukan. Pria itu merasa resah atas hilangnya Alexi, akan tetapi dia tidak secengeng kawannya yang hanya bisa meratap sepanjang hari.
"Mengapa tidak juga ada tanda-tanda tuan muda diketemukan?" Danny Hendrat berucap dalam hati. Sesungguhnya, pria muda itu pun tidak kalah cemas dari Segara.
"Tuan mudaaaaaa! Di mana Anda ini sebenarnyaaaaa?" Segara berteriak seperti orang hilang kendali.
Ke manakah Alexi sebenarnya?
Dari tempat yang cukup tersembunyi. Sekelompok orang pria dan wanita tengah memperhatikan Segara dan Danny Hendrat yang sedang kebingungan atas hilangnya bos besar mereka. Senyum penuh kepuasan terkembang di celah bibir salah seorang dari mereka. Para orang-orang bertopi cowboy itu tampak senang dengan kejadian yang menimpa salah seorang yang dianggap rival oleh mereka.
"Apakah itu tidak berlebihan, Alessandro?" bertanya Fransisco Maldini kepada pria bertopi dengan pipa cerutu di tangannya.
"Tentu saja tidak. Itu memang rencanaku untuk menghancurkan satu demi satu orang-orang yang telah menolak bekerja sama dengan organisasi Dark Wolf." Alessandro Giovanni menyahut. "Dengan menangkap bosnya, maka sama saja dengan kita memegang kunci dari semua permasalahan mereka. Kita akan gunakan dia sebagai sandra dan memaksa kakeknya agar mau menandatangi surat kesepakatan."
Fransisco Maldini terlihat berpikir, jikalau ini adalah langkah yang terlalu jauh dan kurang perhitungan. Hanya untuk menjatuhkan Berlian Jaya Abadi, seorang Alessandro Giovanni sampai nekat berbuat hal sejauh ini. Namun sebagai seorang bawahan yang hanya bisa berkata ya dan tak diijinkan untuk berkata tidak, tentu saja Fransisco Maldini hanya bisa mengikuti kemauan sahabatnya ini.
Hati seorang Alessandro telah dirasuki api dendam, terutama semenjak tewasnya para anggota organisasi Dark Wolf di tangan Jessey Liu yang mengakibatkan Angie mengalami patah kaki dan amnesia. Penolakan kerja sama yang dilakukan oleh Ye Kai dan Jessey Liu telah berhasil menumbuhkan bibit kebencian yang teramat dalam.
Bukan hanya rencana penghancuran semua aset bisnis Jessey Liu, tetapi juga dia ingin meratakan rivalnya itu hingga menghilang dari muka bumi. Sebegitu dendamnyakah pria berdarah Italia ini kepada Jessey Liu?
Ada urusan apakah yang sebenarnya?
...Bersambung...
__ADS_1