
Di sebuah tempat yang tak sebegitu jauh dari bengkel di mana Yi Xie dan Ye Kai bertemu. Terdengar suara keributan disertai teriakan-teriakan di antara jalanan rumah warga. Tampaknya, sedang terjadi sebuah adegan kejar-mengejar yang sangat tidak seimbang. Para penduduk terlihat ketakutan dan tak berani menampakan diri. Mereka semua memilih untuk diam bersembunyi daripada harus terlibat dalam huru-hara tersebut.
Sepuluh pria bertampang sangar bergerak serentak mengejar seorang gadis bertubuh kurus dan berkulit sedikit gelap. Mereka berlarian menerobos kerumunan orang banyak di sebuah perkampungan kecil yang sedikit kumuh.
Entah masalah apa yang sedang mereka ributkan, hingga membuat gadis itu dikejar-kejar tanpa henti. Karena tidak ingin menimbulkan perhatian dan kerugian untuk banyak orang, gadis itu memilih berlari menyelinap di antara gang-gang sempit sambil sesekali melemparkan benda-benda apa saja yang bisa ia jadikan tameng.
Tentu saja pengejaran mereka terhadap gadis itu bukan tanpa alasan. Mereka memang diperintahkan untuk menangkap gadis yang sedang menjadi buronan mereka untuk dihadapkan kepada seseorang untuk dieksekusi. Sungguh hukum rimba yang sangat kejam di dunia yang sedang ditempati oleh si gadis.
Rombongan preman itu memang sudah lama mengincar gadis ini untuk dijadikan sebuah target penangkapan. Sepertinya, seseorang telah memberikan perintah tersebut kepada para preman yang menamakan diri mereka Skull Head. Sebuah perkumpulan orang-orang bermoral rendah dan suka merendahkan siapa saja.
"Hei, Gadis Buluk! Jangan terus lari kamu yaaaa!" Salah seorang preman melemparkan beberapa benda seperti papan kayu, besi, botol bekas air minum atau apa saja yang mereka temukan di jalanan.
"Tangkap saja kalau kalian punya kemampuan!" Gadis itu malah seperti dengan sengaja mengejek para pengejarnya.
"Dasar lamban!" teriak gadis itu sembari mengembalikan beberapa kaleng bekas yang berhasil disambarnya. "Ini kukembalikan milik kaliaaaaan!"
"Sialan betul dia!" Salah seorang preman mengumpati gadis yang berhasil mengenai kepalanya dengan kaleng bekas. "Hei, berhentiii!"
"Aku tidak bisa terus begini!" gumam gadis berpakaian ala anak metal dalam hati. Dia merasa benar-benar kewalahan dan kesakitan, saat beberapa kaleng bekas kemasan soft drink juga berhasil mengenai punggung dan kepalanya. Wanita muda belia itu terus berusaha menghindar dengan menyelinap ke mana saja yang bisa dia jadikan tempat berlindung. Namun, para pengejarnya seperti benar-benar tidak akan melepaskannya.
"Celaka! Kenapa mereka masih terus mengejarku?" Gadis itu membatin dan merasa kebingungan. "Apes banget sih gueee!"
"Haruskah aku masuk ke sana?" Gadis itu merasa sudah cukup kelelahan setelah berlari secara serampangan untuk menghindari kejaran para preman ini. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah tempat persembunyian di dalam sebuah bangunan rumah kosong.
"Rumah kosong ini?" Gadis itu berhenti dengan napas terputus-putus. Rasanya ia sudah nyaris pingsan saja akibat berlari dari kejaran geng preman kampung Skull Head ini. Gadis itu menoleh sejenak ke belakang dan melihat para pria bengis itu masih bergerak ke arahnya. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu berjalan ke teras rumah kosong tersebut dengan langkah terhuyung-huyung.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Gadis itu beruluk salam meski dia tahu tidak akan ada suara yang menjawabnya.
Dia hanya teringat pada perkataan seorang guru agama, jika memasuki rumah seseorang itu wajib beruluk salam. Kalaupun tidak ada manusia yang menjawabnya, maka malaikat atau makhkuk lainnya yang akan membalas salam tersebut. Karena salam juga merupakan kalimat yang sangat baik, maka gadis itu menjadi memiliki sedikit keberanian untuk memasuki bangunan tua ini.
"Daripada menyerah begitu saja kepada para manusia jelek itu, lebih baik bersembunyi di sarang dhemit ini." Gadis itu membatin sambil membuka pintu rumah kosong yang lapuk. Beberapa potongan kayu yang telah usang dan lapuk seketika berjatuhan hampir mengenai tubuh gadis itu.
"Aaaaah!" pekikan kecil lepas dari bibirnya yang kering hingga terlihat retak-retak.
"Ampuuun! Ampuni akuuu!" Gadis itu merasa ketakutan hingga tanpa sadar dia memejamkan mata sambil melindungi kepala dengan kedua tangannya dan menunduk. "Apakah para penghuni kelam ini marah padaku?"
Hingga berapa saat gadis itu masih menelungkupkan diri pada tembok putih berdebu. Dia sungguh merasa ngeri dan takut hingga tubuhnya sedikit gemetaran dengan keringat dingin yang mulai membasahi sekujur badan.
"Ternyata cuma kayu, kupikir hantu!" Gadis itu menendang serpihan kayu plafon itu dengan kesal. "Nakutin gue aja lu!"
"Benar-benar tak ada pilihan yang lebih mengenakan! Ibarat maju terbentang lautan, di belakang harimau menghadang, lalu di kanan kiri hanya ada jurang. Tak ada cara lain lagi kecuali terbang." Gadis bertampang metal head itu terus mengeluhkan keadaannya sekarang ini. "Sial banget gue hari ini!"
Demi keselamatan dirinya, gadis itu memberanikan diri untuk berbaur dengan suasana angker dari rumah yang konon penuh tragedi pada masa puluhan tahun yang lalu. Saking horrornya aura di sekitar tempat tersebut, hingga tak ada satu pun orang yang berani memasuki area bangunan itu.
"Pikirkan saja nanti!" Gadis itu tak mau ambil pusing dengan cerita orang-orang tentang rumah kosong berhantu ini. "Toh, belum ada sejarahnya orang mati dimakan hantu."
"Kalaupun bakal ada, semoga merekalah yang jadi korban pertamanya." Gadis itu mencoba menghibur diri sambil terus memasuki ruangan pertama dalam rumah kosong yang masih terlihat berperabotan lengkap. Hanya saja, semua jelas sudah usang dan berserakan.
"Sepi dan menakutkan! Tidak tahu seperti apa kalau berada di sini pada malam hari, hiiiyy!" Gadis berpakaian anak metal itu sebenarnya merasa sangat takut, akan tetapi ketakutan yang lain berhasil mengalahkan perasaan tersebut.
Gadis itu sesekali menoleh ke arah pintu untuk memastikan para pengejarnya yang masih belum terlihat. Diam-diam dia merasa sedikit lega. "Semoga mereka tidak berani datang ke mari."
__ADS_1
Hanya satu tujuannya saat ini, yaitu mencari tempat bersembunyi tidak akan ditemukan oleh para preman Skull Head. Jikalau nekad berkelahi dengan mereka, tentunya dia akan kalah jumlah dan tenaga. "Anak buah Hardman botak ini sungguh merepotkan sekali!"
Preman Skull Head serentak berhenti tak jauh dari tempat persembunyian gadis yang sedang diburunya. Mereka terlihat ragu untuk mengikuti gadis itu masuk ke dalam rumah megah yang sudah puluhan tahun tanpa penghuni. Konon pula, rumah itu pernah terjadi sebuah peristiwa mengerikan yang sampai kini menjadi misteri.
"Dia menghilang, Bos!" teriak preman berambut gimbal dengan tatto serigala di lengan kirinya.
"Bodoh kalian semua!" Bos berkepala botak itu benar-bennar merasa sangat marah dan menempeleng kepala anak buahnya. "Ngejar anak ingusan kayak dia aja kagak becus!"
"Dia larinya cepet banget, Bos! Mungkin dia atlit lari kali ya?" Yang ditempeleng berusaha membela diri.
"Bego lu!" Bos preman menempeleng kepala anak buahnya satu persatu hingga mereka terhuyung-huyung.
"Ampun, Boos! Dia lari dan menghilang ke arah sana!" Preman bergaya rambut ala nak punk menunjuk ke arah rumah kosong yang menurut kabar sangat angker itu.
"Bagaimana ini? Apa kita kejar dia ke sana?" bertanya salah seorang dari preman Skull Head. Dia terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan aksinya. Sepertinya dia takut dengan berita keseraman rumah kosong berarsitektur gaya Eropa itu.
"Berani sekali dia masuk rumah hantu itu!" Preman lain menggelengkan kepalanya sembari mengatur pernapasan. "Dia saja berani, masa kita kalah?"
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" bertanya preman yang lain.
Mereka pun serentak mengikuti gadis buruannya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah kosong tersebut. Meskipun mereka adalah para preman jalanan, tetapi nyali mereka pun menjadi ciut jika dihadapkan pada hal-hal mistis.
"Punteeeen!"
...Bersambung...
__ADS_1