
Alexi yang mendengar pertanyaan adiknya merasa kaget, kemudian tertawa lepas karena merasa geli dengan anak gadis yang ternyata belum melihat wajah orang yang sedang disukainya. Maka timbullah niat menggoda dalam hati Alexi, hitung-hitung membalas godaan adiknya beberapa waktu yang lalu.
Alexi mendekati adiknya dan berbisik di sisi telinga Alexa. "Percayalah ... dia sangat jelek dan kamu akan merasa kecewa."
"Kaaaaak!" Alexa berteriak keras. "Kakak menggodaku lagiiiiiii!"
Alexi kembali tertawa setelah selesai membuat adiknya semakin kesal. Alexa sendiri langsung berbalik dan menghujani kakaknya dengan puluhan tinju kecil yang tidak menyakitkan. Alexi berkelit menghindari serangan dari Alexa hingga membuatnya jatuh di atas tempat tidur, akan tetapi sang adik tidak juga menghentikan aksinya.
"Ampuuuun!" Alexi berteriak meminta ampun karena penampilannya yang sudah rapi menjadi kembali berantakan oleh ulah adiknya.
"Enak saja minta ampun!" Alexa masih tidak mau menyerah dan terus membuat kakaknya terpojok. "Bukannya memberi semangat, tapi malah menjatuhkan mental adikmu!"
"Yaa kan kita tidak tahu seperti apa dia." Alexi berusaha membela diri. "Kamu juga sih, asal main taksir aja!"
"Hiiiiiihhh!" Alexa merasa sangat gemas kepada kakaknya yang sangat suka menggodanya. Dia bahkan sampai bergulingan di atas kasur hanya untuk menyiksa sang kakak. "Kakak jahaaaaat! Kakak macam apa ini?"
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai akhirnya terdengar suara pintu diketuk dari luar. Suara Abraham berhasil menghentikan aksi Alexa. "Tuan Muda! Nona! Sudah saatnya berangkat!"
"Ya sebentaaaar!" Alexi menyahut dan merasa terselamatkan kali ini. "abraham memang yang terbaik!"
"Dasar Abraham ini, mengganggu saja!" Alexa bersungut-sungut sambil bangkit dari atas pembaringan, lalu mengancam sang kakak. "Awas saja nanti! Ini masih belum selesai, Kak!"
"Sudah. Rapikan lagi bajumu itu! Udah kayak nenek sihir kamu!" Alexi sendiri juga langsung bangkit dan kembali merapikan penampilannya. "Dasar wanita! Merusak penampilan perfect Alexi saja!"
"Salah Kakak saja yang suka jahil sama adik sendiri!" Alexa membentak, lalu mencibirkan mulutnya.
"Kamunya juga masih suka kejam sama kakak!" Alexi tidak mau disalahkan tentunya.
Di luar kamar, Abraham terlihat sangat gelisah. Pria itu berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat jarum jam. Waktu sudah semakin naik menuju siang, tetapi sang tuan belum juga menampakkan diri dari dalam kamar pribadinya.
__ADS_1
"Ya, sebentar!" Abraham menjawab seseorang yang menghubunginya melalui saluran telepon. "Tuan muda dan nona sedang bersiap-siap. Nanti setelah beres, kami segera ke lokasi."
"Ya terima kasih, Danny!" Abraham segera menutup pembicaraan saat Danny Hendrat telah memutuskan hubungan selulernya.
"Tuan muda ini kenapa lama sekali?" Abraham berniat membuka pintu kamarsang tuan, akan tetapi kembali ia urungkan dan hanya mengetuknya saja hingga beberapa kali.
"Tuan Mudaaaa!" Abraham kembali memanggil sang tuan muda yang menurutnya terlalu lama di dalam kamar. "Mereka dudah menunggu!"
"Yaaaa! Aku siaaap!" Alexi lagi-lagi harus kembali berteriak dengan suara keras agar Abraham mendengarnya.
"Baguslah, Tuan Muda sudah siap," ujar Abraham saat melihat Alexi dan Alexa muncul dari balik pintu kamar. Penampilan elegan dengan busana casual, telah membuat Alexi tampak sangat memukau. Terlebih lagi dengan rambutnya yang tergerai lepas tanpa ikatan.
"Tuan Muda terlihat sungguh sangat tampan hari ini." Abraham memuji dengan setulus hati, saat melihat penampilan tuannya.
"Terima kasih, Abraham. Kamu juga sangat gagah dengan jas ini." Alexi berucap sembari mengusp hingga beberapa kali dada Abraham yang terbalut jas hitam. "Sayangnya ... pria segagah dirimu, belum juga menikah."
"Kamu ini! Tetap saja kamu harus memikirkan keturunan yang akan jadi pendamping anak-anakku kelak!" Alexi sengaja berucap demikian, agar Abraham memikirkan seorang istri.
"Anda mungkin benar. Tetapi selama Anda juga belum menikah, saya juga belum ingin memikirkan hal semacam itu." Abraham berkata sambil tersenyum.
"Abrahaaaam!" Alexa berteriak sambil berkacak pinggang di samping Alexi. "Sejak tadi kamu hanya melihat Kak Ale saja!"
Abraham merasa kaget atas teriakan Alexa. "Maaf, Nona!"
"Kalian ini para laki-laki hanya memikirkan penampilan pria saja!"
"Oh, Nona jangan salah paham!" Abraham merasa serba salah di hadapan gadis temperamental ini. "Nona juga sangat mempesona hari ini."
Mendengar ucapan Abraham yang malu-malu polos, maka timbul juga niat jahilnya. "Benarkah?"
__ADS_1
"Be-benar, Nona!" Abraham bergerak mundur beberapa langkah ke belakang, karena Alexa tiba-tiba saja berjalan mendekatinya dan dengan sengaja membusungkan dadanya ke hadapan pria lugu tersebut.
"Jangan-jangan kamu bohong dan hanya ingin menggodaku saja, kaan?" Alexa dengan nakal bertanya seraya berbisik di sisi telinga Abraham. "Aku ingin kamu jujur, Abraham!"
"No-No ... Nona mau apa?" Abraham bertanya dengan suara bergetar. Bagaimana mungkin dia tahan pada tingkah genit nonanya ini.
"Kamu hanya perlu jujur, apakah aku cantik?" tanya Alexa dengan mata yang sengaja ia bulatkan.
"Tentu ... Tentu saja Nona Alexa sangat cantik. Saya tidak berani bohong." Abraham berjalan mundur dan semakin memepet pada dinding.
"Betulkah?" Alexa merasa senang tentu saja.
"Aiyaaaa, bocah ini! Di mana tempat selalu berbuat hal yang tidak penting!" Alexi berkata dalam hati dengan perasaan dongkol.
"Exaaa! Jangan menggodanya!" Alexi menyeret lengan adiknya dengan kasar.
Alexi berdampingan dengan Alexa berjalan dengan gagah diiringi oleh para anak buahnya. Tentu saja penampilan mereka yang elegan dan terlihat istimewa menjadi pusat perhatian, saat rombongan tersebut melewati tempat-tempat yang sedang ramai oleh aktifitas banyak orang.
Mereka tidak memedulikan dengan tatapan orang-orang yang menjadi berbisikan satu sama lain. Sebagian dari mereka mengagumi sosok Alexi dan Alexi yang memiliki kemiripan wajah, sedangkan sebagian lainnya membicarakan tentang kejadian malam kemarin di restoran hotel.
Saat rombongan Alexi hampir saja tiba di depan pintu utama ruangan besar yang akan dijadikan tempat pertemuan, mereka berpapasan dengan rombongan lain yang juga sangat menarik perhatian banyak orang. Iring-iringan tersebut dipimpin oleh seorang pria berperawakan tinggi dan berwajah tidak kalah tampan dari Alexi kakaknya.
"Benarkah itu ... dia?" pekik Alexa Nata Praja dalam hati.
Alexa yang masih mengenali sosok pria dalam keremangan cahaya lampu malam tadi, bagai hendak terlonjak. Dia sungguh merasa sangat terpesona hingga gadis itu seperti kehilangan arah. Wajah itu terlalu jauh dari bayangannya selama ini. Alexa sungguh tidak berharap jika pria yang ditemuinya semalam, ternyata memiliki bentuk wajah serupawan ini.
"Mimpikah aku?" Alexa masih terpukau pada ketampanan pria di hadapannya, hingga tanpa sadar matanya terbelalak lebar.
...Bersambung...
__ADS_1