Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PERMAINAN 2


__ADS_3

"Tuan Muda Jing, tolong selamatkan kami!" Pelayan pria bertubuh kurus memohon dengan wajah memelas.


"Benar, Tuan Muda! Tolong selamatkan kami semua!" Yang Lainnya ikut meminta pertolongan.


"Berani meminta pertolongan darinya?" Ye Lu bertanya dengan nada sinis kepada para pelayan yang telah dipasrahkan kepadanya.


Para pelayan semuanya terdiam dan menundukkan kepala mendengar pertanyaan Ye Lu yang mengandung ancaman.


"Apa kamu juga berani menolong mereka semua dari tanganku?" tanya Ye Lu sambil bersedekap dan menatap Jing Xuan. "Ingatlah, Ah Xuan! Mereka semua telah diberikan padaku, jadi kamu tidak berhak membebaskan mereka semua!"


"Lu-Lu! Kurasa kamu memang sudah keterlaluan!" Jing Xuan merasa geram.


"Keterlaluan? Keterlaluan bagaimana?"


"Kalau mau menghukum, ya hukum saja dengan cara yang biasanya, tetapi jangan dengan cara seperti ini!" Jing Xuan mengibaskan pegangan tangan Ye Lu dengan kasar dan berniat untuk segera meninggalkan tempat tersebut. "Apa bedanya dengan membunuh mereka sekaligus?"


"Ah Xuan, kenapa jadi salah paham?" Ye Lu berkacak pinggang. "Aku hanya ingin bermain-main sambil menghukum mereka sesuai apa yang pamanku perintahkan dan aku tidak melanggar apa pun."


"Tapi bisa dengan cara lain dan bukan dengan menjadikan mereka dart hidup!" Jing Xuan tetap tidak menerima apa yang Ye Lu inginkan. "Dan lagi kalau sampai ada korban jiwa. Bukankah urusannya jadi semakin runyam nantinya?"


"Sudahlah! Cerewet sekali kamu ini!" Ye Lu tampak semakin kesal dengan Jing Xuan yang tidak menyetujui permainannnya.


"Pokoknya aku tidak mau! Lepaskan mereka semua!" Jing Xuan justru ingin para pelayan dilepaskan.


"Apa?" Ye Lu mendekati Jing Xuan, lalu mendorong dada pemuda itu dengan kasar dan cukup kuat. Hal tersebut membuat orang yang didorongnya terhuyung ke belakang. "Melepaskan mereka dari hukuman?"


"Kalau aku tidak menghukum mereka, maka akulah yang akan kena sangsi oleh pamanku!" bentak Ye Lu dengan suara keras.


"Tapi aku tidak setuju dengan semua ide sintingmu itu, Lu-Lu!"


"Dasar, Ah Xuaaaaan!" Ye Lu berteriak dengan suara yang membuat semua orang harus menutup telinga. "Aku tak akan memberi ampun pada mereka semuaaaaa!"


Jing Xuan yang sudah cukup hafal dengan kebiasaan Ye Lu menjadi berpikir keras sambil berjalan. Mencari Mei Lan agar menghentikan perbuatan Ye Lu mungkin adalah jalan yang terbaik. Tetapi, akankah Ye Lu bisa menahan diri selama itu?

__ADS_1


Pemuda itu kemudian berhenti sejenak dan menoleh ke tengah lapangan. Ada rasa tidak tega jika membiarkan kedelapan pelayan itu harus terus dilanda ketakutan menghadapi gadis bar-bar yang akan melakukan apa saja demi kesenangannya tersebut. Hal itu membuat Jing Xuan merasa harus melakukan sesuatu.


Sementara itu, Ye Lu mulai melakukan apa yang dia inginkan saat ini. Gadis itu meminta para pelayan pria yang sedang menjalani hukuman untuk menata diri di depan papan dart untuk menjadi sasaran bidikan anak panahnya. Pada kepala para pelayan tersebut diletakkan sebutir apel yang akan menjadi sasaran utama bidikan panah Ye Lu.


"Awas! Jangan sampai terjatuh apel-apel yang ada di kepala kalian itu! Atau ... kepala kalian yang akan jatuh oleh panahku ini!" Tentu saja ucapan Ye Lu hanya untuk gertakan saja agar orang-orang itu tidak bergerak sama sekali. "Aku akan membidik buah-buahan itu."


"Ini sungguh permainan yang sangat kejam dan sangat berbahaya sekali." Pelayan bertubuh kurus membatin. "Nona benar-benar seperti Tuan Ye di masa lalu yang sangat menyukai hal-hal berbahaya seperti ini."


"Tapi, Nona. Kami sangat takuuuut! Bagaimana kalau Nona Kecil salah sasaran?" Pelayan pria yang sedang diincar buah apel di atas kepalanya merasa ingin lari atau pingsan saja saat ini. Dia benar-benar tidak ingin menghadapai hal yang paling kejam dan mengerikan seperti sekarang ini.


"Diam!" Ye Lu membentak sekali lagi. "Jangan ganggu konsentrasiku dalam membidik atau nyawa kalian benar-benar akan melayang dan tak kembali ke tubuh kalian semua!"


"Nona Kecil! Mengapa kami semua seperti sedang menghadapi hukuman mati?" bertanya pria bertubuh kurus dengan ketakutan.


"Siapa yang akan menghukum mati kalian?" Ye Lu balik bertanya seraya memasang anak panah pada busurnya. "Aku hanya sedang ingin mengasah kemampuan bidikanku saja."


"Tapi ... mengapa harus kami yang jadi sasarannya?" tanya yang lainnya dengan perasaan tak kalah takutnya.


"Heh, Bodoh! Bukankah saranku adalah benda yang lain dan bukan kepala kalian?" Ye Lu membentak pria yang bertanya.


"Ta-tapi, Nona. Mengapa kami harus berada di sini?" Pelayan pria lainya merasa tak mengerti dengan permainan yang lebih tepat dikatakan sebagai permainan manusia ini.


"Bodoh! Bodoh kalian semua!" Ye Lu mendekati pria yang bertanya dan langsung menempeleng orang tersebut dengan marah.


"Kalian cerewet sekali! Kalau kalian masih juga bertanya ini dan itu, maka aku


Sementara itu, Ye Lu mulai melakukan apa yang dia inginkan saat ini. Gadis itu meminta para pelayan pria yang sedang menjalani hukuman untuk menata diri di depan papan dart untuk menjadi sasaran bidikan anak panahnya.


"Nona Kecil! Mengapa kami semua seperti sedang menghadapi hukuman mati?" bertanya pria bertubuh kurus dengan ketakutan.


"Siapa yang akan menghukum mati kalian?" Ye Lu balik bertanya seraya memasang anak panah pada busurnya. "Aku hanya sdang ingin mengasah kemampuan bidikanku saja."


"Tapi ... mengapa harus kami yang jadi sasarannya?" tanya yang lainnya dengan perasaan tak kalah takutnya.

__ADS_1


"Heh, Bodoh! Sasaranku adalah papan itu dan bukan kalian!" Ye Lu membentak pria yang bertanya.


"Ta-tapi, Nona. Mengapa kami harus berada di sini?" Pelayan pria lainya merasa tak mengerti dengan permainan yang lebih tepat dikatakan sebagai permainan manusia ini.


"Bodoh! Bodoh kalian semua!" Ye Lu mendekati pria yang bertanya dan langsung menempeleng orang tersebut dengan marah. Bukan hanya orang itu saja, bahkan kawan-kawannya pun mendapat tempelengan yang sama dari Ye Lu.


"Ampun, Nona! Apa maksudnya ini?" Pria pelayan bertanya dengan raut wajah dibuat selugu mungkin.


"Kalian itu punya mata dan kaki juga otak! Mengapa tidak kalian gunakan itu untuk menghindar atau membela diri dari serangan anak panahku" Ye Lu kemudian menunjuk ke arah lain. "Pakai itu untuk menyelamatkan diri kalian semua!"


Para pelayan pria saling berpandangan, untuk kemudian berlari berhamburan untuk mengambil benda apa saja yang akan mereka gunakan untuk menghadapi gadis kecil ini. Akhirnya mereka mengetahui apa yang sedang nona mereka inginkan.


Ye Lu tersenyum puas dan berkata, "Hukuman yang sebenarnya adalah ...."


"Kalian semua harus menemani aku bermain perang-perangan!" Ye Lu tertawa puas dan geli melihat raut wajah kedelapan pria yang masih berpandangan satu sama lain dengan wajah tegang.


"Bermain perang-perangan? Bukankah itu adalah permainan anak kecil?" tanya pria berkumis.


"Benar, Nona. Itu adalah permainan anak-anak." Yang lainnya menyahut.


"Bagus!" Ye Lu merasa pancingannya akan berhasil. "Aku juga tidak suka dengab permainan anak-anak. Maka dari itulah ... aku ingin membidik apel-apel itu."


"Jadi ... kami semua harus tetap melakukannya, Nona?" Pelayan bertubuh gempal bertanya sambil menimang-nimang sebuah tameng logam ringan yang diambilnya untuk melindungi diri.


"Tentu saja," sahut Ye Lu sambil memasang anak panah ke busurnya. "Cepatlah bersiap! Kalian hanya mengulur waktu saja. Gunakan benda-benda itu untuk menangkis serangan anak panah dariku!"


"Ternyata nona benar-benar akan melakukannya!" Para pelayan hanya bisa pasrah dengan kelakuan Ye Lu yang tak bisa dibantah lagi.


"Nona, apakah kami hanya berdiri saja di sini?" bertanya pria bertubuh pendek.


"Tentu saja. Kalau kalian bergerak, bukankah apel-apel itu akan jatuh. Lalu apa yang akan aku bidik?" Ye Lu bersiap dari jarak 10 meter dari para pelayan pria berdiri. "Jangan bergerak!"


Para pelayan hanya bisa pasrah saja, saat anak-anak panah melesat ke arah mereka dan melewati kepala-kepala mereka. Ye Lu akan bersorak kgirangan sambil melompat-lompat seperti anak kecil.

__ADS_1


"Menyenangkan! Sangat menyenangkan!"


...Bersambung...


__ADS_2