Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
JING XUAN


__ADS_3

"Pantas saja sejak tadi kamu gagal. Itu karena gurumu tidak memberi tahu caranya padamu." Pria muda itu tersenyum tanpa diketahui oleh gadis yang sekarang sedang berusaha untuk bangkit dari duduknya. "Atau ... Jangan-jangan kamu tidak menanyakan pada gurumu, bagaimana cara mengalahkan boneka ini?"


"Bagaimana kamu tahu?" Zike menjadi kian merasa penasaran pada pria ini. "Apakah kamu mendengar pembicaraan kami?"


"Tidak. Aku baru saja datang dan ingin bertemu dengan bibi juga pamanku. Tetapi karena di rumahnya sepi, jadi aku mencarinya ke sini," sahut pria muda tersebut sambil membetulkan posisi Dong Xi.


"Oohh kalau begitu, dari mana kamu tahu jika guruku tidak memberitahukan cara untuk mengalahkan Dong Xi?" Zike kembali bertanya.


"Itu tidak penting, tetapi aku sudah sangat hafal dengan kebiasaan mereka." Pria muda itu kemudian memutar tubuhnnya hingga wajah keduanya berhadapan.


Zike sampai terperangah ketika beradu pandang dengan pria tak dikenalnya sama sekali. Ternyata wajah pemilik tubuh tinggi semampai ini sangat tampan dan terlihat memiliki kemiripan dengan Mei Lan. Sikap ramah pria berbola mata biru lembut dengan bulu mata lentik dan alis hitam tebal, membuat Zike bertanya-tanya.


"Ka-kamu siapa?" Zike bertanya kepada orang yang wajahnya masih sangat asing baginya.


"Aku Jing Xuan." Pria muda berparas sangat tampan menjawab sambil tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabatan. "Nama kamu sendiri?"


"Aku ... namaku Zain Kamila, tapi aku biasa dipanggil Zike." Zike menrima uluran tangan dari Jing Xuan dan mereka pun berjabatan sebagai tanda perkenalan.


"Nama yang bagus. Sesuai dengan pemiliknya," puji Jing Xuan sambil melepaskan jabatannya.


"Terima kasih, Tu ...."


"Ah Xuan, panggil saja begitu." Jing Xuan tidak ingin gadis ini menganggapnya secara berlebihan.


"Ah Xuan?" Zike bertanya dengan nama panggilan yang menurutnya juga masih asing. "Baiklah, Ah Xuan. Oh ya, bisakah kamu tunjukkan caranya agar bisa mengalahkan dia?"


Demi mendengar pertanyaan dari Zike, Jing Xuan hanya mengulas senyum tipis. "Mengalahkannya? Itu sangat mudah."


"Mudah bagaimana? Aku bahkan berkali-kali terjatuh setelah menyerangnya!" Zike kembali merasa emosi kala teringat serangan balik yang selalu terjadi saat menyerang boneka berwajah jelek bernama Dong Xi.


"Tinggal bakar saja dia dan dia sudah kalah. Bukankah itu sangat mudah?" Jing Xuan tertawa kecil dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Aku serius. Mengapa kamu malah bercanda?" Zike bersungut-sungut atas perkataan Jing Xuan.


Jing Xuan berjalan mengelilingi boneka "Tentu saja aku hanya bercanda saja, karena yang sesungguhnya adalah ...."


"Apa?" Zike bertanya dengan rasa penasaran.


"Boneka ini tidak bisa dikalahkan." Jing Xuan menyambung ucapannya. "Belum ada orang yang bisa mengalahkannya."


"Sepertinya, dia hanya mengerjaiku!" Zike mengomel dalam hati.


"Baiklah, bilang saja kamu juga tidak bisa mengalahkannya!" Zike terlihat mulai kesal kepada Jing Xuan yang seperti dengan sengaja mempermainkannya. "Biar aku kalahkan dia!"


"Baiklah, kalahkan saja kalau kamu mampu. Aku akan mencari bibiku ... sampai jumpa!" Jing Xuan sengaja membiarkan gadis itu gigih mengalahkan boneka tak terkalahkan itu.


"Dasar anak itu!" Zike bersungut-sungut dan mulai bersiap untuk menyerang Dong Xi.


Zike kembali mengambil ancang-ancang dan menyerang bagian mana saja yang dia inginkan. Kali ini dia semakin serius dan mencoba berhati-hati. Namun sampai puluhan kali serangannya, dia tetap mengalami hal yang sama.


Sementara itu, Jing Xuan telah berlalu mencari orang yang sedang dicarinya. Dia memutari beberapa tempat hanya untuk mencari sang bibi. Beberapa orang pria maupun wanita menyapanya dengan hormat kepada anak muda tampan tersebut.


"Selamat sore juga, semuanya." Jing Xuan membalas sapaan tersebut dengan sikap ramah. Pemuda itu kemudian bertanya, "Apakah kalian melihat bibi atau pamanku?"


Para pria itu saling berpandangan dan juga sama-sama menggelengkan kepala. Mereka memang tidak ada yang tahu akan keberadaan salah satu orang yang sedang dicari oleh anak muda ini.


"Maaf, Tuan Muda. Kami hanya melihat nyonya saja dan beliau sedang berada di sebelah sana." Pria setengah tua menunjuk ke suatu arah.


"Kalau paman?" tanya Jing Xuan lagi. "Apakah tidak ada yang tahu?"


"Tuan besar belum kembali sejak pergi tadi malam, Tuan Muda." Pria setengah tua menjawab dengan jujur.


"Jadi, pamanku sedang pergi?" Jing Xuan memang tak tampak terkejut namun dalam hati dia merasa kecewa. "Kok aku baru tahu?"

__ADS_1


"Itu yang saya dengar, Tuan Muda," jawab pria setengah tua tersebut. "Tuan ada tugas mendadak dan sangat mendesak, jadi beliau harus berangkat malam itu juga."


"Baiklah, Paman. Terima kasih!" Jing Xuan membungkuk hormat, untuk kemudian berlalu dari hadapan para pelayan pria yang sedang sibuk bertugas. "Permisi, Paman-Paman!"


Para pelayan pun menganggukkan kepala dan berkata, "Silakan, Tuan Muda!"


Jing Xuan meninggalkan mereka semua untuk mencari seseorang. Tentu saja kehadirannya selalu berhasil menyita perhatian banyak orang, termasuk seorang gadis cantik dengan penampilannya yang cukup menarik. Namun, tidak ada satu pun dari orang-orang berani mengusik atau menyinggung gadis itu.


"Ah Xuan!" Gadis cantik berkaos putih lengan panjang dan memakai celana jeans dipotong setengah paha, memanggil Jing Xuan. Dia tampak asyik memilih busur dan anak panah.


"Eh, Lu-Lu?" Jing Xuan menoleh ke arah datangnya suara. Pemuda itu dalam hati menjerit. "Celakaaa! Aku tidak bisa menghindar lagi darinya!"


"Kelihatannya kamu sedang tergesa-gesa. Mencari siapa?" tanya gadis itu sambil menenteng busur pilihannya.


"A-aku ... aku sedang mencari bibi," sahut Jing Xuan sambil menunjuk ke suatu arah dan seperti ingin lari saja dari hadapan gadis ini. "Kalau begitu aku pergi dulu, Ye Lu!"


"Eit, tunggu!" Ye Lu menahan Jing Xuan dengan menyambar lengan bajunya.


"Ada apa lagi?" Jing Xuan yang sudah sangat hafal pada kebiasaan gadis ini pun mersa sedikit was-was.


Ye Lu adalah keponakan satu-satunya dari Ye Kai dan merupakan nona muda satu-satunya dari Keluarha Ye. Sudah barang tentu dia sangat dimanja dan begitu disayangi oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk Ye Kai. Tak mengherankan, jika Ye Lu menjadi anak yang arogan dan egois. Gadis itu sangat suka memaksakan kemauannya atas orang lain dan tidak pernah mau mengalah.


Jing Xuan sendiri adalah seorang tuan muda dari Sekte Rajawali Api, putra dari Jing Shan dan Mei Shin yang merupakan kakak kandung Mei Lan. Tentu saja Ye Kai dan Mei Lan juga sangat menyayangi keponakan lelakinya ini dengan kasih sayang mereka sama seperti kepada Ye Lu. Terlebih lagi, pasangan tersebut memang belum juga dikaruniai keturunan.


"Ikutlah denganku bermain!" ajak Ye Lu sembari melemparkan busur ke arah Jing Xuan yang segera menangkapnya dengan sigap.


"Maaf, Lu-Lu! Aku ingin bertemu bibi terlebih dahulu." Jing Xuan memang bukan hanya beralasan, tetapi dia memang sangat ingin bertemu bibinya.


"Bukankah itu bisa nanti saja?" Ye Lu tidak mau tahu. "Cepat ikut aku!"


"Eeehh ...."

__ADS_1


"Tunggu apa lagi?" Ye Lu menyeret lengan Jing Xuan dan hendak membawanya pergi dari tempat tersebut.


...Bersambung...


__ADS_2