
Tanpa sadar Zike tersenyum sendiri sambil masih menatapi pohon persik tiuran dengan banyak sekali bunga berwarna merah muda. Mei Lan hanya tersenyum melihat tingkah gadis ini. Dia memang masih merasa takjub dengan pemandangan di sekitar paviliun kecil yang akan ditempatinya selama masa pelatihan.
"Zike, kamu beristirahatlah sambil menikmati semua hidangan itu. Karena Master Ye belum kembali, maka nikmatilah waktumu sebelum menjalani pelatihan." Mei Lan berucap sambil bersipa untuk meninggalkan paviliun kecil tersebut. "Aku tinggal dulu yaa? Kalau butuh sesuatu, kamu bisa katakan pada Runi. Dia yang akan melayanimu di sini."
"Baiklah, Nyonya." Zike membungkukan badannya sekali lagi, lalu mengantarkan Mei Lan hingga di depan pintu. "Terima kasih banyak atas semuanya, termasuk hadiah-hadiah yang kemarin itu,"
"Ooh, yang itu." Mei Lan lagi-lagi hanya tersenyum. "Sama-sama, Zike. Itu hanyalah sebagai rasa terima kasih kami untukmu."
"Terima kasih?" Zike merasa heran dengan ucapan Mei Lan.
Mei Lan membalikkan badannya dan berkata, "Ya. Karena kamu sudah membebaskan kami dari masalah besar. Dengan kamu bersedia menerima tawaran tersebut, itu sama artinya kamu telah menolong kami. Jadi, tak ada salahnya kami memberikan hadiah kecil itu padamu, Zike."
"Jadi begitu?" Zike menganggukan kepala berulang kali.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Beristirahatlah dengan baik dan nyaman!" Mei Lan tersenyum sembari berbalik dan pergi bersama para pelayannya meninggalkan gadis itu sendirian.
"Terima kasih banyak, Nyonyaaa!" Zike pun melambaikan tangan, lalu berbalik dan masuk kembali ke dalam paviliun tempat tinggal barunya.
"Akhirnyaaaa!"
Gadis itu masuk dengan setengah berlari, kemudian dia duduk menghadapi hidangan yang sudah lama dia incar. Matanya terbeliak menyaksikan ada banyak menu makan siang hari ini, dia pun segera menyambar sepotong ayam panggang yang terlihat berkilatan dan menyantapnya tanpa ragu.
"Sangat, enak!" serunya dengan mulut penuh dengan daging ayam panggang nan lembut. "Baru sekarang aku makan ayam panggang seenak ini."
Gadis itu benar-benar kelaparan hingga tak peduli lagi keadaan sekitarnya. "Sayangnya Yi-Yi tak ada di sini. Dia hanya mengantarkan aku."
Tiba-tiba saja, dia teringat Nestin sang sahabat yang terus saja menangis saat melepaskan kepergiannya. Hati Zike pun seketika menjadi sangat bersedih hingga dia menghentikan kunyahan daging ayam yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulut. Sementara itu, tangan kanan masih menggenggam sepotong paha ayam dan hanya tergantung di udara kosong.
"Alangkah senangnya kalau bisa makan bersama mereka." Air mata tak terasa jatuh membasahi pipinya. Namun, dia tak ingin terus larut dalam kesedihan, Zike dalam hati berkata, "Mudah-mudahan, suatu saat nanti setelah aku berhasil dan sukses, aku bisa mengajak kalian berdua makan enak sepuasnya di sebuah restoran mahal!"
"Apalagi kalau bisa makan bersama dia ...."
Zike kembali teringat pada sosok pria yang sangat dia rindukan dan menjadi tujuan utama atas apa yang telah menjadi pilihannya. Namun dengan kemampuannya saat ini, dia hanya bisa menuruti aturan apa saja yang akan diberikan oleh Ye Kai. Entah itu hitam atau putih, panas ataupun dingin, semua hanya harus dijalani dengan tanpa keraguan.
"Sudah kepalang basah! Hidup juga bagaikan sebuah perjudian. Menang kalah masih dalam kesamaran. Terus maju ataupun mundur, semua sama-sama beresiko keuntungan dan kerugian.
"Pikirkan saja nanti! Setelah ini, aku akan coba menghubunginya." Gadis itu tersenyum dan kembali melanjutkan makannya hingga selesai. Benar saja, setelah selesai menghabiskan makan siangnya dia pun segera mencari ponsel untuk menghubungi Alexi. Sambil bersenandung kecil dia menunggu sang lawan bicara mengangat panggilannya.
Oh my pretty pretty boy I love you
__ADS_1
Like I never ever loved no one before you
Pretty pretty boy of mine
Just tell me you love me too
Oh my pretty pretty boy
I need you
Oh my pretty pretty boy I do
Let me inside
Make me stay right beside you
Sementara itu di Sekte Sanca Perak ....
Siang hari itu Alexi sedang beristirahat siang setelah selama setengah hari ini dia berusaha keras menghindari Garnis yang tetap memaksa tinggal di tempat kediaman Ki Surya Praja. Gadis itu berdalih ingin lebih dekat dengan calon suaminya agar bisa mengenal segala sifatnya. Hal itu membuat Alexi benar-benar merasa terbeban dan mencari segala macam alasan untuk menghindarkan dari dari calon istri pilihan sang ayah.
Saat Zike sedang berusaha untuk menghubunginya, justru Alexi sedang tidur dalam kegelisahan di dalam bilik pelatihan milik sang kakek. Karena hanya tempat itulah yang tidak akan pernah didatangi oleh siapa pun. Hanya kakek dan neneknya sajalah yang bisa menemukan dia di sana.
"Aku bahkan heran, mengapa ada gadis sebegitu tidak tahu malunya datang dalam hidupku dan memintaku menikahinya."
"Dan sialnya lagi, pak tua egois itu bahkan menyetujuinya!" Alexi sungguh geram saat teringat pemaksaan yang dilakukan oleh ayahnya. "Apakah sebegitu inginnya dia menyiksa dan menghancurkanku?"
"Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan damai di suatu tempat bersama Zain Kamilaku tercinta. Memiliki banyak anak yang akan kudidik dengan cinta dan kasih sayang." Pemuda itu menerawang jauh membayangkan sebuah kehidupan sederhana yang sangat ia dambakan. "Bukankah itu sangat bahagia? Sebuah rumah bambu pun tidak jadi masalah. Asalkan bersamanya."
"Zike ... bagaimana keadaanmu sekarang ini? Apakah kamu juga merindukanku dan tersiksa karena sangat ingin bertemu atau setidaknya aku mendengar suaramu."
Suasana hening tanpa usikan apa pun kembali mencekam tempat itu. Itu bahkan lebih baik dan nyaman, jika dibandingkan harus berhadapan dengan seseorang yang tidak kita sukai."
Getaran ponsel yang tergeletak di sampingnya telah berhasil membuat Alexi terjaga, karena memang dia sungguh tidak bisa sekejap pun terlelap. Pikirannya kacau dan sangat ingin pergi dari tempat itu. Pemuda itu hanya bisa membolak-balikan badan dengan gelisah yang dia sendiri tidak pernah tahu ujung dan pangkalnya.
Menelentang tak membuatnya tenang, tengkurap juga tak juga mendatangkan apa yang dia harap, posisi miring hanya membuat pikiran merasa sinting. Pemuda itu sungguh merasa hidupnya hampa, nestapa dan terluka. Alexi Nata Praja dengan malas meraih benda pipih itu sambil menggerutu. "Tidak bisakah kalian membiarkan tuan muda ini merasa sedikit saja ketenangan barang sedetik saja?"
Sebuah panggilan dari nomor asing yang tak dia simpan sama sekali di memori ponselnya, membuat mata pria muda dengan sebuah kecantikan anugerah dari Yang Maha Kuasa terpicing untuk memeriksa kembali deretan angka pada layar hanphone miliknya.
"Siapa ini?" Alexi memeriksa nomor tak dikenal yang masuk memanggilnya. "Mungkin hanya orang iseng!"
__ADS_1
Alexi kembali memiringkan tubuh dan bersiap hendak melanjutkan tidurnya. Namun, baru saja dia menutup mata, tiba-tiba ponsel pemuda itu bergetar lagi hingga beberapa kali. Alexi merasa kesal dan meraihnya, lalu melemparkan ponsel itu secara sembarangan hingga terserak di atas permadani. "Mengganggu saja!"
Alei masih tak habis pikir juga, siapakah orang yang telah menghubungi dia dengan nomor pribadinya ini? Pasalnya hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui nomor yang satu ini. Dia hanya memberikan nomor itu pada Alexa, kakek dan neneknya serta satu orang lagi yaitu ...."
"Dia?" Alexi tiba-tiba saja langsung bangkit dari posisi tengkurap dan duduk di atas permadani sambil menoleh ke sana dan ke mari guna mencari ponselnya yang dia lemparkan begitu saja.
Sepasang mata cantik pria itu seketika tertuju pada beda pipih yang tergeletak di atas permadani tak jauh darinya dan dengan tangan kirinya yang gemetaran akibat menahan rasa yang entah bagaimana. Tegang, penasaran, takut dan bahagia ... perasaan yang membuat tubuhnya berkeringat serta sedikit bergetar.
Alexi kembali menggenggam benda pipih tersebut dan kembali memeriksa, apakah nomor asing tadi masih memanggilnya ataukah sudah tidak ada lagi. Ternyata memang nomor asing tadi telah menghentikan panggilannya beberapa detik yang lalu. Rasa kecewa dan penasaran pun membuat pemuda itu hanya bisa duduk memeluk lutut sambil menatap udara kosong tanpa arah tujuan.
"Sudahlah! Mungkin bukan dia." Alexi terbayang kembali wajah sang pelukis daun maple jingga yang telah menuliskan pula sebuah puisi nestapa. "Tapi, bagaimana kalau itu benar-benar adalah dia?"
"Atau ... kupanggil balik saja?" Alexi bergumam dalam hati sambil menopangkan telapak tangan yang terkepal di bawah dagunya,
"Tapi, bagaimana kalau nomor tadi ternyata adalah dia?" Alexi terbayang wajah Garnis sang pengganggu paling menyebalkan di atas muka bumi ini. "Tidak jadi!"
Alexi kembali meletakan ponselnya secara sembarangan dan kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Tangan kirinya dia angkat tinggi-tinggi untuk menghitung-hitung dan menerka-nerka.
"Zike." Alexi menutup jari kelingkingnya.
Lalu menutup jari manisnya. "Garnis."
"Zike!" Alexi berseru sembari menoleh ke arah ponselnya setelah hitungan ibu jari berakhir dengan nama Zike. "Itu pasti diaa!"
"Itu pasti dia! Tidak salah lagi!" Alexi dengan bersemangat men-dial nomor yang tertera dalam daftar panggilan ponselnya.
Di paviliun kecil ....
"Sudahlah!" Betapa kecewanya Zike saat tak mendapatkan respon dari Alexi atas panggilannya. "Mungkin dia sedang sibuk atau sedang beristirahat siang."
"Hanya ingin mendengar suaranya saja, mengapa sulit sekali?" Zike beranjak dari tempat tidur dengan segala kegelisahan yang melanda hatinya, hingga dia pun memilih untuk pergi ke tempat yang mungkin membuatnya menjadi sedikit lebih tenang.
Gadis itu memilih keluar taman untuk sekadar berjalan-jalan guna mencari hiburan. Sepi, hening di siang itu tanpa seorang pun kawan memang sangat membosankan. Zike memilih duduk pada rerumputan hijau tebal yang ada di bawah pohon persik sintetis.
Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar dan menampakan sebuah nama pada nyala layar.
"Benarkah ini dia?"
...Bersambung...
__ADS_1