Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MASA LALU KELAM 2


__ADS_3

Mei Shin masih menangis di samping tubuh Jing Xuan kecil sembari mengganti pakaian anaknya yang telah compang-camping dan seperti baru saja terbakar. Jing Shan lalu berjalan mendekati Jing Xuan kecil dan duduk di tepi ranjang kayu itu.


"Ah Xuan, maafkan ayah!" katanya sambil berkaca-kaca dan membelai rambut anak semata wayangnya itu.


"Seandainya kita tidak berselisih paham, mungkin Ah Xuan tidak akan seperti ini!" Jing Ren meratapi kebodohannya. Pria itu lebih muda dari Jing Shan dan tentu saja dia adalah paman dari Jing Xuan.


Tak lama kemudian, datanglah dua orang pria tua dengan langkah tergesa-gesa. Salah satunya terlihat berwajah sangat marah, sedangkan pria tua yang lain terlihat membawa peralatan medis tradisional. Sakit Jing Xuan adalah karena benturan tenaga dalam berkekuatan tinggi, bahkan seorang dokter pun tidak akan pernah bisa membuatnya sembuh hanya dengan pengobatan medis moderen.


"Cepat tangani cucuku itu!" perintah Jing Guo, kakek dari Jing Xuan baru kepada Tabib Jing Hong yag dipercaya untuk memerikasa keadaan sang cucu.


"Baiklah, Tuan Besar." Tabib Jing Hong tidak memerlukan basa-basi lagi dalam menjalankan tugasnya. Pria itu langsung memeriksa keadaan cucu kesayangan Jing Guo yang tampak sangat bersedih bercampur marah pada kedua anaknya.


Bagaimana Jing Guo tidak marah? Jing Xuan adalah satu-satunya cucu yang kelak akan mewarisi Rajawali Api dan sekarang kondisinya sedang sangat tidak baik. Sebagai seorang kakek yang sangat menyayangi cucu tunggalnya, tentu saja dia akan murka dengan kejadian ini.


Mata pria itu langsung tertuju ke arah dua anak lelakinya yang hanya bisa terpekur dalam kesedihan dan penyesalan. Sementara Tabib Jing Hong mulai sibuk memeriksa keadaan Jing Xuan kecil mereka. Mei Shin juga terlihat ikut membantu aktifitas sang tabib.


"Puas kalian semua?" tanya Jing Guo dengan nada tinggi. "Puas atas hasil dari perselisihan kalian itu?"


"Ma-maafkan kami, Ayah!" Jing Ren berkata dengan penuh rasa bersalah. "Kamilah yang bersalah!"


"Lalu apakah penyesalan kalian ini cukup untuk menebus kesalahan kalian?" bentak Jing Guo sambil berkacak pinggang.


"Lihat! Lihatlah akibat kebodohan dan kecerobohan kalian ini! Membuat terluka satu-satunya cucuku!" Pria tua berambut dan berjenggot putih itu kembali membentak dengan sangat marah.


"Ayah! Kami menyesal!" Jing Shan menangis pilu sambil menutup wajahnya. "Kami tidak menyangka ini akan berakibat fatal!"


"Itulah kebodohan kalian yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah dengan otak dan kepala dingin!" Jing Guo berjalan mondar-mandir sambil menunggu hasil pemeriksaan Tabib Jing Hong terhadap Jing Xuan. "Kalau berita ini sampai tersebar keluar, akan ditaruh di mana muka kita, haaa?"


"Maafkan kami, Ayah!" Jing Shan berseru di sela tangisnya. "Maafkan ayahmu ini, Ah Xuaaaan!"


Jing Ren pun tidak kalah menyesal, tetapi pria itu tidak berani melihat ke arah sang keponakan yang masih tidak juga tersadar dari pingsannya. Kondisi yang teramat mengerikan untuk anak seusia Jing Xuan tentu saja. Tubuh mungil itu harus menerima secara langsung hantaman ilmu Tapak Bara dan ilmu Brajamusti yang nyaris serupa.


"Jika sampai terjadi apa-apa terhadap cucuku, maka kalianlah yang akan menanggung akibatnya!" Jing Guo masih dilanda kemarahan yang tak kunjung mereda.

__ADS_1


Jing Shan ayah dari Jing Xuan dan Jing Ren adiknya hanya bisa terpekur pilu. Mereka benar-benar menyesali perbuatannya kali ini. Namun, ibarat nasi telah menjadi bubur yang disesali pun sudah tidak ada gunanya.


Sementara itu, Tabib Jing Hong masih memeriksa kondisi Jing Xuan dengan sangat hati-hati dan juga teliti. Sang tabib dibuat menggeleng-gelengkan kepala hingga berulang kali seraya mendesahkan napas, akibat dari rasa prihatin yang mendalam. Tabib itu beralih menatap orang-orang yang ada di sekitarnya, sedangkan Mei Shin, Jing Guo, Jing Shan dan Jing Ren yang duduk gelisah menunggu hasil analisa sang tabib.


"Bagaimana keadaan anakku, Tabib?" Mei Shin bertanya dengan wajah cemas sambil sesekali menyeka air matanya yang jatuh berluruhan.


"Tuan-Tuan semua, bersyukur sekali saat ini Tuan Muda Jing telah melewati masa kritisnya, seharusnya dia sudah baik-baik saja, meski beberapa tulang rusuk Tuan Muda Jing ada yang patah dan itu bisa disembuhkan dalam beberapa bulan. Hanya saja ...."


Tabib Hong menghentikan kata-katanya akibat merasa sangat berat hati menyampaikan hasil pemeriksaannya. Pria tua itu terlihat mengusap jenggot panjang putihnya hingga beberapa kali.


"Katakan saja Tabib! Apapun itu, selama cucuku bisa selamat!" seru Jing Guo dengan tidak sabar


"Maafkan atas kebodohan saya, Tuan Besar!" Tabib Hong menarik napasnya yang terasa berat oleh persoalan Jing Xuan. "Tuan Muda Jing terkena dua kekuatan dari ilmu tingkat tinggi, meski tidak mengenai organ dalamnya. Tetapi secara langsung tubuh Tuan Muda Jing yang masih sangat muda dan lemah ini juga telah menerima benturan dua kekuatan. Kemungkinan Tuan Muda Jing selama hidupnya tidak akan bisa berkultivasi lebih dari tingkatan ketiga."


"Apa?" Jing Shan jatuh terhenyak di atas kursi dengan wajah kecewa, marah dan sedih yang entah ia tujukan kepada siapa. Hati pria itu terasa hancur lebur saat mendengar penuturan dari tabib ini. Wajahnya pun seketika menjadi pias bagai tak berdarah.


Jing Ren dan Jing Guo juga Mei Shin pun tidak kalah terkejutnya. Mereka sungguh tidak menyangka sama sekali, jika efek benturan dari ilmu itu akan sangat fatal bagi Jing Xuan di masa mendatang. Walaupun tubuh luarnya mungkin bagai tanpa cela, tetapi jalur dalam mengalami kerusakan yang cukup parah.


"Jadi, Ah Xuan kami tidak bisa menjadi seorang pendekar bela diri yang sempurna?" Jing Guo berkata dengan suara lemah. "Jing Xuan kami hanya bisa menjadi seorang praktisi bela diri biasa saja, sedangkan sekte kami membutuhkan orang yang kuat uar dalam dan bisa menguasai seluruh ilmu warisan Rajawali Api dengan sempurna."


Jing Ren menatap ke arah tubuh mungil yang tergeletak di atas pembaringan. "Dan dia sekarang ...."


"Apakah tidak ada cara untuk mengembalikan meridian Ah Xuan?" tanya Jing Shan dengan penuh harap. "Katakan saja Tabib! Adakah cara untuk menyembuhkan Ah Xuan kami?"


Sekali lagi, Tabib Jing Hong hanya bisa menggelengkan kepala dengan gerakan lemah. Pria tua itu meang belum menemukan cara yang jitu untuk memperbaiki kerusakan meridian seseorang. Tabib Hong lalu berusaha menjelaskan dengan sabar.


"Untuk sementara ini dan sampai beberapa tahun ke depan, mungkin belum bisa mengobatinya dengan cara yang ekstrim, karena tubuh Tuan Muda Jing masih sangat lemah." Tabib Jing Hong berucap sambil menatap Jing Xuan.


"Jadi, untuk sementara kita hanya bisa mengobati semampunya. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu atau jika ada suatu keajaiban, maka tidak mustahil jika meridian tuan muda nantinya bisa kembali normal. Bagaimanapun juga, tuan muda masih dalam tahap pertumbuhan yang setiap waktu bisa mengalami perubahan." Tabib Hong menyambung ucapannya.


"Hanya bisa berharap pada sebuah keajaiban semata," bisik Mei Shin sembari membelai kepala anaknya yang masih belum juga tersadar.


"Keajaiban pun bisa datang kapan saja dengan bantuan doa dan juga usaha pengobatan yang maksimal tentu saja." Tabib Jing Hong mulai mengemasi barang-barangnya. "Saya sarankan kepada Anda semua, agar segera membawanya ke rumah sakit untuk mengatasi patah tulang di tubuh Tuan Muda Jing."

__ADS_1


"Benar! Kita harus segera membawanya!" seru Jing Ren sambil bangkit dari duduknya dengan diikuti oleh Jing Guo dan Jing Shan.


"Untuk masalah meridian yang rusak, kita bisa pikirkan nanti dan yang terpenting sekarang, adalah mengobati luka di tubuhnya." Jing Guo juga bangkit dari duduknya. "Ah Shan! Tunggu apa lagi?"


"Baik, Ayah!" Jing Shan segera mendekati Mei Shin dan berkata, "Kita bawa dia ke rumah sakit."


"Baiklah, Shan Ge. Aku akan berkemas-kemas." Mei Shin segera menyiapkan segala keperluan yang harus mereka bawa nantinya.


Jing Guo yang saat itu masih menjadi ketua Sekte Rajawali Api hanya mengangguk-anggukan kepala dengan hati hancur, sedangkan Jing Ren masih tercenung dengan penyesalan yang sangat dalam dan akan berkepanjangan. Sementara Keluarga Jing tengah sibuk dengan persiapan pengobatan Jing Xuan, Tabib Jing Hong pun segera berpamitan. Pria itu tidak lupa meresepkan obat luka dalam yang diderita oleh Jing Xuan.


Tuan muda dari Keluarga Jing segera dilarilan ke rumah sakit guna mengobati cedera patah tulang rusuknya. Mereka sekarang hanya bisa berusaha semampunya demi keselamatan penerus sekte yang kemungkinan tidak bisa lagi berlatih ilmu-ilmu milik Sekte Rajawali Api.


Setelah mendapat perawatan medis, Jing Xuan membuka sepasang matanya dengan sangat perlahan dan langsung melihat wajah Mei Shin. "I-Ibu ...."


"Ah Xuan!" Mei Shin merasa sangat bahagia mendengar suara anak lelakinya. Wanita itu pun berusaha tersenyum agar Jing Xuan merasa lebih baik.


"Ibu ... Di mana teman-temanku?" Jing Xuan masih belum begitu sadar dengan keadaannya dan mengira jika dirinya masih sedang bersembunyi. "Ibu, mengapa ibu ada di sini?"


"Ah Xuan Sayang, kamu sudah sadar?" Mei Shin bertanya dengan suara lemah lembut.


"Sadar?" Jing Xuan bertanya dalam hati sambil meneliti keadaan sekitarnya. Saat ingin bergerak untuk bangun, tiba-tiba dia berteriak dengan suara keras.


"Aaww! Sakit!"


"Ah Xuan!" Beberapa orang yang mendengar teriakan Jing Xuan segera berlarian dari luar ruang perawatan.


"Ah Xuan, kamu sudah sadar?" Jing Guo bertanya seperti kepada dirinya sendiri. "Ah Xuan, cucukuuuu!"


"Ah Xuan, akhirnya sadar!" Jing Shan juga berseru karena bahagia. Pria itu ingin memeluk anaknya, tetapi dia juga teringat bahwa Jing Xuan tidak boleh disentuh dengan bebas akibat cederanya.


"Ayah, Kakek, Paman ... mengapa ada di sini juga?"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2