
"Menarik? Apanya yang menarik?" Zike bertanya sembari menoleh ke arah pria yang semakin terlihat tampan di keremangan cahaya lampu taman dan sinar bulan. Gadis itu dalam hati berucap, "Dia memang sangat tampan. Tetapi alangkah bagusnya jika saat ini yang bersamaku adalah Alexi."
Bukannya Zike tidak terpesona oleh ketampanan Jing Xuan, akan tetapi dalam hatinya sudah terisi oleh satu orang saja. Ruang kalbunya sudah terlalu sempit dan hanya bisa diisi oleh satu orang saja, yaitu Alexi Nata Praja. Diam-diam gadis itu merasa rindu juga kepada pemilik wajah tampan nan cantik yang telah membuat jantungnya bergetaran pada saat pertama kali bertatapan di konser musik underground beberapa bulan yang lalu.
"Tentu saja tentang undangan dari pamanku itu," sahut Jing Xuan. "Lalu, bisakah kamu ceritakan sedikit tentang kisahmu hingga bisa sampai ke tempat ini?"
"Menceritakan kisahku?" Zike bertanya sambil menatap Jing Xuan. "Kisahku tidak ada yang istimewa."
"Tidak harus sebuah keistimewan yang bisa kita bicarakan," ujar Jing Xuan sambil berpikir dalam hati.
"Bagaimana kalau akulah yang menceritakan kisahku terlebih dahulu?" tanya Jing Xuan sembari meraih sebungkus kacang goreng sangrai.
"Boleh." Zike terlihat begitu antusias.
"Kalau begitu ... Kita mulai dari mana?"
"Terserah padamu mau mulai dari mana." Zike mengubah posisi duduknya agar terasa lebih nyaman. Meskipun dia adalah seorang gadis yang berasal dari sebuah desa, akan tetapi kelakuan dan tingkah Zike tidak seperti gadis desa pada umumnya.
Zike adalah sosok yang tomboy dan lebih menyukai gaya pakaian dan juga berlagak seperti anak laki-laki. Tentu saja hal itu mengundang banyak sekali perhatian bagi orang-orang di desanya dan kerap menjadi omongan yang tidak baik. Namun gadis itu tidak memedulikannya sama sekali.
"Baiklah, aku akan mulai dari ...."
Saat Jing Xuan baru berusia enam tahun. Pada suatu hari, Jing Xuan bermain petak umpet bersama dengan beberapa orang teman. Mereka sengaja mencari tempat yang dirasa tidak terlalu ramai agar mudah melakukan permainan tersebut. Mereka secara bergantian bersembunyi dan berjaga sesuai peraturan.
Sekarang adalah giliran Jing Xuan untuk bersembunyi. Tentu saja ia tak ingin diketemukan dengan mudah oleh kawannya yang saat ini sedang berjaga dan harus menangkap salah satu dari anak-anak yang bersembunyi untuk menggantikan dirinya berjaga. Jing Xuan kecil segera berlari ke segala arah guna menyembunyikan diri.
Jing Xuan mendapatkan sebuah ide. Dia memutuskan untuk bersembunyi di sebuah kotak kayu besar tempat penyimpanan benda-benda yang dikeramatkan oleh para Tetua Sekte Rajawali Api. Bocah itu menyelinap masuk ke dalam ruangan gudang besar tersebut pada saat para penjaga sedang lengah.
__ADS_1
Saat itulah dua orang tetua tekte mendatangi tempat tersebut. Kedua orang lelaki itu terlihat beradu mulut dan ilmu kanuragan, bahkan sampai beradu tenaga dalam. Entah masalah apa yang membuat mereka menjadi berbuat demikian. Jing Xuan tak begitu memedulikannya, dia hanya takut ketahuan oleh kawan yang sedang mencari anak-anak yang tengah bersembunyi.
Perkelahian kedua tetua itu bergerak mendekati tempat di mana ada seorang anak sedang bersembunyi. Jing Xuan sendiri tidak bisa melihat dengan jelas siapa orangnya yang tengah terlibat perkelahian. Dia hanya mendengar kedua orang itu terus beradu ilmu kesaktian.
Sampai pada akhirnya, terjadilah sebuah benturan dua ilmu tingkat tinggi menghantam kotak kayu besar tempat di mana Jing Xuan bersembunyi. Kotak kayu itu hancur berkeping-keping dan tubuh Jing Xuan terpental, lalu jatuh di atas lantai dengan keras.
Para pelaku perkelahian merasa terkejut, saat melihat kotak kayu yang hancur di udara dan menampilkan sesosok tubuh kecil melayang tinggi tepat di hadapan mereka. Kedua pria itu pun segera menghentikan aksinya dan beralih menatap pada serpihan kotak kayu.
"Ah Xuaan!" pekik para pria itu hampir berbarengan, begitu melihat sesosok tubuh mungil melayang dan jatuh tergeletak dengan pakaian bagaikan terbakar api.
"Ah Xuan!" Salah seorang pria segera berlari ke arah tubuh mungil yang sekarang tergeletak pingsan.
"Cepat kita selamatkan dia!" teriak salah seorang dari mereka.
Salah seorang pria menggendong tubuh Jing Xuan yang sudah tak sadarkan diri. Lelaki itu berlari dengan segenap kekuatannya dengan membawa tubuh Jing Xuan yang langsung dibawa ke kamarnya. Tentu saja hal itu menjadi perhatian banyak orang yang berpapasan dengan mereka.
"Apa yang terjadi pada anakku?" Mei Shin menangis histeris saat melihat kondisi anak lelakinya yang sangat mengerikan.
"A-aku aku ... akulah yang bersalah!" Pria yang menggendong Jing Xuan terlihat kebingungan dan merasa bersalah.
"Kita berdua yang salah!" Pria yang lebih muda berseru. "Mengapa pula tadi kita harus bertengkar sampai berkelahi?"
"Ka-kalian! Kalian melakukannya lagi?" Mei Shin tak tampak terkejut, hanya saja hatinya merasa tidak terima atas kejadian itu.
"Kami ... kami hanya sedikit berselisih. Tapi kami tidak mengetahui sama sekali kalau Ah Xuan ada di sana."
"Lalu mengapa kalian diam saja?" Mei Shin bertanya sambil menangis. "Cepat lakukan sesuatu!"
__ADS_1
Kedua lelaki itu seperti baru saja tersadar. Salah satu dari mereka pun berucap, "Penyelamatan!"
"Cepaaat! Cepat panggil tabib, dokter, dukun atau siapa saja untuk menyelamatkan Ah Xuan!" perintah orang yang membawa Jing Xuan seraya meletakkan tubuh sang anak di atas pembaringan.
Beberapa pelayan segera berlarian dalam keadaan bingung dan juga panik mendengar teriakan tersebut. Mereka segera berlarian untuk menjalankan perintah.
"Ada apa ini?" Beberapa orang pria dan wanita terlihat berlarian memasuki kamar Jing Xuan.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya yang lain.
"Entahlah. Tapi tampaknya itu tuan muda yang digendongnya." Pelayan lain menyahut.
Sementara itu, Jing Shan yang merupakan ayah kandung Jing Xuan terlihat sangat gelisah hingga tampak berjalan hilir mudik dengan kebingungan. Begitu pula dengan pria yang lebih muda darinya. Keduanya terlihat menyesali apa yang telah mereka lakukan baru saja.
Mei Shin masih menangis di samping tubuh Jing Xuan kecil sembari mengganti pakaian anaknya yang telah compang-camping dan seperti baru saja terbakar. Jing Shan lalu berjalan mendekati Jing Xuan kecil dan duduk di tepi ranjang kayu itu.
"Ah Xuan, maafkan ayah!" katanya sambil berkaca-kaca dan membelai rambut anak semata wayangnya itu.
"Seandainya kita tidak berselisih paham, mungkin Ah Xuan tidak akan seperti ini!" Jing Ren meratapi kebodohannya. Pria itu lebih muda dari Jing Shan dan tentu saja dia adalah paman dari Jing Xuan.
Jing Guo, kakek dari Jing Xuan baru saja tiba dengan tergopoh-gopoh. Pria itu langsung memeriksa keadaan cucu kesayangannya, Jing Guo nampak sangat sedih dan marah pada kedua anaknya.
"Lihat! Lihatlah akibat kebodohan dan kecerobohan kalian ini! Membuat terluka satu-satunya cucuku!" bentak pria tua berambut dan berjenggot putih itu dengan sangat marah.
"Jika sampai terjadi apa-apa terhadap cucuku, kalian akan menanggung akibatnya!" teriak Jing Guo penuh kemarahan.
...Bersambung...
__ADS_1