
Setelah berada di dalam bersama denga Chriss, Jessey Liu membuka kaca jendela lalu berseru, "Bye, Ye Kai!"
"Bye, Jessey!" Ye Kai melambaikan tangan ke arah sahabatnya.
Rombongan itu pun segera bergerak meninggalkan kediaman besar milik Ye Kai. Mereka memang harus segera sampai di Sekte Elang Emas sebelum hari menjelang tengah malam.
"Geee, ayo masuk!" Mei Lan menggamit lengan suaminya.
"Mari!" Ye Kai hanya menurut tentu saja. "Aku ingin beristirahat siang. Setelah itu, aku harus mempersiapkan diri untuk mulai melatihnya malam nanti."
"Mmhh," gumam Mei Lan sambil mengangguk. Keduanya segera masuk kembali ke dalam rumah kediaman yang dalam beberapa bulan lagi harus mereka tinggalkan.
Siang itu juga, di Paviliun Tanpa Nama. Zike tertidur dengan sedikit gelisah, karena dia seperti mendengar suara tangisan seorang wanita dari luar ruangannya. Gadis itu membuka mata dengan sangat malas dan berusaha untuk fokus mendengarkan suara tersebut.
"Seperti ada suara wanita menangis?" Zike yang baru saja sedikit terlelap dari istirahat siangnya. Dia pun bangkit dari pembaringan guna mencari sumber suara. "Apakah siang-siang begini ada ...."
"Aaaah! Mana mungkin. Selama aku di sini juga tidak pernah ada apa-apa." Zike mencoba menepis semua prasangka buruk dan memberanikan diri untuk keluar dari ruangannya.
Begitu sampai di luar ruangan yang berhalaman taman bunga, gadis itu melihat seseorang di bawah sebatang pohon mangga tengah duduk sendiri di atas bangku bambu panjang sambil memeluk lutut. Di sampingnya tergeletak sebuah keranjang bambu tempat makanan. Zike pun menjadi teringat, jikalau siang ini dia sama sekali belum makan. Rasa lapar pun seketika membuat perutnya berbunyi.
Secara perlahan, Zike berjalan mendekati gadis berbadan gemuk yang sedang menangis sendirian. Entah apa yang telah membuatnya menjadi demikian, tentunya Zike pun harus bertanya.
"Suri." Zike menyapa dengan suara pelan agar tidak mengagetkan gadis berbadan gemuk yang biasa membawakannya makanan.
Demi mendengar suara Zike, gadis itu pun segera mengusap air matanya dan menoleh lalu bangkit dan memeluk sang nona. "Nona Zikeee!"
"Suri, ada apa?" Zike merasa kebingungan mendapat pelukan erat seperti ini, terlebih lagi Suri dalam keadaan menangis. Pastilah ada sesuatu yang membuatnya bersedih hati. Zike mengusap-usap punggung gadis gemuk tersebut sambil berucap dengan suara lemah lembut. "Tenanglah, Suri! Sekarang, mari kita masuk dulu!"
__ADS_1
"Baik, Nona." Suri melepaskan pelukannya dan segera menyambar keranjang yang tadi dia bawa, lalu bergegas masuk ke dalam ruang paviliun bersama Zike. Suri segera meletakkan keranjang bambu di atas meja dan membuka isinya satu-persatu seraya berkata, "Maaf, Nona! Saya terlambat membawakan makanan untuk Nona."
"Tidak apa-apa, Suri. Aku juga baru saja tertidur tadi. Latihan bersama Nu Jioashi membuatku sangat lelah." Zike beucap sembari menyambar sepotong nugget ayam. "Mmm, enak! Suri, kamu makanlah juga!"
"Terima kasih, Nona. Tapi saya sedang tidak berselera untuk makan," sahut Suri dengan wajah sedih.
Zike merasa heran dengan tingkah gadis yang biasanya tidak akan pernah menolak jikalau ditawari makanannya. "Suri, apa kamu sakit?"
Suri menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Saya hanya sedang merasa sedih."
"Sedih?" Zike menghentikan kunyahan nugget ayam yang sudah berada dalam mulutnya. "Apa ada seseorang yang menyakitmu, Suri?"
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala dan semakin membuat Zike tak mengerti. " Ataukah teman-temanmu ada yang menindas dan mengejekmu lagi?"
"Tidak juga, Nonaaa!" Suri tiba-tiba saja kembali menangis dengan suara keras. Hal itu sungguh membuat Zike menjadi semakin kebingungan. "Nona Zikeee! Bagaimana aku bisa menceritakannya padamu? Aku merasa bingung dan maluuuu!"
"Nonaaa! Aku sangat sedih karena aku tak memiliki nasib yang baik seperti yang lainnyaaa!" Suri berkata sambil menangis sesenggukan. "Sedangkan yang secantik nyonya saja dia seperti tidak tertarik, lalu bagaimana denganku?"
"Ooohh, sepertinya dia sedang jatuh cinta pada seseorang." Zike akhirnya bisa sedikit menangkap apa yang sedang terjadi pada gadis ini. "Tapi, siapa?"
"Yang benar saja, mungkinkah ada seorang pria yang tidak tertarik pada guruku yang sangat cantik itu?" tanya Zike merasa penasaran dengan pria mana yang tidak tertarik pada Mei Lan. "Kalau dengan melihat Nu Jiaoshi saja lelaki itu tidak tertarik, pastilah dia adalah orang yang benar-benar berselera tinggi."
"Nonaaa! Aku harus bagaimanaaa?" Suri mengeraskan tangisnya demi mendengar perkataan Zike. "Dia tidak akan pernah tertarik padaku. Statusnya terlampau tinggi. Aku ... aku tidak akan pernah bisa memilikinya!"
"Eh, jadi maksudmu. Kamu sedang menyukai seorang pria?" Zike melanjutkan makan siangnya tnpa memedulikan tangisan Suri. "Pria manakah yang sangat beruntung itu?"
"Nona Zike ... aku ma-malu." Suri berucap sembari mengusap air mata yang sudah membasahi bajunya pula. "A-aku ... aku baru sekali ini mengalami menyukai seorang pria."
__ADS_1
"Bisa dibilang, dia adalah cinta pertamaku," ucap Suri sambil menundukan wajahnya yang kembali memerah. Dia sungguh merasa malu, karena yang dia cintai adalah seorang pria dengan kedudukan lebih tinggi dari tuannya.
"Apakah aku telah salah dalam memilih dan menjatuhkan cintaku pada seseorang? Apakah aku telah begitu bodoh dengan memiliki perasaan ini?" tanya Suri sambil membayangkan wajah Jessey Liu yang sangat tampan di matanya.
Zike tersenyum dan berkata, "Kurasa setiap manusia tidak ada yang salah dalam menyukai seseorang, meskipun seberapa tinggi kedudukannya, seperti apa rupa fisiknya, seperti apa latar belakangnya. Karena pada hakikatnya, tidak ada yang pernah bisa mengatur hati dan perasaan kita dalam menjatuhkan rasa cinta."
Suri mendengarkan dan memikirkan dengan saksama ucapan dari gadis ini. "Nona memang benar. Aku tidak bisa membuang rasa ini walaupun aku sudah berusaha keras untuk melupakannya."
"Dia sangat istimewa di hatiku. Meskipun aku bukan siapa-siapa baginya!" Suri berucap dengan nada sendu. "Terlebih lagi, aku dan dia langsung berpelukan saat pertama kali berjumpa."
"Sungguh aku malu sekali saat tak sengaja menabraknyaaa!" Suri berkata sembari menutup wajahnya dengan perasaan sangat malu. Tepatnya, malu tapi mau.
Zike tiba-tiba tertawa cukup panjang mendengar pengakuan Suri. Hal tersebut membuat Suri menjadi semakin merasa malu dan frustrasi.
"Mengapa Nona Zike tertawa? Apakah itu lucu?" Suri bertanya dengan rasa heran.
"Tidak! Aku sedang tidak mentertawaimu." Sesungguhnya dia sedang teringat pada kejadian saat pertama kali bertemu dengan Alexi. Dia masih tidak bisa melupakan saat pertama beradu tatap dengan pria yang telah berhasil menjadi cinta pertamanya.
"Untungnya aku dan dia sama-sama suka." Tanpa sadar Zike berucap. Bayangan wajah kekasihnya segera berkelebatan di depan matanya.
"Siapa yang Nona maksudkan itu?" tanya Suri dengan semakin heran. Gadis itu segera membereskan bekas tempat makanan yang baru saja dipakai oleh Zike.
"Dia adalah seseorang yang ...."
Zike menggantung ucapannya. Dia merasa bingung jika memberitahukan siapa Alexi. Gadis itu bahkan tidak tahu latar belakangnya, pekerjaannya atau di mana Alexi tinggal. Sungguh hal yang sangat lucu.
"Ternyata aku telah mencintai pria asing!"
__ADS_1
...Bersambung...