Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SIKSAAN


__ADS_3

Sesampainya di kamar bernomor 307, Jessey Liu segera mempersilakan sahabatnya untuk masuk dan beristirahat. Ada dua tempat tidur di dalamnya. Jessey Liu membagi tempat tidur untuk Ye Kai, sedangkan Chriss berada di tempat tidur yang lain bersama Tygra.


Jessey Liu tidak ingin rencana tidurnya gagal lagi. Dia pun berkata kepada semua orang. "Jangan dulu bercerita, kita istirahat dan bicarakan semuanya esok hari!"


Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi di dalam kamar 999 itu?


Beberapa jam sebelumnya ....


Di dalam kamar yang dicurigai oleh Ye Kai dan juga Chriss, sebenarnya baru saja terjadi suatu peristiwa yang sangat memilukan. Kamar yang sengaja diberi nomor 999 itu sebenarnya adalah sebuah ruang penyiksaan khusus. Kamar tersebut dilengkapi dengan peredam suara yang menyebabkan tidak akan ada orang bisa mendengar jeritan sekeras apa pun.


Kamar bernomor 999 itu memang disiapkan secara khusus untuk menghukum siapa saja yang dianggap bersalah di Hotel Van Houten. Tidak ada satu orang pun yang diijinkan masuk ke dalam ruangan besar dengan berbagai macam alat penyiksaan di dalamnya dan sebenarnya, nomor 999 itu sendiri adalah plesetan dari lambang ruang 666 yang merupakan penjara paling mengerikan di Alcatraz.


Angka 666 itu memang sengaja dibalik menjadi 999 agar tidak ada orang yang mencurigai tentang apa yang ada di dalamnya. Akan tetapi bagi seorang Ye Kai, kedua bilangan itu terasa masih begitu erat berkaitan, sehingga dia merasa sangat penasaran dengan ruangan yang tida seharusnya dia ketahui.


Jean dan Merry ditelungkupkan di atas meja kayu yang panjang dalam keadaan setengah berbusana. Tangan dan kaki mereka juga diikat dengan tali tambang hingga tak bisa melarikan diri sama sekali. Wajah keduanya juga telah membengkak akibat luka lebam membiru. Namun para pria penyiksa tidak menunjukan rasa kasihan sedikit pun. Hati mereka bagaikan sudah bukan lagi berbahan daging, melainkan seperti membatu dan mati.


Tongkat kayu bergerigi sebesar kaki meja diangkat setinggi-tingginya, lalu diayunkan dengan sekuat tenaga dan mendarat dengan keras di tubuh Jean dan Merry tanpa ada kata ampun lagi. Tulang-tulang di punggung mereka remuk dengan kulit yang telah terkelupas, berdarah dan menyerupai koyakan-koyakan cakar kuku harimau.


Keduanya ingin pingsan saja saat itu juga, daripada harus terus menahan deraan yang sangat menyakitkan. Namun ternyata, kesadaran keduanya masih terus terjaga hingga penyiksaan itu mau tak mau terus mereka rasakan sepanjang waktu.


"Aaaa!" pekikan dari mulut Jean terdengar sangat memilukan.

__ADS_1


"Jangaaaan, Tuaaaaan! Ampuuuuun!" Jean memekik dan berteriak dengan sekuat tenaga saat deraan bilah kayu mengenai tubuhnya secara bertubi-tubi. "Aaaaa!"


Tak ada belas kasih yang tersirat pada wajah para pria penyiksa yang dengan senang hati menjalankan tugasnya, setelah puas menikmati tubuh kedua wanita yang sedang mereka siksa. Para algojo berbadan kekar, tinggi besar dan berwajah seram hanya mengulas seringaian licik dan tipis. Teriakan demi teriakan dari mulut Jean seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan bekas.


"Ampuni kami, Tuaaaan! Sakiiiiit!" Erangan dari mulut Merry pun tak kalah memilukan. Namun, para penyiksa yang memukuli tubuh mereka, sama sekali tidak memedulikan jeritan demi jeritan yang keluar dari mulut para wanita yang disiksanya.


"Hentikan!" Sebuah suara keras seorang pria berhasil membuat para algojo menghentikan pekerjaan mereka, meski hukuman baru berjalan separuhnya. "Biar aku bicara dengan mereka berdua!"


"Baik, Tuan. Silakan!" Salah satu algojo bertampang seram menyahut dan mempersilakan bos mereka dengan memberi jalan. Kedua algojo mundur ke belakang beberapa langkah sambil meletakkan tongkat kayu begerigi di atas pundak masing-masing.


Manager Robert bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kedua wanita yang sedang mereka hukum, akibat dari tindakan ceroboh pada malam hari ini. Keduanya telah dianggap bersalah, karena dengan sangat lancang telah menghina seorang tuan muda dari keluarga yang sangat pemilik hotel segani.


"Bagaimana menurut kalian?" bertanya manager berbadan gendut yang tidak tampan sama sekali.


Merry berusaha menyambar ujung pakaian Robert dengan tangan gemetaran. Tangisnya kembali pecah. "Tuan, mohon maafkanlah kami!"


"Memaafkan kalian?" Manager Robert melengkungkan sedikit badannya dan mendekatkan wajahnya ke sisi muka Merry. "Masih pantaskah kalian mendapatkan kata maaf atas kecerobohan kalian itu?"


Merry menggelengkan kepalanya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. "Kami sungguh tidak tahu siapa merekaaa! Jadi, mohon ampunilah kami dan biarkan kami meminta maaf secara pribadi pada orang-orang itu, Tuaaaan!"


"Meminta maaf kepada mereka?" Manager Robert bertanya dengan nada sinis. "Apa kamu pikir, kamu ini pantas berhadapan dengan Tuan Muda itu"

__ADS_1


"Bodoh! Kalian berdua benar-benar bodoh!" Manager Robert membentak seraya menepis dengan kasar cengkeraman tangan Merry.


"Itulah akibat dari kebodohan kalian yang tidak melihat-lihat terlebih dahulu siapa yang kalian goda itu!"


"Tuan ... kalau boleh kami tahu, siapakah orang itu sebenarnya?" tanya Jean dengan suara yang sangat lirih. Dia sudah pasrah dengan nasibnya malam ini di tangan para algojo yang juga telah terlebih dahulu melampiaskan hasrat bejat mereka kepada para wanita itu secara bergantian.


Walau sebenarnya Jean dan Merry juga merasa sangat benci juga dendam dalam hati kepada para lelaki yang telah memperlakukan diri mereka sangat rendah serta hina, akan tetapi mereka sama sekali tidak punya daya atau kekuatan untuk melawan.


"Baiklah, kalau kalian merasa sangat ingin tahu." Manager Robert melangkah ke depan sembari menggendong kedua tangan di belakang pinggangnya yang lebar. "Dia adalah Tuan Muda Alexi Nata Praja putra Ki Nata Praja dari Sekte Sanca Perak."


"A--apa?" Merry dan Jean merasa sangat terkejut mendengar perkataan dari mulut Manager Robert. "Dan dia juga merupakan keponakan dari Wira Praja."


"Wira Praja?" Jean terkejut bukan buatan. "Bukankah itu adalah penguasa Kota Wu Shang?"


Merry dan Jean bagaikan membeku di tempatnya saat ini. Sekarang mereka mengetahui, mengapa Edler Van Houten dan Managernya ini sangat marah atas kelakuan mereka berdua kepada rombongan orang-orang berpakaian serba hitam yang ternyata mereka bukanlah orang sembarangan. Namun, penyesalan pun sudah tidak berguna untuk saat ini.


"Jadi, kurasa inilah hukuman yang pantas kalian dapatkan akibat dari kekurangajaran kalian kepada Tuan Muda Alexi!" Seorang pria bertubuh gendut berkata dengan nada geram. "Usaha hotel ini bisa terancam musnah hanya karena kecerobohan kalian berdua!"


"Lanjutkan hukuman!" teriak Manager Robert dengan suara keras sambil berjalan keluar ruangan dengan kepuasan yang terpancar di wajahnya.


"Siap, laksanakan perintah!" seru algojo bertampang seram yang saat ini hanya bertelanjang dada. "Dengan senang hati!"

__ADS_1


Merry dan Jean hanya bisa pasrah dengan apa yang mereka alami malam hari ini. bahkan untuk bisa terus hidup pun, keduanya sudah tidak berharap. Pukulan demi pukulan kembali mereka terima hingga hitungan ke lima puluh.


...Bersambung...


__ADS_2