
Mata Alexi menatap tak berkedip pada sosok seorang gadis yang sedang melakukan gerakan-gerakan senam di sebuah pelataran kecil yang tak jauh dari Penginapan. Ada keinginan untuk mendekati sang gadis untuk menanyakan suatu hal. Tapi, keinginan itu ditahannya mengingat bahwa saat ini, dia pun bahkan belum mandi dan berganti pakaian.
"Bajuku bau sekali!" Alexi dengan konyol mencium ketiaknya sendiri. Matanya lalu tertumpu pada ponselnya dan segera meraih benda itu. Didapatinya banyak sekali pesan dari orang-orang Sanca Perak. Alexi segera me-nonaktif-kan nomornya karena tak mau orang-orang Sanca Perak melacak keberadaannya.
Terdengar ketukan pintu. Alexi segera beranjak dari ranjangnya seraya melemparkan selimut dengan seenaknya hingga berserakan di atas ranjang hingga sebagian menjuntai ke lantai. Dia berjalan dengan langkah malas untuk membuka pintu. Pemuda tampan itu terkejut saat matanya beradu pandang dengan sepasang mata bening, bulat berbulu lentik yang juga menatapnya dengan heran.
"Kamu?" tanya Alexi.
"Kamu di sini?" Pemilik sepasang mata bulat menatapnya dengan terheran-heran. Alexi terdiam, ada desir bahagia disudut hatinya.
"Kau juga di sini?" Alexi balik bertanya.
"Aku diminta mengantarkan pesananmu ini," ujar pemilik mata indah itu.
"Ooh, letakan saja di atas meja itu!" Alexi menunjuk ke arah meja kecil yang ada di sudut kamar.
"Zike, kau mengapa ada di sini?" tanya Alexi sambil mengikuti Zike yang melangkah masuk dan meletakan nampan bawaannya di atas meja.
"Mmhh, aku hanya bantu-bantu saja di sini. Aku kenal pemilik penginapan ini. Jadi saat libur kerja, aku sering di sini," jawab Zike seraya menata makanan dan minuman di atas meja itu.
Zike melihat selimut yang terserak berantakan di atas ranjang. Dia segera melipatnya dan merapikan tempat tidur. Alexi hanya memandanginya dengan rasa kagum. Kagum yang entah bagaimana. "Alangkah manisnya jika bisa hidup seperti ini selamanya." Alexi berucap dalam hati hingga tanpa sadar tersenyum sendiri.
"Lalu, di mana rumahmu?" tanya Alexi yang kini memilih duduk di kursi.
"Aku bukan dari daerah sini. Rumahku jauh di Kota Gao Yang." Zike menjawab dengan nada santai. "Selesai!"
"Selamat menikmati! Aku pamit dulu." Zike berpamitan setelah selesai dengan pekerjaannya. Zike berjalan menuju ke arah pintu. Baru beberapa langkah gadis itu berjalan, terdengar suara Alexi.
"Zike, tunggu!" Alexi berseru.
Zike berhenti dan menoleh dengan sorot mata heran. "Ada apa? Adakah sesuatu yang kau butuhkan lagi?"
"Hmm, tidak ada! Eh ... bolehkah?" Alexi nampak sedikit tersipu dan ragu. "Bolehkah aku meminta nomor teleponmu?"
"Oohh, hanya itu." Zike terkekeh melihat rona wajah Alexi yang bersemu merah jambu. Zike mengangguk dan segera mengambil ponsel dari saku celananya. Gadis itu memperlihatkan nomor teleponnya kepada Alexi. Alexi tersenyum dan segera menyimpan nomor Zike pada ponselnya.
"Terima kasih," ucap Alexi. "Kau, baik sekali."
"Sama-sama. Okay, aku pergi dulu," Zike berpamitan sekali lagi dan segera meninggalkan kamar Alexi. Alexi hanya memandang kepergian gadis itu dengan dada berdebaran.
"Kenapa aku ini?" Alexi tak mengerti. "Mengapa hanya bertemu begini saja. Aku sudah merasa sesenang ini?"
Alexi kembali menatap layar ponselnya. Nama dan nomor Zike tertera di sana, Alexi tersenyum-senyum dan menyimpan ponselnya. Pemuda itu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di tempat lain.
Hari itu juga, sebuah mobil sport berwarna hitam meluncur di atas jalanan beraspal. Seorang gadis cantik berpakaian serba hitam duduk dengan manis di kursi belakang mobil mewah itu, lalu menyusul empat mobil mewah lainnya dengan warna yang sama.
"Nona Alexa, kemana kita akan mencari tuan muda?" tanya seorang pemuda berwajah cukup tampan berambut cepak.
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya padaku? Kau yang bersamanya setiap hari kan?" Alexa balik bertanya tanpa menoleh kepada pria muda itu.
"Memang benar Nona. Tapi, kali ini tak ada yang tahu ke mana tuan muda pergi," jawab Segara.
"Tapi, setidaknya kau tahu tempat apa saja yang sering didatangi oleh kakakku." Alexa berkata sambil memperhatikan pinggiran jalan dan berharap bisa menemukan Alexi di sana.
"Nona, selama ini tuan muda hanya ke pergi ke tempat-tempat di mana tuan muda belajar. Setelah itu, tuan muda akan langsung pulang. Dia bahkan tak pernah bersenang-senang seperti para tuan muda lainnya," ujar Segara menjelaskan kebiasaan Alexi.
Alexa tercenung dengan jawaban Segara. Harus dia akui jika dirinya juga sering merasa sangat kasihan kepada saudara kembarnya itu. Ayahnya terlalu keras dalam mendidik Alexi. Bahkan tak segan-segan Nata Praja ayahnya menjatuhkan hukuman yang sangat berat untuk Alexi.
"Jadi, kita akan mencarinya tanpa arah tujuan?" Alexa bertanya seolah pada dirinya sendiri.
"Sementara begitu Nona. Kita coba telusuri tempat terakhir tuan muda menghilang," ucap Segara.
"Di mana itu?" tanya Alexa.
"Stadion tempat konser musik." Segara berkata sambil melesatkan laju mobil sport yang ia kemudikan. Mobil para anak buahnya pun segera mengikutinya.
Hari demi hari berlalu. Tak terasa Alexi dan Zike menjadi semakin dekat. Alexi seperti benar-benar lupa akan identitasnya sebagai seorang tuan muda penerus sekte Sanca Perak. Dia sungguh menikmati waktunya di Penginapan Cheng Feng yang terpencil di sudut kota Wu Shang. Jauh dari keramaian dan orang-orang Sanca Perak. Alexi ingin merasakan hidup seperti layaknya orang biasa dengan berbagai aktifitas normal tanpa harus berlatih kultivasi. Tanpa harus bergelut dengan racun dan tanpa memikirkan pengaturan pernikahan.
Tengah hari itu, Alexi sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari penginapan tempat dirinya tinggal selama sepuluh hari ini. Hari itu suasana cafe sedang tidak begitu ramai. Alexi tampak duduk sendirian sembari menikmati secangkir kopi susu kesukaannya. Dia juga terlihat begitu asyik menulis di atas sebuah buku Diary. Entah apa yang sedang dia tuliskan di sana.
Seorang gadis cantik dengan langkah ceria memasuki cafe, mata gadis itu langsung berbinar saat melihat Alexi. Gadis itu memang sudah lama menaruh hati kepada pria berwajah tampan namun terlihat cantik itu.
"Aleee!" Gadis itu memanggil Alexi.
"Tumben sekali kau di sini," ujar Meilia sambil meletakan salah satu tangannya di bawah dagu dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya.
"Mhh, aku sedang jenu dan ingin mencari angin segar." Alexi menjawab seraya meletakan alat tulisnya.
"Apa yang sedang kau tulis itu?" Meilia penasaran.
Alexi menjadi tersipu, dengan cepat dia meraih buku diary yang sedang dijadikan tumpahan perasaanya itu, wajahnya memerah dan menunduk. "Bukan apa-apa."
Hei, kau kenapa?" tanya Meilia yang menjadi sangat penasaran dengan sikap Alexi.
"Aku ... aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang mengatasi rasa bosanku saja dengan menuliskan hal-hal yang tidak begitu penting," jawab Alexi.
"Tidak penting bagimu, tapi sangat penting bagiku." Alexi lagi-lagi bergumam dalam hati.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berjalan-jalan?" tanya Meilia penuh harap.
"Berjalan-jalan ke mana?" tanya Alexi.
"Katakan saja kau ingin ke mana. Aku siap mengantarmu," jawab Meilia dengan antusias.
Alexi menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tak ingin pergi ke mana pun saat ini. "Aku tidak ingin pergi ke mana-mana."
"Kau bilang tadi sedang jenuh." Meilia nampak kecewa dengan sikap Alexi.
__ADS_1
"Jika itu Zike yang mengajak. Maka, aku tak akan keberatan sama sekali." Alexi berucap dalam hati.
"Terima kasih, lain kali saja," sahut Alexi datar.
"Ya sudah!" Meilia tak bisa menyembunyikan ekspresi kecewa di wajah cantiknya. Gadis itu memalingkan wajahnya dengan perasaan kesal.
Alexi merasa tidak enak hati dengan sikap Meilia. Dia segera membereskan semua alat tulisnya. "Maaf, Mei! Aku akan kembali ke penginapanku," ucap Alexi. Tanpa menunggu respon dari Meilia, Alexi bergegas meninggalkan tempat itu.
"Aleee!" Meilia memanggilnya, akan tetapi Alexi sama sekaki tak menghiraukannya.
"Haaahh! Kenapa sih dia itu? Sikapnya aneh sekali." Meilia berdecak dengan kesal sambil menatap kepergian pemuda tampan itu. "Alexi, aku menyukaimu, tapi kenapa sikapmu sangat dingin sekali?"
Alexi masih terus berjalan kembali ke penginapan Cheng Feng dengan langkah tergesa-gesa seraya memeluk buku diary-nya. Saking seriusnya berjalan dia sampai menabrak seseorang di pintu gerbang penginapan. Keduanya jatuh bersamaan, Alexi berusaha bangkit dan duduk sambil menahan sakit di siku dan pinggang kanannya. Sedangkan orang yang ditabraknya agak sedikit beruntung karena dia jatuh di atas tumbuhan Zoysia Matrella alias rumput Jepang yang cukup tebal.
"Kau tidak apa-apa?" tanya orang yang ditabrak oleh Alexi. Alexi terkejut karena mengenali suara itu.
"Zike?" Alexi berseru dan hendak bangkit, akan tetapi sakit dipinggang kanan membuat pemuda itu kembali terjatuh. Zike dengan sigap bangkit dari jatuhnya dan segera menghampiri Alexi untuk membantunya duduk.
"Kamu kenapa sih buru-buru amat?" tanya Zike semvari mengusap-usap pakaian Alexi yang kotor oleh debu.
"Tidak ada apa-apa. Aku tadi hanya sedikit mulas jadi buru-buru," jawab Alexi sedikit berbohong. Tetiba Alexi teringat buku diary-nya yang jatuh berserakan. Dia segera memunguti lembaran-lembaran kertas keluar miliknya dengan gugup.
"Eh, apa ini?" Zike memungut salah satu lembaran kertas berwarna biru muda. Gadis itu berdiri dan membaca tulisan yang tertera di sana.
Alexi menoleh dan terkejut. Wajahnya seketika memerah. "Eh, kembalikan itu!" seru Alexi sambil berusaha keras untuk bangkit dan hendak menyambar kertas biru muda yang ada di tangan Zike.
"Eeiits tunggu dulu!" ujar Zike sambil sedikit berkelit menghindari sambaran tangan Alexi.
"Mengapa ada namaku di sini?" tanya Zike seolah kepada dirinya sendiri.
Alexi kini kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa. Dadanya berdebaran tak menentu, wajahnya menjadi pias, telapak tangannya terasa dingin dan bergetar. Dia bagai terpaku dan membeku tanpa bisa bergerak maupun berkata-kata lagi.
Zike membaca kalimat demi kalimat yang tertulis pada kertas biru muda itu dengan heran. "Ada seorang gadis, yang membuatku begitu nge-black. Dia datang sebagai penyemangatku di tengah hingar-bingar irama cadas. Hadirnya membasuh luka jiwa ini. Senyumnya cukup membuatku tuk mengerti ... Zike." Zike membaca tulisan itu dengan suara bergumam.
"Apa ini?" tanya Zike seraya mendekat ke arah Alexi yang masih diam mematung.
"Itu ... itu. Bu-bukankah, itu awal pertemuan kita dulu?" Alexi bertanya dengan nada lirih sambil menunduk.
"Oohh, jadi kau mencatatnya?" Zike mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah, kau simpan lagi kertas ini! Mari aku bantu kembali ke kamarmu!" kata Zike seraya menyerahkan kembali kertas biru muda itu kepada Alexi. Alexi menatap Zike dengan perasaan tak menentu.
"Kau tak ingin menyimpannya?" tanya Alexi lirih.
"Menyimpannya? Untuk apa?" Zike balik bertanya. Dengan paksa dia menaruh kertas itu ke telapak tangan Alexi.
Alexi nampak sangat kecewa dengan sikap Zike yang tampak cuek dan biasa saja. Zike bagai tak menganggap apa pun dari dirinya itu penting. Alexi sangat kecewa saat ini. Dalam hati dia berteriak, "Aku adalah seorang tuan muda! Tak ada gadis yang tak menginginkanku! Tak ada seorang pun yang berani menolakku! Semua orang bahkan ingin mendapatkan perhatianku!"
"Zike, aku menyukaimu ... WO XIHUAN NI!"
__ADS_1