Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
RAPUNZEL DARI TIONGKOK


__ADS_3

"Gak adil banget rasanya." Ye Kai bergumam dalam hati sambil menggelengkan kepala saat mengingat hal tersebut.


Tak lama kemudian, Heldevi datang bersama beberapa orang suster dan perawat pria. "Cepat tangani dia!"


"Baik, Tuan Devi!" Salah seorang suster mengangguk dengan hormat, mengingat orang ini adalah sepupu dari atasannya. Suster itu pun segera meminta kepada para rekannya untuk membawa tubuh Chriss ke dalam ruang perawatan yang lain.


Ye Kai dan Devil sedikit merasa lega. Keduanya lalu kembali duduk untuk menunggui orang-orang penting bagi mereka. Ye Kai memulai pembicaraan sambil membenamkan punggungnya di sandaran kursi sofa. "Ada kejadian kayak gitu dan gue sampe kagak tau."


"Gue aja kaget banget tadi. Lu mending kagak liat mereka dateng-dateng udah berdarah-darah aja."


"Keterlaluan emang! Siapa pun dalangnya, bakal gue kejar!" Ye Kai berkata dengan sangat geram. "Gue bakalan cincang tuh orang sampe jadi dendeng!"


"Dark Cloud yang lakuin itu," sahut Heldevi dan itu membuat Ye Kai tercekat.


"Dark Cloud?" Ye Kai terkejut hingga tanpa sadar bangun dari sandaran sofa. "Orang-orang yang bulan kemaren ngajak kerja sama itu?"


"Lu kenal mereka?" tanya Devil yang menjadi penasaran dengan sosok para penyerang Jessey Liu dan rombongannya tadi malam


"Bukan cuma kenal malah. Siaaal! Agaknya mereka nyimpen dendam ke Berlian!" Ye Kai memukul punggung tangan sofa dengan keras. "Gue bakal buat perhitungan juga ntar!"


"Meski lu bisa lakuin gitu. Tapi tetep semua jadi keputusan Jessey," ujar Heldevi sambil menyesap minumanmn es teh dingin yang tadi sempat dibawanya. "Udah deh, pikirin ntar aja. Nih minum dulu!"


"Okee! Trus, gimana cerita semalam? Apa Chriss cerita ke elu?" bertanya Ye Kai kepada Devil sambil menerima es teh kemasan dari kawannya.


"Iya, dia crita. Oke deh, gue ceritain." Devil lalu menceritakan apa yang dituturkan oleh Chriss mengenai peristiwa berdarah yang dialami oleh rombongan Jessey Liu.


Pada saat mereka sedang dalam serunya percakapan, pintu ruang perawatan terbuka dan Dokter Agustin muncul sambil memasukan kedua tangannya di saku celana. "Siapa tadi yang hampir ngancurin tempat gue?"


"Lu juga yang pake kelamaan segala di dalam. Apa lu tidur, sampe-sampe kagak ada suaranya sama sekali?" Ye Kai balik mengomeli dokter tampan sedingin es.


"Dasar ikan sotong! Selain mengomel, apa lagi yang lu bisa?" Dokter Agustin menggerutu sambil melepaskan stetoskopnya. "Udah sadar noh dianya! Udah tenang, kan? Jessey udah aman sekarang, beruntung banget dia bisa lewatin masa tersulitnya."


"Baguslah. Biar gue liat!" Ye Kai bergegas masuk ke ruang perawatan tanpa harus merepotkan diri dengan meminta ijin.


"Gue juga!" Heldevi pun segera mengikuti kawannya disusul oleh Agustin yang hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Dasar sotong!"


Di tempat Ye Kai ....


Mei Lan telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut gadis pilihan suaminya. Semuanya sudah tampak rapi dan sempurna dan tak ada kekurangan sedikit pun. Wanita canik itu tersenyum puas saat melihat-lihat keadaan ruang kamar serupa paviliun kecil itu selesai dirapikan.


"Mudah-mudahan dia kerasan tinggal di sini." Mei Lan berkata sembari membetulkan letak tanaman hias di sebuah pot kecil.


Mei Lan merasa sedikit sedih saat membayangkan kehadiran gadis itu di rumahnya pasti akan membuat dirinya tersisih. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang wanita yang berperasaan rapuh. Tentang kecemburuan, jelas sekali ada di dalam palung hatinya. "Tapi aku sudah berjanji untuk membantunya."

__ADS_1


Saat ini Mei Lan hanya harus menyabarkan hati dan menentramkan diri. "Semoga Ye Ge tidak menyakiti hati siapa pun."


"Silakan, Nona! Di sinilah Anda akan tinggal."


"Baik. Terima kasih, Bibi!" Zike merasa sangat diistimewakan sekali. "Tempat ini telalu bagus untukku. Sungguh tak menyangka, ada tempat seperti ini."


"Mari, saya bantu membawakan semua barang-barang Anda ke dalam!"


"Oh! Biar saya saja. Saya bisa sendiri."


"Sudaah, jangan sungkan-sungkan. Anda adalah tamu Tuan Ye, jadi kami harus melayani Nona dengan baik." Pelayan muda tampak riang sekali. "Oh ya, Nona bisa memanggilku Runi!"


"Runi?" Zike terpaksa mrmberikan tas bawaannya. "Baiklah, kalau begitu maaf kalau merepotkan, Runi."


"Tidak apa-apa, Nona. Kami senang melakukannya." Si pelayan menjawab dengan tingkah genitnya. "Oh ya, nama Nona sendiri?"


"Aku-aku ... aku Zike. Begitulah teman-teman memanggilku," jawab Zike sambil terus mengikuti gadis pelayan yang riang itu.


"Baiklah, Nona Zike. Mari!"


"Mmhh." Zike hanya menganggukan kepalanya dan terus mengikuti langkah dua pelayan Ye Kai.


Suara-suara di luar ruang paviliun kecil membuat Mei Lan tersadar dengan segala pemikiran yang cukup membuatnya merasa sedikit khawatir. Namun sebagai istri dari seoarang master kedua di Sekte Elang Emas, dia harus bisa menutup rapat segala hal yang menyangkut perasaannya. Apa pun itu, wanita itu hanya akan menyimpan dalam-dalam jauh di lubuk hatinya. "Dia sudah datang."


Mei Lan bergegas keluar dari dalam paviliun kecil yang dipersiapkan untuk Zike. Dia harus menata hati dan juga membuang segala pikiran buruk tentang perbuatan suaminya kali ini dengan menempatkan seorang gadis di dalam lingkungan rumah mereka. Karena jelas-jelas dia tahu, Ye Kai juga dalam kesulitan mengatasi beberapa masalah.


"Whooooaaahh!" Sepasang mata bulat berbulu lentik membeliak lebar. Gadis itu menyaksikan taman bunga seperti yang ada dalam negeri dongeng. "Ini benar-benar nyata?"


"Tentu saja, Nona. Anda bisa mmenyaksikanya setiap hari nanti." Pelayan yang berjalan paling depan menyahut sambil terus berjalan memimpin jalan bagi sang tamu dengan barang-barang bawaan Zike.


"Silakan, Nona! Nyonya Mei sudah menunggu." Pelayan tersebut berkata sambil menoleh ke belakang dan melihat Zike masih berdiri mematung. "Nona!"


"Ooh!" Zike tersadar saat mendengar teriakan dari pelayan tersebut dan segera berjalan cepat mengikutinya hingga sampai di hadapan Mei Lan.


Seulas senyum di bibir tipis berlipstik merah muda menyambut kedatangan gadis yang terlihat masih tampak mengagumi keindahan paviliun kecilnya.


"Selamat datang, Zike!" Mei Lan menyambut kedatangan gadis berpenampilan sederhana namun selalu tidak meninggalkan atribut anak metalnya.


"Nyonya Mei Lan. Salam." Zike membungkukkan sedikit badannya sebagai anda menghormati yang lebih tua. "Terima kasih atas sambutannya."


"Sama-sama, Zike," balas Mei Lan memberi isyarat kepada para pelayannya agar segera membawa barang-barang bawaan Zike masuk ke dalam.


"Mari masuk dan lihatlah! Apa kamu menyukai kamar barumu?" Mei Lan dengan lembut menggamit lengan Zike dan mengajak gadis itu masuk. "Ayolaaah, jangan sungkan! Kamu nanti akan tinggal di sini selama masa pelatihanmu."


"Tinggal di sini?" Zike merasa sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Lagi-lagi, matanya memperhatikan dengan saksama bangunan kecil serupa paviliun yang memiliki bentuk unik. Keempat ujung atapnya melengkung ke atas menyerupai tanduk, dinding-dindingnya pun terbuat dari kayu yang diukir sangat indah.

__ADS_1


Zike hanya menurut saja saat Mei Lan benar-benar menariknya untuk masuk ke dalam bangunan yang menurutnya hanya ada di film-film saja. Dalam hati dia bertanya, "Gue gak lagi ngimpi kan ini?" 


Mei Lan lebih dahulu masuk dan tiba-tiba wanita itu merentangkan kedua tangannya sambil berputaran seperti menari. "Selamat datang di kamar barumuuu! Bagaimana? Apakah ini cantik?"


"Jadi, ini kamarku?" Zike melayangkan pandangannya ke segala arah memutari seluruh ruangan kamar barunya. Mulutnya berdecak hingga beberapa kali karena merasa takjub. "Bagus sekaliii!"


"Apa kamu suka?" Mei Lan bertanya sambil tersenyum.


"Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya? Ini sungguh bagus sekali! Aku sangat suka!" Zike dengan wajah polosnya meneliti semua benda yang ada.


"Seumur-umur, aku tak pernah memperhatikan kalau tanaman cocor bebek juga bisa cantik." Zike menyentuhi tanaman dengan daun berdaging yang tampak imut. "Lucu juga dia."


Zike lalu mendekat ke tempat tidur kayu berukir dengan seprei berwarna kuning gading dan menyentuh dengan telapak tangan sambil dalam hati bergumam, "Lembut dan hangat."


 Di tempat yang lain, tampak beberapa buah meja tempat berbagai macam barang yang jarang dilihatnya dan yang menarik lagi adalah sebuah meja berkaki pendek dengan bererapa sajian makanan lengkap beserta buah-buahan.


Mau tak mau, air liur pun berjejalan di dalam rongga mulut gadis itu. Betapa perutnya meronta dan menuntut untuk membawa mereka semua bersemayam di sana. Tetapi sebagai seorang tamu, tentu saja dia harus menahan semua keinginannya itu sampai sang tuan rumah mempersilakan.


"Sabaaaar yaa, para cacing kesayangan," ucap Zike dalam hati sambil menelan ludah dan memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Silakan saja kalau kamu mau melihat-lihat keadaan," ujar Mei Lan sambil menyibak tirai mutiara sintetis yang menjadi penyekat ruangan.


"Terima kasih, Nyonya."


Zike kemudian berlari ke arah jendela dan melihat keadaan di luar. Gadis itu sungguh sangat takjub melihat banyak sekali bunga-bunga yang menghiasi sekitar bangunan kecil yang manis ini. Sepasang matanya seketika membulat dengan sangat cantik. "Indahnyaaaa!"


Mei Lan ikut mendekat ke sisi jendela dan memperhatikan dari ujung rambut hingga ke ujung kaki gadis yang sedang mengagumi taman bunga miliknya. Wanita itu membatin, "Sebenarnya gadis ini cukup cantik, hanya saja kurang perawatan. Kalau dia menjalani beberapa perawatan tubuh, aku yakin dia tidak kalah cantiknya dari Zee." 


"Pohon bunga apakah itu?" Zike bertanya tanpa mengalihkan selirikmu pandangan matanya. Ia sungguh merasa takjub pada keindahan pohon yang hanya memiliki bunga seperti tanpa daun.


Mei Lan tersenyum dan menjawab, "Itu adalah bunga persik yang sangat terkenal dengan keindahan bunga dan buahnya yang lezat. Hanya saja sayangnya ...." 


Zike menunggu kelanjutan perkataan Mei Lan yang sekarang menatap pohon itu. "Itu tidak asli. Pohon-pohon bunga persik yang di sini hanyalah pohon sintetis."


"Sintetis? Itu ukan pohon sungguhan?" Zike terlihat sedikit kecewa. Dalam hati dia berucap, "Kelak aku juga ingin punya pohon persik yang asli dan ditanam di atas tanahku sendiri dengan sebuah vila yang megah dan indah ... aaahh! Sepertinya aku sudah tidak ingin jadi Rapunzel. Aku ingin jadi seperti putri-putri kerajaan Tiongkok saja."


"Putri raja Tiongkok yang berambut panjang sepert Rapunzel. Rapunzel bergaya Tiongkok?" Zike masih bergumam dalam hati dan merasa geli juga dengan pemikirannya. "Rapunzel dari Tiongkok."


Tanpa sadar Zike tersenyum sendiri sambil masih menatapi pohon persik tiuran dengan banyak sekali bunga berwarna merah muda. Mei Lan hanya tersenyum melihat tingkah gadis ini. Dia memang masih merasa takjub dengan pemandangan di sekitar paviliun kecil yang akan ditempatinya selama masa pelatihan.


"Zike, kamu beristirahatlah sambil menikmati semua hidangan itu. Karena Master Ye belum kembali, maka nikmatilah waktumu sebelum menjalani pelatihan." Mei Lan berucap sambil bersipa untuk meninggalkan paviliun kecil tersebut. "Aku tinggal dulu yaa? Kalau butuh sesuatu, kamu bisa katakan pada Runi. Dia yang akan melayanimu di sini."


"Baiklah, Nyonya." Zike membungkukan badanya sekali lagi, lalu mengantarkan Mei Lan hingga di depan pintu. "Terima kasih banyak atas semuanya, termasuk hadiah-hadiah yang kemarin itu,"


"Ooh, yang itu." Mei Lan lagi-lagi hanya tersenyum. "Sama-sama, Zike. Itu hanyalah sebagai rasa terima kasih kami untukmu."

__ADS_1


"Terima kasih?"


...Bersambung...


__ADS_2