
"Maaf, Gong Zi. Aku tak pandai dalam memberi nama." Chriss juga tidak menemukan nama yang cocok untuk bayi harimau tersebut.
"Baiklah, pikirkan saja nanti!" Jessey Liu benar-benar belum menemukan sebuah nama yang menurutnya unik dan mudah diingat namun tidak banyak yang memakainya. "Maaf, baby. Mungkin nanti kami menemukan nama yang bagus untukmu."
Mobil yang ditumpangi mereka pun terus melesat di antara jalanan kota yang padat dan ramai, hingga tak lama kemudian kedua kendaraan mewah itu hampir sampai di depan gerbang kediaman Ye Kai.
Sementara itu di dalam rumah ....
"Bagaimana dengan semua persiapan yang lainnya, Runi?" Mei Lan bertanya kepada Seruni yang merupakan pelayan paling cekatan.
"Nyonya tenang saja! Kamar untuk Tuan Jessey sudah siap. Begitu juga dengan menu makanan dan lain sebagainya," sahut Seruni dengan hormat.
"Baguslah!" Mei Lan sudah bisa merasa berlega hati. Sekarang dia hanya perlu menunggu dan menyambut kepulangan Ye Kai dan rombongannya.
Wanita itu tidak melupakan keberadaan Zike yang sengaja ditempatkan agak terpisah dari bangunan utama kediaman. Meski demikian, tentu saja tempat tersebut jauh lebih tenang tanpa adanya berbagai macam kegiatan sehari-hari. Namun, tinggal di sana seorang diri pun semakin lama menjadi hal yang sangat membosankan.
"Gadis itu masih di sana, apakah dia baik-baik saja sekarang?" Mei Lan mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat kepada Zike, lalu menyimpan benda itu kembali setelahnya.
Dua buah mobil hitam mulai memasuki pintu gerbang kediaman Ye Kai yang meski tidak sebesar kediaman Jessey Liu namun cukup untuk menampung banyak orang sekaligus. Ye Kai keluar dari dalam mobil setelah Chriss turun dan membukakan pintu untuk para tuannya.
"Silakan, Master Ye!"
Ye Kai pun segera turun dan membuka pintu yang lain untuk Jessey Liu. "Jessey, ayo!"
"Baiklah," sahut Jessey Liu seraya bersiap untuk menggendong bayinya. Namun, dia belum juga keluar dari dalam mobil saat baru saja menyadari suatu hal telah terjadi padanya.
"Jesseeey! Apa kamu ingin tidur di situ?" Ye Kai berucap setelah menunggu keluarnya Jessey Liu. Dia merasa sudah lelah dengan hanya berdiri saja, sedangkan orang-orang yang menyambutnya sudah sangat tidak sabar dan terlihat gelisah.
"Ye Kai!" Suara Jessey Liu terdengar seperti orang yang tengah panik.
"Ada apa lagiiiii?" Ye Kai melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
"A--aku, aku ba--basah!" Jessey Liu berbisik sambil menatap Ye Kai dengan wajah mimik muka yang aneh.
"Basah?" Ye Kai langsung berpikiran lain. "Bagaimana bisa basah?"
"Ye Kaaaai! Bagaimana ini?" bertanya Jessey Liu dengan kebingungan, sedangkan Ye Kai terpingkal-pingkal dibuatnya. "Ye Kai! Tolong aku! Aku tidak ingin mereka semua melihatku dengan baju dan celana basah begini. Cepat minta para penyambut itu pergi dan jangan melihatku!"
"Haa?" Ye Kai tentu saja menjadi geli sekaligus merasa heran dengan tingkah kawannya ini.
"Baiklah, baiiiik!" Ye Kai dengan bersusah-payah berusaha meredam tawanya "Jeeess, Jess! Ada-ada saja diaaa!"
Sementara itu, para pelayan berdiri berbaris guna menyambut kedatangan orang yang sangat ingin mereka lihat. Ya! Seorang Master Liu memang sering menjadi topik perbincangan yang cukup menarik. Seorang jenius berbakat penakluk berbagai tempat pertandingan dan sekaligus pemimpin sebuah perusahaan di bawah bendera Berlian Jaya Abadi Corparation. Sebuah nama yang menjadi tempat bernaungnya beberapa pabrik garmen, meubelair dan beberapa buah hotel berbintang dan restoran mewah.
"Mengapa orang itu belum juga muncul, ya?"
__ADS_1
"Iya. Padahal aku sudah sangat tidak sabar ingin sekali melihatnya."
"Ya sudah, kita tunggu saja. Mungkin dia sedang bersiap-siap karena melihat banyak orang yang menyambutnya.
"Benar juga, ya?"
"Tenang kalian semua!" Pelayan wanita yang paling tua merasa bising dengan bisikan-bisikan para pelayan muda yang sangat ingin melihat sosok Master Liu.
Para pelayan yang tengah saling berbisikan pun, seketika diam dan kembali merapatkan barisan seperti semula. Mei Lan baru saja keluar dengan balutan busana qipao cantik dan tidak terlalu ketat pun, segera menyongsong Ye Kai. Tetapi sebelum dia sempat menyapa.
Ye Kai terlebih dahulu mendatanginya dan berbisik, "Suruh mereka semua untuk bubar!"
Mei Lan tidak mengerti akan masuk suaminya pun ingin segera bertanya, akan tetapi Ye Kai segera berkata, "Lan'er, Jessey sedang sakit dan dia tidak ingin seorang pun tahu akan keadaannya sekarang ini. Jika kabar sakitnya dia sampai merebak keluar, maka musuh akan dengan sangat senang hati mencelakainya."
"Oh! Jadi dia ... sakit?" Mei Lan cukup terkejut mendengarnya.
"Mhh." Ye Kai menganggukan kepala seraya menatap wajah istrinya yang saat ini terlihat lebih cantik. Dalam hati dia pun merasa teramat beruntung mendapatkan wanita berhati baik, lembut, santun dan sangat perasa ini. "Cepat lakukan!"
"Oh baiklah, Gee." Mei Lan segera berbalik dan langsung menghampiri para penyambut tamu.
Betapa kecewanya para pelayan yang sudah cukup lama berdiri guna menyambut kedatangan orang yang berhasil membuat mereka semua merasa penasaran setengah mati. Walaupun demikan, mereka tetap membubarkan diri dan tidak berani melihat ke arah mobil.
"Sudah aman sekarang. Keluarlah!" seru Ye Kai setelah para pelayannya tidak tampak satu pun.
"Sama-sama, Gong Zi." Chriss menyahut sambil terus mengiringi dan melindungi sang tuan.
Ye Kai tersenyum-senyum melihat pria yang biasanya gagah itu sekarang berjalan sambil menahan dingin akibat pakaiannya yang telah basah. "Silakan Jessey! Meski rumahku tidak semewah Paviliun Red Peach milikmu. Kuharap kamu merasa nyaman di sini."
"Baiklah, ini sudah sangat baik." Jessey Liu menjawab sambil memperhatikan tatanan rumah Ye Kai yang mengingatkannya pada rumah kediaman Keluarga Liu di Negeri Tiongkok. Hatinya pun secara tiba-tiba menjadi merindukan rumah sang nenek.
"Silakan, Master!" Mei Lan pun beramah-tamah pada atasan suaminya ini.
"Terima kasih, Mei." Jessey Liu memang hanya akan berbicara secara singkat kepada siapa saja selain orang-orang terdekatnya.
Ye Kai kemudian mengantarkan Jessey Liu hingga sampai ke ruangan yang telah dipersiapkan untuknya. Kemudian dia sendiri juga kembali ke kamarnya guna membersihkan diri dan beristirahat. Kelelahan begitu membayang di wajahnya. Ye Kai tiba-tiba teringat kepada gadis yang diinginkannya.
"Dia sudah ada di sini?" bertanya Ye Kai sembari mengendurkan dasinya setelah duduk di atas kursi sofa nan empuk.
"Sudah, Ge. Aku menempatkannya di Paviliun Bulan Kecil," sahut Mei Lan sembari melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya. "Gege bisa menemuinya kapan saja."
"Baiklah! Akan kutemui nanti setelah makan malam dengan si bodoh itu."
"Perlukah aku ikut bersama Ye Ge?" bertanya Mei Lan dengan tatap keraguan.
"Tentu saja. Karena kamulah yang akan menjadi saksi ikatanku dengannya."
__ADS_1
"Oh Baiklah, Ge! Aku akan bersamamu dan melihatnya ... semoga semua berjalan sesuai dengan apa yang Gege inginkan." Mei Lan berkata sembari melangkah menuju ke tempat penyimpanan sepatu.
Wanita itu merasa ada yang sangat tidak biasa pada Jessey Liu pun, segera mendekati suaminya dan duduk di sisi Ye Kai sembari menggelendot manja. Meskipun pria itu masih bau keringat, tetapi Mei Lan tetap menyukai dan selalu ingin dekat dengan sang suami.
"Baiklah, istriku yang paling baik dan sangat pengertian." Ye Kai tersenyum sambil mengacak-acak rambut di puncak kepala sang istri.
"Ge, sebenarnya apa yang telah terjadi dengannya? Dan mengapa sikapnya tadi sangat aneh? Lalu, apa yang tadi dipeluknya?" Mei Lan bertanya guna meringankan berbagai ganjalan di dalam hatinya.
"Oh itu ...."
"Mau gege ceritakan?" bertanya Ye Kai setelah menghabiskan satu gelas air putih yang ia tuang sendiri.
"Itu kalau Gege tidak keberatan," ujar Mei Lan sambil menyeka bibir suaminya dengan selembar tisu.
"Baiklah!" Ye Kai lalu menceritakan semua kejadian yang telah dialami oleh Jessey Liu secara singkat dan ringkas serta jelas. "Dia bahkan sampai kehilangan ponselnya. Untung saja tas beserta benda penting lainnya tidak ikut hilang."
"Ooh, jadi seperti itu?" Mei Lan sekarang mengerti. "Jadi pakaiannya tadi ditutupi itu karena celananya basah?"
"Ya."
"Aneh sekali, bukankah tadi dia bersama dengan Gege sepanjang perjalanan?" Mei Lan sedikit heran dengan penyebab kebasahan pakaian Jessey Liu.
"Sudah jangan terus dipikirkan! Oh ya! Jangan lupa untuk menyiapkan susu untuk Jessey!" Ye Kai berucap seraya melangkah ke dalam kamar mandi.
"Mmh, mengerti."
"Aneh, basah karena apa?" Mei Lan masih tidak mengerti sama sekali. "Aaaah! Mengapa masih kupikirkan juga? Bukankah setiap orang berhak memiliki dan menyimpan rahasianya sendiri?"
Mei Lan tidak ingin terus memikirkan hal yang tidak harus terlalu dia pikirkan. Dia pun segera melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Menyiapkan pakaian ganti dan menu makan malam.
"Bagaimana dengan gadis itu?" Mei Lan kembali teringat akan Zike yang belum sempat dia temui sejak siang tadi. "Apakah dia merasa diabaikan?"
Di dalam kamar ....
"Ternyata kamu nakal sekaliii!" Jessey Liu meletakan bayi harimau putih itu di atas pembaringan. "Lihat! Baju dan celanaku basah dan bau oleh pipismu."
"Bagaimana kalau dia ngompol lagi?" Jessey Liu bertanya sendiri sambil memandangi tempat tidur dengan bayi harimau putih yang baru saja ia letakkan. "Mei Lan pasti marah kalau spreinya terkena pipis bayiku."
Pria muda berusia dua puluh tiga tahun itu berkacak pinggang sambil memandangi bayi harimau yang tampak ingin menyusu. Dia sendiri baru saja mandi dan berganti pakaian yang sempat dibelinya. Beberapa kotak susu UHT ukuran besar pun sudah tersedia. Hanya saja, apakah semua susu itu tidak berbahaya untuk bayi harimau putih yang belum memiliki nama ini?
"Aaahh! Merepotkan memang kalau bukan di tempat sendiri!" Jessey Liu merasa bingung dan merasa pusing menghadapi semua aturan dari Ye Kai. Pria muda itu harus bersembunyi sampai dia pulih dan juga agar para rival bisnisnya tidak mencari kesempatan dalam kesempitan.
Untung saja, sebelumnya dia segera meminta Ye Kai untuk memblokir nomor dalam ponsel yang terjatuh entah di mana. Gerak cepat demi keamanan dan segera mengaktifkan nomor baru dalam ponsel yang baru pula. Bagi orang-orang sekelas Jessey Liu, membeli ponsel mahal dengan merek terkenal dan harga di bawah lima puluh juta, adalah hal yang terlalu mudah.
Lain halnya dengan orang-orang sekelas mak penulis ini yang harus banting tulang hanya demi mengejar jumlah kata 60K hanya demi meraih pendapatan minimum dan itu pun jika tidak gagal daily.
__ADS_1