
"Baiklah, tidak ada jalan lain," bisik gadis itu dalam hati dengan hati tak menentu. Jantugnya berdebaran lebih kencang saat para pria yang mulai terlihat bersemangat itu mendatangainya dengan sorot mata liar dan nakal.
"Mama, papa ... maafkan anakmu ini! Mungkin hari ini adalah yang terakhir bagi anakmu ini untuk bisa hidup di dunia ini." Gadis itu bagai berdiri sembari memegang ujung kain gorden usang dengan air mata berlinangan. "Maafkan atas kesalahanku pada kalian berdua!"
"Alexi ... maafkan aku! Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi!" Gadis itu berucap dalam hati dengan perasaan pilu. "Alexi, aku cinta kamu!"
"Alexi, semoga saja kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya dan kita masih saling menyukai seperti di kehidupan ini!" Gadis itu masih berucap dalam hati. "Selamat tinggal, Alexi-ku!"
"Tangkap dia dan kalian boleh melakukan apa saja padanya, termasuk ...."
"Termasuk mencicipinya?" Salah seorang preman bertanya dengan nada melecehkan sambil terus tertawa.
"Benar sekali, bukan hanya mencicipinya. Tapi juga menikmatinya sampai puas sebelum kita serahkan dia pada tuan Hardman bos kita!"
Gelak tawa terdengar memecah kesunyian rumah yang dikabarkan sangat angker dan sering memakan korban ini. Mereka seperti lupa pada cerita hantu yang kerap menjadi topik panas bagi para penghuni kampung. Rupanya, hasrat yang menggelora saat berhadapan dengan gadis muda belia ini telah mengalahkan semua berita kisah tragis yang pernah terjadi di tempat tersebut.
"Hardman! Jadi mereka anak buah si botak Hardman?" Gadis itu akhirnya mengetahui mengapa dirinya dikejar-kejar oleh para preman bertampang buruk ini. "Jadi dia tak melepaskanku, meski aku sudah pindah tempat dan tidak ada yang tahu ku di sini termasuk Alexi!"
"Daripada harus menyerahkan diri pada para anak buah si botak Hardman, lebih baik aku berkorban saja. Setidaknya aku mati secara terhormat dengan melawan mereka semua. Daripada harus mati berlumur aib yang menjijikan!" Gadis yang sedang merasa tersudut dan tak punya pilihan lagi itu pun kembali berucap dalam hati sembari mengulas senyum penuh misteri. "Mungkin, akan ada lagi satu kisah tragis baru yang terjadi di sini pada hari ini."
"Ayolah, Anak Manis ... layani kami dengan baik sebelum kami menyerahkanmu pada atasan kami," ujar salah seorang preman bertatto kepala serigala di lengan kirinya. Pria itu melangkah sambil membuka baju atasannya disertai tawa yang terdengar sangat memuakan. "Ayo kita mulai!"
"Jangan mendekat! Menjijikan" bentak gadis itu dengan suara sedikit bergetar. Ketakutan yang teramat sangat memang sedang menjalari perasaannya, tetapi dia tidak ingin menyerah begitu saja pada keadaan tanpa berbuat sesuatu. "Kalau kalian berani mendekat, maka nyawa kalian akan langsung berpindah tempat!"
__ADS_1
Mendengar kata-kata itu, justru para preman menjadi tertawa terbahak-bahak seolah ucapan gadis itu adalah sebuah lelucon semata. Mereka sangat yakin sekali, kalau kali ini tidak akan ada kegagalan. Kilatan hasrat semakin bekobar di mata-mata para pria bermoral rendah ini.
"Hei, bukankah kita harus tetap memakai aturan lama?" bertanya salah seorang dari para preman. "Bukankah begitu, Bos?"
"Siapa pun yang mau, cepat selesaikan!" sahut yang ditanya. Dia sendiri terlihat tidak begitu berminat pada gadis buruannya itu.
"Okay, Bos!" Serentak para preman bergerak dengan beringas ke arah gadis yang seperti sedang bersiap-siap melakukan sesuatu.
Para preman berusaha menjamah tubuh gadis itu secara serampangan untuk melepaskan apa saja yang melekat pada kulit gadis itu. Namun, gadis itu bukanlah seorang anak kecil biasa saja yang hanya bisa pasrah saat dirinya ditindas. Dia telah bersiap melakukan sesuatu yang sudah direncanakan sejak tadi.
Secara tiba-tiba, gadis itu menarik dengan sekuat tenaga kain gorden yang telah usang. Tentu saja gerakan tersebut membuat kain itu terlepas dan mengamburkan debu tebal yang telah menumpuk selama puluhan tahun.
Dan ....
"Zikeee!" Alexi Nata Praja terpekik saat tiba-tiba lukisan daun maple yang sedang dibersihkannya tak sengaja jatuh dan pecah seketika. Setiap hari dia memang dengan sangat telaten membersihkan sendiri bingkai lukisan-lukisan buah karya gadis pujaannya itu. Selain Ni Sendari neneknya, tidak ada yang diperbolehkan menyentuh lukisan cantik kesayangannya tersebut.
"Ada apa ini?" Mata bulat nan indah Alexi terbelalak lebar saat melihat kaca yang berserakan di lantai kamarnya. Pemuda itu pun langsung berjongkok guna memungut lembaran kain kanvas berlukis daun maple yang bagaikan sebuah gambaran perasaan pelukisnya.
Akibat dari gerakannya yang terburu-buru saat meraih lukisan daun maple jingga tersebut, tanpa sengaja telapak tangan kanannya tergores pecahan kaca hingga menimbulkan luka memanjang yang cukup dalam. Namun anehnya, tidak ada selirih pun pekik kesakitan dari bibir tipis pemuda itu.
"Apakah ada suatu hal yang buruk terjadi padanya?" Alexi Nata Praja bertanya dalam hati sambil berdiri secara perlahan dan memeluk kain kanvas dan tidak menyadari sama sekali, jikalau lukisannya telah terkena darah dari lukanya.
Seorang pria berpakaian serba hitam terlihat berlari masuk demi mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar Alexi. Wajah pria itu terlihat sangat panik, terlebih lagi saat didapatinya sang tuan muda seperti orang yang sedang sangat kebingungan. Alexi masih berdiri dengan mata terbelalak bagai tak ingin berkedip.
__ADS_1
"Tuan Mudaaa! Apa yang terjadi dengan Anda?" Abraham bergegas menghampiri tuan mudanya yang berdiri mematung sambil mendekap lukisan daun maple berlumuran darah.
"Tuan Muda, Anda terluka?" Abraham jelas merasa sangat panik dengan keadaan Alexi yang terluka pada telapak dan jari tangannya. "Tuan Muda! Tuan Mudaaa!"
Alexi sendiri masih terpaku di tempatnya tanpa seorang pun mengetahui penyebabnya. Dia sendiri bahkan seperti tidak menyadari jikalau telapak tangannya telah terluka.
"Tuan Muda, Tuan Muda jangan menakutiku!" Abraham mencoba menyadarkan Alexi sambil memapah tubuh sang tuan muda untuk kembali duduk di atas kursinya.
"Tuan Muda minumlah!" Abraham memberikan gelas kaca berisi air minum kepada Alexi.
"Ada apa dengannya? Mengapa dia tiba-tiba saja jadi seperti ini?" Abraham bertanya-tanya dalam hati, karena belum mengetahui secara pasti penyebab mengapa tuan mudamya menjadi seperti orang yang tidak sadar. "Apakah ini salah satu efek samping dari pil kultivasi itu?"
"A-Abra-Abraham!" Alexi tiba-tiba saja berucap dalam kekeluan lidahnya sambil menggeleng kecil tanda menolak air minum pemberian Abraham.
"Ya, Tuan Muda!" Abraham merasa lega saat mendengar namanya dipanggil. Pria itu segera meletakan gelas yang sedang dipegangnya di atas meja.
"Apakah itu, benarkah ada suatu pertanda yang buruk sedang terjadi padanya?" Alexi bertanya sambil menatap pecahan kaca dan figura yang masih berserakan.
"Apa maksud, Tuan Muda?" Abraham tak mengerti.
Alexi Nata Praja beralih menatap lukisan kesayangannya dan tiba-tiba saja menjerit, "Abraham! Bagaimana bisa lukisan ini berdarah?"
"Lukisan Berdarah! Lukisan ini berdarah!"
__ADS_1
...Berssmbung...