Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
SILVER PYTHON 'MARTIAL SOUL' (revisi)


__ADS_3

"Hao! kau pikir aku takut dengan ular Phyton lemahmu itu?" ejek Alexa. "Ayo, lepaskan dia dari sarangnya sekarang juga!" tantang Alexa.


"Huh! siapa takut?!!" Alexi bersiap-siap untuk melayani tantangan Alexa.


Alexi ingin menunjukan kehebatannya kepada Alexa yang selalu meremehkannya, kali ini Alexi ingin memperlihatkan sesuatu kepada adik kembarnya yang selama hampir satu bulan tidak bertemu dengannya.


Alexi segera bangkit dari ranjangnya, ia berjalan beberapa langkah di depan Alexa lalu menghadap kepada adik kembarnya dengan posisi siaga. Alexi tak segan-segan membuka kaos hitamnya dan melemparkan kaos itu dengan sembarangan ke arah Alexa yang masih duduk di tepi ranjang.


Tampak pada lengan kiri sampai bahu Alexi terdapat guratan-guratan timbul yang tipis dan membentuk suatu pola yang aneh, guratan itu tampak seperti sebuah tatto berwarna putih keperakan.


Namun, sebenarnya itu bukanlah sebuah tatto biasa yang sengaja dibuat untuk sekedar gagah-gagahan seperti pada umumnya, guratan berpola itu adalah sebuah tanda lahir yang menandakan bahwa siapapun yang memilikinya, maka dialah yang akan menjadi calon pewaris Pemimpin Sekte Sanca Perak berikutnya.


"Iihh bau!" rutuk Alexa kesal seraya menutup hidungnya. "Berapa lama baju Kak Ale ini tidak dicuci?"


"Baru kupakai empat hari." Alexi menjawab dengan santai.


"Empat hari? Hiiihh Kakak jorok sekali." Alexa bergidig ngeri. Alexa segera meraih ponselnya, gadis itu tampak sibuk mengetik sebuah pesan singkat dan dikirimkan kepada seseorang.


"Heh! Malah mengataiku ya! Kalau begitu, aku tak jadi mengeluarkan ular keramatku!" sungut Alexi dan hendak kembali duduk.


"Tidak bisa! Kakak harus tunjukan kepadaku ular lemah itu!" Alexa segera mencegahnya.


"Aku tidak mau! Kau tadi mengataiku jorok!" Alexi menghindar.


"Huh! Bilang saja ular jelek dan dekil itu masih lembek, Kakak pasti merasa malu untuk mengeluarkannya!" Alexa tertawa mengejek. "Dia pasti sama bulukannya seperti Kakak."


"Alexaaaaaaa!"


Alexi berteriak seraya mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya. Tenaga dalam itu dia pusatkan pada tangan kirinya. Dan secara mengejutkan, sebuah cahaya putih keperakan muncul dari lengan kiri Alexi dan merambat secara perlahan, menyebar sampai bahu Alexi yang cukup kekar.


Cahaya putih keperakan itu semakin bersinar memenuhi guratan berpola pada lengan Alexi, cahaya itu membentuk pola seekor ular Sanca berwarna perak dengan mulut terbuka lebar dan lidah yang terjulur keluar. Alexi berusaha terus memusatkan tenaga dalamnya, secara perlahan pula cahaya-cahaya dari pola ular sanca yang ada di lengan kiri Alexi semakin membias di atas kepala Alexi.


Kini, tampaklah dengan jelas cahaya putih keperakan itu berkumpul dan membentuk tubuh seekor ular sanca raksasa yang bagai hidup dengan nyata. Di dalam dunia kultivasi dan seni bela diri, hal seperti itu biasanya disebut MARTIAL SOUL. Martial soul adalah sebuah kekuatan jiwa khusus yang dibangkitkan secara bertahap melalui proses kultivasi pemadatan tenaga dalam dan penempaan fisik.


Dalam hal ini, ada banyak jalan dan metode yang harus ditempuh oleh para kultivator untuk bisa memiliki, membentuk dan memadatkan kekuatan jiwanya.


Para pelaku kultivasi jika sudah memiliki sebuah kekuatan jiwa bela diri yang telah berhasil dipadatkan dengan kekuatan yang bersumber dari tenaga dalamnya, mereka juga harus bisa mengendalikan martial soul yang telah menyatu dengan jiwa dan raganya.


Jika sang pemilik martial soul tidak bisa dengan stabil mengendalikan martial soul-nya, maka hal itu bisa menjadi boomerang bagi pemiliknya. Martial soul bisa menyerang balik sang empunya dan biasanya akan mengakibatkan luka dalam yang berakibat sangat fatal, bahkan bisa menyebabkan kematian.


Kembali kepada Alexi yang secara diam-diam telah berhasil memadatkan kekuatan jiwanya. Rupanya, hampir setiap malam selama berada di penginapan itu, Alexi berlatih keras agar bisa mengendalikan martial soul yang memang telah ada sejak ia lahir. Alexi hanya perlu mengembangkan dan melatih kekuatan tenaga dalam dan ilmu pengendaliannya saja, dan martial soul milik Alexi adalah seekor ular sanca perak seperti milik Nata Praja ayahnya.


"Kakaaaaak!" Alexa terpekik keras karena ular sanca yang berupa cahaya putih keperakan itu melesat ke arahnya, membelit dan meliuk-liukan kepalanya dengan sangat menakutkan, lidah ular Sanca semu itu menjulur dan bagai hendak menggelitik wajahnya.


Sekarang, Alexilah yang menertawakan adiknya. "Bagaimana? Kau masih mau meremehkan ularku?"


"Tidak lagi, Kak Ale lepaskan dulu! biar bisa kulihat tingkatannya!" pinta Alexa.


"Enak saja, kau tadi sudah mengejekku," sungut Alexi.

__ADS_1


"Sudah cukup, Kaaak!" seru Alexa. "Kak Ale jahat!"


"Makanya, jangan sekali-sekali meremehkan kskakmu ini." Alexi dengan santai mendekati Alexa dan menjitak dahi adiknya. Alexi menarik ular martial soulnya dari tubuh Alexa. Uar sanca putih perak semu itu kini berhadapan dengannya.


"Exa lihat! Dia sangat tampan kan?" tanya Alexi seraya memperhatikan ularnya. Alexa menghampiri Alexi dan ikut memperhatikan ular semu yang menegakan kepalanya dengan anggun dan angkuh.


"Kak, bola mata ularmu berwarna hijau," kata Alexa. "Itu artinya martial soulmu ini sudah berada di level tiga!"


"Level tiga? Benarkah?!" Alexi terkejut.


"Selamat, Kaak!" Alexa memeluk Alexi karena bahagia.


"Waktu itu masih level satu, tapi dalam tiga pekan ini meningkat begitu cepat!" Alexi nampak heran.


"Kak, berlatihlah terus agar kekuatannya semakin meningkat!" Alexa menyemangati Kakaknya.


Alexi tersenyum sembari menarik martial soul miliknya untuk kembali masuk ke dalam tubuhnya, ular Sanca semu itupun segera menghilang.


"Exa, bisakah aku tidak pulang dulu untuk beberapa hari ke depan?" tanya Alexi. Dia berkata sambil menuang air putih dari sebuah poci ke dalam dua buah gelas kosong, satu gelas untuknya dan satu untuk Alexa.


"Tapi, aku sudah berjanji pada ayah untuk membawamu kembali segera setelah aku menemukan Kakak." Alexa menjawab seraya menerima gelas itu dari tangan kakaknya.


Alexi dan Alexa duduk berhadapan secara berseberangan karena terhalang meja. "Aku masih ingin meningkatkan kultivasiku. Jika berada di Sanca Perak rasanya kepalaku seperti mau pecah akibat memikirkan cara ayah mengajariku!"


"Aku tahu itu Kak, ayah memang sangat keras padamu, tapi ibu ... ibu sangat merindukanmu, Kak," sahut Alexa.


"Aku juga sangat rindu ibu, tapi kalau ingat ayah, aku benar-benar seperti ingin bunuh diri saja, Exa!" Alexai meremas rambutnya sendiri dengan gemas.


Alexa beranjak mendekati pintu dan membukanya perlahan. Salah seorang pengawalnya datang membawa beberapa buah bungkusan plastik. Alexa menerimanya dan kembali menutup pintu kamar setelah mengucapkan beberapa pesan kepada pengawalnya. Pengawal itu hanya mengangguk dan pergi setelah menghormat kepada Alexa dan Alexi.


"Apa itu?" tanya Alexi penasaran saat Alexa meletakan banyak bungkusan di atas meja.


"Kakak bukalah!" pinta Alexa.


Alexi membuka semua bungkusan itu. wajahnya nampak kesal. "Kau bahkan membawa pakaian itu." Alexi bersungut-sungut.


"Itu pakaian yang seharusnya kau kenakan Kak, kau ini seorang tuan muda, tentunya harus tampil elegan dan terhormat. Lihat bajumu itu, dekil sekali!" ujar Alexa.


Alexa meraih sebuah baju atasan yang tampak sangat elegan. "Kak, pakailah dan kita kembali sekarang juga!" bujuk Alexa.


"Exa, sudah kukatakan aku belum ingin pulang!" Alexi tampak semakin kesal dan membuang wajahnya ke samping.


"Kak, aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu dengan ayah," kata Alexa sambil menelesuri guratan-guratan ular Sanca yang ada di lengan kiri Alexi yang masih terbuka.


"Kakak harus berani mengungkapkan isi hati Kakak pada ayah dan ibu," ujar Alexa.


"Berani mengungkapkan isi hati, itu sama saja meminta seratus kali lecutan cambuk pada ayah. Kau lihat!" Alexi memutar badannya sambil menyibak rambut panjangnya.


Mata Alexa terbelalak saat melihat punggung Alexi yang penuh bekas luka cambuk. Ada juga sebuah guratan berbentuk akar serabut yang bagai menjalar di sebagian punggung Alexi.

__ADS_1


"Kak, ini?" tanya Alexa dengan mata panas berembun.


"Ini adalah hadiah dari ayah setiap kali aku melakukan sesuatu yang salah di mata ayah. Bukan hanya kesalahan, tetapi jika aku protes atau menyampaikan keinginanku yang tidak disukainya." Alexi berkata sambil merapatkan wajahnya di atas tangan yang ia letakan di atas meja. Hati tuan muda satu-satunya dari Sekte Sanca Perak itu merasa sangat sakit dan pilu.


"Bahkan ayah memberiku pukulan Tapak Racun Akar Hitam padaku. Pikirkanlah Exa! Bagaimana caranya agar aku tidak membenci ayah?" Alexi bertanya dengan hati yang terasa tercabik-cabik.


"Kadang aku berpikir, sebenarnya aku ini anaknya atau bukan?" Alexi mengangkat wajahnya. Ia menatap ke wajah adiknya.


"Untung kakek sangat menyayangiku. Kakeklah yang mengobatiku setiap kali ayah selesai menyiksaku." Alexi mengusap air matanya yang jatuh tanpa terasa. Ada rasa rindu yang teramat kepada lelaki tua yang sangat menyayanginya itu.


"Exa, Sanca Perak adalah neraka bagi kakakmu ini. Kelak, aku takan tinggal di sana setelah bisnisku berkembang dan sukses." Alexi menatap Alexa.


"Kakek secara diam-diam memberiku uang untuk modal usaha. Aku dibantu beberapa orang kepercayaan kakek sudah mulai menjalankannya sejak tahun lalu. Hanya kau yang kuberi tahu, kuharap kau bisa rahasiakan hal ini, jangan sampai ayah dan ibu tahu," pinta Alexi.


Alexa menganggukan kepalanya. "Aku akan rahasiakan semuanya, tentang bisnis dan juga tentang gadis itu," ucap Alexa.


"Jika Ayah sampai tahu ada gadis yang berhubungan dengan kakak. Maka, ayah pasti akan memburunya dan itu akan berbahaya bagi gadis itu." Alexa menyambung ucapannya.


"Hao, terima kasih, Adik manisku." Alexi membelai rambut adiknya. "Hanya kau dan kakeklah dukungan dan semangat yang kupunya dalam keluarga kita. Meski Ibu sangat sayang padaku, tapi ibu lebih takut kepada ayah, aku tak bisa berharap banyak dari ibu."


"Kak Aleee!" seru Alexa sambil memeluk Alexi. Ia memang sangat tahu akan penderitaan kakak kembarnya itu.


"Exa, aku masih tidak ingin pulang, terlebih aku ingin mencari seseorang. Exa ... bisakah kau bantu aku melarikan diri dari para pengawal itu?" tanya Alexi.


"Tapi Kak, aku masih rindu padamu," kata Alexa sambil melendot manja pada Alexi. Wajah Alexa menempel pada bekas-bekas luka pada punggung kakaknya itu.


"Atau ... aku ikut denganmu saja, Kak!" usul Alexa. Alexi sangat terkejut.


"Itu sama saja semakin menambah masalah buatku," sahut Alexi.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Alexa. "Kalau aku kembali tanpa Kakak, mungkin aku juga akan dihukum."


"Ayah tak akan menghukummu, kau kan puteri kesayangannya," sahut Alexi. "Jika kau ikut aku, itu hanya akan membuat hukumanku semakin berat."


"Tapi, kalau Kakak pergi lagi dan aku pulang dengan tangan kosong. Bukankah itu sama juga memperberat hukuman buat Kakak?" tanya Alexa.


Alexa terdiam, ia berpikir jalan keluar dari situasinya saat ini. "Exa, kalau aku pulang sekarang, mungkin aku takan bisa keluar lagi untuk mencarinya." Alexi berucap dengan nada sedih.


"Aku suka dia, aku bahkan merasa telah benar-benar jatuh cinta padanya. Exa, aku harus bagaimana?" tanya Alexi.


"Kak, kita cari dia bersama-sama secara diam-diam, aku pasti akan membantumu," ujar Alexa.


"Benarkah?" tanya Alexi.


"Mmhh, aku janji Kak!" Alexa mengangkat tangan kanannya tanda berjanji.


"Tapi ...." Alexi ragu.


"Kak, aku hanya ingin Kakak bahagia. Aku juga ingin melihat seperti apa wajah calon kakak iparku itu." Alexa tersenyum. "Aku sangat ingin melihat gadis yang telah mengacaukan hati Kakakku tercintaku ini."

__ADS_1


"Kaak, pakailah bajumu dan kita pulang sekarang. Okay?" bujuk Alexa.


__ADS_2