
Mata Zike membulat sempurna dan kembali berbinar. Gadis itu terus bermonolog dalam kesendiriannya. "Baiklah! Alexi ... eehh, siapa nama panjang Ale ya?"
"Bodohnya aku ini! Rupanya cintaku ini benar-benar buta. Aku tidak tahu nama lengkapnya, tiak tahu tempat tinggalnya, asal-usulnya atau latar belakangnya." Zike sungguh merasa bodoh pada dirinya sendiri. "Bagaimana kalau ternyata dia bukan dari keluarga baik-baik?"
Zike membalikan badannya. "Bagaimana kalau dia adalah orang jahat yang kelak akan menyakitiku, mencampakanku dan meninggalkan aku?"
"Aaaaaaaaa! Aku pusiiiiiing!" Gadis itu merasa frustrasi dengan semua pemikirannya. "Sudahlah, aku lelaaah!"
Zike mencoba untuk menghilangkan semua pikiran-pikiran yang membebani perasaannya saat ini. Tiba-tiba saja dia teringat kepada orang tuanya. "Ma, Pa ... aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil meraih impianku dan membawa calon suami pilihanku."
Di Sanca Perak.
"Lihat! Apa ini?" tanya Ni Sendari setelah membuka paksa perban Alexi. "Luka seperti ini kamu sembunyikan! Bagaimana kalau ada infeksi? Dan lagi ini di tangan kanan. Bukankah kamu akan kesusahan melakukan apa pun?"
Alexi merasa kesal juga mendengar ocehan neneknya, jika mengetahui telah terjadi sesuatu atas dirinya. "Neneeek! Aku ini laki-laki yang sudah dewasa, jadi aku tak perlu merengek lagi hanya karna luka seperti ini."
"Tidak bisa! Kamu ini cucu nenek dan nenek akan tetap menganggapmu sebagai anak kecil, walaupun badanmu sebesar bukit sekalipun!" bentak Ni Sendari. "Mana Abraham? Apakah dia tidak menjagamu dengan baik, sampai-sampai kamu terluka seperti ini?"
Tentu saja Alexi tidak akan membiarkan neneknya memarahi Abraham. "Neneeek! Apa pun yang terjadi padaku, itu bukan kesalahan Abraham. Ini memang murni akibat kecerobohanku sendiri."
"Ceroboh?" Ni Sendari bertanya. "Ceroboh bagaimana?"
"Ya. Luka ini memang akibat dari aku kurang berhati-hati membersihkan bingkai lukisanku." Alexi berterus terang pada akhirnya. "Lukisan itu tak sengaja jatuh dan kacanya mengenaiku. Jadi ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Abraham."
"Dan lagi, ini sudah dijahit oleh Abraham sebelumnya. Jadi sudah tidak perlu lagi dikhawatirkan," tukas Alexi yang membiarkan saja sang nenek melihat lukanya. "Bukankah itu sudah rapat? Hanya sedikit saja yang terbuka karena aku tadi menggerakannya secara paksa."
Ni Sendari menggelengkan kepalanya sembari membalut kembali luka Alexi. "Bukankah ada para pelayan yang bisa kamu minta untuk melakukannya? Mengapa kamu sangat berhati-hati dengan lukisan itu? Sampai-sampai tidak ada yang boleh menyentuhnya."
"Pokoknya tidak ada yang kuijinkan orang lain menyentuhnya!" seru Alexi dengan wajah merengut.
"Kamu ini memang keras kepala seperti Nata!" Ni Sendari merasa kesal juga pada sikap sang cucu yang sedikit banyak menuruni sifat anak lelakinya itu.
__ADS_1
"Tidak! Aku bukan dia!" Alexi memang akan selalu mengelak jika ada yang menyamakan dia dan ayahnya. "Aku tidak sekejam ayah. Dan aku juga tidak akan pernah sama seperti dia!"
Garnis yang juga masih berada di dalam kamar tersebut, tiba-tiba merasa sangat penasaran dengan lukisan yang sedang dibicarakan oleh kedua orang di hadapannya. Pandangan mata putri Sekte Awan Putih menyapu seluruh ruangan secara diam-diam dan melihat ada beberapa buah lukisan yang diletakkan di dekat meja kerja Alexi. Lukisan-lukisan itu bahkan dibingkai dengan cantiknya.
Garnis mendekati lukisan-lukisan itu, lalu memperhatikannya secara saksama. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah lukisan daun maple dengan banyak bercak darah yang ikut mewarnai lukisan tersebut.
"Lukisan-lukisan ini memang terihat unik dan indah. Pantas saja kalau Kak Ale sangat menyukainya," bisik Garnis dalam hati. "Tapi ... mengapa warna ini seperti bukan dari cat yang biasa digunakan untuk melukis?"
"Hei! Jangan sentuh lukisanku!" teriak Alexi saat melihat tangan Garnis terangkat untuk menyentuh lukisannya.
"Oh! Maaf, Kak Ale!" Garnis yang merasa sangat terkejut tanpa sadar melangkah mundur. Namun, mata gadis itu sempat melihat tanda nama sang pelukis.
"Zain Kamila?" tanya Garnis dalam hati. "Apakah ini yang membuat Kak Ale jadi sebegitu melindungi dan menyayangi lukisannya?"
"Ale, tidak baik bersikap begitu." Ni Sendari menasehati cucunya yang menatap penuh kebencian kepada Garnis.
"Apa peduliku pada gadis yang tak tahu malu itu? Mengejar-ngejar pria sepanjang waktu dan masuk keluar dengan sembarangan ke dalam kamarku!" geram Alexi dalam hati hingga tanpa sadar telapak tangan kirinya terkepal kuat-kuat. "Kalau saja tidak ada nenek, mungkin sudah kuusir gadis itu dari hadapanku!"
"Silakan, Nek!" ucap Alexi yang berharap Garnis juga segera pergi dari kamarnya.
Ni Sendari menganggukan kepala lalu babgkit dan melangkah keluar kamar. "Garnis, ayo kita kembali!"
"Aku juga pamit, Kak." Garnis juga berpamitan.
"Pergilah!" Alexi segera menutup pintu keras-keras.
Sejujurnya hati Garnis sudah merasa hancur atas sikap Alexi yang sangat dingin dan sama sekali tidak peduli padanya, akan tetapi cinta sedalam palung laut pada pria muda itu juga terlalu besar hingga semua perlakuan Alexi dia anggap sebagai ujian baginya. Gadis itu pergi sambil berucap dalam hati. "Aku akan sabar menunggumu menyukaiku, Kak Ale."
Gadis itu tidak tahu, betapa Alexi teramat marah dan merasa sangat muak atas kedatangannya. Pria itu segera menemui lukisan yang hampir saja disentuh oleh Garnis. "Gadis tidak tahu diri itu bahkan hampir saja menodai lukisan kesayanganku dengan tangan kotornya!"
Alexi menyambar beberapa lebar tisu untuk membersihkan kaca bingkai hingga berulang kali. "Hanya aku dan orang-orang yang kuijinkan saja yang bisa menyentuhnya! Berani sekali gadis sialan itu!"
__ADS_1
"Dasar wanita sundaaal!" umpat Alexi dengan perasaan kesal bukan main. "Mengganggu saja!"
"Zike!" Tiba-tiba dia teringat akan ponsel yang lupa ia matikan saat neneknya datang. "Celaka!"
Pemuda itu berlari ke arah ponsel dan melihat sambungannya telah terputus. "Zike, Sayang. Maafkan aku!"
"Apa tadi dia melihatnya? Apakah dia marah?" tanya Alexi sambil mencoba untuk menghubungi Zike hingga berulang kali. "Jangan-jangan dia memang marah karena aku mengabaikan dan melupakannya!"
"Sayaaang, maafkan aku!" Alexi merasa frustrasi karena tidak mendapat respon dari kekasihnya. "Pasti dia kecewa sekali padaku!"
Alexi tidak tahu, jikalau Zike sudah terlelap setelah berusaha keras meredam rasa kecewanya. Bagamanapun juga, gadis itu tetap memiliki rasa cemburu pada setiap gadis yang dekat dengan Alexi dan itu adalah hal yang wajar.
Alexi mengusap dengan gemas dan kesal wajahnya sendiri disertai penyesalan yang teramat sangat. Dia khawatir jika telah membuat gadis itu merasa kecewa. Terutama dengan kemunculan Garnis di ruangan tersebut.
Alexi mengusap layar ponsel yang menampilkan kekasihnya duduk di atas kayu kusen jendela dengan seulas senyum tipis yang sangat manis. Gadis itu begitu sederhana namun berhasil memikat hati sang tuan muda Sekte Sanca Perak.
Pada saat para gadis mendandani diri secantik mungkin untuk menarik perhatian Alexi, akan tetapi Alexi justru tergila-gila dengan gadis yang tidak menyukai make up dan gaya busana masa kini. Penampilan Zike bagi Alexi terlihat nyaman dan tidak begitu merasa khawatir orang lain ikut menikmati keindahan tubuhnya.
"Dia adalah gadis yang sederhana dan memikat," gumam Alexi sambil tersenyum tipis. "Sederhana namun teramat sangat memukau bagiku."
Meskipun Zike berpose biasa saja dan tidak bergaya centil layaknya para anak baru gede, tapi hal itulah yang justru sangat disukai oleh Alexi sejak awal mereka bertemu. Jika mengingat hal tersebut, pria muda itu hanya bisa merasa rindu sambil memandangi wajah lugu Zike. "Alangkah lucunya kekasihku ini."
"Menggemaskan sekali dia! Ingin rasanya kubawa dia ke mari dan kuperkenalkan pada kakek dan nenekku." Penampilan sederhana tanpa hiasan dan riasan itulah yang telah berhasil memikat tuan muda Sekte Sanca Perak.
"Apakah mereka akan menyukai gadisku juga?" bertanya Alexi sambil mengusap wajah ayu alami dengan kulit kuning langsat, rambut lurus panjang serta tubuh tinggi ramping itu juga yang membayangi mata dan pikiran Alexi Nata Praja.
"Pasti dia kecewa sekali padaku!" gumam Alexi dengan suara lirih.
"Zike maafkan aku!"
...Bersambung...
__ADS_1