
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Danny Hendrat dan Abraham secara diam-diam memperhatikan kedua tuan muda yang tengah berbincang-bincang dengan santai. Mata keduanya tetap waspada sebagaimana biasanya.
"Lihatlah, Danny!" Abraham melirikkan ekor matanya ke arah meja Alexi dan Jessey Liu berada. "Apakah menurutmu, tuan muda kita sudah tidak lagi merasa benci kepada orang itu?"
"Aku kurang begitu tahu, Abraham. Tetapi dari sikap tuan muda yang bisa menjadi lebih tenang, aku sudah merasa tidak terlalu mengkhawatirkannya," sahut Danny Hendrat yang juga sambil sedikit melirik. "Atau bisa jadi, tuan muda punya rencana yang tidak kita ketahui."
"Hmm ... mungkin saja, ya?" Abraham mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Aku harap ini adalah suatu awal yang cukup baik bagi tuan muda kita," ujar Danny Hendrat yang sangat berharap, jikalau Alexi bisa mengesampingkan perasaannya sendiri yang sebenarnya tidak perlu membenci Jessey Liu. "Kuharap tuan muda bisa mengatasi semua dendam dan kebencian pada orang itu,"
"Oh ya, di mana nona?" Abraham mencari-cari keberadaan Alexa yang semenjak tadi tidak terlihat batang hidungnya.
"Nona sedang menerima panggilan dari tuan besar," sahut Danny Hendrat yang memang mengetahui, jika Ki Nata Praja baru saja menelepon Alexa.
"Oh, pantas saja nona tidak ikut bersama tuan muda." Abraham kembali mengangguk-anggukkan kepala.
"Ada apa kira-kira dengan tuan besar?" bertanya Danny Hendrat dengan penasaran.
"Aku juga tidak tahu." Abraham menjawab sembari mengangkat kedua bahunya. "Atau jangan-jangan, nona disuruh kembali karena ada suatu hal yang mendesak?"
Danny Hendrat pun hanya bisa kedua mengangkat bahunya juga. Mereka memang tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi di antara para tuannya yang bukan di dalam tugas mereka. Bagi Abraham dan Danny Hendrat, mereka hanya akan menerima perintah dari Ki Surya Praja dan Alexi Nata Praja saja.
Sementara itu, Alexi dan Jessey Liu tampak menyudahi pembicaraan mereka berdua. Terlebih lagi, salah seorang anak buah Jessey Liu telah memberitahukan akan kesiapan rombongan mereka yang akan segera melanjutkan perjalanan ke Kota Wu Shang. Pria itu pun segera berpamitan kepada Alexi dan seluruh rombongannya.
__ADS_1
Alexi yang sudah mulai merasa sedikit menyukai Jessey Liu, memang sedikit kecewa atas pertemuan singkat tersebut. Namun keduanya berjanji, bahwa kelak akan menghubungi satu sama lain jika ada waktu dan kesempatan. Tentu saja ini merupakan suatu semangat baru bagi Alexi yang selalu merasa kesepian di dalam keramaian.
Setidaknya Alexi mulai menyadari suatu hal, yaitu untuk tidak terlalu ekstrim dalam membenci seseorang. Hal itu dikarenakan, bisa saja orang yang kamu benci kelak menjadi temanmu dan orang yang kamu cintai justru akan menjadi musuhmu.
Pada saat Jessey Liu dan rombongannya baru saja meninggalkan Hotel Van Houten, Alexa datang kembali ke ruang pertemuan dan tidak mendapati siapa pun dari Sekte Sanca Perak ataupun dari Sekte Elang Emas di tempat tersebut. Hanya ada beberapa orang petugas kebersihan dan para pelayan yang tengah sibuk membereskan sisa-sisa kegiatan pertemuan tadi.
Alexa segera berbalik pergi tanpa bertanya kepada siapa pun tentang di mana para peserta pertemuan tersebut. Gadis itu sudah cukup mengetahui di mana keberadaan Alexi.
"Kaak! Di mana dia?" Alexa bertanya sembari mencari-cari rombongan dari Sekte Elang Emas.
"Tak usah dicari lagi. Mereka semua sudah pergi beberapa menit yang lalu." Alexi menjawab sambil melanjutkan langkahnya. "Ayo kita segera kembali dan bersiap-siap! Kita sudah tidak bisa terlalu lama di sini."
"Kembali melanjutkan perjalanan?" Alexa tidak mengira, jika mereka pun akan segera pergi dari hotel tersebut secepatnya.
"Tapi, Kak! Aku bahkan belum sempat ngobrol dan bercerita apa pun dengannya." Alexa berjalan mengikuti kakaknya dengan raut wajah kecewa.
"Bukan itu maksudku, Kaak!" Alexa merasa sangat kecewa dengan sikap sang kakak. "Setidaknya Kakak tunggulah sampai aku datang dan ...."
"Kamu ini perempuan, jadi sudah sepantasnya kamu sedikit menjaga harga dirimu di depan pria mana pun! mengerti?" Alexi memperingatkan sang adik akan suatu hal yang tidak boleh diabaikan sebagai kaum wanita dari negeri timur.
"Mengerti, Kak!" Alexa menyahut dengan hati bergemuruh dan juga merasa sangat kecewa.
Alexa hanya bisa memendam rasa kecewa dalam hati atas kepergian Jessey Liu. Dia bahkan belum sempat menyapa pria itu sama sekali, apalagi berbicara banyak hal dengannya. Semula gadis itu merasa khawatir, takut jika sang kakak tidak mengijinkan dia mendekati orang yang selalu menjadi perbandingan oleh ayahnya.
__ADS_1
Namun, Alexa tetap berharap, jikalau suatu saat nanti dia akan kembali bertemu dengan lelaki yang telah membuat dia terus memikirkannya sepanjang waktu. Meski mungkin hanyalah harapan yang harus ia gantungkan setinggi bintang-bintang di langit malam.
Sementara itu, Ye Kai dan Jessey Liu juga rombongannya ternyata memutuskan untuk berpisah di tengah perjalanan, walaupun sebenarnya Jessey Liu sangat berharap Ye Kai ikut kembali ke Wu Shang, tetapi hal itu ditolak oleh sahabatnya.
Ye Kai tidak mungkin bisa meninggalkan istri dan murid barunya menunggu, lagipula dia juga sedang mempersiapkan kepindahannya ke Kota Wu Shang yang memang sudah direncanakan jauh-jauh bulan sebelumya. Tentu saja itu bukanlah hal yang terlalu mudah, karena yang dipindahkan bukan hanya satu atau dua orang saja.
Akhirnya dengan sangat berat hati, kedua sahabat itu berpisah. Jessey Liu ke Kota Wu Shang bagian selatan, maka Ye Kai kembali ke Kota Da Ha yang tentu saja arahnya berlawanan. Di dalam perjalanan, Ye Kai berencana untuk terlebih dahulu singgah ke tempat kediaman Dokter Agustin untuk menunjukkan temuannya tentang racun dari Sekte Sanca Perak.
Sementara itu, Mei Lan dengan sengaja mengajak Zike keluar dari paviliun tempat tinggalnya selama ini. Tentu saja gadis itu merasa sangat senang, karena akhirnya dia diijinkan keluar masuk ke tempat mana pun di kediaman tersebut. Semua pelayan sudah mengetahui akan posisi gadis ini dan menjadi sangat menghormati Zike sebagaimana seorang nona.
Pada sore hari yang cerah, Zike diajak oleh Mei Lan untuk berjalan-jalan di sekitar kediaman untuk melihat-lihat keadaan tempat tersebut. Dia dengan lincahnya melangkah di atas jalanan sambil mengekor gurunya. Rupanya, selain dilatih olah vokal, Zike juga harus belajar ilmu bela diri. Tentu saja, hal tersebut belum diberitahukan kepadanya secara langsung.
"Kita akan ke mana, Nu Jiaoshi?" Zike bertanya sambil sesekali berloncatan seperti anak kecil yang sedang bermain-main di belakang ibunya.
"Ke tempat yang menyenangkan tentunya," jawab Mei Lan sambil terus melangkah memasuki sebuah pintu gerbang kecil sebagai jalan satu-satunya dari bangunan yang dikelilingi oleh tembok tinggi nan kokoh.
"Tempat yang menyenangkan?" Zike bergumam kecil sambil menebarkan pandangannya ke setiap sisi bangunan. Baru kali ini dia memasuki tempat yang menurutnya sangat mirip dengan tempat latihan jurus-jurus kungfu di film-film China yang terkadang dia tonton.
Mei Lan hanya tersenyum kecil melihat tingkah gadis yang sudah menjadi muridnya ini. Sekarang penampilan gadis ini juga sudah banyak berubah. Wajahnya semakin terlihat cerah dan manis, dipadu dengan kulitnya yang ternyata berwarna kuning langsat. Sebuah warna kulit yang membuat Mei Lan terkadang merasa iri dibuatnya.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat pelatihan ilmu bela diri yang cukup luas dengan berbagai macam peralatan yang benar-benar sangat mirip dengan yang ada di film China.
"Tempat apa ini?" Zike bertanya-tanya dalam hati sambil melihat ada banyak alat-alat olah raga berbentuk aneh terbuat dari kayu dan bambu.
__ADS_1
"Dan ini untuk apa?"
...Bersambung...