
"Setelah memburu kami dan berniat mencelakai kami. Apa kamu pikir hanya kata ampu saja itu sudah cukup?" bentak anak buah Chriss dengan marah sambil memegangi kedua tangan musuhnya dan hendak mengangkat tubuh pria itu utuk dilemparkan ke dalam jurang. "Ayo, kita lemparkan saja dia!"
"Tunggu!" Chriss teringat akan pesan Jessey Liu. "Sisakan satu untuk kita jadikan tawanan. Ikat dia!"
"Oh baiklah, Ketua!" Anak buah Chriss mengurungkan niatnya melempar pria tersebut dan melepaskan pegangannya. "Beruntung sekali kamu ini."
"Cepat! Berterima kasihlah pada ketua kami!"
"Baik! Baiklah!" Pria anggota Dark Cloud yang lebih memilih menyerah demi mempertahankan satu-satunya nyawanya segera berlutut di hadapan Chriss. "Terima kasih banyak, Tuan!"
"Mmm." Hanya sebuah gumaman pendek dari mulut Chriss sebagai jawaban.
"Sekarang kalian bawa dia berkemas-kemas kembali ke kendaraan kita! Aku masih harus membantu Gong Zi!" Chriss berkata sambil berjalan ke tempat Jessey Liu sedang bertarung melawan Angie.
"Tampaknya wanita itu sungguh sangat bernafsu untuk menjatuhkan Gong Zi." Chriss bergumam sambil meraih tongkatnya. Pria itu bahkan setengah berlari dan harus berlompatan di antara semak-semak kecil dan rumpun ilalang. Pria itu sungguh mencemaskan keadaan tuannya yang terlihat masih menghadapi Angie.
"Gong Zi! Apa yang terjadi dengannya?"
Sementara itu, Jessey Liu masih berhadapan dengan Angie yang telah begitu bernafsu untuk segera menumbangkan pria ini. Angie berpikir, "Lebih cepat lebih baik dan tidak akan terlalu lama membuang waktu!"
Rupanya wanita itu masih belum menyadari sama sekali, jikalau kekalahan telah menguasai dipihaknya. Angie masih terlalu fokus untuk menangkap Jessey Liu yang sudah sangat ia dambakan. Rencana lain pun telah ia siapkan dengan sangat baik.
Jessey Liu sendiri sudah terlalu muak untuk terus berhadapan dengan wanita licik yang terlalu merepotkannya kali ini. Angie pun juga sudah tidak ingin membuang waktu lagi dan dengan segenap kekuatannya dia menyerang Jessey Liu sekali lagi.
Jessey Liu menyambut serangan sabetan ruyung milik Angie dengan sebuah ayunan cambuk yang berhasil membuat senjata itu terlepas dari genggaman sang empunya. Jessey Liu dengan sigap menangkap benda itu dan berkata, "Senjata yang bagus tapi sangat tidak cocok untukmu. Permainanmu terlalu buruk!"
Lelaki muda tampan berambut panjang itu kemudian melemparkan ruyung atau nunchaku secara sembarangan. "Kuharap ada senjata lain yang lebih baik lagi untuk menghadapiku"
"Baiklah, kalau itu maumu." Angie berkata seraya mengambil beberapa buah pisau kecil dan tipis, lalu menyematkan empat buah senjata tersebut di sela-sela jemari lentiknya.
"Baiklah! Biar kulihat juga, sebagus apa lemparanmu!" Jessey Liu berucap sambil mengangkat cambuknya tinggi-tinggi, lalu memutar senjata itu beberapa kali di udara dan melecutkannya dengan kuat hingga menimbulkan suara ledakan keras serasa merobek gendang telinga.
Angie pun sudah bersiap siaga untuk kembali melakukan serangan jitu sekali lagi. Kali ini dia telah memperhitungkan tidak boleh ada kegagalan. Ya! Tidak boleh ada kata gagal! Wanita cantik dengan keangkuhan setinggi Gunung Bunga itu, kemudian melompat sambil memutar tubuhnya hingga beberapa kali bagai sedang melakukan gerak tarian seorang dewi.
__ADS_1
Tanpa merasa harus berbasa-basi, dia melepaskan serangan empat pisau terbang dengan kekuatan penuh yang langsung mendapatkan sambutan liukan cambuk Lidah Naga dari Jessey Liu. Sebagai seorang praktisi bela diri, mendapat serangan dalam kegelapan bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dihadapi. Naluri kependekarannya sudah terlatih, hingga mampu mendeteksi dengan cermat desir angin yang ditimbulkan oleh lesatan senjata rahasia.
Tiga dari empat pisau terbang berhasil ditangkis oleh Cambuk Lidah Naga, akan tetapi pisau keempat melesat cepat mengenai kepala samping bagian atas telinga kanan Jessey Liu. Seketika, kulit kepala yang terlindung oleh rambut panjangnya pun robek. Bahkan sekelompok kecil rambut jatuh melayang tertiup angin dan jatuh entah ke mana.
"Lemparan yang bagus!" Jessey Liu bahkan masih sempat memuji penyerang yang telah berhasil melukai kepala samping di atas telinga kanannya. Tak ada ringis kesakitan apalagi sebuah pekikan. Dia hanya mengusap aliran darah segar dari luka sayat yang hampir menghalangi penglihatannya.
"Terima kadih atas pujianmu, Master Liu!" Angie tersenyum senang sambil berkacak pinggang dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain memutar-mutar bilah sumpit bambu. "Kuharap kau juga menyukai hadiah dariku!"
"Jessey Liu! Senentar lagi kau akan bertekuk lutut dan menuruti semua keinginanku!" Angie berseru dalam hati.
"Hadiah?" Jessey Liu tertegun saat tangannya terasa sedikit lemah hingga tanpa sadar cambuknya terlepas dan jatuh ke atas tanah. "Celaka! Apa yang telah dia lakukan?"
Namun, Jessey Liu terlambat menyadari suatu hal. Karena ternyata wanita itu berhasil menyarangkan beberapa buah jarum melalui tiupan sumpit bambunya. Semula Jessey Liu tidak mengetahui adanya serangan jarum dari wanita licik tersebut. Sampai suatu ketika, punggungnya merasakan nyeri bagai disengat lebah.
"Jessey Liu! Sekarang terimalah akibat dari penolakanmu padaku!" Angie tertawa panjang karena telah berhasil menyarangkan beberapa jarum berlapis cairan racun ke tubuh Jessey Liu. Rencana untuk mendapatkan pria ini pun tentunya akan lebih mudah.
"Apa ini?" Jessey Liu meraba tengkuk dan punggungnya dan mendapati jarum-jarum telah bersarang di sana. "Jarum!"
Jessey Liu mencoba mencabuti senjata rahasia itu sambil meringis menahan sakit, lalu mencium aroma dari benda tersebut. Sekarang dia menyadari, jikalau jarum-jarum ini bukanlah sekadar hanya jarum biasa saja, melainkan telah dilapisi dengan sejenis racun pelumpuh yang bisa melemahkan syaraf-syaraf tubuh sementara waktu.
"Angie! Tak kusangka kamu bisa selicik ini!" Jessey Liu merasa tubuhnya mulai terasa lemas. Pandangannya mulai samar dan berkabut. Tubuh Jessey Liu limbung dan jatuh bergulingan ke tepi jurang tanpa bisa dikendalikan. Namun, Chriss dengan sigap melompat dan segera menangkap salah satu tangan Jessey Liu.
"Gong Ziiiiii!" Chriss segera menahan tubuh tuan mudanya yang sudah mulai kehilangan keseimbangan dan hanya bertumpu pada tebing jurang serta pegangan tangannya.
"Gong Zi, bertahanlaaaaah!"
"Chriss. Bawa aku ke Agustin!" pinta Jessey Liu dengan suara setengah berbisik, sebelum akhirnya dia terkulai tak sadarkan diri.
"Gong Zi! Tidak, Gong Ziiii!" Chriss masih tetap memegang kuat-kuat pergelangan tangan Jessey Liu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram akar pohon yang menggantung dan menjuntai di tepi jurang.
"Gong Ziiiiiiiiiiii!" Chriss menjerit setinggi langit dengan tangisan yang langsung pecah saat menyadari tuannya telah menutup mata.
"Gong Zi aku akan menyelamatkanmu! Aaaaaa!" Chriss yang dalam posisi tengkurap sambil menahan tubuh Jessey Liu, tiba-tiba menjerit saat beberapa kali tendangan keras dan pukulan senjata ruyung menghantam tubuhnya.
__ADS_1
"Itulah akibat dari kesetiaan pada tuanmu yang tidak tahu diuntung itu. Maka terimalah nasib yang sama dengannyaaaa!" Angie berteriak sambil masih menyerang Chriss. "Dasar budak hina! Anjing liar sepertimu tidak ada gunanya sama sekali!"
"Percuma saja Jessey memungut sampah dan anak haram sepertimu! Kamu bahkan tidak akan pernah bisa membalas jasa ada majikanmu ituuu!"
Angie tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil membuat Chriss menjadi bahan hinaan yang paling empuk dan sangat memuaskan. Dia tak peduli keadaan pertempuran yang telah dikuasai oleh para anak buah Jessey Liu, sedangkan para kawanan penyergap yang dipimpin ketuanya tengah menjadi bulan-bulanan para harimau putih.
Chriss sendiri meskipun teramat sakit hati mendengar lontaran hinaan yang keluar dari mulut Angie, lebih memilih terlebih dahulu untuk menyelamatkan sang tuan. Bagi pria itu, masa lalu kelamnya sudah tidak perlu lagi diperdebatkan. Walau terdengar teramat menyakitkan, tetap cerita tentang dirinya hanyalah anak haram memang telah terlanjur melekat sejak dahulu.
Pria yang terkenal dengan kesetiaanya itu dengan sekuat tenaga menarik dan mengangkat tubuh Jessey Liu. Dia tidak memedulikan tubuhnya sendiri telah terluka oleh pukulan dan hantaman senjata milik Angie. Akhirnya dengan bersusah payah dia berhasil menarik tubuh sang tuan yang sudah terkena pengaruh jarum berlapis racun.
Setelah berhasil meletakan tubuh Jessey Liu ke tempat yang datar, Chriss secepat kilat meraih cambuk panah berantai yang terjatuh tak jauh darinya. Pria itu tiba-tiba melompat tinggi sambil memutar cambuk bak putaran kincir angin, meliuk-liuk bagaikan seekor naga yang menggeliang dan berlayangan di angkasa.
Sebagai orang yang sudah cukup lama mengikuti Jessey Liu, Chriss memang memiliki sedikit kemampuan berolah senjata cambuk dan ilmu tenaga dalam. Walaupun tidak setinggi ilmu milik sang tuan, tetapi dia cukup bersyukur dengan apa yang dia pelajari. Baginya, kemampuan Jessey Liu sendiri sudah sangat mengagumkan dan tak mungkin untuknya bisa melampaui kekuatan orang nomor satu di Sekte Elang Emas.
Chriss menyerang Angie dengan sisa kekuatan yang dia miliki. Tentu saja wanita ini menjadi cukup terkejut saat dia tidak bisa lagi menghindar dari belitan rantai cambuk Lidah Naga di tangan Chriss. Kini wajah Chriss bagaikan semerah darah dan sangat menakutkan seandainya keremangan tidak menyamarkan penglihatan. Mata pria itu terbuka sempurna memancarkan kemarahan yang sudah tak tertahan.
"Berani mencelakai tuanku dan menghinaku. Maka tempat yang layak untukmu hanyalah nerakaaaa!" Chriss berteriak sambil menyentakan cambuknya dan membuat tubuh Angie melayang, berputaran hingga beberapa kali tanpa bisa melakukan perlawanan. Pria itu kemudian melepaskan belitan cambuk di tubuh Angie hingga tubuh wanita itu terlempar lalu hilang di atas jurang.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Sebuah jeritan panjang terlepas dari mulut Angie hingga suaranya bagai sanggup mengalahkan lolongan serigala hutan.
"Sampah sepertimu hanya layak menjadi hantu jurang itu untuk selamanya!" Chriss berkata dengan tanpa perasaan menyesal sedikit pun. Dia bahkan terlihat puas hingga menyimpulkan seringaian sinis ke arah jurang.
"Jadi begitulah kejadiannya." Chriss mengakhiri ceritanya sambil menghela napas. Sekarang dia bisa merasa sedikit lega setelah bercerita.
"Lalu, di mana tawanan itu?" tanya Devil yang menjadi termenung membayangkan betapa malam yang sulit dan terlalu mengerikan telah dilalui oleh para sahabatnya ini.
"Kami sudah mengirimkannya ke markas pusat," jawab Chriss sambil menoleh ke arah pintu ruang perawatan
"Jesseeeeeey!"
Sebuah suara berhasil mengejutkan Chriss dan Heldevi. Mereka pun serentak menoleh ke arah sumbernya dan melihat seorang pria berwajah panik berjalan dengan tergesa-gesa.
Siapakah pria itu?
__ADS_1
...Bersambung...