
"Tuan Muda, saya sengaja memesan ini untuk Anda. Secara kebetulan tadi saya melihat ada menu ini. Jadi ... saya berpikir mungkin Anda akan menyukainya." Abraham dengan hati-hati menyodorkan sebuah wadah tertutup ke hadapan Alexi. "Silakan, Tuan Muda! Jangan biarkan perut Tuan Muda kosong malam ini."
"Apa ini?" Alexi masih merasa enggan untuk membuka penutup berbentuk mangkuk besar dari bahan aluminium.
"Aiyaaaa, Tuan Mudaaa! Bagaimana Anda akan tahu, kalau tidak membukanya?" Segara merasa sedikit kesal juga dengan tingkah sang tuan.
Alexi dengan sangat enggan membuka penutup yang menyimpan sebuah hidangan misterius di dalamnya dari Abraham. Mata Alexi terbelalak lebar dan mulutnya sampai sedikit terbuka saat melihat isi dalam wadah tersebut.
"Ini?" Alexi merasa sangat gembira hingga tanpa sadar terpekik. "Dari mana kamu tahu kalau aku suka ini, Abraham?"
"Ini memang saya pesan secara khusus untuk Tuan Muda." Abraham menyodorkan sebuah wadah berbentuk bulat lengkap dengan penutupnya
"Terima kasih, Abraham. Kamu benar-benar tahu apa yang aku pikirkan." Alexi terihat senang dengan makanan yang baru saja datang.
"Sama-sama, Tuan Muda." Abraham cukup puas dan senang karena behasil menyenangkan sang tuan. Baginya, dia tidak akan merasa tenang sebelum momongannya ini merasa nyaman.
Abraham tersenyum saat melihat wajah tuan mudanya terlihat kembali cerah. Ya! Hanya sebuah hidangan biasa saja dan nyaris mudah didapatkan di mana-mana saja telah berhasil membuat Alexi segembira itu, sedangkan hidangan mahal tidak bisa menggugah selera anak muda tersebut.
Segara dan Danny Hendrat merasa penasaran dengan kegembiraan Alexi kali ini. Kedua pria muda itu sampai berdiri da sedikit membungkukan badan masing-masing, lalu melihat isi wadah yang telah berhasil membuat Alexi begitu bahagia. Harta semacam apakah yang bisa mengubah suasana hati sang tuan muda hingga menjadi seceria ini.
Namun, saat mereka dengan jelas menyaksikan isi dari wadah tersebut, keduanya saling berpandangan dengan wajah heran dan merasa ini sedikit konyol. Danny Hendrat bahkan sapai mengernyitkan kedua alis matanya, sedangkan Segara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.
"Ini tidak salah?" bertanya Danny Hendrat dengan perasaan heran yang tidak bisa dia sembunyikan. "Tuan Muda sejak tadi merasa kebingungan dan tidak berselera makan hanya karena menginginkan makanan seperti ini?"
__ADS_1
Alexi hanya sedikit mengulas senyum di balik cadarnya sebagai jawaban. Segara pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Bukankah Tuan Muda tidak menyukai masakan pedas dan juga kacang?"
"Siapa bilang ini pedas? Tentu saja aku sengaja memesan yang sesuai dengan kebiasaan Tuan Muda kita." Abraham yang menjawabnya. "Kalian pikir aku sebodoh itu?"
"Baiklah, tidak ada masalah sama sekali. Apa pun itu asalkan Tuan Muda menyukainya."Danny Hendrat tidak ingin memperpanjang masalah. "Selamat menikmati santap malam Anda, Tuan Muda!"
Danny Hendrat telah kembali duduk diikuti oleh Segara. Mereka pun mulai meikmati hidangan masing-masing guna memenuhi kebutuhan dan menggati energi tubuh yang telah terbuang selama perjalanan mereka. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu terlihat tenang saat melakukan apa saja.
Lain lagi dengan Segara yang menjadi terheran-heran melihat Alexi begitu antusias dan senang. Pria itu bahkan segera mengambil ponselnya dan meminta Abraham untuk memotret dirinya sedang menyantap siomay sembari bergaya seolah dia adalah seorang model iklan. Abraham pun tidak menolak sama sekali untuk menjadi seorang fotografer dadakan untuk sang tuan.
"Tuan Muda menjadi sangat berubah sejak kepergiannya bulan lalu," bisik Segara dalam hati sambil menusuk sekerat daging. "Apakah benar cinta memang bisa mengubah seseorang sedemikan drastisnya?"
"Bagaimana hasilnya?" Alexi menanyakan hasil foto yag baru saja diambil oleh Abraham.
Alexi dengan senang hati segera menerima ponsel tersebut untuk memastikan hasilnya. Mata pemuda itu terlihat berbinar saat membayangkan bagaimana reaksi wajah gadisnya saat tahu dia sedang makan makanan kesukaan gadis itu. "Baiklah, aku akan kirim ini ke Zike."
Alexi tersenyum puas saat pesannya berhasil terkirim kepada sang kekasih. "Beres!"
"Jadi, foto-foto itu untuk Nona Zike?" tanya Segara. Dia benar-benar heran dengan tuan muda yang sedang jatuh cinta ini. Semua sungguh sangat di luar dugaannya. "Tuan muda benar-benar jadi sangat aneh."
"Apakah menurutmu itu aneh atau lucu?" tanya Alexi seraya menoleh dan melototi Segara.
"Iya, sangat lucuuu!" Segara tanpa sadar berseru sembari menahan tawa, akan tetapi segera tersadar akan ucapan dan segera meralat ucapan yang sudah terceplos begitu saja. "Eeehh, ti-tidak! Tidak lucu, hanya aneh sekali!"
__ADS_1
"Apa?" Alexi merasa sangat tersinggung dengan perkataan anak buahnya ini. "Jadi, kamu pikir aku ini aneh?"
"Walah! Mati aku!" Segara berteriak dalam hati. Dia sangat mengetahui sifat tuan mudanya yang mudah marah dan mudah berubah-ubah emosinya. "Bagaimana ini?"
"Bukaaaan! Bukan itu maksud sayaaaa!" Segara kelabakan akibat ucapan yang terlanjur terlontar dari mulutnya.
"Maaf! Maakan aku, Tuan Muda!" Segara segera bangkit dan meminta maaf. "Maksud saya adalah, perasaan Tuan Muda tidak aneh. Hanya saja ...."
Segara merasa bingung cara mengungkapkannya. "Hanya saja itu seperti bukan Tuan Muda yang kami kenal selama ini.
"Segara, aku tetaplah Alexi yang dulu! Apa kamu pikir aku ini sudah berubah?" tanya Alexi dengan suara sedikit kera disertai nada marah dan tanpa sadar menggebrak meja hingga isi di atasnya menjadi terlonjak.
Orang-orang yang ada di sekitar mereka seger menoleh ke arah meja Alexi dan seketika pemuda bercadar itu pun menjadi pusat perhatian. Mereka kembali berpandangan dan ada pula yang berbisik-bisik dengan suara pelan.
Demi melihat hal itu, Danny Hendrat kembali harus menjadi wasit di antara mereka. Pria itu berbisik, "Tuan Muda, banyak yang memperhatikan Anda. Sebaiknya "
"Mmhh." Alexi mengangguk sambil mulai menusuk satu butir siomay kenyal berlumur sambal kacang. "Dia sangat menyukai makanan ini. Dulu saat di penginapan, aku dan dia sering memesan dan menyantapnya bersama."
Alexi menatap siomay yang menancap di garpunya seolah dia sedang berhadapan dengan gadis cantik bermata bulat kekasihnya. Pemuda itu bertanya-tanya dalam hati. "Zike, kamu sedang apa sekarang ini? Baru beberapa jam saja rasanya rinduku sudah seberat ini."
Alexi segera tersadar dari lamunannya saat mendengar suara langkah kaki bersepatu mendatangi mejanya. Pemuda itu mengurungkan niat membuka syal hitam yang masih melekat di wajah tampannya.
...Bersambung...
__ADS_1