Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
PERMAINAN 1


__ADS_3

"Ikutlah denganku bermain!" ajak Ye Lu sembari melemparkan busur ke arah Jing Xuan yang segera menangkapnya dengan sigap.


"Maaf, Lu-Lu! Aku ingin bertemu bibi terlebih dahulu." Jing Xuan memang bukan hanya beralasan, tetapi dia memang sangat ingin bertemu bibinya.


"Bukankah itu bisa nanti saja?" Ye Lu tidak mau tahu. "Cepat ikut aku!"


Jing Xuan masih dalam keadaan bingung. "Eeehh ...."


"Tunggu apa lagi?" Ye Lu menyeret lengan Jing Xuan dan hendak membawanya pergi dari tempat tersebut. Tentu saja perbuatannya menarik perhatian banyak orang, tetapi mereka tidak begitu memedulikan hal tersebut dan tetap melanjutkan kegiatan masing-masing.


"Tapi, Lu-Lu. Aku sedang mencari bibi!" Jing Xuan protes saat Ye Lu terus menarik tangannya hingga menjauh dari tempat yang semula akan ia tuju. "Aku harus bertemu bibiku terlebih dahulu."


"Sudaaaah! Itu kan bisa nanti saja. Ada yang lebih menarik daripada selain bertemu Bibi Lan." Ye Lu memang tidak akan pernah peduli apa pun lagi jika sudah berkeinginan. Gadis berusia enam belas tahun itu terus menyeret Jing Xuan.


Jing Xuan benar-benar merasa sial hari ini, karena harus bertemu dengan gadis yang berusia hampir sebaya dengannya tetapi memiliki kebiasaan yang sangat tidak menyenangkan. Ye Lu begitu nakal dan hampir sama dengan kenakalan Ye Kai pada waktu sebelum menikah dengan Mei Lan. Namun meski demikian, Ye Kai dan Me Lan tidak pernah memberikan hukuman kepada keponakannya ini.


"Ssstt ... aku punya pertunjukan yang menarik!" ujar Ye Lu yang mmbawanya ke suatu tanah lapang yang luas. "Lihat di sana itu!"


Ye Lu menunjuk ke arah beberapa orang pria yang berbaris di tengah lapangan sambil menggigil ketakutan. Mereka adalah orang-orang yang pernah berurusan dengan Jessey Liu hingga membuat orang nomor satu di Sekte Elang Emas itu dituduh sebagai pencuri. Ye Kai sengaja membiarkan Ye Lu yang memberi hukuman kepada orang-orang tersebut.


Tentu saja itu adalah hal yang sangat sial bagi para pelayan pria, ketika yang dijatuhi tugas menghukum mereka adalah nona kecil ini. Mereka sangat mengenal nona dengan segala kejahilannya yang telah berulang kali membuat ulah.


"Lihatlah! Nona Kecil benar-benar mengambil busur!" seru salah seorang pesakitan dengan wajah takut hingga lututnya terasa goyah.


"Celakaa!" seru yang lainnya.

__ADS_1


"Apa yang akan dia lakukan terhadap kita?" tanya yang lain, juga dengan tubuh gemetaran. "Dia tidak akan bermaksud melakukan hal yang tidak-tidak, kan?"


"Entahlah." Pelayan pria bertubuh gempal menyahut sambil terus menatap kedatangan dua orang yang semakin mendekat ke tempat mereka.


"Ada tuan muda juga!" seru yang lain. "Lihat! Bukankah Itu Tuan Muda Jing?"


Mereka mengamati orang yang sedang berjalan bersama Ye Lu. Tentu saja para pelayan sudah sangat hafal dengan sosok pemuda tampan bertubuh setinggi 189 senti meter tersebut. Selain dikenal baik, Jing Xuan memang selalu bersikap ramah terhadap siapa saja.


"Benar. Itu memang tuan muda dan semoga saja dia bersedia menyelamatkan kita!" Pelayan pria bertubuh kurus terlihat menaruh harapan kepada Jing Xuan.


Sementara itu, Jing Xuan yang telah tiba di tengah lapangan merasa heran dan bertanya, "Apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah para pelayan ini seharusnya sedang bertugas?"


Ye Lu meletakkan keranjang berisi banyak anak panah dengan seenaknya dan menyebabkan benda-benda tersebut berserakan di atas tanah berumput, sedangkan dia sendiri mulai memasang salah satu anak panah dan menarik busur hingga terentang lebar serta siap untuk membidik sesuatu.


"Mereka semua sedang bebas tugas dan paman memberikan padaku untuk dihukum." Ye Lu berkata dengan suara tanpa beban sama sekali. "Aku akan menjadikan mereka semua sebagai bahan latihan yang menyenangkan!"


"Hei, kamu! Cepat ceritakan apa kesalahan yang telah kalian lakukan, sampai-sampai kalian harus berakhir di tanganku!" perintah Ye Lu sambil mengarahkan mata panahnya ke arah orang yang dia perintahkan.


"No-Nona, jangan bidik saya!" Pria yang menjadi arahan mata anak panah, seketika menjadi sangat ketakutan hingga tubuhnya menggigil


"Aku suruh kamu bercerita, bukan malah memintaku!" Ye Lu membentak sambil melepaskan anak panah seolah tertuju kepada pelayan pria tersebut. Anak panah melesat tanpa terkendali dan hampir saja mengenai leher pelayan pria yang sudah sangat ketakutan. Namun, ternyata dia tengah membidik papan dart bercat lingkaran-lingkaran berwarna-warni seperti pelangi yang ada di belakang pelayan pria tersebut.


"Nonaaaaa!" Pelayan pria menjerit dengan tubuh dibanjiri oleh keringat. Betapa ketakutan teramat sangat atas ulah Ye Lu yang sedang bermain-main tanpa memedulikan perasaan orang lain.


Para pelayan pria lainnya pun merasa sangat ketakutan atas apa yang dilakukan oleh nona kecil ini. Andai saja bukan karena mereka memang telah melakukan kesalahan, tentunya mereka sudah memilih lari atau melawan saja.

__ADS_1


"Haaaa! Menyenangkan!" Ye Lu tersenyum puas dengan hasil bidikannya yang hampir tepat sasaran. Gadis itu memandangi anak panahnya yang menancap pada papan dart.


"Lu-Lu, kamu hampir membunuhnya!" Jing Xuan membentak dan merasa frustrasi juga melihat ulah Ye Lu terhadap pelayan pria tersebut.


"Ini baru permulaan dan aku belum menghukum mereka semua." Ye Lu berkata dengan nada santai. "Eh, ke mari!"


Ye Lu kemudian membisikkan sebuah ide permainan yang sangat tidak masuk akal, yaitu dengan menggunakan kedelapan orang pelayan pria sebagai sasaran hidup seperti yang dia lakukan tadi. Tentu saja Jing Xuan sangat tidak menyetujui peraturan yang diterapkan oleh gadis ini.


"Nah, bukankah itu sangat menarik?" Ye Lu tersenyum penuh misteri yang akan membuat bulu kuduk siapa pun meremang.


"Aku menolaknya! Lebih baik kamu bermain sendiri saja!" Jing Xuan merasa tidak tega dengan kedelapan orang pria yang akan menjadi sasaran kejahilan Ye Lu.


"Tuan Muda Jing, tolong selamatkan kami!" Pelayan pria bertubuh kurus memohon dengan wajah memelas.


"Benar, Tuan Muda! Tolong selamatkan kami semua!" Yang Lainnya ikut meminta pertolongan.


"Berani meminta pertolongan darinya?" Ye Lu bertanya dengan nada sinis kepada para pelayan yang telah dipasrahkan kepadanya.


Para pelayan semuanya terdiam dan menundukkan kepala mendengar pertanyaan Ye Lu yang mengandung ancaman.


"Apa kamu juga berani menolong mereka semua dari tanganku?" tanya Ye Lu sambil bersedekap dan menatap Jing Xuan. "Ingatlah, Ah Xuan! Mereka semua telah diberikan padaku, jadi kamu tidak berhak membebaskan mereka semua!"


"Lu-Lu! Kurasa kamu memang sudah keterlaluan!" Jing Xuan merasa geram.


"Keterlaluan? Keterlaluan bagaimana?"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2