
"Mereka bahkan membayar tempat ini untuk mereka secara pribadi?" Jean bertanya daam hati sambil memikirkan betapa kayanya kelompok ini. Pikiran tamak akan harta pun segera berkeliaran dalam benak para wanita penghibur tersebut. "Aku harus bisa mendapatkannya!"
"Maaf, Tuan-Tuan. Meskipun demikian, bukankah tidak ada salahnya kalau kami berdua berkenalan dengan para Tuan-Tuan yang gagah ini?" Merry yang cantik gemulai mulai melancarkan jurus rayuannya dan dengan nakal pula dia meliukan tubuhnya bak cacing kepanasan. "Tuan-Tuan semua bisa bersenang-senang dengan kami yang akan melayani segala kebutuhan Anda. Bagaimana?"
"Dan khusus untuk pria muda yang di sana itu ... kami akan memberikan tips lebih yang special dan sangat memuaskan." Merry menyambung ucapannya masih dengan tingkah genitnya yang menggoda.
Salah seorang pengawal dengan marah membentak, "Lancang!"
"Pergilah! Kami tidak membutuhkan orang-orang seperti kalian untuk menemani kami." Pengawal muda bertubuh tinggi besar dan berwajah garang mengusir kedua wanita itu dengan sorot mata menakutkan.
Salah seorang pengawal maju ke depan beberapa langkah dan berbisik, "Dengar Nona, segeralah menyingkir sebelum majikan kami memberi perintah untuk menyingkirkan Nona ke alam sana."
Bisikan lembut itu berhasil meremangkan bulu kuduk kedua wanita yang tampak sangat penasaran dengan Alexi. Mata keduanya masih mencuri-curi pandang ke arah pria yang terlihat tidak memedulikan kehadiran mereka.
"Heh! Pengawal rendahan seperti kalian beraninya mengancam dan menghalangi kami!" Jean sedikit maju sambil berkacak pinggang dan sengaja membusungkan dada, lalu berbicara dengan angkuhnya. "Kalian tidak tahu siapa kami rupanya!"
"Kami memang tidak perlu tahu siapa Anda, Nona! Itu sangat tidak penting bagi kami dan tidak ada pengaruhnya sama sekali!" ujar pengawal yang berhadapan secara langsung dengan Jean. "Pergilah sebelum kami berubah pikiran!"
"Dengar, Tuan Pengawal Bodoh! Kami hanya ingin melihat dari dekat saja pria yang di sana itu." Jean si angkuh menunjuk ke arah Alexi yang sama sekali tidak memperhatikan jalannya perdebatan tersebut.
"Kalau begitu, Nona lewati dulu kami!" seru pengawal berbadan tinggi sambil menyeringai sinis.
"Kalian pikir kami takut?" Jean tiba-tiba saja maju dengan kepalan tangan yang ia layangkan dengan kekuatan penuh pada pengawal bertubuh tinggi besar. Namun sebelum kepalan tangan itu sampai pada tujuannya, sebuah tangan dengan sigap dan berkali lipat lebih cepat dari gerakan Jean berhasil menyambar serta menggenggam kuat-kuat tangan milik Jean.
"Awwhhh! Sakiiiit!" Jean menjerit kesakitan saat merasakan pergelangan tangannya bagai diregam tangan bertulang besi. Jean memberontak dengan sekuat tenaga "Lepaskan!"
Ringis kesakitan berhasil merusak wajah cantik Jean yang berlapis make up tebal. Tanganya masih dicengkeram dengan sangat kuat hingga akan meninggalkan bekas merah kebiruan pada akhirnya. "Lepaskan akuuuu!"
Walaupun memberontak dengan sekuat tenaga, akan tetapi cengkeraman itu terlalu kuat untuk ukuran tenaga seorang wanita tanpa ilmu bela diri seperti Jean.
"Tuan, tolong lepaskan kawanku itu!" Merry akhirnya memohon karena tidak tega melihat Jean yang mulai me
"Dengan senang hati, Nona!" Pengawal berbadan tinggi besar hanya sekali sentak saja untuk membuat Jean jatuh menimpa meja lainnya.
__ADS_1
"Jeaaaan!" teriak Merry yang melihat kawannya jatuh. Dia segera berlari dan membantunya berdiri. "Jean! Kamu tidak apa-apa?"
Jean berusaha bangkit dari jatuhnya sambil memegangi pinggang yang terasa sakit akibat menimpa meja dan kursi, hingga benda-benda itu terguling tak beraturan. Wanita itu meradang marah seraya mengumpati para pria yang telah berani menolak dan menjatuhkannya. "Siaaaaal!"
"Jean, apa tidak sebaiknya kita pergi saja?" bertanya Merry dengan nada khawatir akan sikap kawannya ini yang terkenal mudah marah dan suka mendendam. "Jean, sebaiknya kita mundur dan mengalah saja!"
"Apa katamu?" Jean bertanya dengan nada bentakan. "Mundur dan mengalah?"
"Jean sudahlaaah! Kita bukan lawan mereka semua!" Merry lebih memilih untuk tidak melakukan keributan dengan kelompok orang asing yang jelas-jelas bukan tandingan mereka.
"Aku tak peduliiii!" Jean berteriak seperti orang gila hanya karena diperlakukan yang menurutnya itu sangat merusak reputasi sebagai wanita penggoda nomor satu di hotel tersebut.
"Mereka dengan terang-terangan menolakku dan aku tidak suka ditolak oleh siapa pun!" Jean benar-benar merasa sangat terhina atas penolakan para pengawal tersebut. "Dan mereka yang menolakku akan menerima akibatnya!"
"Jeaaan! Jangaaaaan!" Merry berusaha menghentikan kawannya dengan cara menyambar lengan Jean dan menariknya ke belakang.
Akan tetapi sang kawan tetap memberontak dengan sekuat tenaga. Wanita itu pun terlihat sangat marah. "Lepaskaaan aku, Merry! Aku akan menghajar mereka semuaaa!"
Jean dengan sikap gagah disertai kemarahan kembali mendekati para pria yang menunggu wanita pengganggu yang sering membuat resah para pengunjung hotel dengan cara merayu siapa saja yang memiliki tampang bermuka harta.
"Minggir kalian semua! Aku sangat ingin tahu, seperti apakah orang yang kalian lindungi itu!" teriak Jean dengan lantang. "Hei, pria bercadaar! Keluar dan tunjukan dirimu sekarang jugaaa!"
Wanita muda dan cantik itu ingin menerobos barisan para pria dan jika perlu melakukan penyerangan sekali lagi kepada empat orang pengawal yang masih berdiri tegak memblokir jalan.
"Pergilah, wanita murahan! Tuan kami terlalu berharga untuk kau lihat!" Salah seorang pengawal membentak penuh kemarahan.
"Dasar pengawal sialan! Aku yakin tuan kalian hanyalah seseorang yang tidak berani menampakkan dirinya di hadapan kami!" Jean berteriak dengan suara lantang. "Cepat panggil majikan kalian itu!"
Tak ada sahutan atau jawaban dari para pria yang berdiri siaga dengan wajah tanpa ekspresi apa pun. Hal itu semakin membuat Jean merasa geli ada merasa sedikit di atas angin.
"Apakah tuan kalian itu benar-benar seorang pengecut?" tanya Jean sambil berkacak pinggang dengan congkaknya.
Wanita itu dengan berani menjentikan jemarinya di depan wajah para pengawal sambil berucap lirih namun bernada penghinaan yang teramat dalam. "Pe ... nge ... cut, pe-nge-cut."
__ADS_1
"Pengecut! Jean tertawa terbahak-bahak setelah merasa berhasil mempermalukan kelompok orang-orang tak dikena ini di depan para pengunjung hotel.
Segara menjadi gusar akan tingkah Jean yang tidak menggunakan adat kesopanan sama sekali. Entah memiliki latar belakang seluar biasa apa wanita ini hingga dengan berani melakukan tindak penghinaan yang sudah jauh melampaui batas.
"Tuan Muda, biar kubungkam saja mulut comberan wanita itu!" Segara segera berdiri namun terdengar suara Alexi yang mencegahnya.
"Biarkan saja orang-orang itu yang melakukannya."
Namun, salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas hitamnya.
Suara tembakan pistol yang diarahkan ke atas pun seketika berhasil membungkam mulut wanita
"Stop!" suara seorang pria menghentikan ocehan Jean dan Merry yang sedang memarahi para pengawal. "Ada apa ini?"
"Tuan Manager!" Jean dan Merry berlari dan bersembunyi di belakang punggung pria memakai setelan jas coklat, berbadan gendut dengan perut buncit yang membuatnya terlihat semakin bulat.
"Tuan Manager, mereka semua mengganggu kami!" Jean mengadu sebuah kebohongan kepada orang yang memiliki posisi tinggi di hotel tersebut.
"Benar sekali, Tuan Manager! Mereka memaksa kami berdua untuk melayani semua orang. Bukankah itu adalah tindakan keji dan sangat tidak senonoh sekali?" Merry sengaja menambahkan minyak tabah pada api yang disulut oleh Jean.
Sang manager hotel melirik kecil kepada dua wanita yang sedang menjadikan dirinya tameng. "Benarkah apa yang kalian katakan itu?"
"Benar, Tuan Manager. Mereka mencoba membujuk dan terus memaksa kami agar mau menjadi pelayan malam ini." Jean memperlihatkan pergelangan tan
"Oh benarkah?" tanya manager gendut seraya mengangkat salah satu alisnya dan melihat ke arah para pria berseragam serba hitam.
"Maka, mari kita beri pelajaran kepada mereka yang sudah tidak tahu diri itu!" Manager gendut mengajak dua wanita cantik berjalan mendekati meja Alexi.
"Humph! Rasakan oleh kalian semua para pria sialan!" umpat Jean dengan penuh kemenangan. "Sekarang, kalianlah yang terancam!"
Bagaimana nasib Alexi dan rombongannya?
...Bersambung...
__ADS_1