
"Jika kau benar ingin mengetahui dan mengenalnya. Maka datanglah bersama dengan Kakek untuk memenuhi undangan ini bulan depan." Ki Surya Praja menyodorkan undangan yang sejak tadi berada di hadapannya.
Alexi menatap gulungan kertas itu dengan rasa penasaran. Dia bertanya, "Undangan apa ini, Kek?"
"Buka dan bacalah!"
Alexi meraih gulungan kertas undangan itu dan membacanya dalam hati. Sebuah undangan pertemuan untuk semua sekte bela diri di Provinsi Guang. Bisa dipastikan, akan ada banyak para tamu penting hadir dalam acara tersebut.
"Pertemuan Tujuh Matahari," gumam Alexi.
Alexi Memikirkan tingkat kultivasinya yang masih di tahap tiga pembangunan dasar. Hal tersebut membuatnya tiba-tiba menjadi sangat takut. Dia merasa malu untuk menghadiri acara yang hanya diadakan lima tahun sekali itu. Dalam pertemuan itu, para pemimpin sekte dengan bangganya akan memperkenalkan penerus mereka.
Pada pertemuan rutin sekte besar sudah bisa dipastikan, akan banyak sekali para master bela diri yang datang dengan para calon pewaris kebanggaannya. Masing-masing dari mereka sudah barang tentu ingin memperkenalkan para tuan mudanya kepada dunia persilatan sebagai putra kebanggaan sekaligus penerus sekte di kemudian hari.
Pada rincian undangan juga tertulis tentang semua jadwal kegiatan dalam acara besar tersebut. Duel adu ketangkasan adalah hal yang paling ditakuti oleh Alexi. Pertandingan bela diri para tuan muda dari masing-masing sekte itu menjadi sesuatu yang sangat mengerikan baginya. Terlebih jika dia ingat tentang tuan muda dari Sekte Elang Emas yang kabarnya sangat hebat dan begitu disanjung di dunia persilatan.
Alexi sekarang merasa dirinya tak lebih dari seonggok sampah tak berguna. Dia membayangkan dia tak berdaya di tengah-tengah para master bela diri yang mungkin akan mengalahkan dan menyudutkanya.
"Jadi, inikah alasan mengapa ayah sangat ingin aku mempelajari semua ilmu Sekte Sanca Perak?" Alexi bertanya dalam hati.
"Bagaimana Ale?" bertanya Ki Surya Praja dan berhasil menyadarkan Alexi dari lamunannya.
"Kek, biarkan aku memikirkannya," ucap Alexi lirih.
Ki Surya Praja mendesah perlahan. Bagaimanapun lelaki tua itu tidak ingin memaksakan kehendaknya. Dia cukup mengerti dengan keadaan cucunya dengan kemampuan bela diri yang masih belum cukup. Namun, di dalam hati pria tua itu telah bertekad untuk membantu cucunya menerobos tingkat kultivasi yang lebih baik lagi.
"Baiklah, kakek akan menunggu jawabanmu. Pikirkanlah baik-baik tawaran kakek!" Pria tua itu bangkit dari duduknya.
"Ini kesempatanmu, Ale!" Ki Surya Praja menepuk bahu cucu lelaki satu-satunya seraya mendesah dan berkata, "Jika kau ingin meningkatkan kultivasimu. Kau bisa menemui kakek nanti malam di ruang meditasi."
Alexi hanya bisa diam dan tak menyahut. Namun, tentu saja dia tak akan berani berkata tidak. Anak muda itu hanya menganggukan kepalanya dengan gerakan pelan.
Alexi Membaca kembali gulungan kertas merah marun yang masih dipegangnya. Sebuah undangan yang mengharuskan dirinya datang untuk diperkenalkan kepada dunia martial art sebagai calon pewaris utama Sekte Sanca Perak.
Ni Sendari menggenggam punggung tangan Alexi yang dingin. Sentuhan kulit keriput sang nenek, ternyata cukup mampu memberi kehangatan dan semangat kepada cucunya.
"Nek, bagaimanapun aku harus datang dalam acara itu," ucap Alexi dengan tatapan sendu.
"Itu terserah padamu, Cucuku," jawab sang nenek lembut.
"Jujur saja, Nek. Aku sangat bingung untuk memutuskannya. Aku telah menyia-nyiakan waktuku tanpa berlatih dengan serius. Aku telah mengecewakan orang tuaku." Alexi menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Bagaimanapun, ada penyesalan dalam hatinya yang telah mengabaikan perintah sang ayah.
"Aku memang harus bersikap sebagaimana mestinya seorang tuan muda. Aku tak bisa terus bersembunyi dari dunia bela diri. Kehormatan Sanca Perak sudah semestinya kujunjung setinggi mungkin," ucapnya lagi.
"Kau benar Ale, Nenek rasa mulai saat ini kau harus menjadi seorang pria yang kuat dan berani." Ni Sendari berdiri dari duduknya.
"Aku tak mungkin tega mempermalukan kakek. Aku akan berlatih lagi, Nek," kata Alexi.
"Nenek dan kakek akan selalu mendukungmu," ujar sang nenek.
"Cucuku Sayaang. Semua demi kebaikanmu dan masa depan sekte ini. Dia yang mengalahkan orang lain adalah kuat. Dia yang menaklukkan dirinya sendiri adalah perkasa." Ni Sendari mengusap dengan lembut rambut panjang dan halus yang tumbuh lebat di kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Mmm, aku mengerti Nek." Alexi mengangguk.
__ADS_1
"Beristirahatlah, Ale! Nenek juga ingin merebahkan diri ... nenek lelah sekali," ujar Ni Sendari.
"Baiklah, Nek. Selamat beristirahat!" Alexi bangkit dari duduknya. Dengan lembut dia menggandeng tangan wanita tua itu dan memampahnya hingga sampai ke dalam kamar.
Setelah mengantarkan sang nenek, Alexi dengan gontai kembali ke kamar yang telah menjadi tempat bermalamnya sejak dia masih kecil. Pemuda tampan berambut panjang itu membuka pintu kamar dan masuk dengan langkah lunglai.
Saat baru saja Alexi menutup pintu. Matanya langsung tertuju pada lukisan daun maple yang sengaja tak ditempelkannya di dinding. Alexi membawa lukisan sebagai pengobat rasa rindu kepada gadis pembuat lukisan itu. Alexi duduk di atas kursi dan menghadap meja berukuran sedang dengan lukisan daun maple di atasnya. Jemari tangannya menyusuri kaca figura yang halus dan bersih. Wajahnya terlihat sangat sedih akibat memikirkan banyak hal.
Ponsel Alexi yang tergeletak di hadapannya tiba-tiba bergetar. Dengan cepat Alexi meraih alat komunikasi itu untuk mrnerima sebuah panggilan dari Segara.
"Hallo, Segara! Bagaimana?" tanya Alexi dengan nada tak sabar.
"Maaf, Tuan Muda. Kami belum juga menemukan keberadaannya. Kemungkinan, dia memang sudah tidak tinggal di Kota Wu Shang ini," jawab Segara dari seberang sambungan telepon.
Alexi sangat kecewa dengan perkataan Segara. "Apakah sudah kalian selidiki semua tempat kost dan kontrakan atau penginapan-penginapan yang ada di Kota ini?"
"Sudah, Tuan Muda, bahkan di tempat paling ujung pun sudah kami selidiki. Dan tidak ada satu pun gadis yang bernama Zike maupun Zain Kamila," jawab Segara.
"Di mana kamu, Sayang?" tanya batin Alexi.
"Tuan Muda, kami harus bagaimana?" tanya Segara dari seberang telepon.
"Tuan Muda! Apakah kami harus melanjutkan pencarian ataukah kami kembali saja?" Segara bertanya lagi.
"Tuan Muda!" seru Segara lagi.
"Oh, ya ya ... maaf!" Alexi sedikit tergagap akibat kaget.
"Baiklah, Tuan Muda. Saya akan segera kembali," kata Segara.
"Mmhh, bye Segara!"
"Bye juga, Tuan Muda!"
Alexi menutup sambungan teleponnya. Layar ponselnya masih menyala, menampakan gambar seorang gadis cantik pujaan hatinya.
"Zike, kamu di mana sebenarnya? Mengapa aku belum juga menemukan jejakmu?" tanya Alexi pada dirinya sendiri.
Pemuda itu bangkit sembari membuka baju atasannya, menampakan bentuk badan atletis dengan kulit putih bersih terawat. Alexi berjalan menuju ke tempat tidurnya dan segera merebahkan diri di atas ranjang kayu.
Alexi memejamkan kedua matanya dan berusaha tidur. Dia sangat ingin bermimpi bertemu dengan kekasihnya walau hanya sejenak saja.
Alexi benar saja telah terlelap dalam waktu singkat dan mungkin karena pikirannya yang terlalu memikirkan Zike. Maka, dia pun benar-benar bermimpi bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Tampak dalam mimpi itu, Alexi dan Zike bertemu di sebuah padang rumput ilalang yang tengah berbunga. Mereka berada di sebuah puncak bukit yang sangat besar dan tinggi.
Pemandangan dari tempat mereka berpijak sungguh sangat memukau. Sebuah bukit besar yang memiliki tiga bukit kecil di sekelilingnya sebagai pendamping. Tempat itu laksana syurga dengan gugusan deretan pegunungan lain yang berbaris rapi dari ujung barat hingga ke timur menyongsong matahari terbit.
Dalam mimpinya, Alexi melihat Zike berjalan beriringan dengan serombongan orang yang tak begitu jelas wajahnya. Namun, mereka semuanya tampak memakai pakaian yang sama. Zike dan kawan-kawannya memakai seragam sebuah perguruan bela diri. Tatapan keduanya bertemu, saat tanpa sengaja Zike menoleh ke arah Alexi.
"Zike!" seru Alexi dengan wajah gembira.
"Ale?" Zike menghentikan langkahnya. Keduanya segera berlarian saling menghampiri dan berpelukan untuk melepas rindu yang telah lama mereka simpan.
"Zike, ke mana saja kau selama ini?" tanya Alexi sambil memeluk gadisnya. Di kecupnya berkali-kali puncak kepala gadis dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku tidak ke mana-mana, Ale. Aku selalu menunggumu di sini," jawab Zike sambil menggerakan kepalanya dan mendongak untuk menatap wajah Alexi.
"Di sini?" Alexi merasa heran.
"Mmhh. Di tempat ini ... tempat di mana banyak matahari saling menunjukan cahaya terangnya." Gadis itu tersenyum.
"Benarkah?" Alexi bertanya.
Zike menganggukan kepalanya dan berkata, "Ale, kita akan bertemu di sini. Aku menunggumu!"
"Baiklah, tunggu aku. Aku pasti datang untuk menemukanmu, Sayang!" ujar Alexi seraya mencium lembut kening gadis itu. Tangan kokoh Alexi melingkar ke belakang leher Zike yang terlihat pasrah dalam rengkuhannya. Alexi kemudian mencium kedua pipi Zike yang mulai memerah dengan kedua mata terpejam. Pada detik berikutnya, bibir mereka telah bersatu saling bersilat lidah dan bertukar saliva untuk waktu yang cukup lama.
"Zike ... aku menyukaimu! Sangat menyukaimu!" Alexi menggerunyam (Di luar mimpi)
Dalam mimpi itu, Alexi masih terus menikmati pergulatan bibir dengan Zike yang juga *****4* bibirnya dengan ganas. Sehingga bibir mereka bagai kebas tanpa rasa lagi. Napas keduanya bagai saling berkejaran, tersengal dan berbaur dalam lautan asmara. Tangan Alexi mulai bergerilya. Tangan itu menjelajah liar di setiap celah dari tubuh gadis yang masih pasrah dalam pelukannya. Pasangan kekasih itu sudah sama-sama terbakar dalam api g4ir*ah tanpa terkendali lagi.
"Zikeee!" Sebuah suara memanggil dengan nada dingin dan berwibawa yang membuat aksi mesra keduanya terhenti seketika.
"Ale ... ada yang memanggilku. Maaf!" Zike secara tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mendorong dada Alexi dengan cukup keras. Pelukan Alexi pun terlepas. Tubuhnya jatuh bergulingan di atas rerumputan.
"Zikeeee! Jangan tinggalkan aku!" teriak Alexi. Dia hanya bisa menatap nanar ke arah gadisnya. Zike terus berlari menjauh dan bergabung kembali bersama dengan kawan-kawannya yang masih setia menunggu gadis itu.
"Zikeeeee!" teriakan Alexi sampai keluar dari alam bawah sadarnya.
Pada saat yang sama, tubuh Alexi teguling dan jatuh ke atas lantai. Pemuda itu terjaga dari buaian mimpinya karena terkejut. Beberapa kali Alexi mengerjapkan kedua matanya dengan kebingungan. Alexi memegangi kepalanya yang terasa sedikit pening. Dia mendapati dirinya sudah tidak berada di tempat semula.
"Sial! Ternyata hanya mimpi!" umpat Alexi sambil menggeliat di atas lantai yang dingin dengan masih memeluk sebuah bantal guling.
"Aaaahh!" Pemuda itu meringis saat merasakan sebagian tubuhnya yang sakit akibat terjatuh dari atas dipan kayu. Namun, yang paling mengejutkannya adalah, karena ternyata celananya juga telah basah oleh sesuatu.
"Ya Tuhaaaan! Apa-apaan ini?" Alexi meraba bagian depan celana tempat miliknya berada.
"Siaaaal! Di siang hari begini?" Alexi bangkit dari lantai seraya melempar bantal guling secara sembarangan hingga mengenai sebuah poci teh yang ada di atas meja. Terdengarlah suara benda jatuh yang mengagetkan.
"Astagaa! Apes lagi dah gueeee!" Alexi menatap nanar pada pecahan poci keramik dan air teh yang berhamburan ke mana-mana.
"Aleee! Aleee! Ada apa?" Ni Sendari berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan keras dan tergesa-gesa. Suara benda pecah belah terjatuh dari dalam kamar cucunya membuat wanita tua itu kaget bukan main.
"Alee! Buka pintunyaaa! Kamu tidak apa-apa, kaan?" tanya Ni Sendari dengan nada khawatir.
Alexi yang mendengar suara panggilan sang nenek segera menjawab, "Ya, Neeek! Aku tak apa-apa!"
"Zike, Zikeeee ... ini semua karenamu!" Alexi bersungut-sungut.
"Awas saja nanti! Kalau aku bertemu denganmu. Maka, aku benar-benar melakukan hal itu!" Ancam Alexi dalam hati. Tanpa sadar Alexi tersenyum-senyum saat mengingat mimpi musim semi yang baru saja dialaminya.
Pintu kamar terbuka. Mata Ni Sendari terbelalak lebar melihat keadaan kamar Alexi yang berantakan. Wanita tua itu menatap dengan heran ke arah cucunya yang masih berdiri dengan celana basah.
"Ale! Kamu?"
...Bersambung...
__ADS_1