Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
BIARKAN MENGALIR


__ADS_3

"Untungnya aku dan dia sama-sama suka." Tanpa sadar Zike berucap. Bayangan wajah kekasihnya segera berkelebatan di depan mata. Seolah sedang melambai dan memaksa gadis itu untuk bergerak mengejarnya.


"Siapa yang Nona maksudkan itu?" tanya Suri dengan semakin heran. Gadis itu segera membereskan bekas tempat makanan yang baru saja dipakai oleh Zike.


"Dia adalah seseorang yang ...."


Zike menggantung ucapannya. Dia merasa bingung jika memberitahukan siapa Alexi. Gadis itu bahkan tidak tahu latar belakangnya, pekerjaannya atau di mana Alexi tinggal. Sungguh hal yang sangat lucu. Gadis itu bergumam dalam hati. "Ternyata aku telah mencintai pria asing!"


Suri menjadi sangat penasaran dengan ucapan yang tak juga dilanjutkan oleh Zike. "Yang apa, Nona?"


"Yang aku tidak tahu asal-usulnya." Zike menjawab dengan sangat jujur. "Aku bahkan tidak tahu dia tinggal di mana saat ini. Bukankah aku juga memiliki sebuah cinta yang buta?"


"Oh, benar juga. Tapi mungkin Nona lebih beruntung karena setidaknya dia menyukai Nona, sedangkan aku? Aku tak mungkin bisa meraih orang yang aku sukai, dia terlalu tinggi untukku." Suri kembali merasa sedih. "Sepertinya, aku memang harus melupakannya. Melupakan cinta pertamaku."


"Andai bisa membantunya." Zike membatin karena merasa iba pada gadis ini. Menjadi orang yang merasa putus asa memang bukan hal yang mudah.


Zike menggeserkan tubuhnya agar semakin mendekat pada Suri dan dengan lembut dia menggenggam telapak tangan gadis berbadan gemuk itu guna memberinya kekuatan. "Jangan putus asa, Suri. Mungkin untuk saat ini kamu belum bisa meraih atau melupakannya. Tetapi, bukan berarti kamu sedang tidak beruntung sama sekali. Bukankah segala hal bisa berubah sewaktu-waktu?"


"Berubah sewaktu-waktu? Berubah bagaimana?" bertanya Suri.


Zike menganggukan kepala seraya menjawab, "Mmh. Siapa tahu suatu saat keadaan berubah."


"Nonaaa! Aku semakin bingung," ujar Suri dengan wajah polosnya. "Aku tidak mengerti maksud Nona. Keadaan berubah bagaimana?"


"Maksudku adalah, mungkin saja kelak lelaki yang kamu sukai akan menyukaimu juga atau kalaupun dia bukan jodohmu, akan datang lelaki yang lebih baik segalanya dari pria yang kamu cintai saat ini," ujar Zike seperti layaknya orang yang sudah dewasa saja. Padahal dari segi usia, jelas-jelas sangat jauh antara Zike dan Suri.


"Oooh, jadi seperti itu." Suri mengangguk-anggukan kepalanya sembari memikirkan ucapan Zike. "Rasanya sangat tidak mungkin kalau dia akan menyukaiku. Aku tahu sendiri batasan dan kekuranganku."


"Tapi untuk saat ini, aku belum bisa melupakannya. Bagaimana ini?" bertanya Suri dengan perasaan sedih. "Tak bisa meraihnya atau melupakannya."


"Suri ... biarkan saja semua mengalir seiring waktu. Jangan dipaksa untuk melupakannya, karena itu akan membuatmu semakin sakit hati dan putus asa," ujar Zike sambil masih menggenggam tangan Suri.


"Biarkan saja mengalir. Sepertinya kali ini Nona benar. Aku tak bisa terus melawannya. Biarkan saja sementara ini dia terus mengisi hari-hariku," ujar Suri dengan wajah sendu.


Meskipun hatinya terasa sangat pilu saat mengatakan hal tersebut, tetapi dia juga tidak berdaya dengan perasaannya saat ini.


"Kamu pasti bisa, Suri!" ucap Zike dengan nada meyakinkan. Keduanya saling pandang dan larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Di Sekte Sanca Perak.


Siang itu juga, Alexi benar-benar berpamitan pada sang nenek untuk secepat mungkin berangkat ke Teluk Kura-Kura di mana pertambakan kerang mutiaranya ada di sana. Berita tentang pencurian kerang mutiara yang tak terhitung jumlahnya telah berhasil menganggu pikiran pemuda itu.


"Alee! Tidak bisakah ditunda dulu keberangkatanmu ke Teluk Kura-Kura?" bertanya Ni Sendari sambil merapikan benda-benda milik Alexi dan memasukannya ke dalam tas ransel besar.


"Tidak, Nek. Aku harus melihat sendiri tambak itu. Kerugianku tidak sedikit dan aku masih harus mencari modal tambahan untuk kelangsungan bisnisku. Kalau tidak, maka usahaku selama empat tahun ini agar bisa lepas dari bayang-bayang ayah akan sia-sia!" Alexi berkata sambil berjalan mondar-mandir. Dia tengah menghubungi seseorang yang sangat penting baginya.


"Tapi, apakah kakekmu setuju?" tanya Ni Sendari yang merasa sangat keberatan melepas cucu kesayangannya ini.


"Semoga saja, Nek. Ini masalah besar bagiku. Aku tidak bisa membiarkan begitu saja semua ini terjadi. Siapa pun orangnya, dia harus segera diringkus dan mempertanggung jawabkan perbuatannya!" Alexi berkata dengan nada berapi-api. Wajahnya masih terlihat menahan emosi.


"Lalu, bagaimana dengan gadis itu?" Ni Sendari mengingatkan akan keberadaan Garnis.


"Tinggal Nenek suruh pulang saja dia! Bukankah dia punya rumah yang seharusnya dia tinggali dan bukan terus berada di tempat orang yang bukan siapa-siapa baginya?" Alexi yang berada di dekat meja langsung menyambar gelas dengan tangan kanannya yang masih memakai handsock hitam.


"Mana bisa begitu, Ale? Dia itu ke mari juga atas ijin dari ayahmu," ujar Ni Sendari. "Dan kita tak bisa secara sembarangan membuatnya tersinggung."


"Ayah lagi! Ayah lagi dan selalu ayah!" Alexi sungguh merasa sangat geram dengan apa pun yang dilakukan sang ayah atas dirinya. "Kurang puaskah ayah membuatku menderita?"


Ni Sendari hanya bisa mendesahkan napas panjang, bgaimanapun juga wanita itu sangat tahu akan penderitaan cucunya. "Sabarlah, Ale!"


Alexi berlagak seolah tangannya itu tidak sedang terluka dan dengan perasaan geram dia menekan kuat-kuat gelas dalam genggamannya. Anak muda itu berusaha sekuat tenaga menahan sakit akibat lukanya yang baru saja dilepas benang jahitnya oleh Abraham.


"Aww!" Alexi tanpa sadar menjerit akibat kesakitan atas ulahnya sendiri.


"Ternyata masih sakit juga!" seru Alexi dalam hati.


"Ale! Kamu kenapa?" Ni Sendari langsung menoleh ke arah cucunya.


Alexi terkejut dan langsung berpura-pura bersikap biasa saja sembari meletakan gelas kaca di atas meja. "Tidak ada apa-apa, Nek. Aku hanya sedang mencoba kekuatanku untuk meremukan gelas ini dan ternyata masih tidak berhasil," jawab Alexi sambil berusaha tersenyum, padahal dari dalam handsocknya telah mengalir cairan merah yang tersamarkan oleh warna hitam kain tersebut tanpa dia sadari. 


"Heehh, kau ini selalu saja membuat nenek kaget." Ni Sendari berucap seraya menggelengkan kepala dan mengelus dadanya yang telah menjadi berdebaran. Wanita tua itu lalu berpamitan pada sang cucu. "Nenek kembali dulu, jangan lupa nanti beritahu nenek kalau kamu akan berangkat ke teluk." 


"Baik, Nek!" Alexi beranjak dari tempat duduknya dan memeluk perut sang nenek dari belakang sambil bermanja-manja. "Aku sayang Nenekku yang cantik ini." 


Ni Sendari menepuk pipi cucunya dengan perasaan gemas. "Nenek juga sayang kamu, Ale."

__ADS_1


"Terima kasih, Nek. Setelah urusan selesai, aku pasti akan kembali ke mari." Alexi melepaskan pelukannya. "Mmhh, Nenek ingin kubawakan oleh-oleh apa?"


"Kain tenun songket asli, sutra atau apa saja yang Nenek inginkan?" bertanya Alexi guna menyenangkan sang nenek. "Atau semuanya saja akan aku bawakan untuk Nenek."


Alexi melepaskan pelukannya. Dia berharap sang nenek mengatakan keinginannya. Ni Sendari menggelengkan kepala dan berkata, " Nenek sudah tua, Ale. Nenek tidak menginginkan benda-benda apa pun. Nenek hanya berharap kamu pergi dan kembali dengan selamat dan itu sudah cukup bagi Nenek."


Alexi terdiam dan merasa terharu. Ketulusan kasih sayang neneknya, membuat pria itu sungguh menginginkan memiliki seorang pendamping hidup bersifat seperti sang nenek.


"Tapi, aku ingin membawakan Nenek oleh-oleh yang Nenek sukai." Alexi berusaha membujuk sang nenek. "Atau ... Nenek pilihkan sesuatu untuk kuhadiahkan pada seseorang."


"Hadiah untuk seseorang? Wanita?" tanya sang nenek dengan nada heran.


"Mmhh. Dia seseorang yang aku sukai. Nenek jangan katakan ini pada siapa pun, okay?" Alexi berucap dengan wajah tersipu dan memerah.


"Baiklah, nenek berjanji." Ni Sendari tentu saja merasa senang jika cucunya ini menyukai seorang gadis.


"Lalu, hadiah apa kira-kira yang mungkin disukai oleh seorang gadis?" Alexi bertanya lagi.


"Kamu pikirkan saja sendiri. Dia menyukai apa saja, bukankah kamu sendiri yang nengetahuinya?" Sang nenek malah balik bertanya hingga semakin membingungkan cucunya.


"Neneeeek!" Alexi terlihat cemberut hingga wajahnya terlihat semakin menggemaskan di mata Ni Sendari.


"Apa dia cantik?" tanya Ni Sendari tiba-tiba.


"Tentu saja dia sangat cantik. Kalau tidak, bagaimana aku akan menyukainya?" Alexi juga balik bertanya. Zain Kamilaku adalah gadis yang paling cantik di mataku selain Nenek, ibu dan juga Alexa."


"Zain Kamila?"


"Ya, Nek. Itu nama gadis yang aku sukai. Suatu saat aku akan membawanya ke mari untuk bertemu Nenek dan kakek," ujar Alexi dengan bersemangat.


Ni Sendari melihat Alexi yang terlihat sangat gembira saat menceritakan gadis bernama Zain Kamila. Wanita itu pun berucap dalam hati. "Sepertinya, dia sangat mencintai gadis itu. Semoga kalian bahagia, cucukku."


"Baiklah, nenek tunggu kedatangan gadis pujaanmu itu. Ingat, jangan terlalu lama, karena nenek juga sangat ingin mengetahui rupa gadis yang telah berhasil mengubah wajah cucu nenek ini menjadi semerah buah delima." Ni Sendari memang sengaja menggoda cucunya.


"Aaah, Neneeeek!" Alexi merasa semakin malu hingga wajahnya kembali bersemu merah. "Baiklah, aku akan membawanya ke mari secepatnya untuk bertemu dengan Nenek dan kakek."


Alexi tersenyum-senyum sendiri dan berucap dalam hati. "Apakah dia bisa seperti nenekku?"

__ADS_1


Suara sedeorang dari luar ruangan mengejutkan keduanya. "Kak Ale ..."


...Bersambung...


__ADS_2