
Pintu utama paviliun terbuka dan menampakan Ye Kai yang menunggu Zike sembari melihat-lihat bunga anggrek bulan. Pria itu tampak tengah meneliti tiap tangkai bunga hanya untuk menghilangkan kebosanannya.
"Shifu!" Zike cukup terkejut saat mengetahui siapa yang datang kali ini.
"Mengapa lama sekali?" Ye Kai bertanya tanpa mengubah posisinya yang sedang membelakangi sang murid.
Zike segera membungkukan badan. "Shifu, maafkan murid yang membuat Shifu menunggu terlalu lama!"
"Hmm. Apa yang sedang kamu lakukan di dalam sana?" bertanya Ye Kai sambil menyentuhi setiap kelopak anggrek bulan yang cantik.
"Eeehh ... aku-aku ... aku baru saja dari kamar mandi, Shifu." Zike menjawab dengan sedikit gugup dan bingung.
Ye Kai membalikan badannya dan berkata, "Cepat ambil dia ke mari!"
"A-ambil?" Zike menjadi gugup. "A-mbil si-siapa?"
"Siapa lagi? Kalau bukan anak harimau itu!"
"Bagaimana shifu bisa tahu kalau ada anak harimau di tempat ini?" Zike merasa heran. "Tapi ... bukankah itu bukan hal yang mustahil? Bisa jadi harimau itu adalah miliknya."
"Oh, anak harimau itu." Zike betusaha menutupi rasa gugupnya. "Dia tadi yang tiba-tiba sudah muncul di sini dan entah dari mana datangnus, Shifu."
"Aku tahu, maka dari itu aku sengaja datang ke mari untuk mengambilnya. Dia memang nakal sekali!" Ye Kai berkata sambil bersungut-sungut. "Cepatlah ambil dia! Pemiliknya sudah mencari dan menunggunya sejak tadi."
Zike pun berpikir, "Benar juga. Dia begitu lucu dan imut, tentu saja pemiliknya akan sangat kehilangan dia."
"Baiklah murid akan mengambilnya!" Zike berbalik tanpa mempersilakan gurunya untuk masuk ataupun minum teh.
"Murid macam apa dia? Bahkan tidak mempersilakan gurunya masuk untuk minum teh?" Ye Kai menggelengkan kepalanya berulang kali.
Ye Kai hanya menunggu di depan pintu tanpa ingin memasuki ruang paviliun. Bagaimanapun juga dia tahu akan batasan-batasan yang harus dijaga antara pria dan wanita. Sebagai seorang guru juga tentunya dia harus menjaga adat dan kesopanan yang harus dia tanamkan pula pada sang murid.
Zike sendiri segera bergegas memasuki kamar mandi untuk mengambil bayi harimaunya yang sedang meringkuk di dalam ember beralaskan selembar kain. Gadis itu dengan sangat berhati-hati mengangkat dan menggendongnya dengan perasaan sedih.
"Tygra, ternyata kita harus berpisah sekarang. Mengapa begitu cepat pertemuan kita?" Gadis itu berucap sembari membelai dengan lembut bulu-bulu halus milik binatang itu. Tygra pun dengan manja menggesek-gesekkan kepala ke tangan Zike seolah sedang menandai gadis itu dan mengenali aroma tubuh dan kulitnya.
__ADS_1
"Baiklah, apa boleh buat? Bagaimanapun juga, aku harus mengembalikanmu pada pemilikmu. Semoga saja kelak kita akan bertemu lagi." Zike mengecup dengan sangat lembut kepala harimau kecil itu dengan penuh perasaan sayang. "Kuharap kalau kita bertemu lagi kelak, kau tidak akan memakanku hidup-hidup."
Tak seberapa lama kemudian, Zike muncul dengan Tygra di dalam pelukannya dan segera menyerahkan binatang itu pada Ye Kai. "Ini, Shifu!"
Ye Kai menerimanya dengan perasaan agak sedikit geli. Dia merasa sedikit takut dengan binatang berbulu. "Terima kasih, Muridku!"
"Sama-sama, Shifu," sahut Zike sambil menatap penuh kesedihan pada anak harimau putih yang sangat lucu. "Mmmh, Shifu. Sebenarnya, siapakah pemilik anak harimau ini?"
"Oh." Ye Kai menjawab sambil membetulkan letak anak harimau dalam gendongannya. "Ini milik Master Liu."
"Oohh, pantas saja." Zike pun tidak akan berani lagi memimpikan memiliki harimau ini. "Lalu, siapakah nama anak harimau ini? Maaf, Shifu! Aku memanggilnya dengan sebutan Tygra."
"Tygra?" Ye Kai berpikir dengan tak habis mengerti.
"Ternyata nama Tygra adalah pemberian dari Zike? Dan Jessey terlihat menyukai nama itu." Ye Kai berkata dalam hati. "Apakah Jessey juga menyukai gadis ini?"
"Sepertinya itu nama yang bagus. Nanti akan shifu usulkan nama Tygra untuk harimau ini. Kebetulan juga, bayi ini memang belum punya nama." Ye Kai menemukan alasan yang tepat. "Semoga Master Liu juga menyukainya."
Mendengar hal itu, hati Zike merasa senang. "Terima kasih, Shifu! Semoga saja Master Liu merasa cocok dengan nama itu."
"Mmhh." Ye Kai menganggukan kepala. "Sekarang biar shifu bawa dia. Terima kasih, Muridku!"
Ye Kai pun segera pergi dari halaman Paviliun Tanpa Nama miliknya dengan tanpa menoleh lagi. Hatinya merasa lega sekarang dengan ditemukannya anak harimau milik si tuan besar yang kerap membuatnya merasa pusing.
"Oh ya, Zike." Ye Kai tiba-tiba berhenti setelah beberapa puluh langkah dan berkata tanpa menoleh. "Kita akan mulai latihanmu nanti malam. Bersiap-siaplah!"
"Siap, Shifu!" Zike menyahut dengan perasaan senang, karena yentu saja itu akan membuatnya tidak terlalu merasa bosan hidup dalam sangkar emas.
Zike hanya tersenyum-senyum sambil menatap punggung Ye Kai yang segera menghilang dari pandangan mata. Meskipun hatinya kembali merasa sangat sedihk karena berpisah dengan reman baru yang belum lama bersama, akan tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa pun.
"Alangkah senangnya kalau jadi orang kaya. Kita bisa bebas membeli ini dan itu, pergi ke sana dan ke mari sesuka hati. Tidak seperti aku yang hanya bisa memendam keinginan dalam hati." Zike bergumam sambil menutup pintu utama paviliun. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Gadis itu bergegas menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan perasaan galau. "Aaaah, bosaaaaan!"
"Bosan!"
__ADS_1
"Bosan!"
"Bosaaaaaan!" Zike berseru sambil bergulingan. "Aleeeee! Mengapa sejak kemarin kamu tidak menghubungikuuu?"
Zike meraih ponsel dan menyalakan layar. Seraut wajah tampan yang menjadi wallpaper ponsel pun, segera menyambut pandangan mata gadis itu dengan menampilkan senyum manis terulas di bibirnya. "Aleee, tampan sekali kamu?"
"Benar-benar tampan kekasihku ini." Zike merasa tak pernah jemu memandangi wajah Alexi yang telah membuatnya sangat tergila-gila. "Tampanku, apakah kamu juga merindukanku?"
Tentu saja itu adalah sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Hanya sebuah angan-angan untuk bisa bertemu dengan pria muda itu. "Ale, tidak bisakah kita bertemu?"
Jauh di Sekte Sanca Perak. Di dalam kamar pribadinya, Alexi justru sedang dalam masalahnya sendiri. Pemuda itu baru saja menghancurkan seperangkat tempat makan yang di bawa oleh Abraham. Wajahnya terlihat sangat marah saat dia baru saja mendapat sebuah laporan, jikalau beberapa tambak kerang mutiara miliknya telah kebobolan oleh pencuri. Tentu saja Alexi harus mengalami kerugian yang sangat besar.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadiiii?" Alexi menendang meja yang ada di depannya hingga terguling semua isi meja terlempar dan pecah berantakan. "Bagaimana bisa kita semua kebobolan begitu saja tanpa adanya jejak pelaku sama sekali?"
"Bodoh! Bodoh mereka semua!" Alexi menghantam sekali lagi badan almari yang untungnya terbuat dari kayu. Meski tangannya masih dalam keadaan terluka, tetapi rasa sakit di hatinya berhasil menghilangkan perasaan itu.
"Tuan Muda, tenanglah! Kita akan segera melacak pelakunya!" Segara mencoba menenangkan hati majikannya yang sedang sangat kacau.
"Apa kerja para penjaga di sana, haaa? Sampai-sampai beberapa ribu kerang mutiaraku raib begitu saja dalam satu malam. Apakah itu masuk akal?" Alexi bertanya dengan nada geram. "Berapa ratus miliar modalku yang hilang? Dan uang sebanyak itu aku dapatkan dengan sangat bersusah payah selama ini, lalu hilang dalam sekejap mata!"
Alexi merasa sangat frustrasi kali ini. "Kuharap, jangan ada yang memberitahukan kakek dan nenekku tentang kejadian ini"
"Baik, Tuan Muda!" sahut kedua bawahannya secara bersamaan.
"Jangan lupa untuk memanggil Danny Hendrat untk menangani kasus ini. Kalau perlu aku sendiri yang akan turun tangan ke perairan,"ujar Alexi dengan nada geram.
"Haruskah tuan muda turun tangan sendiri? Bukankah itu cukup berbahaya?" Segara sangat keberatan jika Alexi turun tangan secara pribadi untuk menangani kasus tersebut.
"Aku hanya ingin mengetahui secara langsung, bagaimana kondisi di sana dan sistem keamanan Z Pearls," ucap Alexi sambil menerawang jauh ke luar jendela.
"Baiklah, kami akan mengikuti ke mana pun Tuan Muda pergi," kata Segara dengan sikap hormat dan patuh, sedangkan Abraham hanya terdiam di tempatnya berdiri.
Kemudian, ketiga pria dalam ruangan pribadi Alexi mulai disibukan dengan segala pembahasan dan perundingan mengenai kasus bobolnya tambak kerang mutiara milik Alexi.
Di luar ruangan tempat Alexi tengah dikacaukan oleh laporan tersebut, seorang pria tua mendengarkan semua itu. Dalam hati lelaki berjenggot putih berkata, "Hmm, jadi cucuku sedang dalam masalah besar?"
__ADS_1
"Siapa pun yang berani membuat kerugian pada cucuku ini. Maka, kalian akan menanggung akibatnya hingga berkali lipatnya." Pria itu pun berlalu dari depan ruangan sanng cucu dengan sebuah rencana yang tak ia beritahukan kepada siapa pun.
...Bersambung...