
Pada malam harinya setelah selesai makan malam dengan Jessey Liu, Ye Kai memutuskan untuk segera menemui Zike guna menyampaikan keinginan dan rencana selanjutnya. Tentu saja itu adalah mengenai masalah band musik mereka. Ye Kai bahkan tidak ingin mempertemukan Jessey Liu dan Zike karena dia ingin memberi kejutan dengan kehadiran sang vokalis barunya.
Di dalam kamar Ye Kai ....
"Iyaaa, lu tenang ajaaaa!" Ye Kai sedang bersiap-siap ke tempat Zike tampak berbicara dengan seseorang melalui ponsel. "Ini gue juga lagi mau ke sana."
"Jessey?" Ye Kai terlihat pura-pura terkejut hingga membuat Mei Lan yag sedang memakai gaun pun mengeryitkan dahi sambil menatap suaminya.
Ye Kai bertanya pada lawan bicaranya sembari mengenakan jaket panjang musim dingin. "Apa dia tidak pulang? Eh, maksudku ... apa tak ada kabar tentang dia?"
"Okay, ntar gue coba hubungin dia lagi. Bye!" Ye Kai segera menutup sambungan teleponnya sambil tertawa-tawa kecil. "Rasain kalian semua nyariin si beruang kutub itu!"
"Siapa yang menanyakannya?" Mei Lan bertanya.
"Siapa lagi? Ya jelas si manager bawel itu," jawab Ye Kai sambil membuka pintu kamar dan melangkah keluar dengan diikuti oleh istrinya.
"Ooh, Jerry." Mei Lan menyahut sambil menutup pintu kamar, lalu bergegas menguntit pria tercintanya.
"Mmmh." Ye Kai hanya bergumam sebagai balasan.
Paviliun kecil malam hari itu masih menampakan tanda-tanda kehidupan yang menampilkan sosok gadis cantik walaupun terlihat sedikit dekil. Namun suasana malam tanpa rembulan yang dingin dan sepi itu, semakin membuat seseorang merasa tidak bahagia. Hidup damai dalam kenyamanan sebuah bangunan kecil yang berdiri di tengah taman bunga, ternyata tidak selalu menyenangkan seperti yang digambarkan oleh para pemain drama-drama wuxia yang sering dia tonton.
Saat ini Zike duduk di atas kusen jendela kamar sambil memeluk lutut dengan ponsel di tangan kanannya. Gadis itu membiarkan udara malam yang dingin menyeruak masuk serta berdesiran menerpa tubuh kurus tanpa mantel penghangat. Dia tampak jemu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Semula ia ingin menghubungi Alexi, akan tetapi kekasihnya itu telah mengirikan sebuah pesan jikalau dirinya ada pelatihan malam ini. Rasa kecewa pun membuat gadis itu sedikit bersedih.
"Sudah sejak pagi aku di sini dan aku terus sendiri. Apakah Master Ye dan Nyonya masih belum juga akan menemuiku?" Zike bicara dalam hati karena merasa jenuh dengan keadaannya yang tidak melakukan sesuatu. "Membosankan sekali hidupku sekarang ini!"
"Alangkah senangnya kalau ada Yi Xie atau Nestin. Hmm ... kira-kira, mereka sedang apa ya?" Zike menyalakan layar ponsel guna menghilangkan kegalauannya saat ini.
"Untung saja aku masih ada dia." Zike menatap layar ponsel dan menampilkan wallpaper foto Alexi yang sedang tersenyum. Mata Zike membulat seraya membatin, "Tampan sekali dia, seperti sebuah karakter donghua saja. Memang sangat tampan dan menggemaskan!"
Sebuah hal aneh pun muncul dalam pemikirannya. "Mengapa Ale yang setampan ini, bisa tertarik dan menyukaiku, ya?"
Zike mengaktifkan kamera depan ponselnya dan menampakkan wajahya yang meskipun cantik, tetapi jika dibandingkan dengan Alexi sungguh tidak serasi. Kulit mereka sedikit berbeda. Jika Alexi memiliki kulit dan rambut bagaikan satin yang lembut juga berkilau, sedangkan Zike hanya mempunyai kulit yang dekil, kusam dan sedikit kasar akibat kering karena kurangnya kelembaban alami. Zike sungguh merasa sangat tidak percaya diri, saat teringat dia dengan begitu berani mencium pipi pemuda itu.
"Aaaah! Aku malu sekaliiiii!" Zike memejamkan mata rapat-rapat, akibat menahan rasa malu yang teramat sangat. Betapa ia baru menyadari semua kekurangannya sebagai seorang gadis. Alexi bahkan memiliki wajah yang tidak kalah cantik daripada seorang wanita. "Apa yang aku lakukan waktu itu? Sungguh memalukan dan di luar batas!"
__ADS_1
"Kira-kira ... apa yang dipikirkan Ale saat itu, ya?" Zike sungguh merasa minder dengan keadaannya waktu itu. Sekarang dia baru menyadari jikalau dia dan Aleixi bagaikan dua jenis batu yang berbeda. Dirinya ibarat batu hutan yang kasar dan kusam, sedangkan Alexi bagaikan sebongkah giok salju yang putih, licin dan mengkilat.
Zike masih terus bergelut dengan bayangan-bayangan wajah kekasihnya, hingga sebuah suara seorang wanita dari arah pintu mengagetkan gadis itu.
"Zike!"
"Aaahh!" Zike terpekik akibat merasa terkejut dan segera mematikan nyala layar ponselnya, lalu berbalik menghadap ke arah sumber suara. Wajah kagetnya yang terlihat lucu membuat Mei Lan tersenyum geli.
Wanita itu telah berdiri di ambang pintu dengan mengenakan gaun malam merah maroon yang mengkilap. Sungguh wanita yang sangat cantik dalam pandangan mata Zike dan secara diam-diam, dia juga berpikir ingin memiliki kecantikan seperti Mei Lan. Zike tapa sandar bergumam kecil. "Whoaaah! Dia selalu sangat cantiiiik!"
"Aku juga ingin secantik dia!" bisik Zike dalam hati. "Bisakah aku secantik dia? Aaahh! Aku ingin cantiiiik!"
"Maaf, Zike! Kami mengagetkanmu." Mei Lan masih menampilkan sikapnya yang ramah dan lembut.
"Oh, Nyonya Mei!" Zike merasakan kelegaan hingga tanpa sadar mengusap dadanya berulang kali. "Silakan masuk, Nyonya!"
"Terima kasih, Zike. Maaf kalau telah membuatmu terkejut. Sebenarnya aku tadi sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi kamu tidak mendengarnya," ujar Mei Lan sambil melangkah perlahan memasuki ruang paviliun kecil.
Zike segera menyambutnya dan menyiapkan tempat duduk bagi Mei Lan. "Maaf, aku tadi juga sedang tidak fokus."
Gadis itu segera menyiapkan teh hangat pengusir rasa dingin akibat hawa malam yang sudah semakin menusuk hingga sumsum tulang. Zike juga segera mengenakan pakaian hangat yang tentunya tidak sebagus mantel bulu milik Mei Lan.
"Mmhh ... aku hanya sedang merasa bosan saja, jadi aku teringat keluargaku." Zike merasa geli sendiri dalam hati dengan kata keluarga untuk Alexi. Ya. Sepertinya itu hanya sebuah mimpi belaka, akan tetapi dia tetap berharap semua akan menjadi nyata.
"Oohh. Itu adalah hal yang wajar. Memang saat sedang berjauha dengan mereka, kira akan kerap merasa rindu dan ingin segera pulang ke rumah." Nada suara Mei Lan terdengar sendu. "Sudahlah. Aku ke mari karena ada sesuatu yang ingin kami bicarakan."
Zike duduk di hadapan Mei Lan dengan sebuah meja kayu sebagai penghalang di antara keduanya, lalu bertanya, "Kami?"
Mei Lan menoleh ke arah pintu yang masih terbuka dan berucap, "Lihat! Siapa yang datang."
Ternyata, Ye Kai telah berdiri di depan pintu dengan raut wajah tenang. Dia segera mengangkat salah satu tangan guna memberi isyarat, agar Zike tetap berada di tempat semula. Pria muda gagah dan cukup tampan itu kemudian memasuki ruangan menuju ke tempat para wanita. Mereka berdua memang sudah menunggu kedatangan lelaki tersebut.
Demi melihat siapa saja yang datang, gadis itu pun merasa gembira. Setelah seharian tidak ada yang menemuinya, sekarang dia bisa sedikit terhibur. Gadis itu pun dengan wajah cerah menyambut kehadiran Ye Kai. "Silakan Master Ye!"
"Mmhh." Hanya sebuah gumaman kecil yang keluar dari bibir pria muda tersebut. Ye Kai segera menempatkan diri di samping Mei Lan.
"Maaf, kalau kami mengabaukanmu seharian ini," ucap Ye Kai setelah suasana hening menjadi jeda pertemuan mereka bertiga.
__ADS_1
Zike menundukkan wajahnya sambil dan berkata dengan suara lirih, "Tidak mengapa, Master. Saya paham dengan kesibukan Anda. Dan lagi, bukankah saya jadi lebih banyak memiliki waktu untuk menikmati suasana di sini?"
Meski sebenarnya dia merasa jenuh, tetapi Zike tak mungkin berterus terang akan perasaannya. Gadis itu juga tetap merasa beruntung bisa tinggal di tempat tersebut.
"Baguslah, kalau kamu memaklumi keadaan kami." Mei Lan yang berbicara kali ini. "Kalau begitu, kami akan langsung pada titik pembicaraan saja. Silakan, suamiku!"
Mei Lan mempersilakan Ye Kai untuk mulai membicarakan perihal niat suaminya kepada gadis ini. Apa pun yang akan menjadi buah hasil keputusan dari pria di sampingnya ini, Mei Lan sudah menyiapkan hati dan perasaannya jauh-jauh pada waktu.
"Baiklah, kita mulai saja!" Ye Kai angkat bicara.
"Zike, mungkin kamu sudah menunggu untuk hal yang akan kukatakan kali ini. Kuharap, kamu mendengarnya baik-baik," ujar Ye Kai dengan nada datar.
"Siap, Master!" Zike menyahut dengan sikap hormat dan dia buat setenang mungkin. Meski sebenarnya dada gadis itu cukup berdebaran dan merasa sedikit tegang. Di bawah meja yang tersembunyi, kedua tangan Zike terkepal bertumpu di atas pangkuan menahan perasaan.
"Zike, perlu kamu tahu. Aku memang sengaja memilihmu bukan hanya untuk kujadikan vokalis utama band kami. Tetapi jujur, aku mulai berpikiran lain setelah kejadian saat itu." Ye Kai berucap sembari menatap gadis di hadapannya, sedangkan tangan yang lain memainkan cangkir porselen berisikan teh hangat.
"Apa maksud orang ini?" Zike bertanya dalam hati. "Sepertinya, aku mulai curiga ...."
Namun, gadis itu tidak ingin membiarkan prasangka buruk itu terus menggelayuti pikirannya. Dia berusaha keras menepis kekotoran otak dan hati dengan mencoba berpikiran positif tentang kedua orang ini.
"Apakah hal lain itu, Master?"
"Aku hanya ingin mengatakan, mulai besok malam aku akan mengajakmu ke suatu tempat untuk memulai latihan vokal yang sesusi dengan genre musik band kami."
"Siap, Master!" Zike menjawab tanpa ragu, karena itu memang tujuan yang sesungguhnya.
"Selain itu ...."
"Zike, seperti yang kautahu. Kami adalah pasangan praktisi bela diri yang sampai hari ini belum juga memiliki keturunan. Maka ...."
Lagi-lagi Ye Kai menggantung ucapannya. Cangkir porselen ia regam dengan perasaan sedih. Begitu pula Mei Lan yang hanya bisa menundukan wajah disertai perasaan luar biasa pedih dalam hati. Betapa sakitnya mereka saat mengetahui jikalau harapan untuk memiliki seorang anak sangat kecil. Hal itu dikarenakan Mei Lan yang memiki masalah pada kandungannya.
Sebagai wanita yang kurang sempurna, Mei Lan telah menyatakan kerelaannya untuk menikahi siapa pun yang Ye Kai inginkan, tetapi Ye Kai tidak menggubris ucapan istrinya. Dia hanya menjawab, "Bukankah masih ada Ah Xuan? Masih Ada Lu'er? Mengapa harus menikah lagi?"
"Tapi, Ye Geee!"
"Aku tidak peduli! Aku tidak ingin anak-anak lagi! Cukup Ah Xuan dan Lu'er saja!"
__ADS_1
...Bersambung...