Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
DARAH SIAPA?


__ADS_3

"Apanya yang lucu? Aku hanya sedang mengingatkanmu saja!" Zike berkata dengan kesal. "Apa aku salah, kalau aku mencemaskan keberadaanmu di sana? Aku sering melihat dan mendengar berita tentang perselingkuhan. Jadi wajarlah, kalau aku takut itu akan terjadi pada hubungan kita!


"Oohh, jadi sayangku ini sedang merasa cemburu?" Alexi bertanya di sela derai tawanya. "Baguslah. Aku suka itu."


Zike semakin merengut. "Siapa bilang aku sedang cemburu?"


"Tidak bilang memang, tapi kamu sudah mengungkapkan perasaan itu padaku." Alexi berkata sambil masih tersenyum-senyum di seberang telepon. Betapa senangnya dia saat ini, karena mengetahui betapa Zike juga sangat mencintainya.


Zike menampik perkataan Alexi. "Tidak!"


"Yang beneeer?" Alexi dengan sengaja menggoda Zike.


"Ih kamu kegeeran deh!" Zike menutupi kamera dengan telapak tangannya.


"Sayaaaang, jangan ditutupin doong!" protes Alexi yang masih betah bertatap muka dengan gadisnya, akan tetapi suara ketukan pintu telah membuyarkan keasyikannya bersama sang kekasih.


"Siapa?" Alexi berteriak tanpa menutup mikrofon yang tentu saja suaranya didengar oleh Zike.


"Aleee. Buka pintunya! Ini nenek." Suara Ni Sendari terdengar gusar


"Nenek? Ada apa lagi?" Alexi meninggalkan ponsel yang ia letakan dalam posisi berdiri pada sandaran. Dia juga lupa untuk mematikannya hingga Zike bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kamar Alexi.


"Ale, kamu menutupi sesuatu dari nenek!" seru sang nenek sambil berkacak pinggang. Wajahnya terlihat marah dan kecewa sekaligus sedih.


Zike yang melihat hal itu dari layar ponsel, semula akan menutup panggilannya karena merasa tak pantas mengetahui urusan orang lain. Namun, dia melihat seorang gadis cantik tampak mendampingi si wanita tua dan itu membuatnya sangat penasaran.


"Cantik sekali gadis itu. Kira-kira ... siapa ya dia?" bertanya Zike dalam hati seraya terus memperhatikan wajah gadis bergaun biru muda dengan saksama. "Tidak mirip Ale."


"Aaah! Mungkin saja dia hanya saudara atau sepupunya!" Zike berusaha menepis dugaannya. Meski hatinya merasa cemburu melihat gadis itu tampak mencemaskan Alexi, walaupun kekasihnya itu terlihat tidak memedulikan kehadiran gadis tersebut. "Tatapan macam apa itu?"

__ADS_1


"Ada apa, Nek? Kenapa Nenek marah padaku dan mengapa kalian datang lagi ke mari?" tanya Alexi sambil menyembunyikan tangan kanannya di belakang pinggang. "Aku ini sedang bersiap-siap untuk keberangkatankuuu!"


"Apa yang kamu tutupi dari nenek? Apa yang kamu sembunyikan dari nenek?" bentak Ni Sendari yang lalu disertai aliran air matanya. Wanita itu menjadi terhuyung akibat merasa lelah dan kaget atas apa yang baru saja dia lihat.


"Neeeeek!" Alexi berteriak saat melihat tubuh sang nenek hampir jatuh dan dengan sigap Alexi segera menangkap tubuh Ni Sendari. Namun sialnya, Garnis pun melakukan hal yang sama secara spontan.


Wajah garnis memerah saat hampir saja bertubrukan dengan Alexi, sedangkan Alexi justru tidak memedulikannya sama sekali. Pemuda itu memapah sang nenek untuk didudukkan di atas pembaringan. Pemuda itu terlihat sangat cemas dengan keadaan sang nenek.


"Neek! Nenek tidak apa-apa, kan?" Alexi memeluk sang nenek yang kini menatap sang cucu.


Tanpa disuruh, Garnis telah menuangkan air putih dan diberikan pada Ni Sendari. "Minumlah dulu, Nek!"


"Terima kasih," ucap Ni Sendari setelah beberapa kali meneguk air putih dari gelas yang tetap dalam genggaman Garnis.


"Sama-sama, Nek," sahut Garnis dengan suara lembut yang terdengar memuakkan bagi Alexi.


"Nenek kenapa?" tanya Alexi yang sudah merasa jikalau sang nenek mengetahui sesuatu yang dia sembunyikan. Mungkinkah keberadaan Zike telah diketahui?


"Da-daraah?" Ni Sendari terpekik kaget saat melihat bercak darah yang terlihat masih segar menodai blus putih tulang pada bagian perutnya. "Darah siapa ini?" 


Wanita itu kemudian memeriksa keadaannya dan tidak mendapati adanya luka pada bagian tubuhnya. Ni Sendari berusaha keras mengingat-ingat kejadian apa saja yang dia alami belum lama ini. Namun selain daripada dia sehabis dari kamar sang cucu, dia sungguh tidak mengingat hal yang lainnya lagi. 


"Apakah ini darah Ale?" pikir wanita itu. "Bukankah anak itu tadi dia memelukku?" 


"Apa artinya dia terluka dan menyembunyikannya dariku?" Ni Sendari bergegas keluar kamar dan menuju kembali ke kamar Alexi. "Keterlaluan sekali bocah itu! Ada hal seperti ini dan dia menyembunyikannya dari aku dan kakeknya!"


"Ada apa dengan nenek?" Garnis yang baru saja mengantarkan Ni Sendari dan memilih untuk membaca buku di bangku taman, merasa heran saat melihat dari kejauhan


wanita calon neneknya berjalan menuju ke kamar Alexi dengan sangat tergesa-gesa.

__ADS_1


"Apakah ada hal yang tidak baik terjadi?" Gadis itu segera meletakan buku yang sedang dia baca dan bergerak cepat guna menyusul Ni Sendari.


Gadis itu mengikuti Ni Sendari dan memanggilnya dengan suara sedikit keras. "Nek!


"Garnis," sahut Ni Sendari setelah berhenti dan menoleh ke arah sumber suara panggilan.


"Ada apakah dengan Nenek? Apakah Nenek baik-baik saja?" tanya Garnis dengan khawatir.


Ni Sendari mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Nenek hanya ingin menanyakan sesuatu pada cucu nenek."


"Oohh." Garnis merasa lega atas jawaban Ni Sendari. "Bolehkah aku ikut, Nek?"


"Mmhh." Ni Sendari bergumam kecil sebagai jawaban, lalu membalikan tubuhnya dan melanjutkan langkahknya dengan diikuti oleh Garnis. Sesampainya di depan pintu kamar, wanita tua itu segera mengetuk pintu dengan perasaan cemas.


"Lihat baju nenek!" perintah Ni Sendari pada sang cucu, sambil memperlihatkan bajunya yang berisi bercak darah dan mata Alexi mengikuti arah yang ditunjukan oleh si nenek.


"Darah?" Garnis terkejut melihat noda-noda darah yang telah mengering, tetapi masih terasa bau amisnya. "Darah siapa ini?"


Alexi terdiam dan segera melepaskan pegangannya pada tubuh sang nenek. Pemuda itu membatin, "Ternyata darahku tertinggal di baju nenek. Alangkah teledornya aku ini!"


"Katakan sejujurnya pada nenek. Apa kamu terluka?" tanya Ni Sendari mengejutkan Alexi. Namun, mata wanita itu langsung tertuju pada tangan kanan cucunya yang terbalut perban dengan sangat tidak rapi.


Seketika saja, Ni Sendari meraih tangan itu dan mengangkatnya. "Perban! Tanganmu diperban?"


"Jadi, selama ini Kakak terluka dan tidak memberitahukan pada nenek ataupun kakek?" tanya Garnis dengan wajah cemas.


Alexi menganggukan kepala sembari menggerutu, "Hanya luka kecil saja dan tidak perlu dicemaskan, apalagi diributkan!"


"Luka kecil?" Ni Sendari merasa penasaran dan langsung membuka perban

__ADS_1


Zike yang masih melihat ke layar ponselnya terkejut saat melihat dengan jelas tangan Alexi terluka. Gadis itu pun terpekik dalam hati. "Ale terlukaa!"


...Bersambung...


__ADS_2