Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
ALEXI & ALEXA


__ADS_3

"Lanjutkan hukuman!" teriak Manager Robert dengan suara keras sambil berjalan keluar ruangan dengan kepuasan yang terpancar di wajahnya.


"Siap, laksanakan perintah!" seru algojo bertampang seram yang saat ini hanya bertelanjang dada. "Dengan senang hati!"


Merry dan Jean hanya bisa pasrah dengan apa yang mereka alami malam hari ini. bahkan untuk bisa terus hidup pun, keduanya sudah tidak berharap. Pukulan demi pukulan kembali mereka terima hingga hitungan ke lima puluh.


Hotel Van Houten yang terlihat damai dan tenang di permukaan, ternyata telah menorehkan sebuah peristiwa penyiksaan terhadap dua orang wanita yang berakhir dengan kematian tragis. Pagi-pagi buta itu juga, mayat Jean dan Merry dikuburkan secara rahasia di suatu tempat yang tidak akan dicurigai oleh siapa pun. 


Pada keesokan harinya. Di dalam kamarnya, Alexi dan Alexa terbangun dalam waktu bersamaan. Gadis itu masih meringkuk dalam pelukan sang kakak yang ternyata telah terlebih dahulu membuka mata dan tengah asyik membaca pesan-pesan yang masuk pada kota masuk ponselnya. Anak muda nan tampan itu tersenyum-senyum sendiri, menandakan dirinya sedang merasa bahagia.


"Kaaaak!" Alexa memanggil sang kakak dengan nada rengekan manja. Gadis itu lalu sedikit menggeser tubuhnya ke samping, karena ternyata dia telah menindih tanga kanan sang kakak. "Selamat pagi, Kak Ale Sayaaang." 


"Mmh selamat pagi juga, Sayang." Alexi menyahut namun matanya tetap terpancang pada layar ponselnya, sesekali senyum tipis terulas di bibir tipisnya yang kemerahan.


"Huh! Membalas sapaanku, tapi pikirannya entah ke mana!" Alexa bersungut-sungut sambil melirik kecil ke arah Alexi. "Apakah kakak sedang chattingan dengan gadis itu?" 


"Kaaak. Ayo mandi dulu!" Alexa menyeret selimut yang masih dipakai kakaknya dan melemparkan begitu saja ke sembarang arah. Benda itu pun terlempar da teronggok di atas lantai tanpa ada yag memungutnya. 


"Kamu duluan saja yang mandi!" Alexi berkata masih sambil mengetik pesan pada layar ponselnya dan mengirimkan kepada Zike. "Kakak masih ada kepentingan ini."


"Kepentingan apa, Kak?" Alexa melongokan kepalanya untuk melihat layar ponsel sang kakak namun Alexi segera bergerak untuk menggeser posisinya sambil sedikit mengomel. "Paling juga cewek kakak itu!"


"Apaan sih kamu?" Alexi bertanya dengan sedikit ketus. "Ini urusan anak laki. Jangan ikut campur kamu!"


"Kakaaaak! Humph, menyebalkan!" 

__ADS_1


Alexa merasa diabaikan oleh sang kakak, akhirnya dia pun bangkit dan bergegas ke kamar mandi tanpa berbicara lagi. Wajah cantiknya tampak cemberut atas sikap Alexi yang bahkan tidak menanyakan bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu dan apa saja yang telah dia alami. Gadis itu menutup pintu dengan kasar menggunakan tendangan tungkai kakinya hingga daun pintu plastik itu pun bergetar. 


Alexi merasa kaget dengan ulah adiknya yang dia sendiri tidak mengetahui apa penyebabnya. Jika itu orang lain, mungkin akan langsug menerima bogem mentah darinya. Tetapi itu adalah Alexa yang merupakan saudara satu rahim dengannya dan lahir di hari yang sama. 


"Kenapa dia?" Alexi menoleh ke arah pintu kamar mandi yang ditutup dengan cukup keras oleh adiknya. "Apa yang salah dengannya?" 


Sementara itu di dalam kamar mandi. Alexa tanpa sungkan segera melepaskan semua pakaiannya dan mandi di bawah shower yang mengalir bak hujan gerimis. Walaupun udara pagi masih dingin, tetapi hati gadis itu terasa panas atas sikap sang kakak kepadanya. 


Mungkinkah ini sebuah bentuk kecemburuan dari seseorang yang biasa diperhatikan dan dimanja, lalu sekarang diabaikan hanya karena kehadiran orang lain yang dianggap lebih penting dari darinya? 


Meski tidak bisa dihindari, jika suatu saat nanti mereka juga akhirnya harus terpisah oleh takdir mereka masing-masing. Namun bagi Alexa, saat ini Alexi hanyalah miliknya yang tidak boleh meninggalkan dirinya. Gadis itu juga kerap merasa takut saat membayangkan, jikalau bertemu dengan calon saudara ipar yang disukai oleh kakaknya ini. 


Walaupun Alexa tahu, jikalau kakaknya sudah ditunangkan dengan putri dari Sekte Awan Putih namun dia juga tahu kalau Alexi tidak pernah menyukai apalagi mencintai calon kakak iparnya tersebut. Alexa pun merasa posisinya aman tanpa ada persaingan perebutan kasih sayang antara dia dan calon kakak iparnya itu.


Tetapi kali ini berbeda, karena ternyata Alexi telah menemukan tambatan hatinya dan berhasil membuatnya sedikit tersingkir dari posisinya sebagai satu-satunya orang yang bisa bebas bermanja-manja dengan tuan muda ini.


"Kamu kenapa sih, Exa?" bertanya Alexi dengan raut wajah keheranan. "Apakah kakak sudah salah sama kamu?"


"Tidak ada apa-apa!" Alexa menjawab dengan nada ketus. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali pada Alexi.


"Atau karena kakak meninggalkanmu dan tak sempat berpamitan?" tanya Alexi sambil menyiram tubuhnya dengan segayung air dingin. 


"Kok kamu marah sama kakak?" 


"Tidaak! Siapa yang sedang marah?" Alexa menjawab sambil masih menggosok tubuhnya dengan busa sabun cair. "Aku hanya kesal saja. Jauh-jauh aku datang ke mari, tapi malah diabaikan begitu saja. Kakak bahkan tidak menanyakan bagaimana aku bisa datang ke mari dan mau apa!" 

__ADS_1


Alexi menjadi tertegun sejenak. Bagaimana dia bisa lupa untuk menanyakan hal yang cukup penting tersebut. Dia bahkan tidak tahu, jikalau adiknya ini juga telah mengalami sebuah insiden yang membuat geger orang-orang.


"Maafkan, Kakak!"


"Huh! Baru ingat minta maaf!" Alexa menggerutu.


"Iyaa, iyaa. Kakak minta maaf!" Alexi berucap tanpa menoleh. "Lalu, mengapa kamu bisa datang ke mari?"


"Kenapa coba?" Alexa balik bertanya. "Denger niih!"


Alexa lalu menceritakan semua dari awal hingga akhir tentang kedatangannya kali ini. Ternyata dia memang sengaja menyusul Alexi karena dia diminta menyampaikan sebuah surat dari sang ayah yang berencana mengirim pria itu ke sebuah pulau tempat di mana dulunya Nata Praja belajar semua hal tentang teknik-teknik ilmu racun dan martial art lainnya. Namun, gadis itu tidak menceritakan tentang kecelakaan pada rombongannya dan pertemuannya dengan Jessey Liu.


Alexa juga menceritakan, jika Nata Praja ayah mereka kerap membandingkan Alexi dengan ketua sekte termuda saat ini. Hal itu juga membuat Alexi merasa tersulut emosinya. Alexa lalu menyebut nama Jessey Liu sang ketua Sekte Elang Emas.


"Jessey Liu?" Alexi terpekik kaget saat mendengar nama yang telah menjadi penyebab utama dirinya harus mengalami siksaan demi siksaan. Rasa marah dan benci pun seketika menyerang di hatinya.


"Kakak kenal dia?" tanya Alexa yang menjadi sedikit kaget juga dengan respon kakaknya.


"Tidak!" Alexi menjawab dengan cepat guna mengalihkan emosi dalam hatinya. "Bukankah kamu tahu sendiri, kalau kakakmu ini tidak pernah keluar rumah selain hanya untuk belajar. Jadi, bagaimana bisa kakak kenal orang itu?"


Secara diam-diam, Alexi mengepalkan telapak tangan kuat-kuat tanpa memedulikan rasa sakit yang menyerang tangan kanannya. Kepedihan dalam hati pria muda itu bagaikan obat bius yang sanggup mematikan rasa, hingga luka goresan kaca itu pun kembali mengalirkan darah.


"Sial! Mengapa aku harus selalu dibandingkan dengan dia?" rutuk Alexi dalam hati dengan sangat geram. "Gara-gara dia juga yang membuatku harus mengalami berbagai macam siksaan dari ayah!"


"Ayah terlalu terobsesi dengannya. Sehingga anak sendiri pun harus menjadi korban!" Alexi menggeram dalam hati dengan tatapan mata menerawang entah ke mana. Hanya ada kekosongan dalam pandangan bola matanya dan perasaan jengkel yang teramat kuat menyerang sanubari pria muda itu.

__ADS_1


"Kaak! Mengapa tangan Kakak berdarah?"


...Bersambung...


__ADS_2