Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
TERTOHOK


__ADS_3

Sepertinya, Alexi dengan sengaja memancing lebih jauh pria muda ini. Dia juga sangat ingin mengetahui mengapa ada rasa tidak senang dalam diri Jessey Liu setelah dianggap sukses oleh sebagian besar orang-orang. Apakah kesuksesan dan gemerlap kehidupannya selama ini hanyalah sebagai sangkar emas semata seperti yang dia alami selama ini?


"Aku sama sekali tidak senang!" Jessey Liu berkata dengan nada rendah, dingin dan tajam. Secara tanpa sadar pula, ia meregam kuat-kuat gelas kaca yang ada di hadapannya hingga hancur seketika menjadi serpihan-serpihan kecil.


"Jessey!" Alexi terkejut hingga tanpa sadar ia berteriak. Dia merasa cukup ngeri melihat kemarahan pria ini. Satu buah gelas kaca tebal, hancur hanya dalam sekali regam?


"Aku sangat tidak senang, karena masa kecilku hilang dan berlalu begitu saja tanpa keindahan! Aku tidak bisa bermain bersama dengan anak-anak seumuranku saat itu!" Jessey Liu meremas kuat-kuat rambutnya sendiri.


"Ternyata dia juga mengalami hal yang nyaris sama denganku," gumam Alexi dalam hati. Sekarang dia baru menyadari, jikalau ada orang yang memiliki nasib yang sama dengan dirinya.


"Maafkan aku, Jessey!" Alexi berucap dengan nada lirih dan merasa bersalah dalam hati. Dia lalu beralih memperhatikan tangan Jessey Liu yang masih bertumpu di antara pecahan kaca.


Alexi kemudian menoleh ke arah para anak buahnya. "Salah satu dari kalian. cari petugas kebersihan supaya membereskan tempat ini!"


"Baik, Tuan Muda!" Salah seorang dari para anak buah Alexi menyahut dan bergegas pergi.


Alexi beralih kembali kepada Jessey Liu yang sedang membersihkan telapak tangannya dari pecahan kaca. Pemuda itu dibuat heran dengan kondisi tangan pria di hadapannya yang sama sekali tidak terluka. Dia bergumam dalam hati. "Benar-benar hebat dia ini. Lukaku saja masih belum sembuh akibat goresan kaca, sedangkan dia? Bahkan satu lecet kecil pun tidak ada saa sekali."


"Eehh, Jessey. Sebaiknya kita berpindah tempat saja." Alexi mengajak untuk berpindah ke meja yang tidak berisi serpihan kaca.


"Mmmh." Jessey Liu hanya menurut saja pada ajakan Alexi. Keduanya pun sekarang berpindah tempat.


"Apakah tanganmu terluka?" Alexi bertanya seraya membayangkan keadaan telapak tangan Jessey Liu yang mungkin sudah dipenuhi darah akibat pecahan gelas kaca.


Jessey Liu hanya menggelengkan kepala seraya membuka telapak tangannya secara perlahan. Alexi memberanikan diri untuk melihat guna memastikan kondisi yang sebenarnya. Namun, dia tidak melihat adanya luka ataupun darah di sana. Bagaimana mungkin?


"Tuan Muda ada apa?" Danny Hendrat dan Abraham berseru karena merasa kaget atas teriakan Alexi. Namun, Alexi segera mengangkat salah satu tangannya ke arah mereka. Para pria itu pun tak jadi melanjutkan niatnya mendekati sang majikan.


"Gong Ziiiii!" Erick Martinlah yang merasa panik kali ini. Dia mendengar dan melihat secara langsung sang tuan memecahkan gelas kaca hingga hancur.


"Gong Zi!" Erick Martin dengan cepat segera mendekat dan memeluk sang tuan. "Gong Zi, Anda tidak apa-apa?"


Jessey Liu hanya menggelengkan kepalanya dengan lunglai. "Jangan khawatir, Erick. Aku tidak apa-apa."


Pandangan Erick Martin langsung tertuju kepada kawan bicara tuannya. Pria yang merasa khawatir itu menduga, jikalau kejadian itu pastilah karena Alexi.

__ADS_1


"Apakah yang telah Anda lakukan terhadap tuan kami?" Erick Martin bertanya dengan sedikit kasar kepada Alexi. "Jawaaaaab!"


"Tidak ada!" Alexi dengan tenang dan tegas menjawab. "Tanyakan saja pada tuanmu itu!"


"Tuan Erick! Sebaiknya Anda tidak bersikap tidak sopan kepada tuan kami!" Danny Hendrat merasa tidak suka atas sikap kasar Erick Martin terhadap tuannya. Pria itu akhirnya bangkit dan berjalan ke arah meja Alexi dan langsung bersiaga melindungi Alexi. "Sebaiknya Anda menjaga sikap, Tuan Erick!"


Erick Martin segera menyahut, "Aku tidak peduli dengan siapa saya berhadapan! Yang jelas, jika ada yang membuat tuanku menjadi tidak nyaman maka Erick Martinlah lawannya!"


"Baik!" Danny Hendrat dengan marah segera memasang sikap siap bertarung. "Maka Danny Hendrat pun tidak akan diam begitu saja!"


"Kita selesaikan semua secara jantan!" Tantang Erick Martin sembari menekan kepalan tangannya hingga menimbulkan bunyi pada sendi-sendi jemarinya.


Ketegangan meliputi suasana pertemuan yang sebenarnya sudah selesai. Namun, Alexi dan Jessey Liu memutuskan untuk mengobrol lebih lama, agar bisa saling mendekat. Tentu saja dengan niat yang sangat berbeda.


"Cukup!" Jessey Liu berkata dengan suara keras untuk menengahi ketegangan yang sedang berlangsung. Suara pria itu terdengar sangat menakutkan hingga berhasil membuat hati bergetar.


"Pergi kalian semua! Ini adalah pembicaraan pribadi antara kami berdua, jadi tidak ada yang diperkenankan mengganggu kami!" Alexi berkata dengan nada serius. "Danny, mundurlah!"


"Tapi, Tuan Muda!" Danny Hendrat masih merasa tidak terima atas sikap Erick Martin yang seperti meremehkan Alexi.


"Kami bukan anak kecil lagi. Ada kalanya kita juga harus berbicara selayaknya para pria dewasa yang lainnya." Alexi berkata seraya menyingkirkan tangan Danny Hendrat. "Pergilah!"


Pria itu bergegas kembali ke mejanya dan duduk berhadapan dengan Abraham. Wajah Danny Hendrat terlihat masih tidak senang atas kejadian tersebut. Abraham memahami perasaan Danny Hendrat yang memang mudah terpancing emosi. Maka dia pun hanya bisa berusaha menenangkan sahabatnya ini.


"Tenanglah, Danny!" ujar Abraham sambil mengusap dan menepuk bahu Danny Hendrat.


"Erick, mundurlah!" perintah Jessey Liu kepada Erick Martin.


"Baik, GongZi!" Erick Martin segera melaksanakan perintah sang tuan tanpa pebantahan. Sekarang, tinggalah Alexi dan Jessey Liu duduk berhadapan seperti semula.


"Maafkan atas perbuatanku tadi, Alexi!" Jessey Liu meminta maaf atas kejadian yang ia perbuat. "Aku yang akan membayar tagihannya."


"Tidak perlu, Jessey. Semua acara ini sudah aku lunasi tagihannya dan hanya satu buah gelas tak berguna itu saja, tidak usah terlalu dipikirkan." sahut Alexi dengan nada santai.


"Apakah kita masih akan melanjutkan perbincangan kita?" bertanya Alexi dengan suara lirih.

__ADS_1


"Baiklah." Jessey Liu menyetujuinya. "Sampai di mana tadi?"


"Pertandingan yang kamu menangkan itu," jawab Alexi sambil menuang minuman bersoda ke dalam gelasnya.


"Oh, itu."


"Aku mengikuti semua pertandingan itu juga bukan mutlak keinginanku. Semua adalah aturan dari para tetua sekte, sedangkan di pihak lain hatiku menolaknya." Jessey Liu beralih meraih segelas air putih dan meneguknya hingga habis. "Itu membuatku jadi semakin banyak musuh. Baik yang sudah pernah aku kalahkan atau yang belum mengenalku sama sekali, mereka membenciku!"


GLEK!


Alexi menelan ludah secara tiba-tiba saat mendengar ucapan dari pria di hadapannya ini. Secara tanpa sadar, Jessey Liu seperti sedang melucuti pakaiannya hingga tanpa sisa. Perasaan Alexi seketika seperti tertohok oleh bambu runcing. Bagaimana mungkin ia tidak merasa tersindir?


"Dia memang benar dan akulah yang telah berlebihan kepadanya!" Alexi benar-benar seperti mati kutu mendengar ucapan Jessey Liu.


"Sekarang, giliran kamu bercerita tentangmu padaku, bukan?" Jessey Liu berniat mengakhiri kisahnya.


"Baiklah!"


Alexi bercerita juga mengenai masa kecilnya dan semua yang ingin dia lakukan namun selalu bertetangan dengan apa yang menjadi keinginan ayahnya. Mereka berdua pun kembali meneruskan pembicaraan yang membahas banyak hal. Walaupun tidak ada canda tawa pada perbincangan keduanya, tetapi sudah cukup membuat para pengikut Alexi dan Jessey Liu merasa lega.


Dari jarak yang tidak begitu jauh, Danny Hendrat dan Abraham secara diam-diam memperhatikan kedua tuan muda yang tengah berbincang-bincang dengan santai. Mata keduanya tetap waspada sebagaimana biasanya.


"Lihatlah, Danny!" Abraham melirikkan ekor matanya ke arah meja Alexi dan Jessey Liu berada. "Apakah menurutmu, tuan muda kita sudah tidak lagi merasa benci kepada orang itu?"


"Aku kurang begitu tahu, Abraham. Tetapi dari sikap tuan muda yang bisa menjadi lebih tenang, aku sudah merasa tidak terlalu mengkhawatirkannya," sahut Danny Hendrat yang juga sambil sedikit melirik. "Atau bisa jadi, tuan muda punya rencana yang tidak kita ketahui."


"Hmm ... mungkin saja, ya?" Abraham mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Aku harap ini adalah suatu awal yang cukup baik bagi tuan muda kita," ujar Danny Hendrat yang sangat berharap, jikalau Alexi bisa mengesampingkan perasaannya sendiri yang sebenarnya tidak perlu membenci Jessey Liu. "Kuharap tuan muda bisa mengatasi semua dendam dan kebencian pada orang itu,"


"Oh ya, di mana nona?" Abraham mencari-cari keberadaan Alexa yang semenjak tadi tidak terlihat batang hidungnya.


"Nona sedang menerima panggilan dari tuan besar," sahut Danny Hendrat yang memang mengetahui, jika Ki Nata Praja baru saja menelepon Alexa.


"Oh, pantas saja nona tidak ikut bersama tuan muda." Abraham kembali mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Ada apa kira-kira dengan tuan besar?"


...Bersambung...


__ADS_2