Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
HARIMAU PUTIH


__ADS_3

Di tempat yang lain. Jessey Liu dan kawan-kawannya sedang mengawasi pergerakan para pemburun dari balik gerumbul semak. Beberapa di antara mereka bersembunyi di atas dahan-dahan pohon. Jessey Liu sendiri sudah menggenggam senjata cambuk panah berantainya yang biasanya dia kenakan sebagai ikat pinggang.


Chriss juga tak kalah siaga dengan sebilah tongkat besi, pria itu adalah seorang mantan atlit seni bela diri taekwondo yang lebih memilih mengabdikan diri pada Jessey Liu. Di mana pun ada Jessey Liu, maka pria itu tidak akan jauh darinya.


"Gong Zi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Chriss bertanya sambil tetap siaga melindungi sang tuan.


"Sementara ini, biarkan saja mereka bertemu lawan yang tidak pernah mereka duga." Jessey Liu tersenyum tipis penuh kemenangan karena siasat pertama mulai menunjukan tanda-tanda keberhasilan.


"Benar, Gong ZI. Dengan begitu tenaga kita tidak akan terlalu terkuras hanya untuk menghadapi mereka." Chriss terlihat senang saat membayangkan para lawannya harus bergelut dengan kawanan binatang buas di hutan itu. "Aku yakin sekali kalau para harimau putih itu pasti tidak akan menyisakan satu pun dari mereka."


"Kau benar, Chriss. Beruntung sekali aku menemukan sarang mereka dan membuat mereka membidik ke arah di mana kawanan binatang buas itu sedang tertidur." Sebuah seringaian licik dari seorang Jessey Liu terkembang di bibir tipisnya.


"Beberapa orang dari kalian, kutugaskan untuk menangkap beberapa dari orang-orang itu," bisik Jessey Liu dengan masih mengenakan helmetnya dan memperhatikan gerak-gerik para kawanan penyergap yang sedang berkeliaran mencari keberadaannya.


"Apakah semuanya, Gong Zi?" bertanya anak buah Jessey Liu yang juga dengan suara berbisik.


Jessey Liu menjawab, "Cukup sisakan satu atau dua orang saja. Yang lainnya terserah pada kalian!"


"Oh, baiklah. Kami mengerti." Si anak buah mengerti


"Oh ya, bagaimana dengan kendaraan kita?" bertanya Jessey Liu tanpa menoleh.


"Gong Zi tenanglah! Anak-anak sudah mengamankannya." Yang ditanya menyahut.


"Baguslah." Jessey Liu merasa sedikit lega. Setidaknya sekarang mereka bisa menghadapi para kawanan itu tanpa harus memikirkan hal yang lain.


"Setelah mereka menghadapi para lawan yang tak mereka kira sebelumnya. Kita baru menampakan diri." Jessey Liu merasa kali ini rencananya tidak akan gagal "Aku ingin menangkap pimpinan kawanan itu dan ingin tahu apa maksud dan tujuan mereka menyergap kita."


"Baiklah, Gong Zi. Kami mengerti." Chriss menyahut sambil mengusap tongkatnya dengan lembut.


"Siapkan senjata kalian! Kita akan bergerak menyergap balik mereka!" bisik Jessey Liu.

__ADS_1


"Siap, Gong Zi!"


"Siap!"


"Tetap berhati-hati dengan orang-orang ini. Kita bahkan belum tahu siapa dan apa tujuan mereka. Kemungkinan juga mereka membawa senjata yang berbahaya," ucap Jessey Liu sambil terus mengawasi pergerakan lawan.


"Anda benar, Gong Zi. Bukan tidak mungkin mereka membawa senjata api." Anak buah Jessey Liu menjawab.


"Itu dia yang aku khawatirkan." Jessey Liu bangkit dari berjongkoknya dan melambaikan tangan sebagai aba-aba. "Ikuti aku!"


Jessey Liu dan rombongannya secara diam-diam mencari jalan yang lain guna mendekati para kawanan yang bejumlah tidak kurang dari dua puluh orang tersebut, sedangkan beberapa orang terlihat memisahkan diri untuk menjalankan tugas menangkap empat orang yang sedang mengendap-endap.


Jarak antara jessey Liu dan kawanan penyergap itu sekarang tidak terlalu jauh. Tetapi Jessey Liu sengaja tidak langsung menyerang. Dia hanya ingin melihat, bagaimana kelompo penyergap ini menghadapi kawanan harimau putih yang sedang marah. Bisa saja, mereka hanya akan menjadi santap malam empuk dan lezat bagi para hewan buas tersebut.


Rupanya, harimau marah karena salah satu dari anak panah yang dilepaskan Angie telah berhasi melukai salah seekor dari mereka. Jessey Liu memang sengaja membuat suara dengan cara menebas beberapa dahan pohon hingga menimbulkan suara yang bisa memancing kawanan penyergap menyerang ke arah hutan tempat di mana para harimau tinggal


"Cerita tentang harimau putih yang menempati Bukit Goblin ini ternyata memang benar. Dan beruntung sekali aku tidak sengaja melihat salah seekor dari mereka." Jessey Liu merasa cukup beruntung kali ini.


Rupanya, pada saat kelompok Jessey Liu baru saja tiba guna mencari tempat yang jauh dari jalan beraspal. Tanpa sengaja Jessey Liu melihat seekor harimau putih melintas dan memasuki hutan sebelah utara. Pria itu memang terkejut dan menjadi gentar, karena bagaimanapun juga dia adalah manusia yang tentunya tetap takut pada binatang buas.


Sementara itu di tempat lain.


Geraman lirih terdengar dari arah mata-mata yang menyala. Sinar bulan pun berhasil menampakan tubuh para hewan berkaki empat dengan jumlah yang tidak sedikit. Ada sekitar lima belas pasang mata yang bergerombol di hutan kecil tersebut.


"I-tu ... itu seperti su-suara gera-man ha-hari ... harimau." berkata pria paling depan dengan terpatah-patah dan suara gemetar.


"Harimau?" bertanya pria paling depan belakang.


"Jadi, kita sudah masuk sarang harimau?" bertanya pria yang lainnya. "Kalau begitu kita harus secepatnya tinggalkan tempat ini!"


"Ayo! Jangan sampai mereka mengendus bau napas atau darah kita!"

__ADS_1


Mereka pun beringsut mundur dengan langkah pelan dan sangat hati-hati. Namun, rupanya para kawanan binatang yang diduga harimau itu bergerak dengan cepat menyerang keempat orang tersebut.


"Toloooong!"


"Tolong kamiiii!"


"Toloooong!"


Suara minta tolong itu berhasil mengejutkan kawanan penyergap yang sekarang mengalihkan perhatiannya ke arah dari mana teriakan itu berasal.


"Ketua! Anak-anak minta tolong!" Seorang anggota penyergap berlarian dengan wajah pucat melaporkan. "Mungkin mereka bertemu dengan Jessey Liu!"


"Apa kamu yakin kalau itu adalah orang-orang kita?" bertanya anggota yang lain.


Orang yang ditanya pun menjawab, "Aku yakin sekali. Karena suara minta tolong itu datangnya dari arah anak-anak yang diperintahkan oleh ketua untuk memeriksa ke hutan sebelah sana!"


"Kalau begitu tunggu apalagi? Cepat kita ke sana dan bantu mereka!" Ketua Penyergap pun segera memimpin anak buahnya. "Sebagian orang ikuti aku dan sebagian lagi tetap di sini bersama bersama nona!"


"Baik, Ketua!"


"Angie, kau tetaplah di sini." Ketua kawanan penyergap berkata dengan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.


"Baiklah," jawab Angie dengan nada malas sambil menatap kepergian kawan-kawanannya.


"Membosankan sekali rasanya tugas kali ini. Kalau saja bukan karena ingin membalas dendam kepada si brengsek Jessey Liu, mungkin aku lebih memilih diam di rumah dan tidur sepuasnya!" Angie menggerutu dengan suara sedikit keras.


"Angie?" Jessey Liu mengenal suara wanita yang sedang melampiaskan amarahnya dengan menendang-nendang ban mobil jeep. "Jadi, itu dia?"


Keremangan sinar rembulan tak bisa menampakan dengan jelas pergumulan antara manusia dan hewan buas. Hal itu pun membuat mereka terkejut bukan buatan. Semula semua mengira, jikalau kawan mereka sedang terdesak dalam menghadapi kelompok orang yang sedang mereka buru. Namun ternyata, dugaan mereka meleset jauh saat mendengar auman-auman dan jerit minta tolong dari keempat orang yang sedang menjadi bulan-bulanan para hewan buas tersebut.


"Harimau! Itu sungguh harimau?"

__ADS_1


"Benar-benar harimau putih yang konon memang menempati hutan ini!"


...Bersambung...


__ADS_2