
"Baiklah, Nenek dan Kakek. Kami akan berangkat sekarang. Selamat tinggal semuanyaaa!" Alexi berucap semabri melangkah pergi. Dia tidak ingin terus larut dalam suasana yang akan membuatnya menjadi semakin berat meninggalkan tempat tersebut.
"Oh ya, Nek. Tolong jaga kamarku dan seluruh isinya, juga jangan biarkan orang asing masuk dengan bebas apalagi menyentuh benda-benda yang ada di dalamnya secara sembarangan!" Alexi berpesan pada neneknya. Pemuda itu mendekatkan wajahnya di sisi telinga sang nenek dan berbisik, "Kalau ada yag berani merusak lukisan-lukisanku, maka aku sendiri yang akan membunuhnya!"
"Aleee!" Ni Sendari terpekik kaget. Bagaimana bisa cucunya yang manja dan menggemaskan ini tiba-tiba seperti berubah menjadi sosok pembunuh paling kejam di hadapannya. "Apa yang kamu katakan itu, Alee?"
Alexi sendiri tersenyum lembut setelahnya. "Hanya itu pesanku, Nek."
Ki Surya Praja merasa sangat heran pada sikap keduanya, tetapi pria tua itu tidak memusingkan hal apa pun tentang mereka. Dia cukup tahu akan tabiat sang cucu yang sering berubah-ubah setiap waktu.
"Bye, Nenek! Bye, Kakeeek!" Alexi melangkah semabri melambaikan tangannya yang masih dibalut perban.
"Abraham!" seru Alexi seraya melangkah keluar menuju halaman, di mana Segara, Danny Hendrat dan para pengawal elit Sekte Sanca Perak telah menunggu.
"Siap, Tuan Muda!" Abraham pun segera mengikuti Alexi Nata Praja sang tuan muda Sekte Sanca Perak yang selalu hidup dalam tekanan batin.
"Selamat jalan, Cucukuuu!" seru Ki Surya Praja yang juga melambaikan tangannya. Wajah tuanya terlihat sedikit sendu, akan tetapi dia pun tidak bisa terus menahan cucu kecilnya terus bersembunyi di balik punggung orang tua itu.
"Dia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri. Jika terus memanjakannya, itu juga tidak akan menjadi kebaikan untuknya kelak," bisik hati pria tua itu.
"Hati-hati, Aleeee!" Ni Sendari pun berseru setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya. Ditatapnya punggung sang cucu dengan rasa berat di dalam hati.
"Ya, Neeek! Keeek!" teriak Alexi Nata Praja dari kejauhan. Pemuda itu tidak ingin memperlihatkan uraian air mata yang sudah membasahi pipinya.
Seorang pria dengan simbahan air mata mungkin terdengar cengeng dan lemah, akan tetapi itu juga bukanlah hal yang dilarang. Seorang pria pun masihlah terdiri dari daging dan darah yang membalut tulang. Seorang pria pun tetap memiliki hati yang terbuat bukan dari material besi atau baja.
__ADS_1
Seorang pria juga berhak meluruhkan air mata guna meringankan sedikit beban perasaannya. Bukankah itu lebih baik daripada menjadi gila oleh tumpukan tekanan batin? Cengeng juga tidak bisa dianggap sebagai suatu kelemahan. Seseorang bahkan memerlukan pelampiasan meski hanya dengan menangis.
Tinggallah pasangan suami istri yang kesepian akibat ditinggal oleh sang cucu. Meski mereka memiliki beberapa orang putra, akan tetapi keduanya hanya mempunyai dua orang cucu dari Nata Praja anak kedua mereka.
"Duduklah dulu, Kakang!" Ni Sendari menuntun suaminya untuk duduk di kursi rotan kuno. Ki Surya Praja pun hanya menurut saja atas ajakan sang istri.
Sekarang mereka duduk berdampingan dengan ditemani teh hangat dan beberapa macam kudapan kesukaan Ki Surya Praja.
Wajah Ni Sendari terlihat sedikit murung karena ditinggal oleh cucu lelaki satu-satunya yang tidak bisa dipastikan kepulangannya. Wanita itu kembali teringat pada pesan Alexi untuk menjaga kamar beserta isinya, terutama lukisan-lukisan kesayangannya.
"Anak itu benar-benar hanya ingin melindungi benda-benda itu," gumam wanita tua yang masih terlihat cantik itu. "Saking sayangnya pada barang-barang yang dia anggap istimewa, dia tidak mengijinkan siapa saja menyentuhnya."
"Benda apa?" Ki Surya Praja bertanya. "Apakah cucu kita menyimpan benda berharga di dalam kamarnya?"
"Benar, Kakang," jawab Ni Sendari sembari menuangkan teh panas dari poci ke dalam cangkir dan menyerahkannya pada sang suami.
"Hanya sebuah lukisan saja, dia melindunginya dengan taruhan jiwa dan raga. Sepertinya itu adalah benda yang sangat diistimewakan sekali olehnya," ujar Ki Surya Praja dengan keheranan. "Ada misteri apakah dalam lukisan itu?"
Ni Sendari tersenyum tipis dan menjawab, "Itu karena pelukisnya adalah seorang gadis yang disukainya."
"Oooh, pantas saja." Ki Surya Praja manggut-manggut sembari mengelus jenggotnya. Namun tiba-tiba saja kakek tua itu merasa terkejut. "Apa? Seorang gadis yang disukainya?"
Tentu saja pria tua itu merasa kaget dengan ucapan sang istri. Ki Surya Praja semula mengira, jikalau Alexi menyukai Garnis yang telah ditunangkan dengan Alexi.
"Mengapa Kakang terkejut?" Ni Sendari menatap Ki Surya Praja. "Ale memang menyukai gadis lain. Aku pernah tak sengaja melihatnya."
__ADS_1
Wanita itu lalu teringat saat Alexi sedang tertidur, dirinya memungut ponsel cucunya yang terjatuh di atas lantai. Ni Sendari melihat sebuah panggilan telepon dari nomor menerakan nama 'Zain Kamila Sayang' di layar handphone sang cucu.
Sejak saat itulah, wanita itu diam-diam selalu memperhatikan Alexi dan sering melihat cucunya tengah berbicara dan bercanda tawa sendiri di dalam kamarnya. Ni Sendari juga menemukan nama tersebut di lukisan yang sangat dijaga oleh sang cucu.
"Nama dalam lukisan-lukisan itu sama persis dengan nama yang ada di ponsel Alexi. Rupanya bocah itu menyukai gadis lain dan sama sekali tidak menyukai putri dari Seke Awan Putih itu." Ni Sendari mendesahkan napas panjang. "Menurut Kakang, bagaimana?"
Ki Surya Praja meniup air teh panas dan terlihat seperti sedang tidak berpikir sama sekali. Lelaki tua itu hanya menjawab, setelah berhasil menyeruput teh pahit kesukaannya.
"Siapa pun gadis yang disukai oleh Ale, maka aku akan mendukungnya." Ki Surya Praja memang tidak menyukai suatu pemaksaan. Meskipun dulu dirinya pernah melakukan sebuah pernikahan aliansi pada Nata Praja, akan tetapi pria itu tidak memaksa dan menyerahkan sepenuhnya pada sang anak.
"Lalu, bagaimana dengan gadis itu?" bertanya Ni Sendari seolah pada dirinya sendiri. "Jika saja bisa dibatalkan, tentu itu akan lebih baik daripada Ale tertekan dan hanya akan membenci istrinya kelak."
"Aku juga berpikir begitu, Nimas. Tetapi dengan sifat Nata yang keras kepala itu, akankah dia mau menerima pemikiran kita?" Ki Surya Praja menarik napas dalam-dalam. "Yang dia pikirkan hanyalah Sanca Perak memiliki posisi terkuat di dunia seni bela diri, bahkan anaknya pun dia jadikan sebuah pertukaran."
"Kebahagiaan anaknya dia kesampingkan hanya demi mengejar ambisi dan janji dari Sekte Awan Putih. Nata tidak memikirkan bagaimana keadaan mental anaknya sendiri!" Ki Surya Praja merasa sangat kecewa. "Kalau tidak ada kita yang melindungi dan menjaga perasaannya, mungkin dia sudah entah jadi apa."
"Kakang benar, kurasa kepergiannya kali ini juga untuk menghindari Garnis. Dia bahkan terus mengejar Alexi meski setiap kali diabaikan." Ni Sendari menggelengkan kepalanya.
"Aku justru menjadi khawatir, Nimas. Aku takut jika pernikahan itu diteruskan, kemungkinan tidak akan berakhir dengan baik." Ki Surya Praja merasa cemas akan hal yang bisa dia raba ke depannya tentang sang cucu. "Semua orang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Begitu pula dengan anak itu. Jika gadis yang namanya ada dalam lukisan itubisa membuatnya bahagia, maka merestui hubungan keduanya adalah pilihan paling tepat."
"Kakang betul sekali. Alexi kita sangat mencintai gadis itu dan dia bahkan menyebutnya dengan panggilan sayang." Ni Sendari memang kerap mendengar Alexi bicara dengan nada manja dengan Zike melalui saluran telepon.
"Kalau begitu, aku akan mencari informasi tentang dia," ujar Ki Surya Praja.
"Mencarinya?" Ni Sendari bertanya.
__ADS_1
Seseorang dari balik pintu yang mendengarkan pembicaraan keduanya juga merasa terkejut. "Mencarinya?"
...Bersambung...