Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
BURON


__ADS_3

"Kalau kamu masih ingin selamat. Ayo, segera tinggalkan tempat ini!" ajak sang kawan sembari menyeret dengan kasar lengan pelaku. Namun, si pelaku meronta dan menolak ajakan kawannya.


"Ada apa?" Si pelaku dengan bodohnya bertanya dan mengakibatkan sebuah tempelengan mendarat di kepalanya. Pelaku merasa, kalau kawannya hanya ingin segera meninggalkan area parkiran yang masih dijejali oleh banyak orang.


"Dasar bodoh memang tetaplah bodoh!" bentak kawan pelaku.


Pelaku bertanya dengn nada marah dan merasa diremehkan."Siapa yang bodoh?"


"Kamu yang bodoh!" Sang kawan membentak sekali lagi disertai sebuah tempelengan yang ia daratkan pada kepala kawannya.


"Hei! Kenapa kamu tempeleng aku?" Pelaku pelempar gelas plastik merasa marah atas perlakuan kawannya.


"Itu karena kamu bodoh dan dungunya benar-benar kelewat batas!" Temannya menjawab dengan nada bentakan. Sang kawan kemudian menunjuk ke suatu arah. "Lihat, itu!"


Pelaku segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sang kawan. Dia pun kembali bertanya, "Ada ribut-ribut apa di sana?"


Sang kawan lagi-lagi merasa kesal kepada kawan bodohnya ini. "Apa masih belum jelas juga?"


"Ha-ha-harimaaau?" Pelaku pelemparan sungguh sangat terkejut saat melihat seseorang sedang berusaha menenangkan seekor anak harimau yang sedang meronta-ronta dan melompat dari gendongan lelaki bertubuh kekar.


Kawan pelaku masih menunjuk ke arah Tygra yang sedang mengamuk. "Hewan itu mengamuk gara-gara lemparan gelas plastikmu yang mengenainya!"


"Celaka!" pekik pelaku dengan wajah pucat pasi.


"Itu karena ulahmu yang main lempar aja!" sahut sang kawan.


Pelaku bertanya, "Ja-jadi, aku sudah membangunkan harimau yang sedang tidur? Bagaimana ini?"


"Bagaimana apanya, Bodoh!" Kawan si pelaku merasa ingin menelan saja kawannya ini hidup-hidup. "Ayo kita lari!"


"Ya, sebaiknya kita memang lari saja!" sahut pelaku pelemparan yang segera mengikut kawannya yang lari sambil menggerutu dalam hati.

__ADS_1


Keduanya segera bergerak dengan cepat menyeruak barisan orang-orang yang masih berkerumun dan berlalu lalang di area parkiran hotel. Mereka merasa disuguhi tontonan menarik malam ini. Walaupun para petugas keamanan hotel telah membubarkanmya, tetapi mereka masih tetap berada di tempat tersebut.


"Sepatuku basah akibat ulahnya. Masih ditambah lagi ulahnya yang lain. Benar-benar sial sekali berkawan dengannya!" Kawan pelaku benar-benar merasa sial malam hari ini. Keduanya memilih jalan aman dengan cara melarikan diri secepat mungkin dari tempat tersebut.


Namun, rencana untuk melarikan diri mereka pun tidaklah semulus dengan apa yang keduanya perkirakan. Langkah mereka harus terhenti sejenak oleh teriakan seorang wanita yang kebetulan melihat lemparan gelas plastik dari si pelaku.


"Itu dia orangnyaaa!" Wanita berusia sekitar lima puluh tahunan. "Anak-anak itu yang melempar sesuatu ke arah harimau putih itu!"


"Mereka?" tanya salah seorang di antara mereka.


"Ya! Aku melihatnya sendiri, dia melemparkan sesuatu yang mengenai kepala binatang itu!" jawab si wanita dengan penuh keyakinan.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat, kejar merekaaaa!" seru seorang pria sambil menunjuk ke arah pelaku pelemparan dan kawannya.


"Celaka!" pekik kawan si pelaku dengan tubuh gemetaran.


"Lariiiii!" Si Pelaku segera mengambil langkah seribu dari tempat itu dan meninggalkan kawannya begitu saja.


Sekelompok orang pun segera berhamburan mengejar pelaku dan kawannya yang sekarang lebih memilih kabur lari tunggang langgang tanpa arah tujuan. Di dalam benak mereka hanya ingin pergi dan bersembunyi sejauh-jauhnya. Namun, area parkir yang telah sesak oleh banyaknya kendaraan dan orang-orang pun menjadi kendala utama bagi mereka.


"Sebaiknya, aku lari ke dalam saja!" ujar pelaku pelemparan dalam hati yang tanpa pikir panjang segera masuk ke dalam hotel tanpa memperhitungkan langkahnya, sedangkan sang kawan telah berlari ke arah yang berlawanan.


"Sial! Mengapa aku harus lari?" Kawan si pelaku merasa bodoh dan segera menghentikan larinya. Pemuda itu berdiri bersandar pada salah satu tiang besar di hotel tersebut sambil mengatur jalan napasnya yang menjadi sangat kacau dan tersengal-sengal.


"Untuk apa berkawan dengan anak pembawa sial semacam itu?" pikirnya sambil menjatuhkan diri di atas lantai dan duduk untuk mengistirahatkan badannya. Kaki-kakinya terasa pegal-pegal akibat berlari secara serampangan. "Semoga para pengejar tidak ada yang mengenali aku!"


Anak laki-laki tersebut lalu membuka topinya dan menyimpan benda tersebut ke dalam tas selempang yang ia bawa. Ia lalu mengacak-acak rambutnya sendiri agar penampilannya menjadi sedikit berubah. Dia juga membuka jaket dan membaliknya agar motif pakaian itu menjadi berganti. "Semoga dengan begini para pengejar tidak ada yang mengenali aku!"


"Lebih baik segera tinggalkan tempat ini." gumam anak tersebut. "Kalaupun nantinya aku tidak bisa selamat dari kejaran orang-orang itu, toh bukan aku pelakunya."


"Untuk apa berkawan dengan anak pembawa sial semacam itu?" pikirnya sambil menjatuhkan diri di atas lantai dan duduk untuk mengistirahatkan badannya. Kaki-kakinya terasa pegal-pegal akibat berlari secara serampangan. "Setelah tenagaku sedikit lebih baik, aku akan pegi dari sini dan tidak akan mencarinya lagi!"

__ADS_1


"Aku dikejar seperti seorang buronan saja. Dasar sial!"


Sementara itu di tempat lain.


"Gong Ziiiii! Tygra marah dan hendak mengamuuk!" Chriss berteriak yang membuat Alexa, Erick Martin menoleh ke arah Chriss.


Alexa Nata Praja melihat seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut panjang hampir mencapai batas pinggang pun menjadi penasaran. Dia tiba-tiba merasa tertarik pada pria yang membelakanginya dan bergerak cepat ke arah Chriss.


"Ke marikan Tygra, Chriss!" seru Jessey Liu yang juga terkejut saat melihat harimaunya marah dan memberontak dari Chriss.


"Ini, Gong Zi!" Chriss yang sudah cukup kewalahan akhirnya memberikan harimau putiih kecil kepada Jessey Liu, sedangkan orang-orang terlihat histeris dan berlari menjauh.


"Tygra, Sayang. Tenanglah!" Jessey Liu segera menyambar tubuh hewan peliharaannya dan memegang harimau itu kuat-kuat. "Tygra! Tygra, tenanglah!"


"Chriss. Sebaiknya kita temui Rubby sekarang juga. Kurasa saat ini dia telah menemukan tempat untuk kita," ujar Jessey Liu dengan yang sedikit kerepotan menghadapi kucing ganasnya.


"Baiklah, Gong Zi!" Chriss menyahut.


"Erick!" Jessey Liu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut karena Tygra masih terus gelisah melihat orang banyak. "Selesaikan semuanya secara baik-baik dan jangan ada pertikaian lagi!"


"Baik, Gong Zi! Saya akan mengurus mereka semua." Erick Martin menyahut dengan sikap yang sangat sopan. "Silakan, Gong Zi!"


Alexa yang merasa sangat tertarik dengan Jessey Liu pun memanggil pria ber-jas warna kopi susu tersebut. "Tunggu, Tuan!"


Panggilan Alexa membuat langkah Jessey Liu tertahan. "Maaf, Nona. Saya sedang sangat terburu-buru dan tidak bisa menghormati Anda."


Alexa terus berjalan mendekati Jessey Liu yang masih menahan Tygra dalam pelukannya. Gadis itu bergumam dalam hati. "Menarik!"


"Maaf, kalau boleh bertanya. Siapakah Anda ini?" bertanya Alexa Nata Praja sambil bersedekap dan memutari Jessey Liu yang berdiri gagah dan anggun di depan para pengikutnya. Meskipun dia belum melihat wajahnya, tetapi sudah bisa terlihat jika dia bukanlah orang yang biasa saja.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2