
"Exa, bukankah lebih baik jika aku tidak pulang?" tanya Alexi sambil berurai air mata.
"Kaaak!" Alexa ikut menangis sambil mempererat pelukannya.
"Exa, Kakak akan pergi bersama Kakek, datanglah kalau kamu rindu Kakak." Alexi membelai rambut Alexa dan mengecup puncak kepala adiknya lalu berbisik, "Sampaikan salamku untuk Ibu. Ingatlah untuk selalu menjaga dirimu dan juga Ibu,"
Alexa menganggukan kepalanya, "Okay, Kak. Baik-baiklah di tempat Kakek,"
"Mhhh." Alexi mengusap kepala adiknya dan mencium keningnya dengan lembut. Kemudian dia kembali menghadap ayahnya.
"Ayah, aku pamit." Alexi berucap sambil menyilangkan tangan kanannya di dada lalu membungkukan badannya sebagai tanda menghormat.
"Mmh." Nata Praja hanya bergumam tanpa menoleh sambil menyembunyikan titik bening di sudut matanya.
"Alexi, jangan buang waktu! Kau memang tidak seharusnya berada di neraka ini!" seru Ki Surya Praja dengan suara dingin. Pria tua itu merasa sangat marah kepada anak lelakinya yang keras hati.
"Ya, Kek." Alexi segera membalikan badannya dan pergi meninggalkan Nata Praja yang berdiri membelakangi pintu ruangan besar itu. Meski hatinya tak rela melihat kepergian anaknya, namun keangkuhannya membuat lelaki itu lebih memilih untuk tidak menahan Alexi.
"Kakek, Kak Ale ... Selamat jalan!" ucap Alexa sambil menatap nanar kepergian kedua orang pria yang sangat disayanginya. Alexi menganggukan kepalanya dan berjalan di belakang Ki Surya Praja yang telah mendahului pergi menuju ke mobilnya yang berada di tempat parkir khusus.
Tak lama setelah kepergian Akexi, terdengar suara derap langkah kaki yang datang dengan tergesa-gesa. Diah Ningsih muncul dengan wajah gembira, karena akan bertemu dengan anak lelaki satu-satunya yang sudah sangat lama dirindukannya.
"Ale ... Aleee!" panggil Diah Ningsih dengan nada tak sabar. Diah Ningsih tak menjumpai Alexi di dalam ruangan besar itu, hanya ada suaminya dan Alexa yang masih berada di sana. Wanita cantik istri Nata Praja itu mencari-cari keberadaan putranya.
"Di mana dia?!" tanya Diah Ningsih kepada Nata Praja dan Alexa.
Alexa menggelengkan kepalanya sambil mengusap perlahan air matanya. Dari sikap Alexa itulah Diah Ningsih bisa menebak apa yang telah terjadi antara ayah dan anak yang sama-sama memiliki sifat keras.
Nata Praja mendesah berat lalu menoleh kepada istrinya, sedangkan Alexa hanya bisa tertunduk karena merasa upayanya mencari dan membawa pulang kakaknya menjadi sia-sia belaka.
"Jangan cari dia lagi, dia sudah pergi dengan Kakeknya!" jawab Nata Praja dengan suara keras dan dingin.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia pergi lagi tanpa bertemu dengan Ibunya?" Diah Ningsih bertanya dengan nada cukup tinggi guna meluapkan perasaannya. Wanita itu menangis seraya menelungkupkan telapak tangan kanan pada mulutnya. Hatinya sungguh sangat sedih tak terhingga.
__ADS_1
"Aku akan menyusulnya! dia pasti belum pergi terlalu jauh!" Diah Ningsih berteriak sambil berlari ke luar ruangan itu untuk menyusul Alexi yang sudah lama dirindukannya.
"Nimaaas!" Nata Praja berteriak memanggil istrinya, namun wanita itu telah menghilang dari halaman mansion untuk mendapatkan anak lelakinya.
"Ibuuuu!" Alexa segera berlari menyusul ibunya. Nata Praja hanya bisa tertegun menatap dua orang wanita cantik yang sangat penting baginya.
"Maafkan Ayah, Ale." Nata Praja bergumam sendiri dalam hati. Sesungguhnya dia sangat menyesali atas sikap angkuhnya kepada anak lelaki satu-satunya itu.
"Maafkan aku, Nimas. Aku terlalu keras dalam mendidiknya." Nata Praja menerawang menatap langit-langit aula pertemuan itu. Ada bayangan wajah seseorang yang terus menghantuinya siang dan malam.
Sementara itu Diah Ningsih dan Alexa sudah tak mendapati Alexi di manapun, anak lelakinya telah pergi bersama Ki Surya Praja kakeknya menuju ke kediamannya yang cukup jauh dari markas pusat sekte Sanca Perak. Dengan sangat kecewa akhirnya Diah Ningsih dan Alexa kembali ke dalam mansion. Diah Ningsih hanya bisa menangis di dalam kamarnya meratapi kepergian Alexi.
Nata Praja tak bisa berbuat apapun untuk menghibur istrinya, ia mengakui dalam hati jika itu adalah kesalahannya yang bersikap kasar kepada putranya hingga membuat Ki Surya Praja bersih keras membawa Alexi dari rumahnya sendiri.
Sementara itu di dalam mobil, Alexi duduk di sebelah kakeknya dengan mata sembab akibat menangis. Ki Surya Praja hanya bisa memeluknya untuk menenangkan hati cucunya itu, "Sudahlah pria kecilku, biarkan saja Ayah bodohmu itu dengan sikap keras kepalanya. Kau masih memiliki Kakek dan Nenek yang akan selalu menyayangimu,"
"Aku merasa sangat sedih dengan sikap Ayah kepadaku." Alexi mengusap air matanya, "Lalu, apa gunanya dia menyuruhku kembali?"
"Heeehh, begitulah dia sejak dulu. Sangat susah untuk dimengerti," ujar Ki Surya Praja, "Tapi sebenarnya dia juga sangat memikirkan masa depanmu dan hal itulah yang membuatnya sangat mengaturmu,"
"Tidak boleh membencinya, maka lebih baik menjauhinya sekali lagi." Alexi bergumam dalam hati, "Ayah berhati batu!"
Kedatangan Ki Surya Praja, Alexi dan para pengikut setianya disambut oleh seorang wanita tua yang langsung memeluk Alexi dengan segenap rasa rindunya. Dia adalah Sendari neneknya atau ibu dari Nata Praja ayahnya.
Hari berganti dengan cepat membuat kerinduan Alexi kepada gadis yang dicintainya semakin menggebu, hal itu membuatnya terus memikirkannya siang dan malam.
Ki Surya Praja nampak paham akan keadaan cucunya, meskipun sang cucu tak pernah menceritakan apa yang tengah dipikirkannya. Alexi memang sengaja menutupinya, karena dia takut jika sampai hal itu tersebar akan terjadi kemungkinan buruk bagi Zike dan itu membuatnya semakin gelisah memikirkan bagaimana cara menyelamatkan cintanya.
Selama tinggal di tempat masa kecilnya itu Alexi hanya fokus membicarakan tentang bisnisnya dan mengendalikan semuanya dari tempat itu dibantu oleh Segara, Danny Hendrat serta Abraham. Mereka adalah orang-orang kepercayaan Ki Surya Praja yang ditunjuk secara langsung serta telah melakukan sumpah setia kepada Ki Surya Praja untuk mendampingi Alexi selama hidup mereka.
Di tempat lain yang jauh dari mansion mewah kediaman Ki Surya Praja. Hari ini adalah tanggal di mana konser Evil Grave akan berlangsung di sebuah gedung pertunjukan. Zike dan Yi Xie telah berada di tempat itu sesuai perjanjian mereka sebelumnya.
Seperti biasa keduanya memakai kostum kebanggaan para anak metal pada umumnya yaitu kaos hitam, celana jeans dan sepatu boots tinggi. Kali ini Zike memakai sepatu boots dari benang rajut buatannya sendiri yang tak kalah menariknya dari sepatu boots yang biasa dipakai oleh para rocker lainnya.
__ADS_1
Hingar-bingar irama cadas dari puluhan sound system dari arah stage terdengar sangat memekakan telinga, namun ratusan penggemarnya begitu antusias menikmati konser musik under ground itu dengan caranya masing-masing. Kegembiraan nampak tersirat pada wajah-wajah mereka yang menggemari irama musik bawah tanah yang terdengar aneh bagi banyak orang.
Saatnya EVIL GRAVE naik ke atas stage menunjukan performa-nya, kehadirannya langsung disambut teriakan histeris para fans yang sudah lama menantikan penampilan mereka. Zike tersenyum saat tatap matanya beradu dengan salah satu anggota Evil Grave yang tampak telah bersiap dengan gitar elektrik berwarna biru tua dengan garis-garis hitam motif belang kuda zebra. Dia adalah Angel Andersson idola Zike.
"Angeeeeeel" teriak Zike, gadis itu melombat-lompat sambil melambaikan tangannya ke arah Angel Andersson yang mengangguk ke arahnya sambil tersenyum manis.
"Wuih, pantesan aja lu demen banget sama dia, cakep bener pacar orang," ucap Yi Xie berdecak kagum akan ketampanan gitaris blasteran itu.
"Pacar gueee!" sentak Zike.
"Jiaah, ngaku-ngaku aja lu. Emang dia mau sama elu yang dekil gini?" Yi Xie mencibir.
"Enak aja ngatain gue dekil!" Zike meninju lengan Yi Xie hingga pemuda tampan itupun menjerit kecil.
YI XIE
"Yi, kita ke front row yuk!" Zike menarik tangan Yi Xie sekenanya saja. Yi Xie menuruti ajakan gadis cantik yang membawanya menyelinap di antara para penonton yang padat berjejalan memenuhi gedung pertunjukan itu.
"Pelan-pelan Zike!" seru Yi Xie. Akibat dari tarikan Zike yang tergesa-gesa karena melihat Angel Anderson melambaikan tangan ke arahnya membuat Yi Xie berjalan dengan cukup keteteran, hingga tanpa sengaja Yi Xie menginjak kaki seseorang yang seketika menjerit kesakitan.
"Maaf, saya sungguh tidak sengaja!" seru Yi Xie kepada gadis itu sambil menganggukan kepalanya dengan hormat.
"Oh, tidak apa-apa!" kata gadis cantik yang terinjak kakinya oleh Yi Xie. Gadis itu meringis kesakitan sambil mengangkat salah satu kakinya yang terasa nyeri.
"Kau?" Yi Xie terkejut.
Tatap mata keduanya beradu sesaat, Yi Xie hanya bisa melambaikan tangannya karena Zike masih terus memaksanya untuk berjalan menerobos barisan para fans musik under ground yang padat berjubelan.
"Zee, ada apa?"
__ADS_1
...Bersambung ......