Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
DEMI ALEXI


__ADS_3

"Kami sudah menyiapkan semua keperluanmu dari A sampai Z. Jadi kamu hanya harus berlatih vokal dan berlatih olah panggung selama lima belas hari ke depan tanpa henti." Ye Kai memberi penjelasan lebih lanjut kepada gadis yang masih terlihat bimbang ini. "Zike, kamu jangan khawatir tentang tempat tinggal, makan ataupun segala kebutuhan lainnya. Kami management Danger Death sudah memastikan berbagai macam jaminan yang tidak akan merugikan kamu maupun kami."


"Lima belas hari? Apakah saya bisa?" Zike merasa lima belas hari adalah waktu yang terlalu singkat untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.


"Aku yakin kamu bisa, Zikeee!" Yi Xie berbisik untuk menguatkan hati gadis ini.


"Dengan skill bawaan kamu yang pernah aku lihat dulu, sebenarnya itu bukan hal yang terlau sulit. Kamu hanya perlu berlatih untuk mengasahnya dengan sebuah bimbingan tentu saja." Ye Kai berkata sambil memainkan bolpoint hitam yang sedang dipegangnya. "Dan saat ini, kamu hanya perlu satu kata untuk menjawabnya."


"Apakah ... saya harus menjawabnya sekarang juga?" Zike berniat ingin meminta penguluran waktu barang beberapa hari untuk memikirkan tawaran kerja sama yang harus dia tanda tangani ini.


"Kami juga punya masalah lain, Zike. Dan kami tidak punya banyak waktu. Walaupun seandainya saja kami bisa mendapatkan pijaman vokalis dari grup lain, atau mengajak penyanyi yang sudah tenar. Tetapi kami inginkan yang milik kami sendiri." Mei Lan akhirnya berterus terang akan kesulitan band mereka. "Yang lebih susah lagi adalah karena Master Liu tidak mengijinkan kami memakai vokalis semacam itu dan waktu kita hanya tinggal setengah bulan saja."


Zike menganggukan kepala tanda sedikit mengerti. Namun, dalam hatinya dia merasa jikalau orang yang disebut-sebut sebagai Master Liu ini pastilah sosoknyang sangat sulit untuk dihadapi. "Mendengar cerita tentangnya saja, aku sudah bisa merasakan bagaimana susah menghadapi orang semacam itu."


"Maafkan kami, Zike! Kau memang harus menjawabnya sekarang. Dan kalau kamu menyetujuinya, tolong segera tanda tangani semua berkas surat-surat ini!" Mei Lan menyodorkan berkas-berkas yang harus dipelajari dan ditanda tangani oleh gadis itu. "Zike, percayalah pada kami!"


"Kamu bisa membaca semua yang tertulis di sini. Kami beri waktu selama tiga puluh menit untuk kamu berpikir." Ye Kai sepertinya cukup memahami situasi hati gadis ini. "Silakan, Zike! Kami takan menganggumu."


Yi Xie menyenggol lengan Zike dengan sikunya. "Zikeee! Tunggu apa lagi?"


"Baiklah. Akan saya pelajari dulu semua rinciannya." Zike meraih map biru untuk dibacanya dan meneliti dengan saksama semua kalimat yang tertera di sana.


"Sepertinya, posisiku di sini cukup bagus. Dengan semua fasilitas yang ada di sini, bukankah aku tidak perlu lagi menumpang di rumah kost Nestin?" Zike berpikir kali ini. "Dan aku tidak perlu lagi bersusah payah berurusan dengan para preman sialan itu!"


"Dan lagi, bukankah aku ingin Ale menemukan aku?" Zike masih bicara dalam hati. Dia memang bertujuan memilih cara ini untuk menemukan kekasihnya ini. "Alexi sayang, tunggu aku!"


"Demi Alexi!" Zike berseru dalam hati.


Setelah memikirkan berbagai macam hal yang akan dia dapatkan dengan bergabung ke dalam kelompok band milik Jessey Liu ini. Akhirnya mengambil bolpoint dan segera menanda tangani semua berkas tanpa keraguan lagi. Yi Xie akhirnya bisa merasa lega karena dia sudah berhasil menempatkan kawannya ini ke tempat yang dia rasa sangat tepat.


"Baguslah. Akhirnya dia luluh juga." Yi Xie berucap dalam hati. Setidaknya bebannya tentang gadis ini sudah akan terangkat. "Semoga dia kerasan bersama mereka."


Yi Xie memang tidak pernah tahu tentang kisah cinta Zike. Dia bahkan tidak pernah menanyakan, apakah sahabatnya ini sudah memiliki seorang pacar atau tidak. Karena bagi Yi Xie, dia hanya ingin menolong gadis yang dianggapnya perlu diperhatikan dan dikasihani. Yi Xie berkata dalam hati sambil memandangi dari arah samping wajah sahabatnya yang sedang sibuk menandatangani berkas-berkas. "Hidup sebagai pelarian dan jauh dari saudara, tentu bukanlah hal yang mudah baginya. Dan kalau bukan aku yang peduli padanya selain Nestin, mungkin tidak ada lagi."


Setelah selesai menandatangani dan merapikan kembali semua berkas dalam map biru tersebut, Zike mengembalikan semua berkas itu kepada Mei Lan yang masih memperhatikannya sambil berbalasan senyum dengan Yi Xie dan Ye Kai secara bergantian. "Master Ye, Nyonya Mei Lan! Saya sudah selesai menandatanganinya."

__ADS_1


"Baguslah! Akhirnya satu masalah kami teratasi sudah!" Ye Kai terlihat lega hingga tanpa sadar tersenyum.


"Terima kasih atas kesempatan dan kesepakatan kerja samanya ini, Zike." Mei Lan dengan wajah cerah menerima kembali map biru dari Zike. "Semoga semuanya berjalan dengan lancar tidak ada hambatan suatu apa."


"Oh ya, Zike. Mulai besok kamu harus tinggal di tempat yang sudah kami sediakan untukmu. Dan kami masih ada satu hal lagi." Ye Kai kemudian berkata tanpa menoleh. "Lan'er!"


"Mengerti." Mei Lan hanya perlu mengucapkan sepatah kata saja untuk menjawab Ye Kai. Wanita itu lalu beranjak guna mengambil sesuatu. Tak seberapa lama kemudian wanita itu sudah datang kembali dengan membawa beberapa buah paper bag besar yang isinya masih menjadi misteri.


"Apa lagi itu?" pikir Zike sambil menatap wanita cantik yang sangat dia kagumi ini


Mei lan memberikan semua barang bawaannya kepada Zike. "Ini untukmu."


"Un-untuk ... untuk aku?" Gadis itu merasa keheranan sekali. "Ini ... semua ini?"


"Sudah terima saja!" Lagi-lagi Yi Xie harus memberi isyarat agar kawannya ini segera menerima saja pemberian dari Mei Lan. "Ayolaaah! Setelah ini kita pulang dan pergunakan waktumu nanti untuk berkemas-kemas."


"Sudahlah, kamu terima saja." Mei Lan memberikan dengan paksa barang-barang tersebut kepada Zike yang tak bergerak sama sekali. Sinar keraguan masih tersirat di raut wajahnya.


"Kalau begitu kami berdua permisi." Yi Xie berpamitan pada kedua orang yang sudah lama dikenalnya ini.


"Sama-sama, Zike." Mei Lan menyahut seraya tersenyum lembut.


"Baiklah, karena semua sudah selesai dan kesepakatan telah terjalin. Maka, kita akan berpisah sampai di sini," ujar Ye Kai sembari bangkit dan mengangkat tangannya ke atas guna melemaskan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku dan badan yang terasa pegal-pegal.


"Maaf, kami tidak bermaksud mengusir kalian. Kalau kalian masih ingin bersantai atau berjalan-jalan untuk melihat-lihat keadaan hotel ini, silakan saja!" Mei Lan berucap sambil mengemasi semua barang-barang miliknya dan Ye Kai yang berserakan di atas meja. "Kami masih harus menjalankan tugas kami yang lain."


"Kalau begitu, kami berdua juga ingin undur diri." Yi Xie berpamitan pada kedua orang yang sudah lama dikenalnya ini. "Kami akan langsung pulang, karena Zike juga harus bersiap-siap untuk kepindahannya besok. Dan sayalah yang akan mengantarkannya."


"Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Yi Xie!" Ye Kai menepuk bahu Yi Xie sambil mengajaknya keluar dari ruangan itu. Pria itu berbisik, "Bonus dari kami akan segera dikirim ke rekeningmu."


"Master Ye! Sa-saya ti-tidak ... eehh, maksudnya saya bukan orang yang seperti itu!" Yi Xie tidak ingin mengambil keuntungan dari kawannya ini.


"Kamu tenanglah! Itu hanya hadiah kecil saja, kamu sudah berusaha juga, kan?"


Yi Xie ingin menolaknya. "Tapi ...."

__ADS_1


"Sudaaah! Aku tidak ingin ada kata tetapi!"


Zike dan Mei Lan juga segera berjalan mengikuti kedua pria yang sedang bicara dengan suara tidak jelas. Hingga sampai di sebuah persimpangan, mereka pun berpisah untuk meneruskan kegiatannya masing-masing.


Ye Kai berjalan dengan langkah cepat sambil menggandeng Mei Lan. Hal itu membuat wanita yang baru dinikahi sejak setahun yang lalu itu merasa sedikit kerepotan mengkutinya. Mei Lan sedikit heran dengan tingkah suaminya ini. Mereka menuju ke ruang utama yang hanya bisa dimasuki oleh para pimpinan saja.


"Geeee! Tidak bisakah berjalan pelan-pelan saja? Aku bisa terkilir nih!" bertanya Mei Lan yang merasa sangat kesusahan dengan sepatu high heel-nya.


Ye Kai dengan tanpa menoleh menyahut, "Tidak bisa! Ini harus segera diselesaikan!"


"Iya, tapi ada apaaa?"


"Nanti kamu juga akan tahu sendiri!" sahut Ye Kai yang memang ingin melakukan sesuatu.


Beberapa karyawan hotel hanya membungkuk hormat sambil menganggukan kepala saat berpapasan dengan mereka. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh orang nomor tiga di Berlian Jaya Abadi ini, sehingga dia menyeret istrinya seperti sedang terburu-buru untuk diajaknya menuju ke suatu tempat. Mei Lan sungguh heran dibuatnya.


"Lihat! Master Ye dan Nyonya Lan ada apa ya?" Pelayan wanita saling berbisikan dengan tingkah pimpinannya ini.


"Mana aku tahu?" Temannya menjawab sambil mengangkat bahu. "Mungkin, sedang ada sesuatu yang membuat mereka harus terburu-buru."


Pelayan berambut pendek tak bisa menahan dugaannya. "Mungkinkah ...."


"Aaah, sudahlah! Daripada ngomongin orang lain, sebaiknya kita lanjutkan saja tugas kita!"


"Benar sekali. Ingat loh ya, CCTV ada di semua tempat," ujar wanita bertahi lalat di dagunya.


"Ya sudaaaah. Mari kerja lagi!"


Meskipun mereka merasa sangat penasaran, akan tetapi mereka memilih untuk tidak bertanya ataupun membicarakan hal yang tidak seharusnya mereka campuri. Para pelayan itu memmang orang yang terlalu takut kepada sosok Jessey Liu dengan ketegasannya yang tak bisa dibantah.


Sementara itu, Ye Kai terus membawa Mei Lan menuju ke ruangan pribadinya dengan niat ingin menunjukan sesuatu kepada wanita yang sangat dicintainya ini. Meskipun keadaan dirinya masih sangat bau keringat yang bercampur dengan debu, akan tetapi dia masih belum ingin mengganti pakaiannya. 


"Ge, bukankah kita sebaiknya pulang dulu?" bertanya Mei Lan yang sudah tidak tahan dengan bau badan Ye Kai. Untung saja dia juga sangat mencintai lelaki yang gemar bertarung ini, sehingga bau keringat semasam buah belimbing sayur punsudah dia anggap seperti minyak zaitun yang sama-sama menyengat. "Baju Ye Ge bau sekali. Apakah Ge ge tidak merasa risih dengan pakaianmu ini?" 


"Pulang?"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2