Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
MENJADI REKAN


__ADS_3

Keduanya masih terus bercakap-cakap melalui saluran seluler hingga terdengar suara ketukan pintu. Zike pun berjalan ke arah pintu dan membukanya dan masih terhubung dengan Nestin. Gadis itu mendapati Suri tanpa membawa keranjang makanan. Zike pun segera berpamitan kepada Nestin karena ada orang yang datang ke tempatnya.


"Suri?" Zike mendapati wajah Suri yang tersenyum kepadanya.


"Selamat petang, Nona!" sapa Suri sang pelayan bertubuh gendut yang begitu setia melayaninya setiap hari.


"Selamat petang juga, Suri. Silakan!" Zike mempersilakan gadis pelayan itu untuk masuk ke dalam ruang paviliun, tetapi Suri menolaknya.


"Tidak perlu, Nona. Saya hanya menyampaikan pesan dari nyonya, kalau Nona Zike diminta untuk datang ke kediaman sekarang juga," ujar Suri dengan sikap hormat.


"Diminta ke kediaman?" Zike merasa heran, tetapi dia juga tak mungkin membantah gurunya. "Baiklah. Kita berangkat sekarang!"


"Mari silakan, Nona!" Suri berjalan di depan memimpin jalan dengan Zike yang mengikutinya tanpa bantahan. Mereka berdua melangkahkan kaki ke kediaman Ye Kai dan langsung menuju ke ruang makan.


Zike merasa takjub dengan tata ruang yang terlihat sangat mirip dengan rumah-rumah tradisional yang sering ia lihat pada film-film Mandarin. Gadis itu menyapukan pandangannya ke segenap arah sambil berdecak kagum meski tidak ia perdengarkan.


"Silakan, Nona. Tuan dan nyonya sudah menunggu di ruang makan." Suri membua pintu ruangan lain yang digunakan untuk ruang makan. Meskipun tidak semewah di hotel yang pernah ia singgahi, tetapi ruang makan ini juga terlihat elegan.


"Orang-orang semacam mereka memang bisa bebas melakukan apa saja." Zike bergumam dalam hati sambil terus mengagumi apa saja yang ia lihat.


Dari kejauhan Zike hanya melihat satu orang saja yang terlihat di ruangan tersebut, sedangkan kursi yang lain tampak kosong tanpa penghuni.


"Zike, cepatlah! Kami sudah kelaparan sejak tadi hanya karena menunggumu!" Suara Ye Kai terdengar dari ujung meja besar berbentuk lingkaran.


"Shifu?" Zike terkejut melihat Ye Kai yang ternyata sudah kembali. Gadis itu berjalan mendekat dan segera melakukan salam gongshou. "Hormat murid kepada Shifu!"


"Mmhh, diterima." Ye Kai berkata sambil menoleh ke arah muridnya. "Duduklah! Sebentar lagi Nu Jiaoshi-mu juga datang."


"Terima kasih, Shifu." Zike duduk dengan sedikit canggung di salah satu kursi tak jauh dari Ye Kai. Gadis itu hanya bisa diam dan merasa bingung. Sampai akhirnya dia memiliki pertanyaan yang dirasa tepat.


"Shifu, kapan Anda kembali?" tanya Zike sambil memainkan jari-jemarinya sendiri.

__ADS_1


"Baru satu jam yang lalu," jawab Ye Kai sambil mengangkat poci yang ada di hadapannya. "Oh ya, bagaimana dengan latihanmu hari ini?"


Zike merasa sedikit malu untuk menceritakan latihannya hari ini. Dia bahkan tidak bisa menghindari setiap serangan balik dari boneka besar. Zike menjawab dengan ragu. "Berjalan dengan baik, Shifu."


"Berjalan dengan baik? Kamu bahkan tidak bisa mengalahkan boneka itu." Sebuah suara seorang pria terdengar dari arah pintu ruangan.


Zike dan Ye Kai serentak menoleh dan melihat Jing Xuan datang bersama Mei Lan. Keduanya langsung menempatkan diri di kursi yang mengelilingi meja bundar tersebut. Jing Xuan sengaja duduk bersebelahan dengan Zike agar semakin dekat. Mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda tampan di sampingnya, Zike menjadi merasa malu.


"Ah Xuan, jangan menggodanya." Mei Lan menyiku lengan Jing Xuan karena merasa tidak tega melihat muridnya yang wajahnya menjadi bersemu merah. "Zike, jangan dengarkan dia."


"Aku tidak menggodanya, Bi. Bukankah itu memang benar, Zike?" Jing Xuan tidak memedulikan raut wajah gadis yang duduk di sampingnya. Pemuda itu melirik sekilas pada Zike yang hanya terdiam.


"Itu memang benar. Akulah yang masih bodoh dalam hal itu." Zike mengakui ketidakbisaannya. "Zike ini masih butuh bimbingan dari Shifu dan Nu Jiaoshi."


"Jangan terlalu dipikirkan, Zike. Kamu hanya butuh latihan dengan tekun itu saja." Mei Lan berkata seraya menyenduk nasi untuk suaminya dan juga Jing Xuan.


"Ayo, Zike! Jangan sungkan-sungkan lagi dengan kami." Mei Lan mempersilakan muridnya untuk mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Eh, makanlah yang banyak!" Jing Xuan meletakkan sepotong paha ayam goreng untuk Zike dan juga untuk dia sendiri. "Mulai besok, kita akan belajar bersama di sini."


"Ah Xuan tahu, Paman. Tapi tidak ada salahnya kalau belajar hal yang lainnya." Jing Xuan kembali merasa kecewa dengan ucapannya sang paman. Namun, dia juga sadar akan posisinya yang serba sulit.


"Memang benar. Ilmu tidak hanya tentang seni bela diri saja dan kamu bisa mempelajari apa pun yang ingin kamu kuasai, terutama hal pengobatan," ujar Ye Kai sambil menuang segelas air putih untuk dirinya sendiri.


"Aku mengerti, Paman. Dan akau juga tidak akan memaksa apa yang Paman tidak bisa mengajarkannya padaku." Jing Xuan berkata dengan nada sedihnya. Meskipun dalam hati sungguh sangat menginginkan dia bisa sembuh dan mempelajari ilmu dari Sekte Elang Emas, tetapi dia juga tidak bisa melanggar aturan yang sudah ada.


"Bagaimana kalau selama kamu di sini, kamu juga mengajarinya?" Mei Lan hanya ingin agar kekecewaan Jing Xuan tidak terlalu dalam di hatinya.


Jing Xuan merasa agak sedikit terkejut dengan ucapan Mei Lan. "Bukankah Bibi tahu sendiri, kalau aku tidak bisa ...."


"Kamu bisa mengarahkan Zike tentang cara menaklukkan Dong Xi," ujar Mei Lan sambil memutar bagian tengah meja hingga hidangan yang lain ikut berputar dan berpindah ke hadapannya.

__ADS_1


"Oh, jadi meja ini juga bisa diputar seperti itu?" Zike bertanya dalam hati dan merasa heran sekali lagi.


"Sepertinya itu bagus juga," sahut Jing Xuan sambil menoleh ke arah Zike. "Bagaimana, apa kamu bersedia berlatih denganku?"


Zike tak segera menjawab, melainkan menatap kepada kedua gurunya. Tampak sekali, jika Mei Lan dan Ye Kai juga mengetahui apa yang ada dipikirkan Zike, lalu pasangan suami istri pun menganggukan kepala tanda menyetujui apa yang dikatakan oleh Jing Xuan.


Demi mendapat respon baik dari kedua gurunya, Zike pun tidak lagi merasa ragu untuk menjawab, "Baiklah. Sepertinya itu bagus juga."


"Baguslah! Mulai sekarang, kita bisa jadi partner yang saling mendukung satu sama lain!" Jing Xuan terlihat senang.


"Mmhh!" Zike menganggukan kepalanya sambil menatap Jing Xuan.


Melihat keakraban keduanya, Ye Kai dan Mei Lan merasa senang tentu saja. Mereka berharap Zike bisa menjadi sahabat yang baik untuk Jing Xuan yang datang ke tempat tersebut untuk melakukan terapi penyembuhan.


"Sudahlah, kita bicara apa saja nanti. Sekarang saatnya makan!" Ye Kai tak ingin terus mendengar suara ribut-ribut. "Di mana Lu'er?"


"Aku baru saja mengantarkan makanan ke kamarnya, Ge." Mei Lan yang menyahut. "Dia hanya mengatakan sedang tidak ingin keluar kamar saja."


"Kenapa anak itu? Apa dia sedang tidak enak badan atau marah pada seseorang?" Ye Kai bertanya lagi. Dia sudah sangat hafal akan kelakuan keponakan kecilnya.


"Mungkin dia marah padaku, Paman." Jing Xuan lalu bercerita tentang pertengakarannya dengan Ye Lu. "Jadi, kemungkinan dia tidak mau bertemu denganku, Paman."


"Jadi, dia menghukum mereka dengan cara seperti itu?" Ye Kai pun merasa cukup kaget mendengar penuturan dari Jing Xuan. "Baiklah, biar paman yang bicara dengannya nanti."


"Ge, jangan terlalu kasar padanya!" Mei Lan berkata sambil memegang lengan Ye Kai dengan lembut.


"Aku hanya akan mengajarinya saja. Menghukum juga tidak bisa seenakya seperti itu! Kalau di antara mereka ada yang celaka atau tewas oleh panah itu, bagaimana?" Ye Kai terlihat sangat emosi. "Itu sama saja mengundang aparat hukum untuk datang ke kediaman ini!"


"Benar sekali, Paman. Aku juga berpikir demikian. Sangat berbahaya sekali permainan Lu-Lu itu." Jing Xuan menyahut. "Mungkin hanya kepada Paman saja dia akan merasa takut, sedangkan pada orang lain dia tidak pernah merasa gentar."


Setelah acara makan malam berakhir, mereka habiskan membicarakan hal yang lain. Ye Kai mengungkapkan rencana kepindahan mereka ke Kota Wu Shang. Mendengar nama itu, membuat Zike merasa sangat terkejut. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi sedikit pucat.

__ADS_1


"Aku tidak ingin lagi ke sana!" Zike berteriak dalam hati. "Kalau aku kembali ke Wu Shang, bukankah bisa saja bertemu dengan Meilia setiap saat?"


...Bersambung...


__ADS_2