
"Aaaah! Pusing aku!" Alexi menarik selimut dan menyembunyikan diri di dalamnya dengan perasaan kacau. Abraham bahkan juga menentang rencananya kali ini.
"Dengan ada atau tidaknya persetujuan dari orang lain, aku tak peduli! Aku akan tetap melakukannya!"
"Tu-Tuan Muda!"
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri!" bentak Alexi dari balik selimut dengan nada marah.
"Tuan Muda, maafkan Abraham ini! Abraham hanya tidak ingin Anda terus mendapatkan hukuman dari ayah Anda." Abraham segera berpamitan karena Alexi tampaknya tidak ingin lagi bicara dengannya. "Selamat beristirahat, Tuan Muda!"
Sembari berlalu dari kamar sang tuan muda, Abraham membatin, "Semoga Anda tidak melakukan kecerobahan yang akan membuat Anda semakin tersiksa, Tuan Muda!"
Alexi masih membungkus dirinya sendiri dalam selimut sambil memikirkan dan membayangkan sesuatu. "Berlatih dan berlatih, lalu aku akan menantang murid baru Sekte Elang Emas yang bernama Zain Kamila."
Alexi tersenyum sendiri. "Aku akan mengajukan sebuah pertaruhan dengan diriku dendiri sebagai hadiahnya."
"Jika aku kalah, maka dia berhak membawaku dan memiliki aku. Dan kalau aku yang menang, maka aku yang akan membawanya ke mana saja yang aku inginkan termasuk ke ...."
Alexi merasa tak kuasa untuk melanjutkan perkataannya. Habya sebuah tawa yang ia tahan dengan bungkaman tangannya sendiri. Dia sungguh merasa jikalau rencananya ini sangat bagus dan pasti akan disetujui oleh Xike.
"Bagus! Kau sangat cerdas kali ini, Alexi!"
Namun, akankah rencananya ini akan sepenuhnya berhasil?
Pada keesokan harinya di tempat lain. Pagi ini, sebelum berangkat ke kantor pusat BJAC untuk menjalankan tugas, Ye Kai telah meminta seseorang untuk mencarikan sebuah keranjang dan sebuah kereta bayi untuk tidur si harimau kecil. Tidak ketinggalan pula peralatan bayi lainnya berupa dot, susu serta pampers hingga peralatan mandi.
Sungguh perlakuan yang sangat istimewa bak seorang pangeran saja dan hal itu, membuat para pelayan kediaman semakin terheran-heran. Sampai pagi hari ini pun, mereka tidak berhasil melihat wajah Master Liu. Karena apa pun keperluan Jessey Liu, Mei Lan sendiri atau Chriss yang akan mengantarkannya.
Sementara itu di dalam kamar besar tersebut, Jessey Liu tetap melakukan pengawasan terhadap jalan dan perkembangan bisnisnya. Dia bahkan masih sempat menghubungi ibunya dan mengatakan jikalau dia masih berada di luar kota.
Suasana pagi nan indah dengan langit birunya yang cerah. Wajah mentari berseri tanpa saputan selembar pun awan. Sinar terang nan hangat menyemburat ke segenap penjuru mata angin, hingga celah terdalam sekalipun.
Jessey Liu telah terjaga sejak hari masih gelap, karena bayi harimau itu terus merengek dan tidak bisa tidur dengan nyaman. Kemungkinan pula, luka yang diperban pada kaki kiri depannya terasa sakit hingga bayi itu gelisah meski telah berulang kali diberi minum susu dan membuat Jessey Liu sudah seperti seorang ayah.
Walaupun Chriss telah berulang kali meminta agar bayi itu dirawat olehnya, tetapi sang tuan selalu menolak dan tidak mengijinkan siapa pun membawa pergi harimau kecil tersebut. Sepertinya, hati Jessey Liu telah benar-benar jatuh cinta kepada bayi bergigi runcing tersebut.
"Ternyata pintu ini menuju halaman samping." Jessey Liu bergumam sekai lagi. Sepasang mata teduh berbulu lentik dan hitam miliknya langsung melihat adanya anak tangga yang menuju ke lantai bawah yang memiliki pelataran dengan tembok batu bata yang memagari perbatasan area tanah milik Ye Kai.
__ADS_1
Hamparan rerumputan, loncatan belalang liar, pepohonan tidak terlalu tinggi, juga kupu-kupu bersayap aneka warna segera menyapa pandangan mata pria muda setampan pangeran itu dengan tariannya. Mereka bergerak dan berayunan kecil dalam siraman sinar mentari.
Tingkah laku genitnya bagai merayu, akibat tertimpa oleh desiran angin. puluhan helai kelopak bougenville atau bunga kertas berbagai warna berluruhan, melayang ringan dan jatuh berserakan, menumpuk saling tumpang tindih di antara sesamanya. Mereka mungkin hanya dianggap dan disebut sebagai sampah, akan tetapi itu adalah sampah yang cukup indah serta tidak membuat sakit mata.
"Udara pagi sangat sejuk dan bersih, jadi alangkah baiknya kuajak dia keluar untuk dijemur," gumam Jessey Liu. Pria itu tersenyum kepada bayi harimau yang sekarang meringkuk di dalam kereta bayi.
Dia segera dengan menggendong bayi harimau putih dan membawanya sampai ke tempat yang memiliki banyak curahan sinar matahari. Tentu saja, tujuan utama agar bayi itu merasa hangat dan cukup mendapat manfaat dari sinar UV di bawah pukul 09.
"Tidurlah bayi kecilku!" ucap Jessey Liu setelah meletakan bayi itu di atas rerumputan dan dialasi dengan sehelai handuk kecil. "Lucu sekali dia."
Pria itu sekarang lebih memilih duduk tak jauh dari sang bayi sembari menghadap laptop guna membuka akses-akses penting yang masih terkait dengan perusahaannya. Sesekali pula matanya melirik kecil ke arah sang bayi harimau putih yang menurutnya sangat menggemaskan.
Di tempat lain ....
"Bodoh! Bodoh mereka semuaaaa!" Seseorang menggebrak meja dengan cukup keras menggunakan pukulan telapak tanganya. "Hanya memburu seorang Jessey Liu saja, mereka semua bukan hanya gagal tetapi juga banyak yang menemui ajal!"
"Mungkin mati pun lebih baik daripada hidup tak berguna!" Pria berjas coklat gelap kemudian menendang kaki meja kerja dengan cukup keras. Wajahnya memancarkan kemarahan yang teramat sangat. Keduanya baru saja mendapat sebuah laporan dari anak buahnya, mengenai kerja para anak buahnya yang mengalami kegagalan. Bahkan sebagian besar dari para anggota organisasi mereka tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.
"Angie bahkan sampai turun tangan langsung dan sekarang dia mengalami luka serius sampai patah tulang kaki!" Pria berjas coklat gelap masih mengutarakan kekesalannya.
Seseorang yang lain terlihat duduk dengan tenang sembari menyalakan rokok cerutu dalam pipa tulang bergagang panjang. Dia memainkan beberapa kali pemantik api serupa pistol kecil untuk membakar tembakau dalam bungkusan mewah yang tentunya bernilai ratusan dolar.
"Selain cita rasa cerutu ini, aku sungguh tidak tertarik pada hal lain." Pria yang dipanggil Gio tak mengacuhkan sedikit pun perkatan pria di hadapannya. Dia bahkan masih bisa memainkan kedua telapak kaki bersepatu hitam yang ia topangkan ke atas meja.
"Alessandro Giovanniiii!"
"Mengapa kau berisik sekali, Fransisco Maldini?" Alessandro Giovanni bertanya setelah bibir tipisnya mengembuskan sekepulan besar asap putih yang langsung menyebar ke segala arah. Giovanni tidak merasa terganggu sedikit pun oleh asap rokok tersebut. "Tidak bisakah kau biarkan aku menikmati tembakau super terbaik dunia dalam sebatang cerutu ekslusive ini?"
"Yang ada dalam pikiranmu hanya membakar tembakau dan menyia-nyiakan waktu, Alessandro!" Francesco Maldini menggerutu liar sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi putarnya. Wajahnya masih menyiratkan kekecewaan yang dalam.
Sementara itu, Alessandro Giovanni masih sibuk dengan cerutunya. Dia menghirup aroma dan bagaikan benar-benar menikmati cita rasa tinggi dari cerutu berkualitas yang baru saja dia dapatkan dengan sangat tidak mudah. Butuh waktu sekitar tiga bulan hanya untuk memesan barang langka yang harganya bisa mencapai puluhan dolar perbatangnya.
"Benar-benar rasa yang langka!" seru Alessandro Giovanni sambil mengulas sebuah tersenyum penuh misteri. Orang ini mungkin terlihat damai pada wajahnya, tetapi kedalaman hati dan pemikirannya mungkin tidak begitu banyak orang yang mengetahui, termasuk para rekan bisnisnya sekali pun.
"Baiklah! Kalau kau sudah selesai dengan duniamu itu. Cepat pikirkan sesuatu!" Francesco Maldini yang masih merasa kesal itu kemudian membuka map untuk memeriksa dokumen-dokumen penting.
"Mengapa harus terlalu terburu-buru, Frans? Kita masih bisa melakukan banyak hal selain daripada menangisi mereka yang sudah tiada." Kepulan asap kembali menyebar dari mulut Alessandro Giovanni. "Aku sedang memikirkan hal lain yang lebih penting."
__ADS_1
Alessandro Giovanni menurunkan kedua kakinya, lalu bangkit dan berjalan menuju ke arah sebuah globe besar atau bola dunia tiruan yang terpasang di ruangan tersebut. Sebatang pena ia jadikan alat penunjuk. Francesco Maldini tidak mengikuti langkah pria tersebut, tetapi matanya terus mengawasi gerak-gerik sang kawan.
Alessandro Giovanni terlihat menunjuk ke sebuah gambar benua yang hijau dan luas. "Kita mulai dari sini dan ...."
Pria berkebangsaan Italia itu lalu memutar secara perlahan bola dunia tiruan dan berhenti ke sebuah gambar benua lainnya. "Dan akan menuju ke sini."
"Apa maksudmu, Gio?" bertanya Fracesco Maldini dengan rasa penasaran.
"Maksudku adalah ...."
"Jikalau kita tidak bisa menarik Jessey Liu sebagai bagian dari kita. Bukakah kita masih bisa merekrut yang lainnya dan berbalik menyerang lalu membinasakannya secara halus?" bertanya Alessandro Giovanni masih dengan sikap santai.
"Oh begitu rupanya rencanamu?" Francesco Maldini merasa tertarik dengan pemikiran kawannya ini. Pria muda berambut ikal dan pirang itu bangkit dan berjalan mendekati Alessandro Giovanni.
"Hmm ... lalu, siapakah menurutmu calon yang cocok untuk menghancurkan Jessey Liu?"
"Siapa lagi?" Alessandro Giovanni tersenyum licik kali ini. "Kalau bukan ... Hans Bahtera Group!"
Francesco Maldini terlihat berpikir sambil mengingat-ingat sesuatu. "Hans Bahtera Group? Bukankah itu adalah perusahaan milik Handono Pasaribu?"
"Tepat! Dan yang aku tahu juga, Teddy Chen juga terlibat utang piutang yang cukup besar dengan Handono dan kabarnya juga Teddy Chen sepakat untuk menikahkan anaknya demi menebus separuh hutangnya." Alessandro Giovanni kemudian tertawa lepas. "Dari sinilah kehancuran Jessey Liu akan berawal!"
"Maksudmu adalah ... dengan memberi dukungan kepada Teddy Chen dan juga Handono agar segera menikahkan anak-anak mereka, itu sama saja dengan menghancurkan Jessey Liu?" bertanya Francesco Maldini dengan nada sangat serius. "Bukankah itu artinya akan membuat mereka semakin kuat dan memiliki jaringan bisnis yang lebih luas dengan keuntungan yang jauh berlipat ganda dari sebelumnya?"
"Sebagiannya mungkin benar." Alessandro Giovanni mengisap kembali cerutunya sambil menikmati barang langka dan mahal itu dengan penuh peresapan, lalu pria itu berkata, "Dan separuhnya lagi salah!"
Francesco Maldini benar-benar dibuat tak mengerti. "Hmm ...."
"Itu karena Jessey Liu tidak menyukai gadis secantik Estevania Handono Pasaribu." Alessandro Maldini menggelengkan kepalanya. "Kau pikirkan saja. Apakah hal itu bukan sebuah abnormal?"
"Sudahlah, sekarang saatnya untuk menyusun rencana jebakan bagi Jessey Liu dan menghancurkannya dari dalam tanpa dia sadari," ujar Alessandro Giovanni sambil menepuk bahu sahabat yang juga merupakan asistennya ini.
"Okay. Aku hanya bisa mengikuti aturan mainmu dan menyaksikan tontonan seru itu!" seru Francesco Maldini.
"Baiklah, kita lupakan sejenak masalah itu! Setelah selesai dengan pekerjaan, mari kita jenguk Angie sepupumu itu!" Ajak Alessandro Giovanni yang langsung disambut sebuah anggukan tanda persetujuan dari sang kawan.
"Baiklah, kita pergi!"
__ADS_1
...Bersambung...