
Saat rombongan Alexi hampir saja tiba di depan pintu utama ruangan besar yang akan dijadikan tempat pertemuan, mereka berpapasan dengan rombongan lain yang juga sangat menarik perhatian banyak orang. Iring-iringan tersebut dipimpin oleh seorang pria berperawakan tinggi dan berwajah tidak kalah tampan dari Alexi kakaknya.
"Benarkah itu ... dia?" pekik Alexa Nata Praja dalam hati.
Alexa yang masih mengenali sosok pria dalam keremangan cahaya lampu malam tadi, bagai hendak terlonjak. Dia sungguh merasa sangat terpesona hingga gadis itu seperti kehilangan arah. Wajah itu terlalu jauh dari bayangannya selama ini. Alexa sungguh tidak berharap jika pria yang ditemuinya semalam, ternyata memiliki bentuk wajah serupawan ini.
"Mimpikah aku?" Alexa masih terpukau pada ketampanan pria di hadapannya, hingga tanpa sadar matanya terbelalak lebar. "Ini benarkah pria yang aku temui tadi malam?"
"Dan dia ... setampan ini?" Alexa terus memperhatikan penampilan Jessey Liu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semuanya terlihat sempurna dan bagai tanpa cela sedikit pun.
Namun, pria yang berdiri di hadapannya dalam jarak sekitar dua meter ini justru bertatapan dengan Alexi dan saling menganggukkan kepala walau tanpa senyum. Mereka terlihat sama-sama bersikap bersahabat meski belum saling mengenal sama sekali.
"Selamat dataaaang para Tuan-Tuan dan Nona!" Manager Robert rupanya telah berada di tempat tersebut untuk sengaja memberi sambutan kepada para tamu kehormatan. "Kami sungguh senang dan merasa sangat terhormat sekali rasanya, karena akhir-akhir ini tempat kami ini dikunjungi oleh para tuan muda yang sangat istimewa!"
Manager Robert menyampaian kalimat pujian untuk sekadar berbasa-basi sebagai penyambut tamu, juga mewakili tuan rumah tentu saja. Namun, baik dari pihak Alei dan juga Jessey Liu tidak ada yang terlalu memperhatikan sambutan tersebut.
"Eeeh ... silakan para Tuan Muda dan rombongannya, barangkali akan segera memulai acara pertemuan besar dan istimewa ini!" Manager Robert akhirnya memilih untuk segera berpamitan dari hadapan orang-orang yang memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi darinya. "Saya permisi dulu, Tuan Muda semua!"
"Mmmh." Hanya gumaman kecil disertai anggukkan kecil yang Alexi lakukan kepada Manager Robert.
Untung saja Danny Hendrat dan Erick Martin segera keluar dari dalam ruangan secara berbarengan untuk menyambut kedatangan tuan mereka masing-masing, hingga kecanggungan pun segera terpecahkan saat itu juga. Kedua lelaki itu kemudian segera berjalan mendekati majikannya.
"Selamat datang, Tuan Muda Alexi dan Nona Alexa!" Danny Hendrat terlebih dahulu menyapa kedua anak kembar berbeda jenis tersebut.
"Semuanya sudah siap?" bertanya Alexi dengan sedikit melirikkan mata cantiknya.
"Sudah, Tuan Muda. Semua sudah kami atur dengan sangat baik." Danny Hendrat menjawab pertanyaan dari sang tuan. "Silakan!"
"Baguslah. Persilakan juga mereka masuk!" Alexi segera berbelok dan berjalan memasuki ruangan tanpa menoleh lagi. "Alexa!"
"Oh!" Alexa terkejut mendengar panggilan dari Alexi, dia pun segera bergegas menyusul kakaknya, diikuti oleh para anak buahnya yang menjadi para pelaku insiden.
Sementara itu, Erick Martin juga sedang berbicara dengan Jessey Liu dan segera membawa sang tuan beserta rombongannya memasuki ruang pertemuan. Pria itu lalu berjalan dengan anggun dan elegan mengikuti langkah EriK Martin menuju tempat yang telah disediakan untuk rombongan dari Sekte Elang Emas.
"Benar-benar sangat tampaaaan!" Alexa Nata Praja terpekik dalam hati saat melihat dari dekat wajah Jessey Liu yang sekarang duduk berhadapan dengannya dan juga Alexi. Meja panjang selebar 2 meter menjadi penghalang bagi mereka.
__ADS_1
"Jadi, memang benar-benar ada orang lain yang tidak kalah tampannya dariku?" Alexi juga bertanya dalam hati. "Siapakah orang ini dan punya kedudukan setinggi apa dia?"
"Apakah pria ini juga yang dimaksudkan oleh adikku itu?" Alexi berpikir sambil meliriki sang adik yang masih terpukau menatap Jessey Liu. "Hmm ... sepertinya memang benar-benar dia."
Keheningan masih meliputi suasana pertemuan dua pihak yang masih tidak saling mengenal pada siang hari ini. Tampaknya baik dari pihak Alexi maupun Jessey Liu sama-sama merasa sedikit canggung. Jessey Liu sendiri lebih suka menundukkan wajah daripada harus bertatap mata dengan gadis yang selalu memandanginya dengan sorot mata berbinar.
"Mengerikan sekali sorot mata gadis itu," pikir Jessey Liu sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Pria muda itu sedikit merasa tidak senang atas kelakuan Alexa. "Dia seperti ingin memakanku hidup-hidup!"
"Manis sekali dia saat tersipu begitu," ujar Alexa dalam hati sambil mengulas sebuah senyuan tipis yang ia sembunyikan, karena dengan tanpa sengaja pandangannya beradu dengan mata Jessey Liu yang semula mengangkat wajah untuk memulai pembicaraan. Namun semua terurung kembali saat ia mendapati Alexa masih terus menatapnya dengan pandangan yang menurut dia sangat aneh.
"Gadis ini benar-benar membuatku canggung! Tidak bisakah dia melihatku secara biasa saja?" Jessey Liu menggerutu dalam hati, sedangkan gadis yang menatapnya tidak merasa jikalau kelakuannya telah membuat hati seseorang merasa kikuk.
"Mengapa semua orang jadi sekaku ini?" Salah seorang pengikut dari Sekte Sanca Perak bertanya kepada kawannya dengan bisikan.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu, apakah acara kita sekarang hanya duduk dan diam seperti pengantin saja." Kawannya menyahut juga sambil berbisik.
"Pengantin mah mendingan, ntar malam ada yang diarepin." Sang kawan terkikik kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Lah ini? Mau sampai kapan juga kita tidak tahu, kan?"
"Hiiihh! Mulai mikirin musium lagi kamu!" Kawannya menyiku perut sang teman. "Dasar otak kamu sudah terkontaminasi!"
"Aww!" Lelaki muda itu menahan pekikan agar tidak sampat terdengar ke luar. "Kayak kamu juga kagak gitu aja!"
Keributan di belakang Danny Hendrat tentu saja telah cukup mengganggu suasana tersebut, sedangkan dari pihak Jessey Liu tidak ada satu pun anak buahnya berani bersuara. Mereka telah terbiasa bertindak tanpa harus banyak berucap dan hal-hal kecil lainnya, mereka anggap sangat tidak perlu dibicarakan.
"Ehemm!" Danny Hendrat terpaksa berdehem untuk menghentikan keributan di meja belakang yang sedang ditempati oleh para anak buahnya. Seketika, obrolan pun terhenti dan suasana kembali hening.
Danny Hendrat kemudian menoleh ke arah Alexi yang masih tampak enggan berbicara. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria muda ini, sehingga tak juga mengeluarkan sepatah kata pun pada acara pertemuan kali ini. Pria itu harus segera menyadarkan sang tuan muda dari lamunan panjangnya.
"Tuan Muda, kapan acara ini akan dimulai?" bertanya Danny Hendrat setelah mendekatkan sedikit wajahnya ke sisi telinga Alexi. "Mereka sudah lama menunggu!"
"Oh!" Alexi seperti baru saja tersadar dari tidurnya. "Ya. Ya, lakukan saja!"
Danny Hendrat merasa bingung dengan sikap Alexi kali ini dan bertanya-tanya dalam hati. "Apakah tuan muda sedang menyuruhku berbicara pada mereka?"
"Tuan Mudaaa! Bukankah seharusnya Anda yang memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada mereka?" Danny Hendrat harus mengingatkan sekali lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu." Alexi akhirnya memutuskan untuk mulai pembicaraan. Dia juga merasa kalau waktu juga beranjak semakin siang.
Alexi memperbaiki posisi duduknya sejenak, kemudian mulai membuka suara. "Selamat datang, Tuan! Terima kasih, karena telah bersedia memenuhi undangan kami untuk bertemu, guna membicarakan masalah yang tidak kita duga sebelumnya."
Jessey Liu dan para pengikutnya hanya saling menganggukkan kepala, pertanda merasa lega karena pada akhirnya pihak yang mengundang mereka memulai pembicaraan.
"Tuan-Tuan sekalian, perkenalkan nama saya adalah Alexi Nata Praja dari Sekte Sanca Perak." Alexi dengan tanpa ragu menyebutkan identitasnya. Alexi kemudian menunjuk ke arah Danny Hendrat dan Abraham dengan tanpa mengurangi sikap sopan. "Ini adalah asisten pribadi saya Danny Hendrat."
Danny Hendrat menganggukkan kepala tanda hormat sambil tersenyum. "Salam, Tuan-Tuan semua!"
"Ini adalah Abraham, orang yang juga dekat dengan saya," ujar Alexi sambil menoleh ke arah Abraham.
"Salam, Tuan-Tuan semua!" Abraham melakukan hal yang sama seperti Danny Hendrat.
"Dan yang terakhir ini." Alexi kemudian menoleh ke arah sang adik. "Dia adalah Alexa Nata Praja, adik kembar saya."
Alexa pun dengan sangat antusias segera menyahut, "Salam kenal, Tuan dan juga kepada semuanya!"
"Narsis sekali dia!" Alexi menggerutu dalam hati melihat tingkah adiknya. "Jangan-jangan memang ini, pria yang disukainya. Hmm ... aku ingin tahu, siapa dia dan punya kemampuan apa saja hingga membuat Exa begitu tertarik padanya."
"Baiklah, karena kami sudah selesai memperkenalkan diri kami masing-masing. Jika Anda berkenan, silakan perkenalkan pula diri Anda kepada kami!" ujar Alexi Nata Praja tetap dengan sikap sopan yang dia jaga. "Silakan!"
Jessey Liu yang semenjak tadi hanya diam menunggu, akhirnya berkenan membuka suara. Pria itu berdiri untuk menghormati sang pengundang, seraya menyatukan kepalan tinju tangan kanan dan membungkus dengan telapak tangan kiri. Itu adalah cara bersikap hormat kepada orang yang dihormati di dalam aturan klannya.
Alexa merasa sangat beruntung telah menjadi satu-satunya wanita yang menghadiri acara tersebut. Dia sungguh tidak ingin melepaskan pandangannya terhadap pria ini. Hanya ada kekaguman dalam hati disertai getaran-getaran lembut dan aneh merambat, menjalar hingga mencengkeram perasaan gadis berparas ayu tersebut.
"Dia sungguh-sungguh pria idamanku. Beruntung sekali aku menyusul kakakku ke mari, ternyata ... aku dipertemukan dengan jodohku." Alexa langsung meng-klaim, jika pria ini adalah jodohnya kelak. Dia bahkan belum mengetahui siapa nama dan asal-usul dari lelaki berwajah tampan tersebut. "Jodoh?"
"Terima kasih kepada Tuan Alexi Nata Praja, yang sudah mengundang kami semua dan juga sudah berkenan mengenalkan diri Anda kepada kami." Jessey Liu berucap dengan suara khasnya yang berwibawa dan hal itu semakin membuat Alexa kian terpana.
"Benar-benar suara yang sangat indah," ujar Alexa dalam hati seolah sedang terbuai oleh nyanyian merdu yang begitu lembut mendayu. "Tidak salah memang, kalau dia menjadi seorang pemimpin sebuah kelompok besar."
"Kami semua sudah lama mendengar tentang kehebatan para praktisi dari Sekte Sanca Perak, tempat Anda semua berasal." Jessey Liu menghentikan sejenak perkatannya. "Dan ternyata, berita itu bukanlah sebuah kabar saja. Kami telah menyaksikan secara langsung kehebatan ilmu dari sekte Anda."
"Seorang Jessey Liu ini, sungguh merasa sangat tersanjung!"
__ADS_1
"Apa! Jessey Liu?"
...Bersambung...