
Di kediaman Ye Kai. Mei Lan menjadi terkejut saat Ye Kai berpamitan padanya untuk pergi malam ini juga. Baru saja pria itu melatih Zike muridnya dengan pelatihan vokal untuk persiapan tour band musik beraliran Symphonic Black Metal bernama Danger Death.
"Gege hendak pergi malam ini juga?" Mei Lan bertanya sembari terus mengikuti suaminya yang sedang bersiap-siap untuk pergi. Wanita itu juga ikut mempersiapkan keperluan suaminya.
"Ya. Jessy dan rombongannya sedang dalam masalah, jadinaku harus menyusulnya ke sana." Ye Kai berbicara sembari mengenakan jaket kesayangannya. "Kamu baik-baiklah di rumah dan jagalah murid kita itu dengan baik!"
"Tapi, Geeee!" Mei Lan merasa keberatan dengan kepergian Ye Kai yang sangat mendadak ini. "Tidak bisakah ditunda?"
"Tidak bisa, Lan'er. Para anak murid itu terkena racun berbahaya yang belum juga bisa diatasi oleh Jessey," jawab Ye Kai sembari memakai kaos kaki hitam.
"Racun?" Mei Lan merasa kaget hingga tanpa sadar wanita cantik milik Ye Kai itu terpekik kecil. Dia bertanya karena merasa penasaran. "Geee. Racun apa?"
Ye Kai menjawab, "Jurus pukulan beracun dari Sekte Sanca Perak."
"Tapak Racun Akar Hitam?" tanya Mei Lan. Dia merasa terkejut dengan perkataan suaminya tentang pukulan beracun tersebut.
"Jadi, kamu tahu tentang racun itu?" Ye Kai bertanya sambil menoleh dan menatap istrinya dengan harapan, jikalau istrinya ini mengetahui dan bisa memberi sedikit petunjuk tentang ilmu pukulan beracun tersebut.
"Tentu saja aku tahu. Karena ... ayahku dulu pernah terkena jurus racun itu," jawab Mei Lan sambil mengingat-ingat tentang penangannya. "Kalau begitu, sebaiknya Gege duduk dulu sembari minum kopi yang sudah terlanjur aku buat tadi. Aku akan tuliskan beberapa catatan tentang penangananya. Mudah-mudahan ini bisa membantu."
"Benarkah?" Ye Kai merasa sangat beruntung kali ini. "Kalau begitu, baiklah. Aku akan menunggu sebentar."
Ye Kai akhirnya memutuskan untuk menunggu Mei Lan menyelesaikan mencatat tentang penanganan pukulan beracun tersebut. Pria itu memilih duduk di sofa yang terdapa di dalam ruangan kamarnya. Sementara Mei Lan terlihat mengambil peralatan tulis dan mulai menuliskan apa yang ia ketahui di atas selembar kertas.
Mei Lan juga menceritakan semua yang ia ketahui tentang racun tersebut. Wanita itu juga mencatat apa saja yang harus dilakukan dalam penangananya. Tampak sekali jika dia memiliki pengalaman yang cukup dalam hal tersebut.
"Memang ada penawarnya, tapi itu hanya menekan racun agar tidak menyebar ke organ pentung dalam tubuh. Tetapi tidak akan menetralkan secara total, Ge," ujar Mei Lan yang lalu menjelaskan sedikit tentang racun tersebut.
Ye Kai pun mendengarkan dengan saksama apa yang dituturkan oleh istrinya ini. Dalam hati pria ini sungguh merasa bersyukur atas apa yang ia dapatkan dari Yang Maha Kuasa. Seorang istri cantik dari keluarga terpandang dan juga berwawasan luas, sabar dan sangat pengertian.
__ADS_1
"Siapa laki-laki yang lebih beruntung drlain aku?" tanya Ye Kai dalam hati sambil menatap istrinya yang cantik, lembut dan sangat pengertian ini. "Memilikimu sungguh membuatku merasa telah menggenggam dunia ini dan seluruh isinya."
"Tidak bisa menetralkan secara total? Jadi, penawar itu tidak menyembuhkan akibat dari racun itu sama sekali?" bertanya Ye Kai dengan nada heran. Bagaimaba dia tidak merasa geram, bahkan masalah sepele pun sekarang berakibat sangat fatal. "Lalu, apa gunanya penawar itu? Kalau mereka masih merasakan penderitaan?"
"Tentu saja penawar yang sesungguhnya itu ada, Ge. Hanya saja yang di dalam foto itu tadi hanyalah penawar tingkat satu dan itu akan bekerja memakan waktu cukup lama." Mei Lan memang mengetahui tentang semua itu.
"Sekte Sanca Perak adalah sebuah tempat yang tidak bisa dibuat main-main dengan pemimpinnya yang sekarang ini. Konon kabarnya, Nata Praja tidak lebih baik dari ayahnya. Itulah yang membuat mereka menjadi dua bagian."
"Oh, jadi begitu." Ye Kai bergumam sembari menyambar secangkir kopi yang tadi hampir saja tidak jadi dibiarkan hingga hanya akan dibuang pada akhirnya. Disesapnya seduhan ber-kafein itu dengan tanpa menikmatinya sama sekali. Tentu saja itu karena memang dia selalu terburu-buru jika ada hal yang menyangkut Jessey Liu.
"Baikah. Terima kasih atas semuanya. Aku sungguh merasa sangat beruntung sekali elah memilikimu." Ye Kai memeluk istrinya dan mendaratkan sebuah ciuman di kening Mei Lan.
"Sama-sama, Ge." Mei Lan membalasnya dengan serentetan ciuman pula. Walaupun dia merasa keberatan dengan kepergian suaminya kali ini, tetapi dia juga tak akan bisa mencegah keinginan Ye Kai.
Untuk beberapa saat lamanya mereka larut dan tenggelam dalam ciuman panjang dan ganas yang hampir saja membuat keduanya lupa, jikalau Ye Kai harus segera menyusul Jessey Liu dan rombongannya yang saat ini sedang dalam masalah.
"Lan'er. Aku harus pergi sekarang!" Ye Kai berkata setelah melepaskan tautan bibirnya pada bibir ranum Mei Lan. Walaupun harus diakui, bahwa dia pun masih menginginkan hal yang lain. Namun, keadaan sungguh sangat tidak memungkinkan bagi keduanya untuk melampiaskan hasrat masing-masing.
Beberapa pelayan penjaga terlihat sibuk menyiapkan semua keperluan sang tuan. Salah seorang dari mereka melaporkan tentang segala kesiapan yang telah merreka lakukan. "Silakan, Tuan! Kendaraan Anda sudah siap."
"Baguslah." Ye Kai merasa sudah siap untuk keberangkatannya malam ini tanpa dikawal oleh siapa pun.
"Geee, mengapa Gege tidak membawa orang untuk menemani Gege?" bertanya Mei Lan yang sebenarnya menginginkan suaminya ini pergi dengan didampingi oleh para pengawal.
"Aku hanya ingin secepatnya sampai tepat waktu dan dengan adanya orang lain, aku khawatir itu hanya akan menghambat perjalananku saja," jawab Ye Kai sembari memasukan barang-barang yang akan dia bawa ke dalam mobil sport putih.
"Tapi, Geee! Bukankah akan lebih baik kalau ada kawan dalam perjalananmu kali ini?" Mei Lan sungguh ingin suaminya tidak sendiri.
"Kamu ini. Bilang saja kalau kamu hanya sedang mencemaskan pria tampanmu ini." Ye Kai tersenyum sembari menyentil lembut ujung hidung sang istri.
__ADS_1
"Apa aku salah?" tanya Mei Lan dengan wajah cemberut.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan menyukainya." Ye Kai memeluk wanitanya sekali lagi dan mendaratkan beberapa buah ciuman agar hati istri perasanya ini tidak menjadi semakin buruk. Hal tersebut membuat beberapa orang pelayan pria segera memalingkan wajah mereka ke arah lain. Walaupun itu bukahlah sesuatu yang jarang mereka saksikan, akan tetapi mereka tetap saja merasa malu dan kikuk.
"Aaaaah, tuan dan nyonya ini selalu saja membuat kami-kami yang sudah tidak lagi muda juga ingin melakukannya," gerutu salah seorang pelayan pria berusia lebih dari enam puluh tahun. "Menyesal juga aku dulu tidak seromantis mereka."
"Aku pergi dulu, Lan'er!" Ye Kai berpamitan. Dia juga merasa tidak akan tenang jika sang wanita tercinta belum merelakan kepergiannya kali ini.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" bertanya Ye Kai sembari menyelempangkan handle tasnya yang ia letakkan secara menyilang di bahunya. "Maaf, Sayang! Aku meninggalkanmu secara mendadak dan aku serahkan urusan Zike kepadamu."
"Oh ya, tolong kamu pamitkan juga padanya dan katakan juga untuk tetap berlatih dengan giat sampai berhasil." Ye Kai berpesan untuk sang murid. "Oh, satu lagi. Biarkan dia bebas dan tidak lagi harus berada di paviliun itu sepajang waktu. Aku hanya menahannya saat Jessey berada di sini."
Mei Lan menyahut, "Baiklah, Ge."
"Ajaklah dia berjalan-jalan ke tempat-tempat yang mungkin dia sukai, agar dia tidak terlalu terbeban dengan berbagai mancam latihan yang aku berikan." Ye Kai berkata sembari memasuki mobilnya, lalu memasang sabuk pengaman.
"Baiklah. Jangan khawatirkan tentang dia. Aku pasti akan menjaganya dengan sebaik mungkin," sahut Mei Lan sambil tersenyum manis.
Mesin mobil sport telah terdengar, lampu-lampunya pun juga menyala. Ye Kai yang sudah berada di dalam dan mengendarai sendiri mobil tersebut, kembali melemparkan seulas senyum kepada Mei Lan yang masih berdiri agak sedikit dekat di sisi mobil.
"Selamat jalan, Geee! Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu ngebut!" Mei Lan menyerukan pesan.
"Okaaay!" sahut Ye Kai di tengah-tengah deru mesin yang sedang dipanaskan.
"Ge, jangan lupa apa yang telah aku pesankan tadi!" teriak Mei Lan sembari melambaikan tangan setelah mobil suaminya bergerak secara perlahan meninggalkan pelataran beranda depan kediamannya.
"Ya Tuhaaan! Tolong jaga dan lindungi suamiku di dalam perjalananya!" Mei Lan memanjatkan doa-doa untuk keselamatan suami dan semua rombongan Jessey Liu. "Dan juga sembuhkankah mereka yang sedang menderita akibat dari racun itu."
"Aamiin!"
__ADS_1
...Bersambung...