
"Tapi, Master! Saya takuuuut!" Mata pria muda itu tampak berkedip-kedip dengan ngeri melihat jarum terbesar milik Ye Kai yang terjepit di sela-sela jari-jemari lelaki tersebut.
"Jarum sebesar itu, Master?"
"Kalian!" Ye Kai menoleh ke arah para pengawal yang lain. "Pegangi dia!"
Orang-orang yang mendapat perintah merasa ngeri juga dengan teknik akupuntur dengan jarum sebesar yang sedang dipegang oleh Ye Kai. Mereka juga merasa ngeri dan takut, jika akan mendapatkan giliran yang sama. Hal itu membuat Ye Kai merasa marah karena perintahnya tidak dijalankan oleh para pengikut Jessey Liu.
"Cepat! Tunggu apa lagi?" bentak Ye Kai sambil melotot ke arah para pengawal.
"Siap, Master!"
Dua orang pengawal maju untuk memegangi kawannya yang akan diambil contoh darah dan racun dari luka yang terdap di punggun pria tersebut. Walaupun mereka merasa sedikit ngeri juga saat membayangkan jika itu terjadi pada diri mereka.
Namun, keduanya hanya menurut saja, saat harus memegangi kedua tangan kawannya. Sementara itu Jessey Liu hanya menggelengkan kepalanya hingga beberapa kali atas keisengan sahabatnya ini.
"Masteeeeer! Ampuuuun!" Si pengawal berteriak histeris sambil memikirkan jarum besar menusuk kulitnya. Dia bahkan membayangkan Ye Kai menjadi sosok dokter gila dan kejam yang menyiksa pasien hingga tewas. "Masteeer! Mengapa harus saya"
"Diam!" Ye Kai membentak sambil mengusapkan kapas dingin yang telah dibasahi oleh cairan alkohol. "Hanya begini saja sudah takut setengah mati!"
"Saya takut jarum, Masteeeer!" seru si pasien sambil memejamkan kedua matanya dengan pasrah.
"Sudaaaah!" Ye Kai dengan kasar membalikkan badan pria muda itu dan segera menancapkan jarum yang lain, setelah secepat kilat mengganti jarum akupuntur yang tadi dipegangnya.
"Aaaa!" pekikan keras keluar dari mulut si anak buah, saat Ye Kai menancapkan jarumnya.
__ADS_1
"Kamu ini dasar cengeng!" Ye Kai merasa kesal dengan teriakan pria muda di hadapannya, kemudian dia melakukan teknik akupuntur dan mengambil contoh racun untuk dia pelajari. Ye Kai langsung mengambil beberapa tetes darah serta membiarkan jarum peraknya penyerap racun yang terkandung dalam luka pukulan tersebut.
"Aneh?" Ye Kai bergumam sambil memikirkan sesuatu, setelah menarik jarum yang menancap di luka si pengawal. Dia menjadi heran saat tak ada racun yang menempel pada ujung jarum peraknya.
"Selesai!" Ye Kai berseru dan membuat lega semua orang. "Lepaskan dia!"
"Baik, Master!" Kedua orang pengawal itu segera melepaskan pegangannya masing-masing dan segera kembali ke tempatnya semula.
"Aaahh, haaaah! Masteeeeer!" Pria yang sudah ketakutan setengah mati itu memegangi dadanya yang berdebaran tidak karuan. "Master menakuti saya saja!"
"Bukankah itu tidak lebih sakit dari pukulan beracun itu. Hanya perasaan takut kamu saja yang terlalu dibesar-besarkan!" Ye Kai bersungut-sungut atas tingkah pria muda ini.
"Bagaimana, Ye Kai?" Jessey Liu yang sejak tadi berdiri di belakang Ye Kai, hanya menunggu sambil bersedekap.
Ye Kai bangkit dan menghampiri Jessey Liu dan berkata, "Sebaiknya kita bicara di tempat lain saja."
"Baiklah, kalian semua bersenang-senang dahulu. Setelah urusan di sini selesai, kita akan langsung melanjutkan perjalanan!" seru Ye Kai sambil membalikkan badan dan mengikuti Jessey Liu.
"Siap, Master!" Semua orang yang berada di ruangan itu menyahut secara serempak.
Setelah kepergian dua pemimpinnya, mereka semua kembali melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Sebagian ada yang hanya merebahkan diri sambil bermain ponsel, sebagian lagi memilih melakukan hal yang menyenangkan lainnya.
Sementara itu, Jessey Liu dan Ye Kai sudah kembali ke kamar yang mereka tempati bersama. Ye Kai segera meneliti lagi hasil pemeriksaan terhadap para pengawal dan mencocokkan semua yang ia temukan dengan catatan yang diberikan oleh Mei Lan.
Ye Kai masih belum memahami dengan jelas, jenis racun yang terkandung dalam luka lebam pada tubuh para pengawalnya. Pria itu masih sibuk mengamati jarum perak yang masih bersih tanpa adanya jejak racun.
__ADS_1
"Dikatakan beracun, tetapi tidak terdeteksi adanya racun. Apa pula ini?" Ye Kai bertanya-tanya sendiri sambil berpikir keras.
Jessey Liu datang dan duduk di sampingnya semnari meletakkan beberapa kaleng minuman dingin. Pria itu juga ikut memperhatikan ujung jarum yang tampak putih bersih dan kering. Setelah mengamati dengan baik, tetap saja tidak ada yang tampak aneh apa benda tersebut.
"Sepertinya Sekte Sanca Perak memang benar-benar ahli racun terbaik saat ini," ujar Jessey Liu sambil membuka segel kaleng softdrink. Semburan gas dari dalam kaleng mendesis kecil dan menguarkan aroma lemon yang segar. "Tapi cobalah menerapkan ujun jarum itu pada sesuatu bagian dari tubuh mahluk hidup."
"Apa maksudmu?" bertanya Ye Kai dengan masih tidak mengerti akan maksud kawannya ini.
"Seperti ini misalnya." Jessey Liu tiba-tiba telah menggores ujung jemarinya dengan menggunakan segel kaleng yang tajam, lalu meneteskan darahnya pada permukaan meja yang kebetulan berwarna putih bersih. "Coba kamu celupkan ujung jarum itu, Ye Kai!"
"Apakah kamu pikir ini akan bereaksi?" tanya Ye Kai dengan ragu-ragu.
"Kita akan mengetahui setelah mencobanya." Jessey Liu menyahut sembari menatap sahabatnya.
"Baiklah." Ye Kai akhirnya menuruti saja apa yang dikatakan oleh Jessey Liu. Dia lalu mencelupkan ujung jarum pada darah Jessey Liu. Tidak ada reaksi apa-apa pada tetesan darah tersebut. "Lihat! Tidak ada yang terjadi, kan?"
"Benar juga," sahut Jessey Liu sembari mengepalkan kedua tangan dan menopangkan dagunya di sana. Dia terus memperhatikan tetesan darahnya dan merasa sungguh heran hingga alis hitam pria tampan itu mengernyit tanpa sadar.
"Ya sudah. Lupakan saja!" Ye Kai meletakan dengan kasar jarum peraknya di atas meja seraya menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi sofa, sedangkan Jessey Liu masih ingin tahu ada misteri apa di balik misteriusnya ilmu pukulan tersebut.
"Racun yang unik dan sangat langka." Ye Kai bergumam dalam hati. Meskipun matanya terpejam, tetapi dia masih terus memikirkan tentang racun aneh milik Sekte Sanca Perak ini. "Andaikan aku bisa mengenal salah satu dari mereka, mungkin saja aku bisa mencari tahu tentang sifat, cara kerja dan bahan apa saja yang bisa racun ini.
Mereka terdiam untuk beberapa saat lamanya tanpa bicara apa pun juga. Sementara itu di tempat lain, Chriss dan Tygra terlihat asyik bermain-main. Jessey Liu memang berencana memelihara binatang temuannya itu di tempat yang aman, agar tidak menimbulkan pertanyaan dan ketakutan pada orang lain.
Bagaimanapun juga, harimau adalah binatang buas yang bisa saja memangsa sang pawang jika dalam keadaan lapar. Jessey Liu sudah menghubungi para pekerja di rumah pribadinya untuk membuat lokasi dan kandang khusus untuk Tygra. Bagi seorang Jessey Liu, tentu saja itu bukan masalah besar. Terlebih jika mengingat dia adalah tuan muda satu-satunya pewaris sebuah sekte besar dan cukup terpandang seperti Elang Emas.
__ADS_1
Jessey Liu tiba-tiba berseru memanggil Ye Kai. "Ye Kai!"
...Bersambung...