
"Okay. Aku hanya bisa mengikuti aturan mainmu dan menyaksikan tontonan seru itu!" seru Francesco Maldini.
"Baiklah, kita lupakan sejenak masalah itu! Setelah selesai dengan pekerjaan, mari kita jenguk Angie sepupumu itu!" Ajak Alessandro Giovanni yang langsung disambut sebuah anggukan tanda persetujuan dari sang kawan.
"Baiklah, kita pergi!"
Keduanya memang sudah berniat kembali bekerja sambil mengatur strategi bisnis ilegal mereka. Dikatakan ilegal, itu karena organisasi mereka memang beroperasi tanpa perijinan resmi. Mereka memiliki sebuah perusahaan bawah tanah yang sangat dirahasiakan. Organisasi gelap tersebut beroperasi tidak secara terang-terangan, akan tetapi mereka juga berniat untuk tetap memiliki relasi kaum dunia atas.
Di tempat kediaman Ye Kai.
Satu minggu sudah sejak kedatangan Jessey Liu di rumah tersebut. Kondisi master utama Sekte Elang Emas dan si harimau putih kecil juga semakin membaik. Sepertinya pria muda itu sudah berniat untuk kembali ke kediamannya sendiri dalam waktu dekat.
"Kamu betulan mau pulang hari ini, Jessey?" bertanya Ye Kai saat mereka tengah sarapan pagi bersama. Mereka hanya berdua saja, karena Mei Lan memilih sarapan bersama murid barunya.
"Mmmh." Jessey Liu hanya menjawab dengan sebuah gumaman kecil karena dia baru saja menyuap sesendok bubur ayam nan lembut dan gurih. "Aku sudah terlalu lama di sini, aku khawatir mama akan mencariku ke tempat ayah dan lagi aku tak bisa terus merepotkanmu."
"Masih bicara tentang repot. Memangnya kapan kamu tidak merepotkanku?" Ye Kai bicara berterus terang. "Kamu ini memang seorang tuan muda. Jadi tentu saja kamu akan selalu menjadi bahan carian oleh semua orang. Dan akulah yang selalu kerepotan menjadi incaran semua orang yang menanyakan keberadaanmu."
"Aku tahu." Jessey Liu menyahut secara singkat.
"Tahu apa?" Ye Kai menyuap bubur ayam yang sudah berpindah tempat separuhnya. "Tahu kalau kamu ini merepotkan?"
"Mmhh." Lagi-lagi hanya gumaman singkat sebagai jawabannya. "Maafkan aku, Ye Kai!"
"Dasar kau ini! Hanya bisa berkata maaf dan maaf saja sepanjang waktu." Ye Kai menggerutu dan tidak berniat lagi membahas hal apa pun yang kadang bisa menciptakan pembicaraan tidak terlalu penting. "Sudahlah, aku juga sudah tahu,"
Mereka melanjutkan sarapannya hingga selesai, sementara di sisi yang lain Chriss tengah berjalan berkeliling di sekitar kediaman Ye Kai. Wajah pria yang cukup tampan itu terlihat sangat kebingungan. Dia bahkan tidak bisa menikmati dengan tenang jatah sarapan paginya hanya karena ia sedang kehilangan sesuatu.
"Ke mana larinya dia?" Chriss menebarkan pandangan ke segala arah guna meneliti keadaan sekitarnya, akan tetapi apa yang dicarinya tidak juga dia temukan. Tentu saja, kegelisahan jelas mencengkeram perasaan pria muda pengikut setia Jessey Liu ini.
"Maaf, Pak Tua! Bolehkah saya bertanya?" Chriss menghampiri seorang tukang kebun yang bekerja di kediaman tersebut. Pria tua yang tengah menyiangi rumput liar pun menghentikan kegiatannya saat telinganya menangkap suara Chriss.
"Oh, Tuan Chriss. Silahkan saja Tuan ingin menanyakan apa?" Pak tua terlihat ramah.
"Mmm ... saya hanya ingin bertanya. Apakah Pak Tua melihat seekor kucing belang hitam dan putih dengan kaki sedikit pincang, berkeliaran di sekitar tempat ini?" Chriss tampaknya tidak ingin pria tua ini terkejut saat mengetahui jikalau yang sedang dia cari sebenarnya adalah seekor anak harimau.
__ADS_1
Pria tua tukang kebun tidak segera mejawab, melainkan tampak berpikir sejenak. "Mmm ... sepertinya saya tidak melihat hewan yang Anda maksudkan itu, Tuan Chriss."
Chriss memang sedikit kecewa dengan jawaban tersebut. Tetapi dia tetap harus melakukan pencarian, sebelum sang tuan mengetahui jikalau hewan peliharaannya hilang tanpa jejak. Padahal pula, binatang tersebut sedang dalam proses pengajuan pendaftaran pengapdosian secara resmi. Jessey Liu tetap menginginkan dia memiliki sertifikat legal dari pemerintah.
"Baiklah, Pak Tua. Terima kasih." Chriss segera berlalu dengan cepat, sebelum pak tua tukang kebun sempat menyahut padanya.
Pak tua tukang kebun hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali, sambil melanjutkan pekerjaannya dia bergumam, "Dasar anak muda jaman sekarang, memang suka sekali tergesa-gesa."
"Bibiii!" Chriss menyapa seorang juru masak yang kebetulan tengah melintasi bangunan yang diperuntukan sebagai dapur keluarga.
"Ada apa, Tuan?" Bibi juru masak menghentikan langkahnya sambil tetap menenteng keranjang belanjaan berisikan sayur mayur.
"Maaf, Bibi! Saya hanya ingin bertanya. Apakah Bibi atau orang-orang di sini pernah ada yang melihat seekor anak kucing belang hitam dan putih dengan kaki pincang lewat di sekitar tempat ini?"
Bibi juru masak pun juga tampak berpikir, untuk kemudian menggelengkan kepalanya. Demi mendapat respon demikian, Chriss pun segera berpamitan. Dia sungguh tidak bisa tenang barang sedetik saja, karena apa yang dicarinya tidak kunjung menampakan diri.
Dari kejauhan Mei Lan melihat gerak-gerik sang pengawal pribadi Jessey Liu. Saat itu dia baru saja kembali dari paviliun kecil tempat Zike berada. Wanita itu baru saja selesai berolah raga dan sarapan pagi brsama serta memberi banyak pelajaran bagaimana cara merawat diri.
"Ada apa dengan Chriss?" Mei Lan tak bisa untuk tidak merasa penasaran.
"Nyonya Ye!"
"Ada apa ini?" Mei Lan tergesa-gesa menemui Chriss yang seperti sedang kebingungan.
Akhirnya Chriss bercerita tentang hilangnya harimau kecil milik Jessey Liu. Mei Lan pun ikut kebingungan dibuatnya. Mei Lan yang tampak bingung juga bertanya, "Bagaimana ini? Mengapa bisa sampai hilang?"
"Entahlah, Nyonya! Saya juga tidak tahu secara pasti mengapa dia bisa hilang."
"Kalau begitu, sebaiknya kamu laporkan saja pada Master Liu. Biar aku juga menyuruh orang-orang untuk mencarinya juga." Mei Lan berkata sambil berlalu dan tak memedulikan tubuhnya yang masih berkeringat.
"Tapi, Nyonya?" Chriss masih belum ingin melaporkan kepada tuannya, akan tetapi Mei Lan sudah mengetahuinya dan bukan tidak mungkin nanti dia akan melaporkannya kepada Jessey Liu dan juga Ye Kai.
"Hancurlah akuuuu!" Chriss berseru sambil memukul batang pohon asam yang ada di sampingnya. "Tapi memang benar, sebaiknya aku segera melaporkannya kepada Gong Zi!"
Chriss akhirnya tidak punya pilihan lain lagi. Dia memang harus melaporkan kejadian itu kepada sang empunya. Apa pun hasilnya nanti, dia siap menerima segala resiko dan hukuman dari sang master. Chriss segera menemui Jessey Liu di kamarnya dengan wajah lelah serta cemas.
__ADS_1
Jessey Liu sendiri tengah sibuk berkemas-kemas untuk kepulangannya hari ini. Dia sudah tidak bisa terus tinggal di tempat Ye Kai, sedangkan segala urusan lainnnya terbengkalai dan tak dia sentuh sama sekali . Hal yang akan dia lakukan sekarang adalah kembali ke Sekte Elang Emas yang bermarkas pusat di Kota Wu Shang.
Bangunan besar markas utama Sekte Elang Emas memang sengaja di dirikan pada bagian yang cukup terpencil di Kota Wu Shang. Jarak dari tempatnya saat ini terbilang tidak terlalu jauh dari kota tersebut. Hal itu dikarenakan, Tan Liu sang penerus sebelum Jessey Liu menyukai sebuah tempat yang tidak terlalu ramai.
Hal itu jugalah yang membuat Jessey Liu sedikit repot mengurus berbagai macam kepentingan. Dia bahkan sudah merencanakan kepindahan kantor pusat Berlian Jaya Abadi Corporation yang tentu saja akan membuat Ye Kai dan seluruh penghuni kediamannya saat ini harus mengikuti kemauan sang tuan pula.
Ye Kai mau tidak mau memang harus menurut pada keinginan tersebut dan untuk hal itu, dia juga sedang menyiapkan sebuah lahan guna mendirikan kembali kediamannya. Untung saja kediama Ye Kai saat ini terbuat dari material kayu yang bisa dibongkar pasang. Namun, rencana itu juga masih dalam berbagai macam proses.
"Ke mana Chriss ini? Apa dia sedang membawa bayiku berjalan-jalan?" Jessey Liu mencari-cari Chriss dan bayi harimaunya. "Biarkan saja mereka."
Jessey Liu memilih duduk di tepi ranjang sembari menghadap cermin. Dia menyisir rambut panjangnya setelah berganti baju dengan gaya pakaian yang lebih santai dan tidak menampakan, jikalau dia adalah seorang pemimpin ataupun seorang tuan muda. Baginya, busana-busana resmi tersebut hanya akan membuat pergerakannya menjadi sangat terbatas. Maka dari itulah, orang-orang dari sektenya memiliki kebiasaan menyamar seperti halnya Ye Kai saat menemui Zike.
"Untung saja rambutku panjang dan bisa menutup bekas luka ini," bisik pria dengan wajah tampan nan lembut ini. Dia memiliki sepasang mata teduh, berbulu lentik dan terkesan sayu yang membuat seorang Jessey Liu benar-benar begitu mempesona.
Terlebih lagi dipadu dengan tubuh tinggi yang atletis, kulit putih bersih dan berkilat seperti sang ibu. Hal tersebutlah yang membuat pria bernama lahir Berlian Jessey Liu Chen ini, menjadi buah bibir sebagai ketampanan nomor satu di Kota Wu Shang.
Lalu, bagaimana dengan Alexi?
Alexi juga merupakan ketampanan yang bisa dibilang setara dengan Jessey Liu, akan tetapi seorang Alexi tidak begitu dikenal luas karena Nata Praja melarang sang putra mengekspos diri di depan publik. Pemimpin kedua Sekte Sanca Perak itu merasa kemampuan Alexi masih belum bisa menyaingi Jessey Liu. Hal itu pula yang membuat Alexi kecewa dengan sikap sang ayah. Dia tidak ingin disamakan atau dibandingkan. Dia ingin menjadi dirinya sendiri tanpa bayangan orang lain.
"Mudah-mudahan mama dan juga si mbok tidak mencurigai apa pun tentang kepergianku yang sudah cukup lama ini." Jessey Liu membatin sambil masih duduk memandangi cermin. "Tapi, bagaimana kalau papaku datang dan mengatakan kalau kami baru saja bertengkar?"
"Lalu, bagaimana keadaan papa setelah aku pergi?" Jessey Liu menutup wajahnya dengan telapak tangan saat teringat pertengkaran antara dia dan Teddy Chen. Betapapun dirinya sangat membenci sang ayah, akan tetapi dia masih memiliki perasaan cinta dalam hatinya yang tak bisa dia ungkapkan. "Maafkan aku, papa!"
Pria muda itu terus memikirkan kejadian-kejadian yang menimpanya. "Mungkinkah ini masih ada hubungannya dengan papa? Ataukah mereka juga disuruh olehnya?" Kecurigaan muncul dalam pikiran Jessey Liu.
"Tapi, pikiran macam apa ini? Meski papa sangat menekanku, tapi kurasa dia tidak akan bertindak sejauh itu." Jessey Liu membatin.
Pada saat Jessey Liu tengah memikirkan tentang kemelut dalam keluarganya. Pria itu dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang begitu terburu-buru.
"Siapa itu?" Jessey Liu beranjak dari duduknya dan menghampiri pintu.
"Gong Ziiii! Ini saya, Chriss!" Chriss dengan sedikit terburu-buru mengetuk pintu kamar yang didiami oleh Jessey Liu. "Gong Zi cepat buka pintunyaaa!"
"Ada apa dengan Chriss?"
__ADS_1
...Bersambung...