Balada ANAK METAL

Balada ANAK METAL
TERJEBAK


__ADS_3

"Kalau begitu tunggu apalagi? Cepat kita ke sana dan bantu mereka!" Ketua Penyergap pun segera memimpin anak buahnya. "Sebagian orang ikuti aku dan sebagian lagi tetap di sini bersama bersama nona!"


"Baik, Ketua!"


"Angie, kau tetaplah di sini." Ketua kawanan penyergap berkata dengan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.


"Baiklah," jawab Angie dengan nada malas sambil menatap kepergian kawan-kawanannya.


"Membosankan sekali rasanya tugas kali ini. Kalau saja bukan karena ingin membalas dendam kepada si brengsek Jessey Liu, mungkin aku lebih memilih diam di rumah dan tidur sepuasnya!" Angie menggerutu dengan suara sedikit keras.


"Angie?" Jessey Liu mengenal suara wanita yang sedang melampiaskan amarahnya dengan menendang-nendang ban mobil jeep. "Jadi, itu dia?"


Keremangan sinar rembulan tak bisa menampakan dengan jelas pergumulan antara manusia dan hewan buas. Hal itu pun membuat mereka terkejut bukan buatan. Semula semua mengira, jikalau kawan mereka sedang terdesak dalam menghadapi kelompok orang yang sedang mereka buru. Namun ternyata, dugaan mereka meleset jauh saat mendengar auman-auman dan jerit minta tolong dari keempat orang yang sedang menjadi bulan-bulanan para hewan buas tersebut.


"Harimau! Itu sungguh harimau?" Salah seorang anggota kawanan penyergap terkejut luar biasa. Untung saja dia berhasil menahan suaranya hingga jeritannya hanya berupa bisikan.


"Benar-benar harimau putih yang konon memang menempati hutan ini. Dan itu bukan sekadar rumor belaka," ucap ketua kawanan sambil bergidik ngeri.


Ketakutan seketika menyergap perasaan para saksi mata pergumulan antara hewan dan manusia. Sudah bisa dipastikan, jikalau keempat orang anggota kawanan penyergap itu sudah tak mungkin lagi bisa diselamatkan. Tubuh mereka sudah diterkam dan dicabik-cabik dengan ganas oleh kawanan harimau putih yang buas serta kelaparan.


Untung saja hal itu terjadi pada malam hari, hingga para kawanan penyergap tidak bisa melihat dengan jelas kondisi tubuh kawan-kawan mereka yang sudah tewas dan mulai menjadi santapan hewan karnivora yang jarang bertemu mangsa selezat hidangan makan malam kali ini. Sungguh pesta pora yang sangat meriah bagi para pemangsa, sekaligus pertunjukan mengerikan bagi para anggota kawanan penyergap.


Para anggota penyergap sudah bermandikan keringat dingin. Wajah-wajah telah memucat tanpa sebersit pun warna merah darah. Bibir-bibir seputih kapas bergetaran dengan rasa tubuh bagai tanpa tulang penegak raga masing-masing. Geraman dan auman para binatang buas yang berebutan sama-sama ingin mengerat daging dengan runcingan taring panjang setajam ujung mata tombak.


Beberapa pria anggota kawanan penyergap tiba-tiba jatuh pingsan akibat tak kuasa menyaksikan peristiwa mengerikan, sadis dan kejam terpampang di hadapan mereka. Bayang-bayang pergerakan harimau putih dan bau anyir darah segar sudah cukup bagi mereka untuk menetapkan, jikalau keempat kawan mereka sudah tewas dikeroyok puluhan harimau belang putih penghuni wilayah perbukitan tersebut.


Demi melihat kawan-kawannya sudah tak bisa diselamatkan lagi serta merasakan mental para anak buahnya sudah menurun drastis, sang ketua kawanan pun berpikir lebih baik mundur saja daripada harus menyusul keempat anak buahnya yang sudah menjadi menu utama pesta sekelompok harimau belang putih yang rata-rata memiliki ukuran tubuh dua kali lebih besar dari harimau biasa.


"Mundur!" bisik ketua kawanan penyergap yang segera mengambil tindakan mundur untuk menghindari pertambahan korban di pihak mereka. Bagi laki-laki bertubuh kekar itu sudah, tidak ada guna jika menyerang para kawanan harimau putih yang sedang merayakan malam sepertiga purnama tersebut dan hanya akan membuang waktu juga tenaga bagi mereka. Terlebih lagi dengan keanjlokan mental para pengikutnya, malah akan membuat musuh-musuh lebih mudah untuk menjatuhkan mereka.


"Mundur?" bertanya pria berkumis yang sedang memapah kawannya yang pingsan. "Ya! Lebih baik kita mundur saja."

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kematian keempat kawan kita?" Pria yang memiliki hubungan baik dengan para korban merasa sedikit keberatan. Dalam hatinya dia sungguh ingin membalas dendam, tetapi sang ketua sudah menyatakan mundur. "Bagaimana kalau kita serang mereka dengan anak panah?"


"Bodoh! Itu sama saja mengekspos keberadaan kita dan mereka akan menyerbu ke mari!" Salah seorang anggota kawanan berkata sambil menempeleng kawannya yang dianggap hanya menggunakan emosi tanpa memikirkan akibatnya.


"Tapi setidaknya ada upaya kita membalas dendam, kan?" Pria yang ditempeleng merasa masih harus membalaskan kematian kawan-kawannya.


Ketua kawanan menoleh dan berkata, "Kalau kau merasa punya nyali dan kemampuan. Kau boleh melawan mereka dan menjadi korban berikutnya!"


"Lagi pula itu sudah menjadi takdir mereka semua. Kita masih ada misi yang lebih penting dari meratapi dan melawan binatang-binatang itu." Ketua kawanan penyergap menjadi sedikit kesal. "Segera mundur secepatnya!"


"Ayooo! Tunggu apa lagi?" Kawan pria yang masih bimbang itu menyenggol lengan kawannya. "Kita semua bukanlah tandingan mereka. Mundur secepatnya sebelum para harimau itu menyadari keberadaan kita!"


"Benar juga. Menyerang kawanan binatang buas pun hanya akan mengantarkan nyawa dengan sia-sia," pikir pria itu sambil bergidik.


Memikirkan dan membayangkan dirinya bernasib mengenaskan seperti keempat kawannya, telah berhasil menurunkan keberanian dan emosi pria tersebut, Dia pun segera berbalik untuk mengikuti sang pimpinan yang sudah beranjak pergi terlebih dahulu diikuti anggota kawanan penyergap lainnya. "Maafkan aku, kawan. Semoga kalian tidak mengutuki kami, karena kami tidak bisa membalas kematian kalian semua!"


Namun, bersamaan dengan itu juga seseorang dari balik kegelapan melemparkan sesuatu yang membuat para kawanan harimau terkejut. Mereka pun menghentikan santapan hidangan makan malam yang belum habis tuntas. Mata-mata menyala para pemangsa itu pun serentak menoleh ke arah pergerakan yang berhasil mereka tangkap dengan penglihatannya.


"Ketuaaaa! Mereka mengejar kitaaaa!" teriak salah seorang yang berjalan paling belakang.


"Apa?" Ketua kawanan penyergap merasa sangat terkejut saat mendengar teriakan anak buahnya, kemudian disusul suara kaki-kaki binatang buas yang berderapan menuju ke arah mereka disertai aum kemarahan. Tanpa pikir panjang lagi pria itu pun berteriak, "Lari dan selamatkan diri kalian masing-masiiiing!"


Dari balik semak-semak, beberapa orang pria seperti sedang berusaha keras menahan tawa. Orang-orang itu adalah tak lain daripada para anak buah Jessey Liu yang berhasil membuat kawanan harimau putih itu mengejar musuh-musuh mereka.


"Sekarang rasakanlah karma buruk dari perbuatan kalian itu. Berani-beraninya kalian mengejar-ngejar kami seperti buronan saja!" Pria anak buah Jessey Liu merasa sangat puas atas hasil lembarannya yang menyebabkan kawanan penyergap menjadi buronan para harimau putih.


"Benar. Biar mereka rasakan juga bagaimana rasanya dikejar-kejar," ujar kawan sang pelempar. "Sekarang, mari kita segera kembali ke tuan muda!"


"Baiklah. Ayo!"


Oranng-orang yang telah menyelesaiakn misinya itu pun segera kembali kepada kelompok tuan mudanya yang ternyata sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit. Saat itu, kelompok Jessey Liu dengan sengaja menyerang terlebih dahulu setelah mereka merasa jikalau rencananya mencerai-berai kelompok lawan berhasil.

__ADS_1


Para anak buah Jessey Liu langsung berhadapan dengan para anggota kawanan penyergap yang ternyata telah mempersenjatai diri mereka dengan klewang panjang dan golok, sedangkan Jessey Liu sendiri sudah berhadapan dengan seorang wanita cantik yang sengaja menghadangnya.


"Akhirnya kita bertemu di sini, Sayaang." Angie berkata sambil mendekat ke arah Jessey Liu. "Apa kabar, Berlian Jessey Liu?"


"Angie?" Jessey Liu memang sedikit terkejut saat menyadari dengan siapa dia berhadapan. Dia pun terpaksa mundur beberapa langkah untuk menghindari wanita itu.


Angie tertawa dengan suara yang tidak lebih baik daripada suara tawa hantu wanita bergaun putih yang kabarnya sering memakan korban dengan cara mencekik atau menampakan wajah buruknya. Wanita itu terus melangkah maju dengan sebatang sumpit bambu di tangan kiri.


Sialnya, Jessey Liu yang terus melangkah mundur telah terjebak dalam keadaan yang sungguh tidak menguntungkan. Pri muda tampan berambut panjang itu, tanpa sengaja menginjak sebongkah batu di tepi sebuah lubang besar hingga gugur dan jatuh ke dalam jurang.


"Celaka, aku terjebak!" Jessey Liu terpekik dalam hati dan merasa tak punya pilihan lagi, selain daripada melompat melampaui tubuh tinggi wanita ini. "Dia terus mendekat!"


"Jessey, kita bertemu lagi. Kurasa, inilah saatnya bagimu untuk memutuskan apa yang kami tawarkan padamu." Angie berucap sembari memilin-milin rambutnya yang panjang.


"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu!" Jessey Liu diam-diam menyiapkan cambuk panah rantainya. "Kurasa kamu memilih orang yang salah!"


"Jessey ya Jessey ... mengapa ada lelaki sebodoh dirimu yang tidak mengindahkan wanita cantik ini?" Angie merasa kesal dengan sikap pria dingin ini. "Kau aka tahu sendiri akibat dari menolakku lagi dan lagi!"


"Jangan mendekat! Atau kau juga akan menyesal!" Jessey Liu membentak dengan nada dingin dan tegas.


"Bagaimana kalau aku tetap mendekat?" Angie bertanya sambil terus melangkah sambil melayangkan beberapa kali pukulan kepada seorang anak buah Jessey Liu hingga jatuh terkapar. "Tikus kecil saja berani-beraninya menghalangiku!"


"Reiiiii!" Jessey Liu menjerit memanggil anak buahnya yang tersungkur dengan bersimbah darah. Ternyata Angie memukulnya dengan menggunakan tongkat ganda berantai atau ruyung.


"Bagaimana, Jessey Liu Sayaang?" Angie berjalan memamerkan permainan ruyungnya dengan santai sambil kembali melangkah mendekati pria yang diinginkannya.


Sekali lagi Jessey Liu tak menanggapi apa pun perkataan Angie, tetapi matanya melirik ke arah dahan pohon yang tumbuh tak jauh dari wanita berbola mata abu-abu itu. Pria itu secara tiba-tiba mengayunkan cambuknya dengan kekuatan penuh, hingga ujungnya menggapai dan terkait pada dahan pohon.


Jessey Liu menyentakkan diri sambil berpegang pada cambuk, ia melompat dan bersalto di udara melampaui tubuh Angie. Pria itu lalu mendarat dengan tepat sambil melepaskan kaitan ujung cambuk sembari tersenyum manis, saat melihat tubuh seorang anggota kawanan penyergap terkena sabetannya hingga orang itu pun menjerit setinggi langit.


"Aaaaaaaaaaaaa!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2